Membuktikan racunnya satu hal. Membuktikan siapa yang berdiri di ruangan ayahnya saat ia mati jauh lebih sulit—karena orang yang dikirim untuk pekerjaan seperti itu selalu dipilih justru karena ia ahli tidak meninggalkan jejak.
Alana tidak bisa langsung menuduh. Sebuah botol obat yang dipalsukan membuktikan ada niat membunuh; ia tidak membuktikan siapa yang menyaksikan ayahnya jatuh dan memilih tidak menolongnya. Pengacaranya menegaskan: tanpa rantai bukti yang menghubungkan seseorang secara langsung ke ruangan itu di hari kematian, tuduhan apa pun akan runtuh di pengadilan, dan Surya akan memanfaatkannya untuk menggambarkan Alana sebagai perempuan histeris yang menuduh sembarangan.
Maka Alana melakukan apa yang selalu ia lakukan: ia menelusuri rantai komando.
Sekar menggali catatan akses ruangan Bramantyo dari sistem kartu elektronik gedung—data yang tersimpan otomatis dan tidak terpikir siapa pun untuk menghapusnya. Di hari kematian Bramantyo, ada satu tamu yang masuk lewat lobi tanpa janji resmi, sore hari, dan keluar dua puluh menit kemudian. Namanya tidak tercatat di buku tamu direksi. Hanya sebuah inisial dan stempel "tamu Sentra Abadi" di catatan keamanan lantai bawah.
Tapi catatan akses tetap bukan bukti pembunuhan. Itu hanya pola.
Tombol sesungguhnya, Alana tahu, harus ditemukan di tempat lain: pada perintah. Tamu itu tidak datang atas kemauannya sendiri. Ia disuruh. Seseorang menyuruhnya menyampaikan sesuatu—dan seseorang, mungkin orang yang sama atau mungkin bukan, menyuruhnya membiarkan Bramantyo mati tanpa memanggil bantuan.
Jejak itu membawa Alana kembali ke satu tempat: rekaman. Karena hanya rekaman yang bisa menunjukkan wajah, suara, dan detik-detik kosong saat tidak ada telepon yang diangkat.
"Kita semakin dekat," kata Reza, "tapi kita masih kurang satu hal. Kita bisa membuktikan jantung ayahmu sengaja dilemahkan, dan ada tamu di hari ia mati. Tapi setiap pengacara akan bertanya: apa yang sebenarnya terjadi di dalam ruangan itu? Siapa yang berdiri di sana saat ia jatuh?"
Alana berdiri di jendela, menatap ke bawah. Di salah satu gedung kaca seberang, Bonar Situmorang sedang menyusun berkas RUPS final—berkas yang, jika berjalan sesuai rencananya dan Surya, akan menggugurkan suara Alana lewat celah surat kuasa yang ia kuasai.
"Ada satu tempat yang merekam segalanya, Reza," kata Alana perlahan, dan sesuatu mulai bersinar di matanya. "Selama berbulan-bulan kita memperlakukan penyadap di kantor ini sebagai musuh. Kita membiarkannya terpasang untuk memberi disinformasi pada Surya. Tapi pikirkan: kamera dan perekam itu terpasang sebelum ayah saya meninggal. Garda Prima merekam ruangan ini dua puluh empat jam, selama berbulan-bulan, mengirim semuanya ke server mereka."
Sekar menegakkan punggung. "Bu... maksud Anda—"
"Kamera di ruangan ini," kata Alana, suaranya mengeras menjadi kepastian, "mungkin merekam siapa tamu di hari terakhir itu. Merekam apa yang ia katakan. Merekam ayah saya jatuh—dan merekam orang itu berdiri di sana tanpa mengangkat telepon." Ia berbalik. "Surya memasang mata untuk mengawasi ayah saya sampai napas terakhirnya. Dia tidak sadar—mata yang sama mungkin merekam siapa yang mengambil napas terakhir itu darinya."
Untuk pertama kalinya dalam berhari-hari, harapan menyala di ruangan itu.
"Tapi rekaman itu ada di server Garda Prima," kata Reza pelan, "perusahaan keamanan yang dibayar Sentra Abadi. Mereka tidak akan menyerahkannya pada kita."
"Tidak secara sukarela." Alana menggenggam jam tangan ayahnya. "Tapi setiap perusahaan yang menjual jasa pengkhianatan punya satu kelemahan, Reza. Mereka tahu, suatu hari, klien mereka bisa menjadi orang yang dijual. Dan ketika kapal mulai tenggelam, orang yang menyimpan rekaman selalu lebih dulu memikirkan keselamatannya sendiri daripada kesetiaan." Ia menatap kedua orang kepercayaannya. "Kita akan pergi ke Garda Prima. Dan kita akan menawarkan mereka pilihan yang sama yang kita tawarkan pada Hendra: tenggelam bersama Surya, atau menyeberang sementara masih ada jembatan."