Kantor Garda Prima tidak seperti yang dibayangkan orang tentang perusahaan yang menyadap ruang rapat para konglomerat. Ia menempati dua lantai sebuah gedung biasa di kawasan Kuningan, dengan papan nama kecil dan resepsionis yang mengunyah permen karet.
Operator yang Alana temui bernama Bagas—pria empat puluhan dengan mata waspada orang yang sudah lama hidup dari menyimpan rahasia orang lain. Ia menerima Alana di ruangan tanpa jendela, didampingi pengacara Alana dan, di luar pintu, Reza.
"Saya tidak biasa menerima tamu yang menjadi subjek pekerjaan kami," kata Bagas datar.
"Saya tahu kantor saya disadap. Saya sudah tahu sejak lama," jawab Alana, meletakkan map di meja. "Saya tidak ke sini untuk mengeluh, Pak Bagas. Saya ke sini untuk memberi Anda kabar yang Anda belum dengar. Klien Anda, PT Sentra Abadi—dan orang di baliknya, Surya Danuatmaja—akan jatuh. Bukan kemungkinan. Pasti. RUPS final delapan hari lagi, dan saya punya cukup untuk menjeratnya, dia dan setiap orang yang membantunya."
Bagas tidak bereaksi. Tapi ia tidak menyuruh Alana pergi, dan itu cukup.
"Saya tahu cara kerja bisnis Anda," lanjut Alana. "Anda menjual jasa, bukan kesetiaan. Anda merekam, Anda menyimpan, Anda dibayar bulanan. Dan ketika seorang klien tumbang dan kasusnya dibuka, perusahaan yang menyimpan rekaman ilegal punya dua pilihan: ikut tenggelam sebagai kaki tangan, atau menjadi pihak yang menyerahkan bukti dan diperlakukan sebagai saksi yang bekerja sama." Ia mencondongkan badan. "Saya menawarkan yang kedua. Tertulis. Dengan perlindungan hukum yang sama yang sudah saya berikan pada Hendra Salim."
Nama Hendra membuat sesuatu bergeser di wajah Bagas. Ia tahu Hendra membelot. Ia tahu kapal memang mulai miring.
"Apa yang Anda mau?" tanya Bagas akhirnya.
"Rekaman ruangan direktur utama Wijaya Group. Bukan yang terbaru. Yang lama." Suara Alana stabil, tapi jantungnya berdebar keras. "Tiga bulan terakhir sebelum ayah saya meninggal. Dan yang paling saya butuhkan: hari ayah saya wafat. Setiap menit dari sore itu, saat ada tamu masuk ke ruangannya."
Bagas menatapnya lama, dan untuk pertama kalinya Alana melihat sesuatu yang lain di matanya. Bukan perhitungan. Hampir seperti rasa bersalah yang sudah lama dipendam.
"Kenapa Anda menganggap rekaman itu masih ada?" tanya Bagas pelan. "Klien biasanya minta dihapus setelah subjek tidak relevan lagi."
"Karena orang seperti Anda tidak pernah menghapus apa pun sepenuhnya," kata Alana. "Bukan karena loyal. Karena rekaman adalah satu-satunya jaminan Anda kalau klien suatu hari berbalik. Anda menyimpan salinan. Anda selalu menyimpan salinan."
Hening panjang. Mesin pendingin berdengung di sudut.
Lalu Bagas bangkit, berjalan ke lemari arsip terkunci di belakang ruangan, dan kembali dengan sebuah hard disk hitam yang dibungkus plastik. Ia meletakkannya di meja, tepat di antara mereka, seperti meletakkan benda yang terlalu berat untuk terus ia gendong.
"Saya merekam ruangan itu sembilan bulan," kata Bagas, suaranya berbeda sekarang, lebih rendah. "Saya melihat ayah Anda bekerja sampai larut. Saya melihatnya bicara sendiri pada foto Anda di mejanya. Saya tidak kenal dia, tapi saya... melihat seorang lelaki tua yang lelah." Ia menelan ludah. "Dan di hari dia meninggal, saya merekam sesuatu yang membuat saya tidak bisa tidur selama berhari-hari. Saya pikir saya salah lihat. Saya bilang pada diri sendiri itu bukan urusan saya. Saya hanya operator. Saya hanya menekan tombol rekam."
Alana tidak menyentuh hard disk itu. Tangannya gemetar di pangkuannya.
"Apa yang Anda lihat, Pak Bagas?"
Bagas menatap hard disk hitam itu, lalu menatap Alana, dan dalam tatapannya ada beban tiga puluh tahun industri rahasia yang akhirnya retak.
"Saya lihat seorang tamu masuk sore itu. Bicara dengan ayah Anda. Soal sesuatu yang membuat ayah Anda terguncang—saya dengar dia menyebut tahun, sembilan delapan." Ia mendorong hard disk itu beberapa sentimeter ke arah Alana. "Lalu ayah Anda memegang dadanya dan jatuh ke lantai. Dia minta tolong. Minta ambulans. Dan tamu itu hanya berdiri di sana. Diam. Lalu dia mengambil sebuah map dari meja dan keluar. Tidak menelepon siapa pun. Membiarkannya di lantai." Suara Bagas pecah. "Wajah tamu itu sempat tertangkap, separuh, sebelum dia keluar dari bingkai. Lelaki, bukan tua. Orang lapangan. Bukan tipe yang masuk lewat pintu depan."
Ruangan tanpa jendela itu terasa runtuh ke dalam dirinya sendiri. Alana mendengar napasnya sendiri, terlalu keras.
"Anda tidak kenal wajahnya?" bisik Alana.
Bagas menggeleng pelan. "Tidak. Tapi dia bukan orang sembarangan, Bu. Orang yang dikirim untuk pekerjaan seperti itu, dan yang tahu persis untuk tidak mengangkat telepon—dia disuruh. Cari siapa yang menyuruhnya, dan Anda menemukan pembunuh ayah Anda." Ia menatap hard disk itu. "Wajahnya ada di sini. Jelas. Cukup untuk dikenali oleh orang yang tahu lingkaran mereka."
Alana menutup tangannya di atas hard disk itu, dingin di bawah telapaknya. Delapan hari menuju RUPS final. Dan untuk pertama kalinya sejak ayahnya mati, ia tidak lagi mengejar bayangan.
Ia memegang wajah orang yang menyaksikan ayahnya mati—dan tidak mengangkat telepon—di tangannya.