Ruang server kecil di lantai basement Menara Wijaya itu hanya cukup untuk tiga orang. Alana duduk di kursi plastik, Sekar berdiri di belakangnya, dan Reza menghubungkan hard disk eksternal ke laptopnya dengan jari yang gemetar tipis. Operator Garda Prima yang membelot kemarin menyerahkan satu folder terenkripsi sebelum menghilang ke luar kota. Isinya: rekaman audio dan satu file video dari kamera detektor asap di ruang kerja Bramantyo, hari ia wafat.
"Tanggalnya cocok," kata Reza pelan. "Tiga minggu sebelum kamu pulang dari Singapura. Pukul empat sore lewat dua belas menit."
Alana menggenggam jam tangan ayahnya di pergelangannya. Logam dingin itu menempel ke kulit. "Putar."
Layar berkedip. Gambar berbutir-butir tapi jelas: ayahnya, Bramantyo, duduk di balik meja yang sekarang menjadi miliknya. Ia memegang telepon. Suaranya keluar dari speaker laptop, tipis tapi tegas.
"Aku sudah tahu, Surya. Aku tahu kau di balik Sentra Abadi sejak awal." Bramantyo berhenti, mendengarkan sesuatu. "Tiga puluh tahun kau menunggu untuk ini? Datang dan ambil. Tapi kau tidak akan mendapatkan perusahaan ini selama aku masih bernapas."
Alana menahan napas. Kalimat itu — kalimat yang dulu diceritakan Sekar. Inilah momen aslinya.
Di layar, Bramantyo meletakkan telepon. Wajahnya merah. Ia membuka laci, mengeluarkan kotak obat kecil, menelan satu pil dengan air. Lalu pintu ruangan terbuka. Seseorang masuk — bukan Surya. Sosok itu hanya terlihat dari punggung, jas gelap, gerak tenang.
"Bagaimana kau bisa masuk?" suara Bramantyo. "Aku tidak memanggilmu."
Suara tamu itu rendah, sopan, hampir ramah. "Pak Surya menyuruh saya menyampaikan sesuatu langsung. Tatap muka. Soal arsip tahun 1998. Soal apa yang sebenarnya terjadi pada dana itu."
Bramantyo terdiam lama. Lalu, dengan suara yang berubah — bukan marah lagi, melainkan terguncang — ia berkata, "Tidak mungkin. Berkas itu sudah dimusnahkan."
"Tidak semuanya, Pak. Pak Surya menyimpan salinannya. Dan ada nama di sana yang akan menghancurkan Bapak, bukan dia." Tamu itu meletakkan map di meja. "Bapak tidak menjebak Surya sendirian, kan? Ada orang ketiga. Dan orang ketiga itu masih hidup. Masih dekat dengan Bapak."
Di layar, tangan Bramantyo meraih dadanya. Wajahnya memucat.
Alana mencengkeram lengan kursi. "Hentikan," bisiknya. Tapi ia tidak benar-benar ingin berhenti. Ia harus melihat.
Bramantyo bangkit, terhuyung. "Keluar," ia berkata serak. "Keluar dari ruanganku."
Tamu itu tidak bergerak. Ia hanya menatap. Dan kemudian, dengan nada yang dingin sekarang, sama sekali tidak ramah: "Pak Surya bilang, ia hanya ingin Bapak tahu — sebelum semuanya selesai — bahwa ia tahu siapa yang sebenarnya mengambil uang itu. Dan bahwa Bapak membiarkan dirinya percaya pada orang yang salah selama tiga puluh tahun."
Bramantyo jatuh ke lutut. Tangannya menggaruk dada. "Telepon... ambulans..."
Tamu itu berdiri di sana. Diam. Lima detik. Sepuluh. Tidak menyentuh telepon. Tidak memanggil siapa pun. Lalu ia mengambil map dari meja, berbalik, dan keluar dari ruangan — meninggalkan Bramantyo terkapar di lantai.
Layar menjadi gelap saat sosok itu lewat di bawah kamera. Tapi satu detik sebelum ia keluar dari bingkai, wajahnya tertangkap — separuh, dari samping.
Reza menjeda. Memperbesar. Memperjelas.
Sekar terkesiap. Alana merasa darahnya membeku.
Wajah itu ia kenal.
"Mundurkan," kata Alana, suaranya nyaris tak terdengar. "Dari awal ia masuk. Putar lagi."
Reza menatapnya. "Alana, kau tidak harus—"
"Putar lagi."
Mereka menonton sekali lagi. Dan sekali lagi setelah itu. Setiap kali, Alana memaksa dirinya melihat momen ayahnya jatuh ke lantai, tangan menggaruk dada, mulut membentuk kata "ambulans" yang tidak pernah dijawab. Setiap kali, ia menghitung detik-detik kosong itu — detik-detik saat seseorang berdiri di ruangan ayahnya dan memilih untuk tidak menyelamatkannya.
"Tiga minggu," bisik Alana akhirnya. "Tiga minggu aku pikir ayahku mati sendirian di mejanya. Serangan jantung. Wajar. Itu yang ditulis di surat keterangan medis." Ia menoleh pada Reza. "Tapi ada orang di ruangan itu. Dan orang itu menunggunya mati."
Sekar meletakkan tangan di bahu Alana. "Bu, ini... ini bukti pembunuhan. Atau setidaknya pembiaran. Kita bisa bawa ke polisi."
"Belum." Alana berdiri, mengusap wajah. Otaknya, yang sudah terlatih menghitung angka di tengah kepanikan, mulai bekerja lagi. "Kalau kita bawa ke polisi sekarang, kita cuma punya rekaman seorang lelaki yang tidak menelepon ambulans. Pengacara sekelas Bonar Situmorang akan menghancurkannya dalam lima menit — ia akan bilang lelaki itu panik, bukan dokter, tidak tahu itu serangan jantung. Tidak cukup." Ia menatap wajah separuh yang membeku di layar. "Aku butuh tahu siapa yang memberinya perintah. Karena lelaki ini tidak datang atas kemauannya sendiri. Ia disuruh menyampaikan pesan soal 1998 — pesan dari Surya. Tapi ia melakukan lebih dari menyampaikan pesan. Ia menunggu ayahku mati."
"Surya," kata Sekar.
"Mungkin." Alana menatap layar. "Tapi kalimat terakhir lelaki ini menggangguku. 'Bapak tidak menjebak Surya sendirian. Ada orang ketiga.' Kalau ada pihak ketiga di 1998, mungkin ada pihak ketiga juga hari ini." Ia menghela napas. "Aku kenal wajah ini, Reza. Aku pernah melihatnya. Di lobi Menara, beberapa kali. Selalu di dekat orang yang sama."
Reza menyalin file ke tiga hard disk terpisah, menyerahkan satu pada Sekar, satu disimpannya, satu untuk Alana. "Lalu sekarang apa?"
Alana melepas jam tangan ayahnya, menatap logam tua itu, lalu memakainya kembali. "Sekarang aku cari tahu siapa yang menggerakkan lelaki ini. Dan untuk itu, aku butuh seseorang yang kenal lingkaran dalam Surya lebih baik dariku." Ia menatap kedua orang kepercayaannya. "Aku butuh Damar Adiwangsa."