Alana tidak tidur semalaman. Wajah di rekaman itu menghantuinya — separuh, kabur, tapi cukup. Ia butuh memastikan. Dan untuk memastikan, ia butuh seseorang yang punya akses ke lingkaran dalam Surya. Ia butuh Damar Adiwangsa.
Mereka bertemu pagi itu di lounge sebuah hotel di kawasan Sudirman, jauh dari Menara Wijaya. Damar datang sendirian, tanpa pengacara, tanpa asisten. Itu sendiri sudah pesan tersirat.
"Kau terlihat seperti tidak tidur," kata Damar, menarik kursi.
"Aku memang tidak." Alana meletakkan tablet di meja, layar menghadap Damar. Gambar wajah separuh dari rekaman. "Kau kenal orang ini."
Damar menatap layar lama. Otot rahangnya bergerak. Ia tidak berpura-pura tidak tahu — Alana menghargai itu. "Di mana kau dapat ini?"
"Jawab dulu. Kau kenal dia."
"Namanya Yudha. Orang lapangan Surya. Bukan eksekutif, bukan nama yang masuk dokumen. Dia yang dipakai Surya untuk pekerjaan yang tidak boleh meninggalkan jejak kertas." Damar menyandar. "Pekerjaan ini — gambar ini — dari mana?"
Alana tidak menjawab. Ia hanya menatap. "Hari ini aku harus memutuskan satu hal, Damar. Apakah kau sekutuku, atau kau cuma sedang menunggu Wijaya cukup lemah untuk kau telan sendiri. Surya menyerang dari segala arah. Likuiditasku tipis. Kalau kau ingin menyergap, sekaranglah saatnya. Aku mau dengar dari mulutmu."
Damar diam lama. Pelayan datang menawarkan kopi, ia mengusirnya dengan gerakan tangan kecil. Ia memutar gelas air di depannya, menatap permukaannya, dan untuk sesaat tampak jauh lebih tua dari awal empat puluhan yang biasanya ia bawa dengan percaya diri.
"Kau tahu kenapa aku menawar akuisisi Wijaya pertama kali, di restoran itu, berbulan-bulan lalu?" tanyanya. "Kau pikir aku ingin memecah perusahaanmu, menjual asetnya. Lahan Sudirman, gudang pelabuhan, lisensi tekstil. Kau tidak salah — itu memang masuk akal secara bisnis. Tapi itu bukan alasan utama." Ia mengangkat matanya. "Aku menawar karena aku ingin Wijaya tidak jatuh ke tangan Surya. Dan satu-satunya cara yang kupikirkan saat itu adalah mengambilnya lebih dulu."
Alana mengernyit. "Kenapa kau peduli ke tangan siapa Wijaya jatuh?"
"Dua puluh tahun lalu, ayahku bangkrut karena Surya. Bukan Bramantyo — Surya. Setelah dibuang dari Wijaya pada 98, Surya tidak menghilang seperti yang orang kira. Ia membangun ulang dirinya dalam bayangan, dan salah satu perusahaan pertama yang ia hancurkan untuk modal awal adalah milik ayahku." Damar menatapnya lurus. "Aku menawar akuisisi Wijaya di awal karena itu pintar secara bisnis. Tapi kalau kau pikir aku ingin Wijaya jatuh ke tangan Surya — kau salah membaca aku, Alana. Aku lebih ingin melihat orang itu hancur daripada aku ingin lahanmu di Sudirman."
Alana menahan napas. "Itu bukan jawaban. Itu motif. Aku tanya pilihan."
"Pilihanku," kata Damar, "aku akan bersamamu sampai Surya jatuh. Hitam di atas putih, kalau kau mau. Saham Adiwangsa di pasar terbuka akan kugerakkan untuk menahan harga Wijaya supaya Surya tidak bisa memborong murah. Bank-bank yang dekat denganku akan kuminta menutup celah likuiditasmu untuk tenggat utang." Ia berhenti. "Tapi setelah Surya jatuh, kita berunding ulang. Aku tidak akan jadi pahlawan gratis. Itu juga hitam di atas putih."
Alana menahan diri untuk tidak langsung lega. Damar bukan teman. Damar adalah pisau bermata dua — kitab hidupnya sendiri mengingatkannya soal itu. Tapi sebuah pisau yang menghadap ke arah yang sama denganmu, untuk sekarang, adalah pisau yang berguna.
"Baik," kata Alana. "Sampai Surya jatuh. Lalu kita berunding."
Damar mengulurkan tangan. Alana menjabatnya.
"Sekarang," kata Damar, melepas jabatan, "katakan padaku apa yang ada di rekaman itu. Karena dari wajahmu, aku tahu itu bukan sekadar mark-up vendor."
Alana menatapnya. "Ayahku tidak mati sendirian di ruangannya, Damar. Ada yang menyaksikannya mati dan tidak mengangkat telepon."
Damar terdiam. Untuk pertama kalinya sejak Alana mengenalnya, lelaki itu tampak benar-benar terguncang.
Damar menatapnya lama, dan sesuatu di rahangnya mengeras. "Kalau begitu," katanya pelan, "kita tidak hanya menjatuhkan Surya. Kita memenjarakannya. Dan siapa pun yang berdiri di ruangan itu bersamanya."
Alana mengambil tabletnya kembali, mematikan layar. "Satu hal lagi, Damar. Nama Yudha. Aku ingin tahu di mana dia sekarang, siapa yang membayarnya, dan apakah dia masih melapor pada Surya — atau pada orang lain. Karena di rekaman itu, dia melakukan lebih dari yang Surya perintahkan. Surya menyuruhnya menyampaikan pesan. Yudha menunggu ayahku mati. Itu dua perintah yang berbeda, dari dua orang yang berbeda."
Damar mengangguk perlahan, mencernanya. "Kau berpikir ada seseorang di atas Surya."
"Aku berpikir," kata Alana, berdiri dan merapikan jasnya, "bahwa selama ini kita semua menatap Surya sebagai puncak piramida. Tapi piramida selalu punya batu yang tidak terlihat di bawah puncaknya — batu yang menahan segalanya. Cari Yudha. Dan kita akan tahu batu mana itu."