Bonar Situmorang adalah jenis pengacara yang tidak pernah duduk di sisi yang kalah. Selama tiga dekade ia menjadi kuasa hukum Sentra Abadi dan penasihat tetap Adiwangsa Holdings sekaligus — dua kursi di dua perahu yang sebentar lagi akan berlayar ke arah berlawanan. Alana berniat memaksanya memilih satu.
Mereka bertemu di kantor Situmorang & Rekan, lantai atas sebuah gedung kaca. Bonar menyambutnya dengan senyum profesional yang tidak mencapai matanya. "Nona Wijaya. Saya kira pertemuan kita berikutnya akan di ruang sidang."
"Mungkin masih akan begitu," kata Alana, duduk tanpa diminta. "Tergantung di kursi mana Bapak duduk saat itu."
Bonar menautkan jari. "Saya mewakili klien. Saya tidak memilih sisi."
"Bapak mewakili Surya Danuatmaja dan Damar Adiwangsa. Konflik kepentingan itu bisa Bapak jaga selama kepentingan mereka sejajar." Alana mengeluarkan map tipis, meletakkannya di meja. "Tapi mulai kemarin, keduanya berhadapan. Damar sudah bersamaku. Dan ketika dua klien Bapak saling menggugat, Bapak harus mundur dari salah satu — atau dari keduanya. Pertanyaannya, mana yang Bapak pilih untuk tenggelam bersamanya."
Bonar membuka map. Di dalamnya: salinan dokumen pendirian Sentra Abadi berlapis, jejak entitas Singapura, dan satu hal lagi — fotokopi memo internal lama, 1998, dengan tanda tangan yang ia kenali sebagai miliknya sendiri.
Wajah Bonar tidak berubah. Tapi jarinya berhenti bergerak.
"Bapak yang menyusun struktur cangkang Sentra Abadi," kata Alana tenang. "Bapak juga yang mengurus dokumen pembelian saham Surya potongan demi potongan selama tiga puluh tahun. Dan memo itu — 1998 — membuktikan Bapak terlibat sejak awal dalam pembuangan Surya dari Wijaya Group. Bapak ada di kedua sisi sejarah ini, Pak Bonar. Bapak menjebak Surya pada 98, lalu membantunya membalas dendam selama tiga puluh tahun. Saya ingin tahu kenapa."
Hening panjang. Di luar jendela, lalu lintas Jakarta merayap tanpa suara.
"Kau tidak mengerti orang seperti Surya," akhirnya Bonar berkata, suaranya kehilangan kilau profesionalnya. "Setelah dibuang, ia datang padaku. Bukan untuk membalas. Untuk satu pertanyaan: siapa yang benar-benar mengambil uang itu pada 98. Karena bukan dia. Dan bukan ayahmu yang menuduh — ayahmu hanya percaya pada laporan yang salah."
Alana mencondongkan tubuh. "Siapa yang mengambilnya?"
Bonar tertawa kecil, dingin. "Kau pikir saya akan menyerahkan satu-satunya kartu saya semudah itu? Saya sudah tiga puluh tahun bermain di meja ini, Nona. Saya bertahan justru karena saya tahu kapan harus menahan kartu."
"Bapak bertahan," kata Alana, "karena selama ini tidak ada yang punya cukup bukti untuk menyeret Bapak ke kursi terdakwa. Itu berubah kemarin." Ia mengeluarkan tablet, memutar potongan audio — suara, bukan video. Suara seorang lelaki di sebuah ruangan, mengucapkan satu kalimat: 'Pak Surya menyuruh saya menyampaikan sesuatu langsung. Soal arsip tahun 1998.' Lalu Alana menjeda. "Saya punya rekaman lengkap hari ayah saya meninggal, Pak Bonar. Orang Surya ada di ruangan itu. Dan ia bicara soal arsip 1998 — arsip yang Bapak sendiri yang menyusunnya. Ketika polisi mulai menarik benang ini, mereka akan sampai pada tangan yang menulis dokumen-dokumen itu. Tangan Bapak."
Wajah Bonar akhirnya berubah. Senyum profesional itu lenyap sepenuhnya. "Kau menggertak. Kau tidak punya rekaman."
"Mungkin saya menggertak." Alana mematikan tablet. "Atau mungkin saya sedang memberi Bapak kesempatan terakhir untuk memilih perahu sebelum yang satunya tenggelam. Bapak ahli membaca kartu, Pak Bonar. Baca kartu saya sekarang: Damar sudah menyeberang. Audit forensik sudah ditandatangani. Bank-bank sudah menutup utang. Aritmatika saham berbalik. Surya sedang terisolasi. Satu-satunya pertanyaan tersisa adalah: ketika kapal Surya tenggelam, apakah Bapak ikut tenggelam bersamanya, atau Bapak sudah pindah ke geladak saya?"
Bonar menatapnya lama. Lalu, perlahan, ia menutup map dan mendorongnya kembali. "Itu, Nona, adalah satu-satunya kartu yang masih saya pegang. Dan saya tidak akan menyerahkannya gratis pada perempuan yang baru saja mengancam karier saya."
"Saya tidak menawarkan gratis." Alana berdiri. "Saya menawarkan kelangsungan hidup. Surya akan jatuh, Pak Bonar — bukan karena saya yakin, tapi karena saya punya rekaman hari ayah saya mati, dan ada orang Surya di ruangan itu. Ketika kapal itu tenggelam, semua yang berdiri di geladaknya ikut tenggelam. Termasuk pengacaranya." Ia berhenti di pintu. "Damar sudah memilih perahu yang akan selamat. Saya beri Bapak waktu tiga hari untuk memilih yang sama. Setelah itu, tawaran ini ditarik."
Ia keluar tanpa menunggu jawaban. Tapi ia tahu — dari cara Bonar tidak memanggilnya kembali, dari cara jari pengacara itu masih membeku di atas map — bahwa benih sudah tertanam. Pengacara yang tahu terlalu banyak adalah pengacara yang paling takut tenggelam.