Selama satu minggu berikutnya, dinding di sekeliling Surya Danuatmaja mulai runtuh, batu demi batu.
Pertama, suara di pasar. Damar menepati janjinya — Adiwangsa menggerakkan saham untuk menahan harga Wijaya, dan setiap kali Surya mencoba memborong murah lewat broker bayangan, ada pembeli lain yang lebih cepat. Surya tidak bisa menambah persentasenya. Delapan belas persen tetap delapan belas persen.
Kedua, pers berbalik. Alana memberi wawancara terukur kepada wartawan ekonomi yang sudah lama mengendus drama Wijaya. Ia tidak menyebut rekaman, belum. Ia hanya berbicara soal tata kelola, soal mark-up vendor yang kini sedang diaudit forensik, soal pemegang saham misterius yang bersembunyi di balik perusahaan cangkang. Esoknya, dua media besar menerbitkan profil PT Sentra Abadi dengan nada yang sama: siapa orang yang tidak ingin wajahnya terlihat?
Ketiga — dan ini yang paling menyakitkan bagi Surya — sekutunya rontok. Hendra Salim, yang selama berbulan-bulan terjepit di antara dua tuan, mulai menjaga jarak. Tiga pemegang saham yang dibeli Surya pada hari RUPS dulu kini ragu; dua di antaranya diam-diam menjual kembali sahamnya melalui perantara Damar setelah harga ditahan stabil. Garda Prima, perusahaan keamanan yang dulu menjadi mata dan telinga Surya, kini punya operator yang membelot dan menyerahkan rekaman ke pihak lawan.
Sekar membawa laporan setiap pagi ke kantor lantai 26. "Aritmatikanya berubah, Bu," katanya, meletakkan lembar perhitungan. "Blok Surya yang dulu solid sekarang retak. Dua pemegang saham keluar. Satu lagi belum pasti. Kalau RUPS final diadakan sekarang, dia tidak punya cukup suara untuk mosi."
Alana menelusuri kolom angka dengan jari. Empat puluh satu persen miliknya. Delapan belas persen Surya, kini terkepung. Sembilan persen Hendra, yang condong menjauhi tuannya. Dan tiga puluh dua persen publik yang mulai berbalik. "Pers membantu lebih dari yang kuduga," gumamnya. "Investor publik tidak suka uang mereka dikelola oleh perusahaan yang ada pemilik bayangannya. Begitu wajah Sentra Abadi mulai disorot, mereka lari."
"Tiga jurnalis menelepon kemarin," tambah Sekar. "Mereka mengendus soal pemilik tersembunyi. Saya jaga jarak, persis seperti instruksi Ibu. Tapi mereka akan terus menggali."
"Biarkan mereka menggali. Selama mereka menggali ke arah Surya, bukan ke arah kita." Alana menutup map. "Tapi jangan terlalu nyaman, Sekar. Surya tidak rontok karena lawannya lebih pintar. Surya rontok karena dia membiarkan dirinya rontok — atau karena dia sedang menyiapkan sesuatu yang tidak kita lihat."
Alana mempelajari angka-angka itu. Tapi ia tidak merasa menang. Ia merasa cemas. "Dia tahu ini, Sekar. Surya bukan orang bodoh. Kalau aritmatikanya berbalik melawannya, dia tidak akan diam menunggu palu."
Benar saja. Sore itu, telepon di mejanya berdering. Suara di seberang tenang, halus, rambut perak yang bisa Alana bayangkan tanpa melihat.
"Kau cerdas, Nak," kata Surya. "Lebih cerdas dari ayahmu di usiamu. Kau mengisolasi aku potongan demi potongan, persis seperti aku mengepung ayahmu selama tiga puluh tahun. Aku mengaguminya."
"Kau menelepon untuk memujiku?"
"Aku menelepon untuk mengingatkan. Orang yang terdesak melakukan dua hal: menyerah, atau membakar segalanya. Aku tidak akan menyerah." Jeda. "Kau punya rekaman, kan? Aku tahu Garda Prima bocor. Aku tahu kau melihat sesuatu di hari ayahmu mati."
Jantung Alana berdegup keras. Ia menjaga suaranya datar. "Kalau aku punya, kau akan tahu saat aku memutarnya di depan notaris."
Surya tertawa pelan. "Kau pikir rekaman itu menjeratku. Kau salah, Nak. Rekaman itu menjerat seseorang. Tapi mungkin bukan orang yang kau kira. Tanyakan pada dirimu: kenapa aku membiarkan kamera itu tetap menyala di hari ayahmu mati? Kenapa aku tidak menghapusnya?" Suaranya menurun. "Karena ada nama di ujung kisah ini yang akan lebih menyakitimu daripada menyakitiku. Datang temui aku. Sekali. Tanpa pengacara, tanpa Damar. Aku akan ceritakan apa yang sebenarnya terjadi pada 1998 — dan kenapa ayahmu pantas mendengar berita itu sebelum ia mati."
Klik. Sambungan terputus.
Alana duduk lama dalam keheningan kantor di lantai tertinggi. Surya terisolasi — tapi seekor binatang terpojok adalah binatang paling berbahaya. Dan ia baru saja mengundangnya ke dalam mulut binatang itu.