Alana datang sendirian, melawan saran semua orang. Reza memasang pemancar mikro di kerah blusnya; Sekar dan Damar menunggu di mobil dua blok jauhnya. Tapi ke dalam ruangan itu — sebuah rumah tua di kawasan Menteng, dinding tinggi, taman gelap — Alana melangkah seorang diri.
Surya Danuatmaja duduk di kursi kulit menghadap perapian yang tidak menyala. Rambut peraknya berkilau dalam cahaya lampu meja. Ia tidak bangkit. Ia hanya menunjuk kursi di seberangnya.
"Kau berani," katanya. "Ayahmu juga begitu, dulu. Sebelum keberanian itu berubah menjadi kekejaman."
Alana duduk. "Aku tidak datang untuk mendengar puisi tentang ayahku. Aku datang untuk kebenaran 1998. Kau berjanji."
Surya menatap api yang mati. Lama. Lalu ia mulai bicara, suaranya seperti membaca buku yang sudah ia hafal selama tiga puluh tahun.
"Kami bertiga mendirikan Wijaya yang kau kenal sekarang. Bramantyo, kakaknya Wirasena, dan aku. Bram punya visi, Wira punya nama keluarga, aku punya angka. Aku yang mengurus keuangan. Aku yang membangun jaringan bank. Pada 1998, saat krisis datang, kas perusahaan jebol. Lalu muncul laporan: ada dana besar yang hilang, dialihkan ke rekening luar negeri atas namaku."
"Dan kau bilang kau dijebak."
"Aku tahu aku dijebak." Surya menoleh, matanya tajam. "Karena aku tahu siapa yang benar-benar memegang akses ke rekening itu. Bukan aku sendiri. Ada satu orang lagi yang ikut menandatangani setiap transfer. Orang yang menyusun dokumen-dokumennya. Orang yang kemudian, ajaibnya, menjadi penasihat hukum yang membuang aku dari perusahaan."
Alana merasa dingin merayap. "Bonar Situmorang."
"Pintar." Surya tersenyum tipis. "Bonar mengambil uang itu, lalu menaruh namaku di atasnya. Lalu ia datang pada Bram dengan laporan rapi, dan Bram — sahabatku, saudaraku — percaya pada kertas, bukan padaku. Ia membuangku tanpa mendengar pembelaanku. Ia membeli sahamku dengan harga sampah. Ia menghancurkan namaku." Suaranya bergetar, tiga puluh tahun marah dimampatkan ke dalam satu kalimat. "Aku bersumpah di lobi itu, di hadapan semua orang, bahwa suatu hari aku akan kembali dan mengambil semua yang ia punya. Bukan hanya perusahaan ini. Tapi juga apa yang paling ia cintai."
Alana menatapnya. "Apa yang paling ia cintai adalah aku."
"Ya." Surya tidak menyangkalnya. Ia menatap Alana lama, dan untuk sesaat ada sesuatu yang nyaris menyerupai penyesalan di matanya. "Kau lahir tahun itu. 1998. Tahun aku dibuang. Aku ingat membaca beritanya — Bram punya anak perempuan, di tengah semua reruntuhan itu. Aku ingat berpikir: dia mendapatkan segalanya. Perusahaan, nama baik, dan seorang anak. Sementara aku kehilangan semuanya dalam minggu yang sama." Suaranya mengeras kembali. "Maka aku memutuskan: kalau ia mengambil tiga puluh tahun hidupku, aku akan mengambil tiga puluh tahun untuk merebut kembali semuanya. Dan aku akan memulainya dari hal yang paling ia banggakan. Kau." "Selama tiga puluh tahun aku membangun ulang diriku dari abu, dalam bayangan, dengan satu tujuan. Aku membeli saham Wijaya sepotong demi sepotong. Aku menanam orang di dewan. Aku mengawasi setiap napas ayahmu." Ia berhenti. "Tapi dengarkan baik-baik, Nak, karena ini yang ingin kuceritakan: aku tidak membunuh ayahmu. Aku menginginkannya hidup, menderita, menyaksikan aku merebut segalanya. Kematian terlalu cepat. Kematian adalah belas kasihan."
"Lalu siapa yang ada di ruangannya hari itu? Aku punya rekaman, Surya. Orangmu — Yudha. Ia berdiri di sana dan membiarkan ayahku mati."
Untuk pertama kalinya, sesuatu retak di wajah Surya. Sebuah keterkejutan yang tidak bisa ia sembunyikan. "Aku mengirim Yudha untuk satu hal: menyampaikan pesan. Memberitahu Bram bahwa aku akhirnya punya bukti siapa yang sebenarnya mengambil uang 98. Aku ingin Bram tahu ia telah salah membuangku — sebelum aku merebut perusahaannya secara hukum. Aku tidak menyuruh siapa pun membunuhnya." Ia bangkit, untuk pertama kalinya tampak tua, tampak goyah. "Kalau Yudha berdiri di sana dan membiarkan Bram mati... maka seseorang memberinya perintah lain. Seseorang yang menginginkan ayahmu mati lebih cepat daripada aku menginginkannya menderita."
Alana berdiri juga, jantungnya berdebar. "Siapa?"
Surya menatapnya, dan dalam matanya Alana melihat sesuatu yang tidak ia duga: ketakutan. "Bonar tidak hanya menjebakku pada 98, Nak. Bonar masih menyimpan rahasia yang bisa menghancurkan kami berdua. Dan kalau ayahmu mati dengan paksa di hari Yudha datang membawa pesanku..." Suaranya merendah. "...maka aku, tanpa sadar, mungkin telah memberi senjata kepada pembunuh sebenarnya. Dan ia akan membiarkan aku yang dipersalahkan."