Alana keluar dari rumah Menteng itu dengan kepala penuh dan tangan dingin. Di dalam mobil, Damar dan Sekar menatapnya menunggu.
"Pemancar menangkap semuanya," kata Reza dari kursi depan. "Tiap kata."
"Bagus." Alana menatap jendela gelap. "Karena kebenaran ternyata lebih rumit dari yang kita kira. Surya merancang perampokan perusahaan selama tiga puluh tahun. Tapi pembunuhan ayahku — itu mungkin bukan dia. Itu mungkin Bonar, memanfaatkan momen yang diciptakan Surya."
Damar mengerutkan dahi. "Kau percaya pada Surya?"
"Aku tidak percaya pada siapa pun." Alana menoleh padanya. "Tapi aku percaya pada bukti. Dan sekarang kita punya dua tersangka yang saling tidak percaya. Itu, Damar, adalah celah terbesar yang bisa kita peroleh."
Malam itu, di kantor lantai 26 — ruangan yang dulu disadap, alat-alatnya masih terpasang sesuai strategi Bab 8 — Alana menyusun rencana. Penyadap Garda Prima yang masih aktif itu, yang selama ini ia pakai sebagai kanal disinformasi, akan menjadi panggungnya.
"Aturan mainnya begini," Alana menjelaskan pada Sekar, Damar, dan Reza, sengaja tidak di kantor melainkan di apartemennya yang bersih dari alat. "Surya dan Bonar saling curiga, tapi belum saling menyerang. Kita yang akan membuat mereka saling menyerang. Aku akan membiarkan informasi 'bocor' lewat penyadap di kantorku — informasi bahwa aku punya rekaman lengkap hari kematian ayahku, dan bahwa rekaman itu menunjuk dengan jelas satu orang. Aku tidak akan menyebut nama. Aku akan biarkan masing-masing dari mereka takut bahwa namanyalah yang ada di sana."
"Dan mereka akan berlomba menyelamatkan diri," kata Damar pelan, mulai mengerti. "Yang lebih takut akan datang lebih dulu untuk berunding. Untuk menjual yang lain."
"Tepat." Alana mengangguk. "Bonar sudah kuberi tenggat tiga hari kemarin. Surya tahu rekaman itu ada. Kalau aku memutar bara di antara mereka lewat penyadap, salah satu akan retak. Dan ketika mereka retak, mereka akan mengaku — di tempat yang kukuasai, di kanal yang kurekam balik."
Reza menatapnya. "Kau membalikkan senjata mereka. Selama ini mereka menyadap kantormu untuk mendengarmu. Sekarang kau membuat kantormu menjadi mulut yang berbisik kebohongan, dan telinga yang merekam pengakuan."
"Penyadap itu sambungan dua arah," kata Alana. "Selalu begitu. Mereka cuma lupa siapa yang sekarang memegang ujungnya."
Damar menyandar di sofa, lengan terlipat. "Ada risikonya. Kalau kau memberi mereka informasi palsu lewat kantormu, dan salah satu dari mereka memverifikasinya dari sumber lain dan menemukan kebohongan — mereka akan tahu kau bermain dengan penyadap itu. Lalu kanal disinformasimu mati."
"Aku tidak akan memberi mereka kebohongan yang bisa diverifikasi," jawab Alana. "Aku akan memberi mereka kebenaran yang setengah — bahwa aku punya rekaman, itu benar; bahwa wajahnya jelas, itu benar. Yang kupalsukan hanya satu hal: bahwa aku sudah tahu dengan pasti siapa yang memberi perintah. Padahal belum. Masing-masing dari mereka akan mengira namanyalah yang akan kusebut. Ketakutan tidak butuh verifikasi, Damar. Ketakutan bekerja di kegelapan."
Sekar mengangguk pelan. "Lalu yang lebih takut akan bergerak lebih dulu."
"Dan ketika ia bergerak — untuk berunding, untuk menyelamatkan diri, untuk menjual yang lain — ia akan datang padaku. Di tempat yang kupilih. Dengan pemancar Reza di kerahku." Alana menatap mereka satu per satu. "Kita tidak butuh memenangkan perang besok. Kita butuh membuat dua musuh saling menelan lebih dulu."
Esok paginya, Alana masuk ke kantornya seperti biasa. Ia tahu kamera detektor asap dan perekam di gagang telepon masih menyala. Ia menelepon Sekar — sambungan yang sengaja dirancang untuk didengar.
"Sekar, simpan baik-baik salinan rekaman itu," katanya, suaranya pas-pasan terdengar tegang. "Yang dari hari ayah meninggal. Kalau terjadi apa-apa padaku, serahkan langsung ke kepolisian dan ke notaris RUPS. Di rekaman itu wajahnya jelas. Aku sudah memperbesarnya. Aku tahu siapa yang berdiri di ruangan ayahku dan membiarkannya mati. Tinggal satu langkah lagi sebelum aku bisa membuktikan siapa yang memberi perintah."
Ia meletakkan telepon. Lalu ia menunggu.
Umpan sudah dilempar ke air. Sekarang ia harus melihat ikan mana yang menyambar lebih dulu — Surya, yang takut dipersalahkan atas kematian yang tidak ia perintahkan, atau Bonar, yang takut wajahnya sendiri ada di rekaman itu.