Reaksi datang lebih cepat dari yang Alana duga.
Dua hari setelah umpan dilempar lewat penyadap, Bonar Situmorang meminta pertemuan rahasia. Bukan di kantornya, bukan di Menara Wijaya — di sebuah ruang privat restoran sunyi di pinggiran kota, tempat yang dipilih agar tidak ada yang melihat seorang pengacara papan atas duduk berhadapan dengan musuh kliennya.
Alana datang dengan Reza menunggu di mobil, pemancar di kerahnya, dan satu hal lagi yang ia siapkan: ia sengaja tampak lelah, tampak terdesak, tampak seperti perempuan yang likuiditasnya tinggal hitungan hari dan musuhnya terlalu banyak. Umpan terakhir bukan kekuatan. Umpan terakhir adalah kelemahan yang dipertontonkan.
"Saya akan langsung saja," kata Bonar, wajahnya tidak setenang biasanya. "Tawaran kelangsungan hidup yang kau berikan tiga hari lalu. Saya menerimanya. Dengan syarat."
Alana mengangkat alis lelah. "Syarat apa."
"Rekaman itu. Yang kau bisikkan ke asistenmu lewat telepon yang kau tahu disadap." Mata Bonar menyipit. "Kau pikir aku tidak tahu permainanmu? Garda Prima dibayar lewat Sentra, tapi aku yang mengatur kontraknya. Aku tahu kantormu masih menyala. Kau ingin aku mendengar bahwa ada rekaman. Pertanyaanku cuma satu: wajah siapa yang ada di sana?"
Inilah momennya. Alana menatap pengacara itu lama, lalu — dengan suara yang ia buat sehalus mungkin, seolah terpaksa jujur — ia berkata, "Yudha. Orang lapangan Surya. Ia berdiri di ruangan ayahku dan tidak mengangkat telepon saat ayahku jatuh. Rekaman itu menjerat Surya, Pak Bonar. Bukan Bapak." Ia berhenti. "Kalau Bapak menyeberang ke pihakku sekarang, dan bersaksi soal struktur Sentra Abadi dan soal 1998, aku akan pastikan namamu tidak masuk ke pusaran pembunuhan ini. Bapak hanya akan tersangkut soal korporat. Bukan soal nyawa."
Ia melihatnya — kelegaan yang sekejap melintas di wajah Bonar. Pengacara itu mengira ia aman. Mengira rekaman tidak menunjuk padanya. Dan dalam kelegaan itu, ia menjadi ceroboh.
"Baik," kata Bonar, mencondong ke depan. "Kalau begitu dengar baik-baik, Nona, karena ini akan menghancurkan Surya lebih dari rekaman mana pun. Surya memang dijebak pada 98 — itu benar. Tapi yang menjebaknya bukan ayahmu sendirian. Akulah yang menyusun dokumennya. Dan aku menyusunnya atas perintah." Ia berhenti, lalu menurunkan suara. "Surya tidak tahu ini. Sampai sekarang ia mengira ayahmu yang menjadi otaknya. Tapi kalau ia tahu kebenarannya — bahwa ada pihak ketiga yang menjebaknya, lalu memanfaatkan kebenciannya selama tiga puluh tahun sebagai senjata — ia akan menghancurkan orang itu dengan tangannya sendiri."
"Siapa pihak ketiga itu?"
Bonar tersenyum, senyum seorang pengacara yang mengira ia memegang kartu terakhir. "Itu, akan kuserahkan di hari aku resmi menyeberang. Hitam di atas putih. Di RUPS final."
Alana mengangguk pelan, pura-pura puas. Tapi di dalam, ia menyusun ulang seluruh papan catur. Bonar baru saja, tanpa sadar, mengakui dua hal sekaligus ke pemancar di kerahnya: bahwa ia menyusun jebakan 1998, dan bahwa ada pihak ketiga di puncak yang lebih tinggi dari Surya sekalipun.
Di mobil, Reza memutar ulang rekaman pengakuan Bonar. "Dapat semuanya. Jernih. Dia mengakui menyusun jebakan 1998 dan menyebut adanya pihak ketiga di atas Surya."
"Tapi dia tidak menyebut nama," kata Alana, menatap jendela. "Dia terlalu pintar untuk itu. Dia menahan nama itu sebagai jaminan nyawanya — kartu yang baru akan dia mainkan di RUPS, di tempat dia merasa paling aman, di hadapan saksi."
"Lalu kenapa kau biarkan?" tanya Reza. "Kau bisa menekannya sekarang."
"Karena kalau aku menekannya sekarang, dia akan kabur. Atau lebih buruk, dia akan menelepon pihak ketiga itu malam ini dan mereka akan berunding ulang, menyusun cerita bersama, mengubur namanya sebelum aku sempat menyentuhnya." Alana menggeleng. "Tidak. Aku ingin dia mengucapkan nama itu di ruangan yang penuh pemegang saham dan wartawan, di saat Surya juga ada di sana. Karena begitu Surya mendengar siapa yang sebenarnya menjebaknya tiga puluh tahun lalu — siapa yang memakai dendamnya sebagai senjata — Surya sendiri yang akan menghancurkan orang itu. Aku tidak perlu menjadi jaksa. Aku cukup mempertemukan dua orang yang saling membenci di ruangan yang sama, lalu menyalakan korek api."
Umpan terakhir sudah ditelan. Sekarang Alana harus menarik kailnya pada saat yang tepat — di RUPS final, di depan pemegang saham, pers, dan notaris, tempat tidak ada satu pun dari mereka bisa menarik kata-katanya kembali.