Apartemen Alana berubah menjadi ruang perang. Meja makan tertutup dokumen; layar laptop berderet; papan tulis putih penuh garis penghubung antara nama, perusahaan, dan tanggal. Sekar menuangkan kopi keempat malam itu. Damar berdiri di depan papan, lengan terlipat. Reza duduk di lantai dengan tiga hard disk dan satu sistem audio.
"Mari kita susun semuanya," kata Alana, berdiri di tengah ruangan. "Besok pagi RUPS final. Kita hanya punya satu kesempatan. Semua harus terangkai. Mulai dari yang paling mudah dibuktikan."
Ia menunjuk papan. "Satu: mark-up vendor. PT Bahari Logistik Nusantara, sewa gudang empat miliar sebulan untuk yang harga pasarnya satu setengah. Wirawan Salim, adik Hendra, komisaris di sana. Audit forensik resmi sudah mendokumentasikan aliran selisih dua setengah miliar sebulan keluar dari kas Wijaya. Ini bukti keras, hitam di atas putih. Hendra akan jatuh karena ini."
Sekar mengangguk, menyerahkan map. "Auditor menandatangani laporan final tadi sore. Sah."
"Dua," lanjut Alana. "Kepemilikan Sentra Abadi. Lapisan cangkang sampai entitas Singapura — sudah ditembus. Bukti bahwa Surya Danuatmaja adalah pemilik dan pengendali sebenarnya dari delapan belas persen saham yang disembunyikan. Ditambah pengakuan Bonar sendiri, terekam, bahwa ia menyusun struktur itu."
"Tiga," kata Damar, menunjuk garis di papan. "Rekaman hari kematian Bramantyo. Yudha, orang Surya, di ruangan. Membiarkannya mati tanpa memanggil bantuan. Ini yang akan mengguncang ruangan."
"Tapi rekaman itu pedang bermata dua," Alana memperingatkan. "Surya akan berkata Yudha melampaui perintahnya. Dan mungkin itu benar. Karena itu kita butuh bagian empat." Ia menatap mereka satu per satu. "Pengakuan Bonar. Bahwa ada pihak ketiga di atas Surya — yang menjebak Surya pada 98, lalu memanfaatkan dendamnya selama tiga puluh tahun. Pihak yang sama yang, kuduga, memberi Yudha perintah berbeda di hari ayahku mati. Surya menginginkan ayahku menderita hidup-hidup. Seseorang menginginkannya mati cepat. Kebenaran 1998 dan pembunuhan ayahku terhubung oleh satu nama yang belum kita lihat."
Ruangan hening. Reza memecah keheningan. "Bonar bilang ia akan menyerahkan nama itu besok di RUPS. Kau percaya dia?"
"Aku percaya dia takut," kata Alana. "Dan orang yang takut akan menyerahkan siapa pun untuk menyelamatkan dirinya. Tugas kita besok adalah memastikan ia tidak punya pilihan lain selain bicara — di depan semua orang, sebelum ia sempat berunding ulang dengan pihak ketiga itu untuk menyelamatkan diri dengan cara lain."
Damar menggeser berkas. "Dan aritmatika suaranya?"
Sekar membuka lembar perhitungan. "Berbalik, Bu. Dua pemegang saham yang dulu dibeli Surya sudah menjual kembali. Saham publik condong ke arah kita setelah pemberitaan pers. Bank Arta Sentosa dan Bank Mahardika mengonfirmasi dukungan restrukturisasi — utang dua ratus dua puluh miliar tertutup tepat waktu, jadi tidak ada alasan gagal bayar yang bisa dipakai Surya untuk menjatuhkan Direktur Utama. Empat puluh satu persen Ibu, ditambah saham publik yang berbalik dan suara Damar, melewati blok Surya yang sekarang tinggal kurang dari dua puluh persen."
Alana menatap angka itu lama. Untuk pertama kalinya dalam berbulan-bulan, aritmatika berpihak padanya. Tapi ia tahu — Surya tidak akan datang ke RUPS untuk menang lewat suara. Surya akan datang membawa kejutan terakhir. Dan ada satu variabel yang belum terkunci.
"Hendra," kata Alana pelan. "Dia sudah berjanji bersaksi melawan Surya, menyerahkan bukti aliran dana. Tapi Hendra adalah orang yang sepanjang hidupnya melompat ke pihak yang menang. Kalau besok ia mencium aritmatika berbalik lagi, atau kalau pihak ketiga itu menawarinya jalan keluar..." Ia menatap timnya. "Jangan pernah lengah pada Hendra. Sampai palu terakhir diketuk, ia bisa berbalik."
Mereka bekerja sampai pukul tiga pagi. Saat akhirnya semua pulang, Alana berdiri sendiri di depan jendela, menatap Jakarta yang berkelip. Ia menyentuh jam tangan ayahnya. Besok, di ruangan tempat ayahnya pernah berdiri tegak, ia akan membuka semua kebenaran sekaligus.
"Besok," bisiknya ke kaca, "aku selesaikan ini untukmu, Ayah."