Pukul tujuh pagi, dua jam sebelum RUPS, telepon Alana berdering. Nomor tak dikenal. Ia mengangkat.
"Nona Wijaya." Suara Hendra Salim. Lebih tegang dari biasanya. "Kita perlu bicara. Sekarang. Sebelum rapat."
"Bicara saja."
"Tidak di telepon." Hela napas berat di seberang. "Saya di kafe lobi bawah Menara. Datang. Sendiri."
Alana menutup telepon. Ia menatap Sekar, yang baru tiba membawa map akhir. "Hendra ingin bertemu. Sebelum RUPS. Sendiri."
Sekar mengerutkan kening. "Ibu sudah memperingatkan diri sendiri tentang ini semalam. Dia akan berbalik."
"Mungkin." Alana mengenakan jasnya. "Atau dia takut. Bedanya tipis pada orang seperti Hendra. Aku harus tahu yang mana." Ia memasang pemancar Reza di kerahnya — kebiasaan yang sudah menjadi naluri. "Kalau aku tidak naik dalam empat puluh menit, mulai RUPS tanpa aku dan jalankan rencana B."
Hendra duduk di sudut kafe, kopi tak tersentuh di depannya, jas mahal yang tampak terlalu longgar di bahunya yang turun. Lelaki lima puluh delapan tahun itu menua sepuluh tahun dalam beberapa bulan terakhir.
"Duduk," katanya. Alana duduk.
"Saya akan jujur," kata Hendra, suaranya rendah. "Semalam saya ditemui orang. Bukan Surya. Seseorang yang lebih tinggi dari Surya. Dia menawari saya jalan keluar — kebal hukum, sebagian kekayaan saya selamat, asal saya tidak bersaksi hari ini. Asal saya diam soal aliran dana, dan asal saya tidak menyerahkan apa pun yang saya tahu tentang 1998."
Alana menjaga wajahnya datar, tapi jantungnya berdebar. "Pihak ketiga itu. Yang ada di atas Surya."
Hendra menatapnya tajam. "Jadi kau sudah tahu ada pihak ketiga."
"Aku tahu ada nama yang belum kulihat. Siapa dia, Hendra?"
Lelaki itu mengaduk kopinya yang dingin, tidak meminumnya. Lalu ia berkata, "Sepanjang hidup saya, Nona, saya selalu melompat ke pihak yang menang. Ayahmu tahu itu. Surya tahu itu. Karena itu mereka memakai saya. Karena saya bisa dibeli." Ia menatap Alana lurus. "Semalam, saya hampir menerima tawaran itu. Hampir. Karena pihak yang menawari saya tampak seperti pihak yang akan menang — dia punya pengaruh yang bahkan Surya tidak punya. Tapi pagi tadi saya melihat berita. Saya melihat aritmatika. Saya melihat audit forensik yang sudah ditandatangani. Dan saya sadar satu hal."
"Apa?"
"Bahwa untuk pertama kalinya dalam tiga puluh tahun, pihak yang menang bukan yang punya pengaruh paling besar. Tapi yang punya bukti paling banyak." Hendra mendorong sebuah amplop tebal ke seberang meja. "Ini. Semua catatan asli aliran dana PT Bahari. Dan satu hal lagi — dokumen 1998 yang saya simpan selama ini. Saya dulu staf junior di bagian keuangan saat krisis. Saya melihat siapa yang sebenarnya menandatangani transfer dana yang hilang itu. Bukan Surya. Bukan ayahmu."
Tangan Alana berhenti di atas amplop. "Siapa?"
Hendra membuka mulut. Lalu menutupnya. Lalu, dengan suara yang nyaris berbisik, ia berkata satu nama.
Alana merasa lantai bergeser di bawahnya. Nama itu. Nama yang selama ini berdiri di tepi setiap pertemuan, di luar setiap kecurigaan, di sisi yang selalu tampak abu-abu tapi tak pernah benar-benar terbukti.
"Kau yakin," bisiknya.
"Saya menyimpan dokumen ini tiga puluh tahun karena saya tahu suatu hari nyawa saya bergantung padanya." Hendra berdiri, jasnya tergantung di bahunya yang lelah. "Hari ini saya pertaruhkan ke pihakmu, Nona. Bukan karena saya baik. Tapi karena saya akhirnya cukup tua untuk lelah jadi pengkhianat. Naiklah ke RUPS. Saya akan bersaksi. Hitam di atas putih." Ia berhenti di pintu kafe, menoleh. "Tapi berhati-hatilah. Orang yang saya tolak semalam tidak akan menerima penolakan dengan tenang. Dia ada di gedung ini, sekarang. Dan dia mengira saya masih miliknya."
Hendra melangkah keluar. Alana menggenggam amplop itu erat-erat, namanya berdentang di kepalanya, dan menatap ke arah lift yang akan membawanya ke lantai 25 — ke ruangan tempat semua kebenaran akan tumpah.