Ruang rapat dewan di lantai 25 Menara Wijaya penuh sesak. Tiga belas anggota dewan di meja utama. Deretan kursi pemegang saham di belakang, penuh. Wartawan ekonomi berkerumun di sisi ruangan, kamera siap. Notaris duduk di ujung meja dengan palu di tangan, dokumen resmi terbentang. Di antara hadirin, Alana melihat mereka semua: Hendra Salim, pucat tapi tegak; Ratna Kusuma, gelisah; Bonar Situmorang, dengan tas kerja di pangkuannya; Damar Adiwangsa, tenang di kursi tamu undangan.
Dan di kursi perwakilan Sentra Abadi, rambut peraknya berkilau di bawah lampu — Surya Danuatmaja, hadir sebagai prinsipal, sama seperti hari ia pertama kali menampakkan wajahnya.
Notaris mengetuk meja. "Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa Wijaya Group, dengan agenda mosi tidak percaya terhadap Direktur Utama dan pengesahan struktur kepemilikan, kami nyatakan dibuka."
Surya berdiri lebih dulu, suaranya tenang menguasai ruangan. "Terima kasih. Saya akan langsung pada intinya. Direktur Utama Wijaya Group, Nona Alana Wijaya, telah memimpin perusahaan ini ke jurang. Likuiditas nyaris ambruk. Reputasi tercoreng oleh pemberitaan. Saya, sebagai pemegang saham besar, mengajukan pemberhentiannya — hari ini, di ruangan ini." Ia menoleh pada notaris. "Saya yakin suara yang saya kumpulkan cukup. Mari kita hitung."
Beberapa kepala di ruangan mengangguk. Surya tersenyum tipis ke arah Alana — senyum seorang lelaki yang telah menunggu tiga puluh tahun dan kini yakin palu akan berpihak padanya.
Alana berdiri perlahan. Ia tidak terburu-buru. Ia membiarkan ruangan menatapnya — perempuan dua puluh tujuh tahun yang diremehkan di ruangan yang sama berbulan-bulan lalu.
"Sebelum kita menghitung suara," katanya, suaranya jernih, "saya minta hak bicara yang dijamin anggaran dasar bagi Direktur Utama. Lima belas menit. Setelah itu, hitung sesuka hati."
Notaris menatap dokumen, lalu mengangguk. "Diperkenankan."
Alana menekan tombol di pengendali. Layar besar di dinding ruangan menyala. "Tuan dan Puan sekalian. Hari ini bukan tentang likuiditas. Likuiditas sudah aman — Bank Arta Sentosa dan Bank Mahardika telah menutup utang dua ratus dua puluh miliar tepat waktu. Surat konfirmasinya ada di meja Anda masing-masing." Kertas berdesir di seluruh ruangan. "Hari ini adalah tentang siapa yang sebenarnya menggerogoti perusahaan ini. Dan tentang siapa yang berdiri di ruangan ayah saya, di lantai di atas kepala kita, di hari ia mati."
Ruangan senyap seketika. Surya menegang. Bonar mencengkeram tas kerjanya.
"Pertama," kata Alana, "mark-up vendor." Layar menampilkan grafik aliran dana. "PT Bahari Logistik Nusantara, sewa gudang empat miliar sebulan untuk yang harga pasarnya satu setengah miliar. Komisaris: Wirawan Salim, adik kandung Wakil Direktur Utama, Hendra Salim. Audit forensik resmi, ditandatangani dan sah, mendokumentasikan dua setengah miliar mengalir keluar setiap bulan." Ia menoleh. "Pak Hendra, Anda diundang bersaksi."
Semua mata beralih ke Hendra. Lelaki itu berdiri, tangannya gemetar memegang amplop. Untuk satu detik yang panjang — satu detik di mana seluruh permainan tergantung di ujung pisau — Alana menahan napas, mengingat peringatannya sendiri: sampai palu terakhir diketuk, Hendra bisa berbalik.
Hendra menatap Surya. Lalu menatap Bonar. Lalu, perlahan, ia membuka amplop dan mengangkat dokumen tua yang menguning di tangannya.
"Saya bersaksi," kata Hendra, suaranya pecah tapi terdengar ke seluruh ruangan. "Tentang mark-up. Tentang Sentra Abadi. Dan tentang apa yang sebenarnya terjadi pada dana yang hilang tahun 1998 — yang selama ini dituduhkan pada Surya Danuatmaja, padahal yang menandatangani setiap transfer adalah orang lain. Orang yang masih duduk di ruangan ini."
Surya berdiri mendadak, kursinya berderak. "Apa maksudmu, orang lain—"
"Diam, Surya," potong Hendra, dan untuk pertama kalinya berbicara pada bekas tuannya tanpa takut. "Kau dijebak tiga puluh tahun lalu. Dan kau menghabiskan hidupmu membalas dendam pada orang yang salah. Bukan Bramantyo otaknya. Bramantyo hanya percaya pada laporan palsu." Ia mengangkat dokumen lebih tinggi. "Otaknya ada di sini. Namanya tertulis di transfer ini. Orang yang sama yang semalam menawari saya kekebalan hukum asal saya diam hari ini."
Seluruh ruangan menahan napas. Wartawan mencondong ke depan. Kamera berkedip. Notaris mengangkat palu, ragu, tidak tahu apakah harus mengetuk.
Surya menoleh perlahan, wajahnya berubah dari kemarahan menjadi pemahaman yang mengerikan, menatap ke satu titik di ruangan — ke arah seseorang yang selama ini duduk dengan tenang di sisi yang dianggap aman.
Alana mengikuti tatapan itu. Dan ia tahu — nama yang dibisikkan Hendra pagi tadi sebentar lagi akan diucapkan keras-keras, di depan pemegang saham, pers, dan notaris, di ruangan yang sama tempat ayahnya pernah berdiri.
"Sebutkan namanya, Pak Hendra," kata Alana, suaranya tenang, tajam, menembus keheningan. "Sebutkan keras-keras. Agar tidak ada satu orang pun di ruangan ini yang bisa berpura-pura tidak mendengar."