Hendra Salim berdiri penuh dengan dokumen tua di tangannya, dan untuk sesaat seluruh ruangan menunggu nama itu meluncur dari bibirnya. Tetapi ia tidak langsung mengucapkannya. Tangannya gemetar, matanya berpindah dari Surya ke Bonar, lalu kembali ke Alana.
"Nama itu akan saya ucapkan," kata Hendra serak. "Tapi sebelum saya menudingnya, Nona Alana sendiri yang harus menunjukkan akarnya. Agar tidak ada yang menyebut ini fitnah seorang pengkhianat yang ingin selamat."
Alana mengangguk. Ia tidak menurunkan layar. Audit forensik PT Bahari masih tertayang di dinding—mark-up empat miliar untuk gudang berharga satu setengah miliar, dua setengah miliar mengalir keluar tiap bulan lewat perusahaan adik Hendra. Ia membiarkan grafik itu berdiam sejenak, lalu mengganti slide.
Sekarang muncul bagan kepemilikan berlapis—kotak demi kotak yang saling menunjuk, dari Jakarta ke Singapura, sampai bermuara pada satu nama.
"PT Sentra Abadi, pemegang delapan belas persen saham perusahaan ini. Selama bertahun-tahun diwakili kuasa hukum, tidak pernah menunjukkan wajah. Pemilik sebenarnya disembunyikan di balik tujuh lapis perusahaan cangkang." Ia menatap lurus ke arah Surya. "Sampai entitas terakhir di Singapura. Pemilik manfaat akhir: Surya Danuatmaja."
Ruangan meledak dalam kasak-kusuk. Surya tidak bergerak.
Bonar Situmorang berdiri. "Saya keberatan. Ini fitnah yang—"
"Duduk, Pak Bonar." Suara Alana tidak naik, tetapi ada baja di dalamnya. "Anda akan mendapat giliran. Saya belum selesai."
Bonar memandang Surya. Surya hanya menatap Alana, dan untuk pertama kalinya senyum tipisnya memudar sedikit.
"Bukti kepemilikan ini sudah dikonfirmasi oleh otoritas Singapura dan akan menjadi bahan penyelidikan OJK soal keterbukaan informasi." Alana menutup map. "Tapi semua ini—mark-up vendor, kepemilikan tersembunyi—hanya soal uang. Dan uang bukan kejahatan terbesar yang dilakukan orang ini."
Ia menekan tombol terakhir.
Layar menjadi gelap. Lalu sebuah berkas audio muncul, garis gelombang suara terbentang seperti detak jantung di monitor.
"Pak notaris, mohon dicatat. Yang akan saya putar berikut adalah rekaman dari hari ayah saya, Bramantyo Wijaya, meninggal."
Seluruh ruangan membeku. Bahkan wartawan berhenti memotret.
Alana meletakkan jarinya di tombol putar. Ia menatap Surya, dan untuk sekali ini, lelaki berambut perak itu balas menatapnya dengan sesuatu yang menyerupai ketakutan.
"Tiga puluh tahun Bapak menunggu," kata Alana pelan. "Sekarang dengarkan apa yang ayah saya dengar di menit-menit terakhirnya."
Ia menekan tombol.