Suara mengalir dari pengeras suara ruangan. Mula-mula hanya desis ruangan kosong. Lalu langkah kaki. Lalu suara Bramantyo Wijaya—suara yang sudah tiga bulan tidak terdengar siapa pun—berat, lelah, dan marah.
"Aku sudah bilang. Kau tidak akan mendapatkan perusahaan ini selama aku masih bernapas."
Alana menahan dirinya agar tidak gemetar. Ia sudah mendengar rekaman ini puluhan kali sendirian di kantornya, tetapi mendengarnya menggema di ruangan penuh ini membuat dadanya sesak.
Suara kedua menjawab. Halus, terukur, dingin.
"Kalau begitu, Pak Bram, mungkin masalahnya memang pada napas Bapak."
Di ruangan, beberapa orang menahan napas. Itu bukan suara Surya. Itu suara yang lebih muda—suara seorang lelaki lapangan, bukan eksekutif. Suara yang sebagian orang di ruangan ini pernah dengar berbisik di lorong-lorong.
Alana menghentikan rekaman. Ia menatap ke arah Surya, lalu ke arah Bonar.
"Suara itu," katanya, "adalah suara Yudha. Orang lapangan PT Sentra Abadi. Orang yang dipakai Bapak Surya untuk pekerjaan yang tidak boleh meninggalkan jejak kertas."
Surya menegang di kursinya. Di sampingnya, Bonar Situmorang menutup kopernya pelan-pelan, terlalu pelan.
"Rekaman ini berasal dari alat sadap yang dipasang di kantor ayah saya," lanjut Alana. "Dipasang oleh perusahaan keamanan Garda Prima, dibayar bulanan oleh PT Sentra Abadi—perusahaan Bapak Surya. Ironisnya, alat yang Bapak Surya pasang untuk mengawasi ayah saya, justru merekam orangnya sendiri di menit-menit terakhir ayah saya."
Alana melanjutkan rekaman.
Suara Yudha di rekaman terus terdengar. "Dokter sudah bilang jantung Bapak lemah. Berbulan-bulan obat Bapak sudah tidak lagi menjaganya. Stres sedikit lagi, dan semuanya selesai. Saya hanya datang menyampaikan satu hal, Pak Bram. Soal arsip tahun sembilan delapan. Soal siapa yang sebenarnya mengambil uang itu—dan Bapak membiarkan diri percaya pada orang yang salah selama tiga puluh tahun."
Lalu suara Bramantyo, terputus-putus, napas memberat. "Kau... siapa yang menyuruhmu—"
"Bapak sudah tahu siapa. Dia menunggu di tahun sembilan delapan, dan dia menunggu sekarang."
Lalu suara benda jatuh. Kursi tergeser. Napas yang tersengal. Suara serak meminta ambulans. Dan lima belas detik kemudian—dan ini bagian yang membuat Alana harus menutup mata setiap kali—langkah kaki yang pergi. Pergi. Tidak memanggil siapa pun. Tidak menelepon ambulans. Hanya mengambil sebuah map dari meja, lalu pergi dan menutup pintu.
Alana menghentikan rekaman. Ruangan benar-benar senyap, senyap yang berat seperti batu.
"Catatan medis ayah saya, tiga bulan sebelum ia wafat, menyatakan jantungnya sehat. Tapi di bulan-bulan terakhir, obat di laci pribadinya diam-diam ditukar—digoxin dosis tinggi yang pelan-pelan melemahkan jantung yang tadinya kuat. Itu sudah dipastikan laboratorium independen." Alana mengangkat satu lembar lagi. "Lalu di hari terakhir, jantung yang sudah dirapuhkan itu ditekan dengan kejutan yang dirancang persis untuk meruntuhkannya. Orang yang sehat akan bertahan. Ayah saya, dengan jantung yang sudah diracuni perlahan, tidak. Dan orang yang berdiri di hadapannya hari itu tahu persis ia tidak akan bertahan."
Ia meletakkan lembar itu.
"Ayah saya tidak dibunuh dengan pisau atau peluru," kata Alana, suaranya bergetar tetapi tegas. "Ia diracuni perlahan selama berbulan-bulan, lalu ditekan sampai jantungnya berhenti di hari terakhir—dan dibiarkan mati sendirian di lantai kantornya, sementara orang yang berdiri di sana memilih tidak mengangkat telepon, lalu berjalan keluar."
Hendra berdiri dari kursi saksinya. "Yang Mulia—maksud saya, Bapak notaris—saya bersaksi. Yudha menerima dua perintah hari itu. Satu dari Surya: menyampaikan pesan soal sembilan delapan. Dan satu lagi—lewat saluran yang tidak Surya ketahui—dari orang yang menjebak Surya tiga puluh tahun lalu: kalau Bramantyo mulai mengerti siapa pencuri sebenarnya, jangan panggil siapa pun. Biarkan." Tangannya menunjuk lurus. "Orang itu duduk di sana. Bonar Situmorang."
Ruangan gaduh. Wartawan berebut merekam. Bonar berdiri, wajahnya akhirnya kehilangan ketenangan profesionalnya. "Ini fitnah tanpa bukti—"
"Buktinya map yang diambil Yudha dari meja ayah saya," potong Alana. "Map dokumen 1998 yang Anda susun, Pak Bonar. Map yang sama yang Anda perintahkan diambil agar ayah saya tidak sempat membacanya sampai tuntas."
Surya Danuatmaja akhirnya berdiri perlahan. Wajahnya tidak menunjukkan amarah, hanya kelelahan yang dalam, seolah tiga puluh tahun beban baru saja jatuh menimpa bahunya sekaligus.
Ia menatap Bonar, lalu Alana. "Aku mengirim Yudha untuk menyampaikan pesan. Bukan untuk membunuh. Aku ingin ayahmu hidup untuk menyaksikan kejatuhannya." Suaranya bergetar. "Aku tidak tahu ada perintah kedua. Aku tidak tahu... pengacaraku sendiri yang mengubah pesanku menjadi pisau."
"Apa pun niat Bapak," kata Alana dingin, "Bapak yang membayar Garda Prima. Bapak yang mengirim Yudha. Bapak yang menciptakan jalan agar ayah saya bisa diracuni dan ditekan sampai mati. Niat tidak menghapus tanggung jawab. Tapi yang memberi perintah fatal—untuk membiarkannya mati—adalah orang yang paling takut ayah saya membaca map itu. Bonar."
Surya menatapnya lama. "Tidak," akhirnya ia mengakui, suaranya nyaris tak terdengar. "Tidak menghapusnya. Tapi aku akhirnya tahu siapa musuhku yang sebenarnya."
Notaris di meja depan, tangannya gemetar, mengangkat telepon untuk menghubungi pihak berwenang. Di luar pintu kaca, suara sirene mulai terdengar samar dari kejauhan, naik perlahan menuju Menara Wijaya.