Polisi tidak menyela RUPS—mereka menunggu di lorong, dua petugas berseragam dan satu penyidik berpakaian sipil dari kepolisian yang sudah Alana hubungi sejak minggu lalu. Tetapi kehadiran mereka di balik pintu kaca mengubah segalanya di dalam ruangan.
Alana kembali ke podium. Tangannya masih dingin, tetapi suaranya stabil.
"Kita masih punya agenda yang harus diselesaikan," katanya. "Mosi tidak percaya terhadap Direktur Utama. Bapak Surya, apakah Bapak masih ingin melanjutkan pemungutan suara?"
Surya tidak menjawab. Untuk pertama kalinya, lelaki yang selalu memegang kendali itu tampak tidak tahu harus berkata apa.
Alana berputar menghadap seluruh ruangan. "Mari kita bicara aritmatika, karena itu satu-satunya bahasa yang dipahami ruangan ini. Bapak Surya memegang delapan belas persen melalui Sentra Abadi. Bapak Hendra sembilan persen. Pagi ini, sebelum semua ini terungkap, mereka mengklaim sudah mengamankan suara tambahan dari pemegang saham publik untuk menggulingkan saya."
Ia menatap deretan pemegang saham publik di sisi kanan ruangan—para manajer dana, perwakilan investor institusi, pemilik blok kecil yang selama berbulan-bulan menjadi medan perebutan.
"Tapi saya bertanya kepada Bapak dan Ibu sekarang. Setelah mendengar rekaman tadi. Setelah melihat audit forensik. Apakah Bapak dan Ibu masih ingin menyerahkan perusahaan ini kepada seseorang yang sahamnya disembunyikan secara ilegal, yang orangnya menekan ayah saya sampai mati, dan yang besok pagi mungkin sudah berstatus tersangka?"
Hening sejenak. Lalu seorang lelaki berkacamata di barisan investor institusi berdiri—Pak Raharjo, perwakilan dana pensiun yang memegang hampir empat persen.
"Bu Alana," katanya, suaranya hati-hati, "dana pensiun yang kami kelola tidak bisa terlibat dalam skandal seperti ini. Kami menarik dukungan kami terhadap mosi. Kami memilih agar Bu Alana tetap menjabat."
Satu suara. Lalu yang kedua berdiri. Lalu yang ketiga. Manajer dana dari Bank Arta Sentosa—salah satu bank yang sudah Alana lobi untuk restrukturisasi utang—menyatakan hal yang sama. "Bank kami sudah berkomitmen pada rencana restrukturisasi Bu Alana. Kami tidak akan menyerahkan agunan kami pada manajemen yang sedang diselidiki polisi."
Aritmatika yang dibanggakan Surya sepanjang pagi runtuh di depan matanya, satu suara demi satu suara. Pemegang saham publik yang semula abu-abu, yang bisa dibeli atau dibujuk, kini berbaris di belakang Alana—bukan karena mereka mencintainya, tetapi karena tidak ada satu pun dari mereka yang mau namanya tercatat sejarah sebagai pendukung pembunuh.
Alana mengerti permainan ini lebih baik daripada siapa pun di ruangan. Selama berbulan-bulan ia tidak mengejar suara-suara ini dengan janji manis. Ia mengejarnya dengan angka: rencana restrukturisasi utang dua ratus dua puluh miliar menjadi obligasi konversi, dukungan dua bank besar, sale and leaseback gedung Sudirman yang menyumbat kebocoran kas. Para pemegang saham institusi ini tahu satu hal yang Surya remehkan—uang mereka lebih aman di tangan perempuan yang menyelamatkan neraca daripada di tangan lelaki tua yang membakar perusahaan demi dendam tiga puluh tahun. Loyalitas mereka bukan pada Alana. Loyalitas mereka pada angka. Dan Alana memegang angkanya.
Bonar Situmorang berbisik mendesak ke telinga Surya. Alana menangkap potongan kalimatnya—"...tarik mosinya sekarang, sebelum kalah voting resmi, jejaknya..."
Surya mengangkat tangan, lelah. "Saya menarik mosi tidak percaya," katanya datar.
Notaris mencatat. "Mosi ditarik oleh pengusulnya. Direktur Utama Alana Wijaya tetap menjabat secara sah."
Tidak ada tepuk tangan. Suasananya terlalu berat untuk itu. Tetapi Alana melihat Sekar di barisan staf, dan asisten setianya itu mengangguk pelan, mata berkaca-kaca.
"Satu hal lagi," kata Alana, sebelum notaris menutup sesi. "Saya mengajukan agenda tambahan untuk RUPS berikutnya: pemberhentian Bapak Hendra Salim dari jabatan Wakil Direktur Utama dan seluruh posisinya di perusahaan, dengan alasan pelanggaran fidusia dan dugaan tindak pidana. Mohon dicatat dalam risalah."
Hendra, yang masih berdiri di tengah ruangan dengan wajah hancur, tidak membantah lagi. Ia tahu semuanya sudah berakhir. Ketika dua petugas mendekatinya untuk meminta keterangan, ia tidak melawan—ia hanya menatap Surya dengan kebencian seseorang yang baru menyadari bahwa selama tiga puluh tahun, ia hanya alat yang akan dibuang.