Hendra Salim ditetapkan sebagai tersangka tiga hari kemudian.
Berita itu memenuhi setiap kanal ekonomi: "Wakil Direktur Utama Wijaya Group Tersangka Penggelapan dan Diduga Terkait Kematian Pendiri." Foto Hendra keluar dari kantor polisi dengan kemeja kusut dan tangan menutupi wajah tersebar di mana-mana. PT Bahari Logistik Nusantara digeledah. Wirawan Salim, adiknya, ditangkap di bandara saat hendak terbang ke Singapura.
Alana menonton siaran berita itu dari kantornya di lantai dua puluh enam, kopi yang mendingin di tangannya. Sekar berdiri di sampingnya.
"Bu sudah tahu ini akan terjadi," kata Sekar pelan. "Sejak awal, kalau dipikir-pikir. Sejak Bu menemukan kontrak Bahari di bab pertama."
"Aku tahu Hendra mencuri," kata Alana. "Aku tidak tahu dia menyimpan nama orang yang sebenarnya menjebak Surya selama tiga puluh tahun." Ia menaruh cangkir. "Sampai dia bersaksi di RUPS itu."
Dewan direksi menggelar rapat darurat siang itu. Sembilan kursi tetap, empat lainnya menatap meja, malu. Alana memimpin tanpa banyak kata. Ia mengedarkan surat pemberhentian Hendra Salim dari seluruh jabatannya, efektif segera, dan tak satu pun tangan terangkat menentang. Bahkan Ratna Kusuma, yang berbulan-bulan menjadi suara perlawanan, hanya menandatangani dalam diam. Ruangan yang dulu meremehkan Alana di bab pertama, kini tak berani menatap matanya.
"Kursi Wakil Direktur Utama saya kosongkan dulu," kata Alana, menutup map. "Saya tidak akan mengisinya dengan orang lama. Perusahaan ini sudah cukup lama dipimpin oleh orang yang mencintai kursinya lebih dari mencintai perusahaannya."
Tidak ada yang membantah.
Sore itu, Alana memenuhi satu permintaan yang ia rasa wajib. Ia pergi ke kantor polisi tempat Hendra ditahan, atas izin penyidik, untuk menemui lelaki itu satu kali. Bukan karena belas kasihan. Karena ia perlu satu jawaban.
Hendra duduk di ruang pemeriksaan, tampak lebih tua sepuluh tahun dalam tiga hari. Ketika Alana masuk, ia tertawa pahit.
"Datang untuk menikmati kemenangan, Nona?"
"Datang untuk satu pertanyaan." Alana duduk di seberangnya. "Selama tiga puluh tahun kau tahu Bonar yang mengambil dana itu, dan kau tahu siapa yang dikirim ke ruangan ayah saya hari dia mati. Kenapa kau diam sampai hari ini?"
Hendra menatap mejanya lama. "Karena selama aku diam, aku hidup," katanya akhirnya, suaranya serak. "Dokumen sembilan delapan itu satu-satunya alasan Bonar dan Surya tidak membuangku lebih cepat. Aku tahu apa yang Yudha lakukan di ruangan itu—aku dengar belakangan, dari saluran Sentra. Tapi aku tidak bersuara. Membuka mulut berarti aku berikutnya yang ditemukan mati 'karena serangan jantung'."
"Kau membiarkannya tetap tersembunyi."
"Ya." Untuk pertama kalinya, sesuatu yang menyerupai penyesalan melintas di wajah Hendra. "Aku membiarkannya. Selama dua dekade ayahmu memperlakukanku seperti angka di neracanya. Surya menjanjikanku kursi nomor satu. Aku percaya. Aku bodoh." Ia mengangkat wajah. "Dan sekarang kursi itu jadi milikmu, dan aku jadi miliknya negara."
Alana berdiri. "Kau sudah bersaksi melawan Bonar dan Surya di RUPS. Penyidik bilang kerja samamu bisa meringankan hukuman. Lanjutkan. Serahkan dokumen sembilan delapan yang kau simpan, seluruhnya."
"Bonar akan menghancurkanku kalau aku bicara lebih jauh."
"Bonar tidak bisa menghancurkan siapa pun lagi," kata Alana. "Itu yang harus kau pahami. Kerajaan tiga puluh tahunnya runtuh minggu ini. Pertanyaannya hanya: kau ingin mati bersamanya, atau menyelamatkan apa yang tersisa dari hidupmu."
Ia keluar tanpa menunggu jawaban.
Di lorong, penyidik berpakaian sipil—Komisaris Adi, yang sudah bekerja dengan Alana sejak bukti pertama diserahkan—menunggunya.
"Dia akan bicara," kata Komisaris Adi. "Orang seperti dia selalu bicara begitu tuannya jatuh. Naluri bertahan hidup."
"Saya tahu," kata Alana. "Yang saya khawatirkan bukan Hendra. Hendra hanya alat." Ia menatap ke luar jendela, ke arah langit kota Jakarta yang kelabu. "Yang saya khawatirkan tetap orang yang memegang alat itu. Dan Surya belum benar-benar kalah sampai kebenaran tahun sembilan delapan terbongkar habis."
Komisaris Adi mengangguk. "Soal itu, Bu. Ada berkas lama yang baru kami buka dari brankas Bahari. Tahun sembilan delapan. Saya rasa Bu Alana perlu melihatnya sendiri. Karena ada nama di sana yang tidak Bu duga."
Alana menoleh tajam. "Nama siapa?"
Komisaris Adi menyerahkan map cokelat tua yang sudah pudar. "Sebaiknya Bu baca di tempat yang tenang."