Selagi Alana menyusun langkah terakhirnya, jaring hukum mengencang di sekeliling PT Sentra Abadi.
OJK secara resmi membuka penyelidikan atas pelanggaran keterbukaan informasi—kepemilikan delapan belas persen yang disembunyikan di balik tujuh lapis perusahaan cangkang. Otoritas Singapura, atas permintaan kerja sama lintas negara, membekukan entitas terakhir di rantai itu. Rekening-rekening dibekukan. Aset ditelusuri.
Dan di tengah semua itu, Bonar Situmorang membuat keputusan yang akhirnya menghancurkan kliennya.
Pengacara papan atas itu menemui Alana di kantornya, tanpa Surya, tanpa diundang.
"Bu Alana," katanya, meletakkan koper di lantai. "Saya datang sebagai pengacara, bukan sebagai musuh."
"Anda kuasa hukum Sentra Abadi dan penasihat tetap Adiwangsa Holdings," kata Alana, tidak mempersilakannya duduk. "Anda tidak pernah jadi kawan saya, Pak Bonar."
"Justru karena itu saya di sini." Bonar tersenyum tipis, senyum seorang lelaki yang sudah menghitung risiko dan memilih sisi yang akan bertahan. "Sebuah kapal yang tenggelam, Bu, mengajari kita untuk berhenti menjadi penumpang setia. Saya menyerahkan diri sebagai saksi yang bekerja sama. Saya akan menyerahkan seluruh struktur kepemilikan Sentra Abadi, perjanjian dengan Garda Prima, dan instruksi tertulis Surya kepada saya selama tiga tahun terakhir." Ia membuka koper. "Sebagai imbalan, saya minta perlindungan hukum sebagai pelapor."
Alana menatap tumpukan dokumen itu. Ini bukan belas kasihan—ini perhitungan dingin seorang pengacara yang tahu kliennya sudah kalah. Tetapi dokumen-dokumen ini adalah paku terakhir.
"Anda menyimpan instruksi tertulis Surya selama tiga tahun?" tanyanya.
"Saya selalu menyimpan salinan segalanya, Bu. Itu sebabnya saya masih hidup di bisnis ini selama tiga puluh tahun." Bonar menutup koper. "Surya cerdas, tapi dia membuat satu kesalahan klasik orang yang terlalu lama berkuasa. Dia mengira kesetiaan bisa dibeli selamanya. Tidak bisa. Kesetiaan hanya bertahan selama harganya lebih murah daripada konsekuensinya."
Alana menyerahkan dokumen itu kepada Komisaris Adi sore itu juga. Bersama kesaksian Hendra, rekaman kematian Bramantyo, audit forensik, dan kini instruksi tertulis dari tangan Surya sendiri, kasusnya menjadi tak terbantahkan.
Tiga hari kemudian, pengadilan mengeluarkan penetapan: delapan belas persen saham yang dikuasai PT Sentra Abadi dibekukan dan ditempatkan di bawah pengawasan kurator selama proses hukum berlangsung. Surya kehilangan hak suaranya. Kerajaan saham yang ia bangun sepotong demi sepotong selama tiga puluh tahun—dibeli dengan kesabaran seorang pemburu—runtuh dalam hitungan hari.
OJK menjatuhkan sanksi atas pelanggaran keterbukaan informasi dan menyerahkan temuan pidananya ke kepolisian. Tiga pemegang saham yang dibeli Surya pagi hari sebelum RUPS—dulu kartu truf terakhirnya—kini berlomba menjual blok mereka kembali ke pasar, panik agar tidak ikut tersapu skandal. Garda Prima, perusahaan keamanan yang menanam alat sadap, mencabut seluruh klaim kerahasiaan kliennya dalam hitungan jam begitu izin operasinya terancam dicabut. Satu per satu, setiap kanal yang dulu menyalurkan kekuasaan Surya berbalik menjadi saluran yang menenggelamkannya.
Sekar membawa kabar itu ke kantor Alana. "Sentra Abadi resmi lumpuh, Bu. Delapan belas persen itu sekarang dalam kurator. Saat proses hukum selesai, blok itu kemungkinan besar dilelang. Perusahaan bisa membelinya kembali, atau—"
"Atau Damar Adiwangsa akan menginginkannya," potong Alana pelan.
Sekar berhenti. "Bu sudah memikirkan itu."
"Aku sudah memikirkan itu sejak hari pertama beraliansi dengannya." Alana menatap garis langit Jakarta. "Damar membantuku menjatuhkan Surya bukan karena baik hati. Setiap musuh yang tumbang meninggalkan kursi kosong. Dan Damar belum pernah melihat kursi kosong yang tidak ingin ia duduki." Ia mengambil jasnya dari sandaran kursi. "Dia akan menelepon hari ini. Menagih harga aliansinya."
Telepon di meja Sekar berdering. Sekar mengangkatnya, mendengarkan sebentar, lalu menutup mikrofon dengan telapak tangan.
"Bu," katanya pelan. "Pak Damar Adiwangsa. Minta bertemu malam ini."
Alana tersenyum tipis, tanpa kehangatan. "Tepat waktu seperti biasa. Atur di restoran yang sama tempat dia menawariku menjual perusahaan dulu. Aku ingin dia ingat dari mana kami memulai."