Restoran itu masih sama sunyinya seperti dulu—meja-meja berjarak jauh, lampu temaram, tempat orang-orang berkuasa bicara tanpa takut didengar. Damar Adiwangsa sudah menunggu di meja sudut, mengenakan jas gelap yang dijahit sempurna, dengan ketenangan seorang lelaki yang selalu yakin pada posisinya.
"Direktur Wijaya," sapanya, berdiri. "Atau sekarang harus saya panggil pahlawan? Seluruh kota membicarakanmu."
"Panggil saja Alana." Ia duduk. "Anda tidak mengundang saya ke sini untuk memuji."
Damar tertawa kecil. "Tidak. Tapi pujiannya tulus. Apa yang kau lakukan di RUPS itu—membongkar Surya di depan pers, membalik suara publik dalam satu pagi—itu pekerjaan tingkat tinggi. Ayahmu pun tidak akan semulus itu."
"Ayah saya yang membangun menara yang Anda incar."
"Dan menara itu hampir runtuh, Alana. Sampai aliansi kita menyelamatkannya." Damar meletakkan gelasnya. Inilah saatnya. "Aku membantumu. Pengacaraku—yang dulu juga pengacara Surya—aku biarkan kau gunakan untuk memecah mereka. Aku menahan diri tidak menyergap Wijaya saat kau paling lemah, padahal aku bisa. Aku menjaga kesepakatan kita." Ia menatap Alana lurus. "Sekarang delapan belas persen Sentra Abadi akan dilelang. Aku ingin membelinya. Dan aku ingin restumu—kerja sama Wijaya–Adiwangsa, dengan aku memegang blok itu sebagai jembatan."
Di situlah jebakannya. Alana sudah menduganya. Jika Damar memegang delapan belas persen, ditambah pengaruh Adiwangsa, ia akan menjadi pemegang saham terbesar kedua di Wijaya Group—cukup untuk perlahan menggerogoti kemerdekaan perusahaan yang baru saja Alana selamatkan dari satu predator, hanya untuk diserahkan kepada yang lain.
"Anda menepati kesepakatan kita," kata Alana tenang. "Saya akui itu. Dan saya menghormatinya. Tapi kesepakatan kita berbunyi: Anda membantu saya menjatuhkan Surya, dan saya tidak akan menghalangi Adiwangsa mengakuisisi aset-aset Sentra di luar Wijaya—anak-anak perusahaan Surya, propertinya, lisensinya. Itu semua milik Anda. Bukan delapan belas persen saham Wijaya."
Senyum Damar mengeras sedikit. "Kata-kata bisa ditafsirkan, Alana."
"Tidak kalau ditulis hitam di atas putih." Alana mengeluarkan satu lembar dari map kulitnya dan meletakkannya di meja. Perjanjian aliansi mereka, ditandatangani berbulan-bulan lalu, dengan satu klausul yang Alana sengaja masukkan saat itu—klausul yang Damar tandatangani tanpa terlalu memperhatikan karena saat itu Surya tampak tak terkalahkan. "Pasal lima. Adiwangsa tidak akan mengakuisisi saham Wijaya Group, langsung maupun tidak langsung, sebagai hasil dari aliansi ini. Anda menandatanganinya, Pak Damar."
Damar menatap lembar itu lama. Lalu ia mengangkat wajahnya, dan untuk pertama kalinya, ada sesuatu yang menyerupai rasa hormat di matanya—rasa hormat seorang predator pada predator lain yang ternyata lebih cerdas.
"Kau memasang perangkap untukku," katanya, "di hari kau memintaku jadi sekutumu."
"Saya melindungi perusahaan saya," koreksi Alana. "Dari semua orang. Termasuk teman. Itu yang ayah saya lupa lakukan pada Surya tiga puluh tahun lalu, dan dia membayarnya seumur hidup. Saya tidak akan mengulang kesalahan itu."
Damar diam sejenak. Lalu, tak terduga, ia tertawa—tawa tulus kali ini. "Adiwangsa akan mengambil aset-aset Sentra di luar Wijaya. Itu cukup besar; aku tidak akan rugi malam ini." Ia mengangkat gelasnya. "Dan menara Wijaya tetap milikmu, utuh. Kau menang, Alana. Bukan karena kau lebih kuat dariku. Tapi karena kau membaca permainan tiga langkah lebih jauh."
"Saya belajar dari musuh terbaik," kata Alana, mengangkat gelasnya membalas. "Surya menunggu tiga puluh tahun untuk satu langkah. Saya tidak punya kemewahan itu. Saya harus melihat papan seluruhnya sekaligus."
Mereka bersulang dalam keheningan restoran sunyi itu—bukan sebagai kawan, bukan sebagai musuh, tetapi sebagai dua orang yang akhirnya saling memahami batas masing-masing. Ketika Alana keluar malam itu, untuk pertama kalinya dalam berbulan-bulan, ia merasa langkahnya ringan. Tinggal satu benang lagi yang harus ia tutup.
Yang paling sulit dari semuanya.