Surya Danuatmaja menerima Alana di rumahnya—rumah sederhana yang mengejutkan, jauh dari kemewahan yang dibayangkan orang untuk seseorang yang menyimpan dendam selama tiga puluh tahun. Tidak ada penjaga. Hanya seorang lelaki tua berambut perak yang duduk di kursi rotan di teras, memandang taman kecil, menunggu akhir yang sudah ia tahu akan datang.
"Aku tahu kau akan datang sendiri," kata Surya tanpa menoleh. "Kau seperti ayahmu dalam hal itu. Dia juga selalu datang sendiri untuk menghadapi hal yang paling berat."
Alana duduk di kursi seberangnya. Di tangannya, map cokelat tua. "Saya sudah membaca berkas tahun sembilan delapan. Yang sebenarnya."
Surya akhirnya menoleh. Sesuatu di matanya bergetar.
"Maka kau tahu aku tidak mencuri semuanya."
"Saya tahu." Alana meletakkan map di meja kecil di antara mereka. "Bonar yang mengambil sebagian besar dana dan membiarkan jejaknya menumpuk di pintu Anda. Anda ceroboh, Anda ingin menjual perusahaan, tapi Anda bukan pencuri yang dituduhkan. Dan ayah saya—" suaranya tertahan sejenak, "—ayah saya tahu Anda tidak sepenuhnya bersalah. Dan dia membiarkan Anda hancur. Dia menulisnya sendiri. Dia menyesalinya setiap malam sampai dia mati."
Surya menutup matanya. Untuk waktu yang lama, ia tidak bicara. Ketika ia membuka mata, ada air mata di sana—air mata seorang lelaki tua yang menunggu tiga puluh tahun untuk mendengar satu pengakuan, dan kini menerimanya terlambat dari mulut anak orang yang menghancurkannya.
"Dia sahabatku," kata Surya pelan. "Sejak kuliah. Kami membangun semuanya bersama, bertiga dengan kakaknya. Aku akan menyerahkan nyawaku untuknya. Dan dia membiarkan namaku diludahi seluruh kota, membiarkan istriku pergi membawa malu, membiarkan aku menghilang seperti penjahat. Demi menara itu." Ia menatap Alana. "Apa kau tahu rasanya, Nak, dibuang oleh orang yang paling kau percaya?"
"Tidak," jawab Alana jujur. "Tapi saya tahu rasanya kehilangan ayah karena keserakahan orang lain. Saya mendengar napas terakhirnya di rekaman itu. Berulang kali."
Surya tersentak. Mereka duduk dalam keheningan, dua korban dari satu luka lama yang sama.
"Aku tidak pernah menyuruh Yudha membunuhnya," kata Surya akhirnya. "Sumpah, atas sisa hidupku. Aku mengirimnya untuk menyampaikan pesan, bukan menunggu Bram mati. Aku ingin merebut perusahaan di RUPS dan melihat wajah Bram saat dia kehilangan segalanya, seperti aku dulu. Aku ingin dia hidup untuk merasakannya. Kematiannya... mencuri kemenanganku."
"Saya percaya itu," kata Alana. "Tapi itu tidak mengubah apa pun, Pak Surya. Anda yang menyadap ayah saya. Anda yang mengirim Yudha ke ruangannya. Anda yang membayar Garda Prima. Anda menciptakan tangan yang dipakai Bonar untuk membiarkan ayah saya mati, lalu Anda berkata Anda tidak menarik pelatuknya." Ia berdiri. "Tiga puluh tahun lalu, Anda dijebak, dan itu salah. Tapi Anda membalasnya dengan kejahatan baru. Dan dua kesalahan tidak pernah menjadi satu keadilan."
Surya mengangkat wajahnya. "Lalu apa yang akan kau lakukan? Kau punya semua buktinya. Kau bisa menghancurkanku seperti ayahmu menghancurkanku. Itu darah Wijaya. Balas dendam mengalir di keluargamu."
Alana berhenti di ambang teras. Inilah momen yang ia pikirkan setiap malam selama berminggu-minggu—momen ketika ia bisa memilih menjadi seperti ayahnya, atau menjadi sesuatu yang lebih baik.
"Tidak," katanya. "Saya tidak akan menghancurkan Anda dengan cara Anda menghancurkan kami. Tidak ada penyadapan, tidak ada jebakan, tidak ada permainan kotor. Saya menyerahkan semua bukti kepada polisi dan pengadilan. Anda akan diadili secara terbuka, dengan pengacara, dengan hak membela diri—hak yang tidak pernah ayah saya berikan kepada Anda tiga puluh tahun lalu." Ia menatap lelaki tua itu. "Kebenaran tahun sembilan delapan juga akan saya serahkan ke pengadilan. Bahwa Anda dijebak sebagian. Itu mungkin meringankan Anda. Saya tidak akan menyembunyikannya, meski itu mencoreng nama ayah saya."
Surya menatapnya dengan ekspresi yang tak bisa dijelaskan. "Kenapa? Kau bisa menang penuh."
"Karena ayah saya membalas luka dengan luka, dan dia mati menyesalinya," kata Alana. "Saya memilih keadilan, bukan dendam. Itu satu-satunya cara menara ini berdiri tanpa hantu. Dan itu satu-satunya cara saya bisa tidur di malam hari."
Ia berbalik dan berjalan ke mobilnya. Di belakangnya, Surya Danuatmaja tetap duduk di kursi rotan, lelaki tua yang akhirnya kehabisan dendam yang menghidupinya selama tiga puluh tahun—menatap taman kecil itu, menunggu mobil polisi yang akan datang pagi-pagi sekali, kali ini dengan surat penangkapan yang sah, bukan tuduhan yang dibisikkan.
Di dalam mobil, Alana membuka teleponnya. Satu pesan dari Sekar: "Komisaris Adi siap dengan berkas. Sidang pertama dijadwalkan bulan depan, Bu."
Alana menatap ke luar jendela, ke arah Menara Wijaya yang menjulang jauh di garis langit kota—menara yang ayahnya bangun, yang hampir runtuh, dan yang kini berdiri tegak di tangannya. Untuk pertama kalinya sejak ia duduk di kursi itu, ia merasa kursi itu tidak lagi terlalu besar.
"Antar saya pulang," katanya kepada sopir. "Besok masih banyak yang harus dibereskan."
Mobil bergerak membelah malam Jakarta, dan di kejauhan, lampu-lampu menara itu menyala satu per satu, seperti menara yang menolak padam.