Rumah tua di kawasan Menteng itu terlihat berbeda di siang hari. Tanpa bayang malam, dinding tingginya hanya tampak lelah — cat mengelupas di sudut, taman yang dulu gelap kini sekadar rumput yang terlalu panjang. Alana berdiri di gerbang dengan map di tangan, dan untuk pertama kalinya ia datang bukan sebagai mangsa, bukan pula sebagai musuh yang sederajat. Ia datang sebagai pemenang yang ingin menatap wajah orang yang kalah.
Surya Danuatmaja duduk di kursi kulit yang sama, menghadap perapian yang sama-sama tidak menyala. Tapi rambut peraknya kini tampak kusam, dan punggung yang dulu tegak itu sedikit membungkuk. Di meja di sampingnya tergeletak koran pagi: foto Bonar Situmorang digiring keluar dari kantor kejaksaan, dan di bawahnya, lebih kecil, foto Surya sendiri dengan judul "Pemilik Tersembunyi Sentra Abadi Terungkap, Saham Dibekukan."
"Kau datang menertawakanku," kata Surya tanpa menoleh.
"Aku datang karena kau yang memintaku, lewat pengacaramu yang baru." Alana duduk di kursi seberang, sama seperti malam itu. "Surat itu bilang kau ingin bicara sekali lagi. Sebelum vonis."
Surya akhirnya menoleh. Matanya — yang dulu setajam pisau — kini menyimpan sesuatu yang lebih sulit dilihat Alana daripada kebencian: kekosongan.
"Kau tahu apa yang paling lucu, Nak?" katanya. "Selama tiga puluh tahun aku membangun sebuah istana di atas satu kebohongan. Bahwa Bramantyo yang menghancurkanku. Aku mengasah dendam itu setiap pagi seperti orang mengasah pisau. Aku tidur dengannya. Aku makan dengannya. Aku membeli saham perusahaanmu sepotong demi sepotong dengan tangan yang gemetar oleh kebencian itu." Ia tertawa, pendek dan pahit. "Dan ternyata orang yang menghancurkanku duduk di sebelahku selama itu. Bonar. Pengacara yang kubayar untuk membalas dendamku adalah orang yang menciptakan dendam itu sejak awal."
"Dia mengakuinya," kata Alana. "Di RUPS, di depan notaris dan pers. Dia menyusun dokumen 1998 yang menjebakmu. Dia mengambil dana yang hilang dan menaruh namamu di atasnya. Lalu selama tiga puluh tahun dia membiarkanmu percaya itu ayahku — karena dendam yang salah arah adalah dendam yang berguna baginya. Selama kau memburu Wijaya, kau tidak pernah memburu dia."
Surya menutup matanya. "Aku menjadi senjatanya. Sepanjang hidupku. Senjata yang dia arahkan."
"Tapi kau memilih jadi senjata, Surya." Alana tidak melembutkan suaranya. "Aku tidak datang untuk mengasihanimu. Kau dijebak pada 98 — itu benar, dan itu kejahatan terhadapmu. Tapi yang kau lakukan setelahnya adalah pilihanmu. Kau menyadap kantor ayahku. Kau menanam orang di dewan. Kau membeli pemegang saham untuk menggulingkanku. Kau mengirim Yudha ke ruangan ayahku di hari ia mati. Kebenaran bahwa kau dijebak tidak menghapus kejahatan yang kau bangun di atasnya."
"Yudha." Surya membuka mata. "Aku mengirimnya untuk menyampaikan pesan. Bukan untuk membunuh. Aku ingin Bram tahu ia salah membuangku — sebelum aku merebut semuanya secara sah. Kematian terlalu cepat. Aku menginginkan ayahmu hidup untuk menyaksikan kejatuhannya." Suaranya bergetar. "Sumpah, Nak. Aku tidak menyuruh siapa pun membunuhnya."
"Aku tahu." Alana mengeluarkan satu lembar dari mapnya, meletakkannya di meja antara mereka. Transkrip rekaman, hari kematian Bramantyo. "Yudha menerima dua perintah hari itu. Satu darimu — menyampaikan pesan. Satu dari Bonar, lewat saluran yang tidak kau ketahui — kalau Bramantyo membaca dokumen yang dibawa Yudha dan mulai mengerti siapa yang sebenarnya menjebakmu, jangan panggil bantuan. Biarkan. Bonar tidak bisa membiarkan ayahku hidup dengan kebenaran 1998 di tangannya. Kau ingin ayahku menderita. Bonar membutuhkannya bungkam."
Surya menatap transkrip itu lama. Tangannya, yang dulu menandatangani transfer-transfer jutaan dolar, kini gemetar di atas kertas.
"Jadi aku membunuhnya," bisiknya. "Tanpa sadar. Aku mengirim orang itu ke pintunya, dan Bonar mengubahnya menjadi pisau."
"Pengadilan yang akan menentukan seberapa jauh tanganmu berlumur," kata Alana, berdiri. "Bukan aku. Itu bedanya antara aku dan kau, Surya. Kau menjadi hakim, juri, dan algojo untuk dendammu sendiri selama tiga puluh tahun. Aku menyerahkanmu pada hukum."
Ia melangkah ke pintu. Di ambang, Surya memanggilnya, suara seorang lelaki yang kehilangan segalanya — perusahaan, sekutu, dan bahkan kebencian yang selama ini menopangnya.
"Bram beruntung," kata Surya. "Punya anak yang lebih bijak darinya. Dan dariku." Ia menatap perapian yang dingin. "Aku tidak punya apa-apa lagi yang bisa kuambil darimu, Nak. Bonar sudah mengambil semuanya dariku, tiga puluh tahun lalu, dan aku terlalu buta untuk melihatnya."
Alana tidak menjawab. Ia menutup pintu rumah tua itu di belakangnya, dan saat ia melangkah keluar ke siang Jakarta yang terang, ia merasa bukan kemenangan, melainkan sesuatu yang lebih berat dan lebih sunyi: akhir dari seorang lelaki yang berdiri di ujung tiga puluh tahun kekosongan.