Setahun setelah vonis, Menara Wijaya berdiri lebih kokoh dari sebelumnya.
Angka-angka berbicara, seperti yang selalu disukai Alana. Utang dua ratus dua puluh miliar yang dulu menjadi jam pasir di leher perusahaan kini lunas sepenuhnya — direstrukturisasi menjadi obligasi konversi tenor lima tahun, lalu dibayar lebih cepat berkat penghematan dari audit vendor yang akhirnya berjalan: empat puluh delapan miliar setahun yang dulu bocor lewat mark-up, kini kembali ke kas. Gedung kosong di Sudirman, yang dijual lalu disewa kembali, tidak lagi menjadi beban melainkan aset produktif. Kas operasional yang dulu menipis di empat puluh tiga miliar, kini sehat berlapis cadangan.
Tapi yang membuat Alana paling bangga bukan angka. Itu adalah arah baru.
"Lisensi tekstil ekspor," katanya di rapat strategi, menunjuk peta di layar. "Selama ini kita memperlakukannya sebagai aset untuk dijaga. Aku ingin kita memperlakukannya sebagai mesin pertumbuhan. Surya dan Damar menginginkan perusahaan ini karena mereka melihat aset untuk dipecah dan dijual. Aku ingin kita membuktikan bahwa nilai terbesar Wijaya bukan dari memecahnya — tapi dari membangunnya."
Divisi tekstil meluncurkan lini ekspor baru. Divisi logistik, dibersihkan dari PT Bahari dan vendor bermasalah, menandatangani kontrak baru dengan harga pasar yang jujur. Divisi properti, alih-alih dijual ke Adiwangsa, mengembangkan lahan pelabuhan menjadi pusat logistik terintegrasi.
Dan justru di lahan pelabuhan itulah Damar Adiwangsa menagih janji aliansinya. Mereka bertemu di ruang rapat yang sama tempat Damar dulu menawarkan akuisisi enam puluh persen — penawaran yang Alana tolak di restoran sunyi berbulan-bulan lalu.
"Aku menepati janjiku," kata Damar, lengannya terlipat. "Aku menahan harga sahammu saat Surya mencoba memborong murah. Aku menggerakkan broker untuk membeli kembali saham yang dijual antek Surya. Tanpa Adiwangsa, aritmatika RUPS-mu tidak akan pernah berbalik." Ia menatap Alana lurus. "Sekarang aku menagih. Pertanyaannya cuma: apa yang kau tawarkan agar aku tidak menjadi Surya berikutnya yang mengepung pintumu?"
Alana tidak gentar. Ia sudah menyiapkan jawabannya berminggu-minggu. "Bukan saham. Aku tidak akan menyerahkan satu lembar pun kendali Wijaya — itu pelajaran yang kupelajari dari ayahku. Tapi aku menawarkan sesuatu yang lebih menguntungkan untuk kita berdua: usaha patungan di lahan pelabuhan. Adiwangsa membawa modal dan jaringan properti, Wijaya membawa lisensi logistik dan tanahnya. Kepemilikan lima puluh-lima puluh di entitas baru — terpisah dari Wijaya Group, transparan, diawasi komite independen kedua belah pihak." Ia mendorong proposal ke seberang meja. "Kau mendapat keuntungan tanpa menelan perusahaanku. Aku mendapat sekutu tanpa kehilangan kemerdekaan. Itu satu-satunya tawaran yang kupunya, Damar. Dan itu jauh lebih baik daripada perang yang akan menghancurkan kita berdua."
Damar membaca proposal itu lama. Lalu, perlahan, ia tersenyum — senyum seorang pebisnis yang mengenali kesepakatan yang adil saat melihatnya. "Ayahmu akan menawar lebih keras," katanya, menandatangani. "Tapi dia juga akan kalah lebih sering. Kau lebih pintar darinya, Nona Wijaya. Kau tahu kapan setengah kue yang utuh lebih berharga daripada seluruh kue yang berdarah."
Mereka berjabat tangan — bukan sebagai mangsa dan pemangsa, bukan sebagai sekutu yang saling curiga, tapi sebagai dua perusahaan yang akhirnya bisa tumbuh tanpa harus saling memakan.
Sekar — kini Kepala Kantor Direktur Utama, duduk di komite tata kelola — membawa laporan triwulan dengan senyum yang jarang ia tunjukkan. "Pendapatan naik delapan belas persen, Bu. Tapi yang lebih penting: tidak ada satu pun temuan dalam audit independen. Untuk pertama kalinya dalam sejarah perusahaan ini, neracanya bersih. Benar-benar bersih."
Alana mengambil laporan itu, membacanya, lalu meletakkannya. "Bersih," ulangnya pelan. Kata yang dulu terasa mustahil.
Reza, yang kini menjadi konsultan keamanan tetap Wijaya Group, mampir dari Singapura beberapa bulan sekali. "Tidak ada lagi mata di dindingmu," katanya suatu sore, memeriksa kantor lantai 26 untuk terakhir kalinya secara rutin. "Untuk pertama kalinya, aku datang ke sini dan tidak menemukan apa-apa. Itu pertanda baik, Alana. Itu artinya tidak ada lagi yang cukup takut padamu untuk perlu mengawasimu."
Alana tertawa. "Atau tidak ada lagi yang cukup berani."
"Keduanya," kata Reza. "Tapi yang lebih penting — kau menang tanpa menjadi seperti mereka. Itu yang langka."
Sore itu, Alana berdiri di jendela lantai tertinggi, memandang Jakarta yang berkelip seperti malam pertama ia menyentuh kunci di laci ayahnya. Di belakangnya, kantor itu kini ramai oleh orang-orang yang ia percaya: Sekar dengan komitenya, tim audit independen, direktur-direktur baru yang tidak punya utang budi pada masa lalu. Menara yang dulu nyaris runtuh kini berdiri di atas fondasi yang tidak lagi bergantung pada satu nama, satu keluarga, satu kunci tersembunyi.
Menara Wijaya bertahan. Dan untuk pertama kalinya, ia bertahan bukan karena kekuatan satu orang — tapi karena sistem yang dibangun untuk bertahan tanpa harus mengandalkan keajaiban.