Malam itu Alana tinggal sendiri di kantor lantai 26. Alat-alat penyadap sudah dicabut berminggu-minggu lalu — Reza melakukannya sendiri, dengan upacara kecil yang nyaris seperti melepas jangkar dari sebuah kapal. Untuk pertama kalinya sejak ia menjabat, kantor itu benar-benar sunyi. Tidak ada mata. Tidak ada telinga. Hanya Alana dan meja kayu besar yang dulu milik ayahnya.
Ia membuka laci yang terkunci — laci yang sama, dibuka dengan kunci kecil di balik gesper jam tangan Bramantyo. Di dalamnya masih tersimpan surat tulisan tangan ayahnya, salinan dokumen, dan kartu memori yang memulai semuanya. Ia mengeluarkan surat itu, membacanya sekali lagi, untuk yang entah keberapa kali.
*Perusahaan ini digerogoti dari dalam,* tulis Bramantyo. *Mula-mula kukira hanya keserakahan Hendra. Tapi ada orang lebih besar di belakangnya. Orang dari masa lalu. Periksa kembali perpecahan 1998.*
Alana menelusuri tulisan tangan itu dengan ujung jarinya. Ayahnya benar — dan juga salah. Ia benar bahwa kebenaran tersembunyi di 1998. Tapi ia tidak pernah tahu bahwa orang dari masa lalu yang ia maksud, Surya, juga korban. Bramantyo mati dengan keyakinan bahwa ia telah membuang seorang pengkhianat tiga puluh tahun lalu. Ia tidak pernah tahu ia telah membuang seorang sahabat yang dijebak. Ia tidak pernah tahu bahwa pengacara yang ia percaya, yang membawakannya laporan rapi pada 1998, adalah pencuri sesungguhnya.
Ayahku tidak sempurna, pikir Alana. Ia percaya pada kertas, bukan pada manusia. Ia membuang sahabatnya tanpa mendengar pembelaan. Ia membangun perusahaan dengan tangan besi yang membuat lubang ketika ia pergi.
Ia teringat satu hal yang dikatakan Pakde Wira di Bogor, dulu — bahwa Bramantyo dan Surya dan Wirasena pernah tertawa bersama di kantor kecil sebelum semua ini menjadi menara setinggi dua puluh enam lantai. Tiga pemuda dengan satu mimpi. Bramantyo punya visi, Wirasena punya nama, Surya punya angka. Lalu krisis datang, dan satu laporan palsu yang disusun Bonar memecah persahabatan itu menjadi tiga dekade kebencian. Alana menyadari betapa rapuhnya semua yang besar — bahwa satu kebohongan yang ditanam pada saat yang tepat bisa meruntuhkan apa pun, bahkan persaudaraan.
Tapi ia juga lelaki yang, di saat-saat terakhir hidupnya, menyadari ada yang salah dan menyimpan bukti untuk anaknya. Ia juga lelaki yang menyekolahkan adik asistennya. Yang menulis surat ini dengan tangan yang mungkin sudah lelah, yang menyembunyikan kunci di gesper jam tangan agar suatu hari putrinya menemukannya.
Alana mengambil pena. Selembar kertas kosong. Dan ia mulai menulis — surat untuk seorang ayah yang tidak akan pernah membacanya.
*Ayah,*
*Aku menemukan kebenaran yang kau cari. Dan ternyata lebih rumit dari yang kau duga. Surya tidak menggelapkan dana itu. Ia dijebak, sama seperti aku hampir dijebak. Orang yang kau percaya, Bonar, adalah pencuri sebenarnya. Kau membuang sahabatmu, Ayah. Dan ia menghabiskan tiga puluh tahun membalas dendam pada orang yang salah.*
*Aku marah padamu untuk itu. Untuk waktu yang lama, aku marah. Karena kalau kau lebih sabar, kalau kau mendengar Surya seperti aku belajar mendengar, mungkin tidak ada dari semua ini yang terjadi. Mungkin kau masih hidup.*
*Tapi aku juga belajar sesuatu yang tidak bisa kupelajari dari siapa pun selain darimu: bahwa membangun sesuatu yang besar berarti membuat kesalahan yang besar pula. Kau tidak sempurna. Tapi kau meninggalkanku sebuah perusahaan, sebuah teka-teki, dan satu jam tangan yang menyimpan kunci. Kau percaya aku akan menyelesaikannya.*
*Aku sudah menyelesaikannya, Ayah. Bukan dengan dendam — itu jalan Surya, dan lihat ke mana jalan itu membawanya. Aku menyelesaikannya dengan kebenaran dan dengan hukum. Aku rasa, di akhir hidupmu, itu yang ingin kau ajarkan padaku tanpa sempat mengucapkannya.*
*Aku memaafkanmu untuk yang tidak sempurna. Dan aku berterima kasih untuk yang kau wariskan. Beristirahatlah. Rumah ini sudah aman.*
*Putrimu,*
*Alana.*
Ia melipat surat itu, memasukkannya ke dalam laci, di samping surat ayahnya. Dua surat, dua generasi, satu kebenaran yang akhirnya tertutup. Lalu ia mematikan lampu, dan untuk pertama kalinya sejak ayahnya mati, ia merasa ringan.