Ruang rapat dewan di lantai 25 Menara Wijaya terasa berbeda. Bukan ukurannya yang berubah, bukan pula meja panjang dari kayu jati yang sama. Yang berubah adalah orang-orang yang duduk di sekelilingnya.
Alana berdiri di ujung meja, di tempat yang sama ia berdiri berbulan-bulan lalu menghadapi tiga belas direksi yang meremehkannya. Tapi kini tiga kursi kosong. Hendra Salim — dipenjara. Ratna Kusuma — mengundurkan diri setelah audit internal menemukan ia diam-diam menerima dana dari blok Surya untuk menggagalkan rencana penyelamatan. Dan satu kursi lagi milik direktur lama yang terbukti menjadi saluran informasi ke Sentra Abadi.
"Tata kelola yang baik bukan tentang menyingkirkan musuh," kata Alana kepada dewan yang tersisa. "Itu tentang membangun sistem di mana tidak ada lagi musuh yang bisa bersembunyi. Mulai hari ini, setiap kontrak vendor di atas dua miliar wajib melewati komite audit independen. Setiap pemegang saham yang menyembunyikan kepemilikan di balik perusahaan cangkang akan dipaksa membuka identitasnya atau kehilangan hak suara. Dan setiap transaksi dengan pihak terkait — seperti yang dilakukan Hendra dengan adiknya — akan otomatis ditandai dan diperiksa."
Salah satu direktur senior, lelaki tua yang dulu bagian dari sembilan suara yang mendukungnya di Bab 4, mengangguk. "Ayahmu akan bangga, Nona Wijaya. Beliau selalu ingin membersihkan ini, tapi terlalu banyak utang budi pada orang-orang lama."
"Aku tidak punya utang budi pada siapa pun," kata Alana lembut. "Itu satu-satunya keuntungan dari diremehkan. Tidak ada yang berani memberiku utang budi karena tidak ada yang mengira aku akan bertahan."
Ia menunjuk daftar nama di layar. "Kursi yang kosong akan diisi. Tapi bukan dengan loyalis. Dengan profesional independen — dua dari kalangan akademisi tata kelola, satu auditor senior, satu praktisi hukum korporat yang tidak punya sejarah dengan keluarga ini maupun dengan Adiwangsa." Ia menatap mereka satu per satu. "Wijaya Group tidak akan lagi menjadi rumah keluarga yang dikuasai segelintir orang. Ia akan menjadi perusahaan yang bisa bertahan tanpa bergantung pada satu nama."
Setelah rapat, Sekar menyusulnya di koridor. "Bu, satu hal lagi. Saham Sentra Abadi — delapan belas persen yang dibekukan pengadilan. Kurator menawarkan opsi pembelian kembali oleh perusahaan dengan harga wajar."
Alana berhenti di depan jendela koridor, memandang ke bawah, ke kota yang dulu terasa ingin menelannya. "Berapa yang sanggup kita beli kembali tanpa mengganggu likuiditas?"
"Dengan restrukturisasi yang sudah berjalan dan sale-leaseback Sudirman, kita bisa serap sepuluh persen. Sisa delapan persen sebaiknya dijual ke publik — memperluas kepemilikan, memperkuat tata kelola, dan mencegah ada lagi satu pihak besar yang bisa mengancam."
"Lakukan." Alana mengangguk. "Empat puluh satu persen keluarga, plus sepuluh dari Sentra, jadi lima puluh satu. Cukup untuk kendali, tidak cukup untuk tirani. Sebarkan sisanya seluas mungkin." Ia tersenyum tipis. "Ayahku menguasai perusahaan ini dengan tangan besi. Lalu satu lubang di pertahanannya hampir menghancurkan segalanya. Aku tidak ingin meninggalkan lubang itu untuk siapa pun setelahku."
Sekar mencatat. Lalu, dengan nada lebih lembut, ia berkata, "Adikku menanyakan kabarmu, Bu. Dia masih ingat ayahmu yang menyekolahkannya. Dia bilang... dia bersyukur perusahaan ini ada di tangan yang benar."
Alana menatap asistennya — perempuan yang bersumpah setia di hari kedua ia menjabat, yang tidak pernah sekali pun goyah meski semua orang di sekelilingnya bisa dibeli. "Sekar," katanya. "Mulai bulan depan, kau bukan asisten eksekutif lagi. Kau Kepala Kantor Direktur Utama. Dengan kursi di komite tata kelola. Aku butuh orang yang loyalitasnya tidak pernah bisa kuragukan duduk di mana keputusan dibuat — bukan di luar pintu."
Mata Sekar berkaca. Ia tidak mengucapkan terima kasih. Ia hanya mengangguk, dan dalam anggukan itu ada seluruh kesetiaan yang tidak butuh kata.