Clare
Waahh… seluruh kejadian di masa laluku ternyata ada gunanya juga. Aku jadi ngerti gimana caranya bisa sabar. Bisa nahan rasa muak dan geram yang bener-bener mau meledak gara-gara b******n ini aku memuji diriku sendiri dalam hati. Tanganku masih terjalin dan menumpang dengan nyaman di atas pangkuanku.
Satu-satunya tali yang menahanku untuk tidak menghantam dan mendorong kepala Kendrick menjauh, menjambak rambutnya hingga dia berteriak kesakitan adalah adanya orang-orang di balik pintu itu. Aku tidak perlu memeriksa keadaan di luar untuk mengetahuinya. Naomi, jelas dia sudah berjaga di luar. Dan Dave. Satu orang yang kehadirannya tidak pernah kuprediksi sama sekali akan ada di sini. Mengingat sifatnya, sepertinya dia tidak akan beranjak dari luar pintu.
“Apa? Ngomong apa kamu?” pertanyaan yang diucapkan Kendrick membuat dengusanku terlepas. Mengamati dia menegakkan dan memundurkan tubuhnya. Matanya tidak berpaling sekejap pun dariku.
“Aku anak kemarin sore dan kamu orang yang punya nama di bidang ini. Gitu, Kendrick?” bukan dengan nada pujian. Lebih tepatnya olokan yang tersirat dari ucapanku. Aku menyeringai memandangnya.
“Gimana menurutmu kalo anak kemarin sore ini bisa ngancurin nama yang kamu bilang besar? Nama yang udah kamu bangun belasan tahun bisa ilang dalam sekejap. Cuma karena siapa? Anak kemarin sore ini,” ujarku ringan sambil mengedikkan bahu.
Aku terkekeh kecil melihat mata Kendrick yang menyipit. Sepertinya aku berhasil memicu amarahnya. Gampang banget tukasku dalam hati.
“Apa maksudmu? Ngelantur ya kamu? Emang bisa apa sih kamu? Cewek model kayak kamu itu…” ucapannya mengambang. Matanya menelanjangiku dari atas sampai bawah. Cengiran terkembang di ujung bibirnya. “Bisanya cuma satu. Make seluruh aset yang dia punya buat dapetin apa yang dia mau. Ya kan?” kekehannya terdengar. Kendrick berbalik dan membelakangiku. Dia berjalan menuju kursi di balik mejanya.
“Kendrick, kamu tau hukuman yang pas buat orang-orang macem kamu itu? Meskipun aku tau kalo penjara kayaknya bagus buat kamu. Tapi kayaknya ada yang lebih cocok,” tukasku dengan tenang. Tawa kecil terdengar dari bibir Kendrick. Kepalanya menggeleng.
“Clare...Clare…Clare…. Ayolah. Jangan jadi wanita yang naif. Nggak seru. Emang dengan dasar apa aku bisa masuk penjara? Nyuruh kamu make baju yang sesuai karakter peranmu?” oloknya. Cengiran Kendrick tidak menggangguku.
“Yang ada, justru kamu yang akan dinilai jelek sama orang film, ngerti nggak? Aktris yang nggak bisa nyesuain diri sama peran, angkuh, hingga nolak buat dikasih tau sama sutradara. Ckk...ckk...ckk.. Clare...Clare… kamu yang akan rugi besar. Nggak sadar juga?” tukas Kendrick berapi-api. Aku menghela nafas.
“Kamu belum tau apa yang cocok buat kamu kan, Kendrick?” tanyaku. Kening Kendrick mengernyit meskipun tak ada balasan yang keluar dari bibirnya.
“Nama besar yang kamu bangun, yang kamu bangga-banggain, bisa ilang dalam sekejap kalo mereka semua tau kamu seorang pelaku pelecehan seksual, penjahat seksual. Kamu bisa aja ngelabui seluruh dunia. Tapi jelas bukan aku. Aku tau orang-orang macam kamu,” sahutku ringan. Seringai di ujung bibir Kendrick turun. Dia tak lagi tenang seperti sebelumnya.
“Aku apa? Pelaku pelecehan seksual? Hah! Omong kosong apa itu?” ucapnya sambil memalingkan tatapannya dariku. Terlalu cepat. Sepertinya aku berhasil menangkapnya ketika lengah. Dia tidak memperkirakan aku akan berkata mengenai ini.
“Emang ada yang ngomong soal itu? Siapa coba? Berani-beraninya mereka bohong soal itu,” elak Kendrick sambil mengibaskan tangannya. “Emang ada bukti kalo aku ngelakuin pelecehan seksual? Jangan ngawur kamu. Bisa-bisa aku tuntut kamu kalo berani ngomong yang aneh-aneh.” sambung Kendrick dengan murka.
Aku menyeringai. Ancaman kosongnya membuatku terhibur.
“Kendrick...kamu harusnya tau lebih baik dari ini. Aku nggak pernah asal ngomong. Bukti?” aku menyeringai. “Jangan kuatir. Aku punya bukti lebih dari cukup untuk bisa ngalahin pasal pencemaran nama baik yang mungkin mau kamu pake. Pengacaraku udah siap dengan segala buktinya,” begitu ucapanku terlontar, suara tangan Kendrick yang menghantam meja terdengar begitu keras.
“Jangan main-main ya kamu, Clare. Jangan kamu kira karena kamu cewek, kamu bisa lolos dengan gampang,” ancam Kendrick sambil menegakkan tubuh. Tangannya meyangga pada meja dan tubuhnya condong ke arahku. Matanya begitu murka. Meskipun aku dapat melihat kepanikan dan ketakutan yang disembunyikannya di balik amarah.
“Salah langkah, Kendrick. Aku bisa minta pengacaraku buat masukin pasal perbuatan tidak menyenangkan di tuntutannya kalo kamu kayak gini,” ucap tegas, Kendrick terkesiap. Tangannya mengepal. Mulutnya mengatup dan tidak mengeluarkan komentar apapun.
“’Mereka’,” tukasku sambil menelengkan kepala. “Ternyata kamu jauh lebih buruk dari yang aku pikir. Aku udah punya bukti tentang korbanmu. Tapi waktu kamu bilang ‘mereka’…” aku mendengus. “Kayaknya korbanmu lebih banyak ya, Kendrick. Wow,” nada datar mengiringi perkataanku.
“Coba bayangin gimana jadinya kalo begitu aku laporin hal ini, satu per satu korbanmu bermunculan? Bayangin aja dulu. Gimana rasanya kalo orang yang awalnya begitu mengelu-elukan karyamu, berbalik ngehujat, ngejek, bahkan nggak sudi liat film-filmmu,” ujarku. Aku menyeringai kecil. Jujur saja, rasa puas merambati batinku mengamati sikap Kendrick yang saat ini begitu tercengang. Bayangan Vivian dan korban-korban Kendrick yang lain membuat seringaiku luruh.
Beberapa menit berlalu saat tak ada sepatah kata pun yang keluar dari bibir Kendrick. Dia masih memandangku dengan penuh emosi. Kegeramannya nampak jelas. Meskipun ketakutan dan kecemasan membaur dalam tatapannya.
“Siap-siap aja, Kendrick. Bentar lagi kamu kayaknya bakal dapet surat panggilan,” tukasku ringan sambil menegakkan tubuh dan berbalik. “Ayo lanjutin syutingnya. Aku nggak mau kru lainnya kena imbas gara-gara perbuatanmu yang nggak bermoral,” sambungku sambil mulai melangkah.
“Clare,” langkahku terhenti. “Apa maumu? Permintaan maaf? Kalo kamu mau pake baju itu, terserah. Pake aja,” mendengar ucapannya, lagi-lagi aku mengela nafas.
“Oh, tentu aja aku bakal pake baju ini, Kendrick. Meskipun aku biasanya nggak rewel, tapi jelas aku nggak sudi pake baju yang ada di ruang ganti,” ucapku sambil membalikkan tubuh. Menghadap dan menatap Kendrick yang masih terlihat emosional. Dia nggak keliatan nyesel sama sekali. Mungkin dia panik cuma karena ketahuan aja. Coba kalo nggak batinku. Aku berdecak. Membiarkan kekesalanku terlihat.
“Aku nggak keberatan kalo kamu minta maaf ke aku, Kendrick. Tapi aku nggak yakin sama sekali soal ketulusan permintaan maafmu. Aku nggak butuh. Lagian, ada cewek-cewek lain yang jauh lebih berhak buat dapetin permintaan maaf dari kamu,” ujarku tegas.
Aku benar-benar membenci hal ini. Aku tidak tahu berapa lama Kendrick melakukan perbuatan buruknya. Mengingat dia sudah berkarya lebih dari belasan tahun. Entah sudah berapa banyak wanita yang dilecehkannya, yang harus mengubur mimpi mereka karena trauma, yang harus menahan kecemasan dan ketidaknyamanan hanya agar dapat terus bekerja.
Seluruh hasil rekaman sudah kuteruskan pada pengacaraku. Aku tidak berbohong mengenai hal itu. Percakapanku dengannya saat ini pun sudah kurekam dalam alat perekam kecil yang tersembunyi di balik jubah tidur yang kukenakan. Satu alat yang kuminta Ben untuk menyiapkan dalam menit-menit terakhir.
“Jadi apa? Kamu mau lapor polisi?” aku menghela nafas. Pertanyaan Kendrick membuat perasaanku campur aduk. Aku sangat membenci perbuatannya pada kaumku. Aku ingin dia merasakan hukuman yang pantas diterimanya. Dengan sekian tahun berlalu dan dia lepas dari tanggung jawab yang seharusnya diembannya, membuatku ingin segera melaporkan dirinya ke kantor polisi.
Namun, menghancurkan karir seseorang, karir yang susah payah dibangunnya hingga belasan tahun, membuat secuil dari hatiku merasakan keraguan. Aku sendiri pun memahami betapa beratnya membangun semuanya dari nol. Jadi kalau Kendrick memang harus dihukum dan disadarkan, aku ingin itu bukan lewat tanganku. Aku ingin bisa tidur dengan tenang di malam hari tanpa rasa bersalah karena sudah menghancurkan kehidupan dan mata pencaharian seseorang.
“Akan kupikirkan dulu,” ujarku singkat. Kepalaku berpaling dan kutangkap pandangan matanya dari balik pundakku. “Jangan lengah, Kendrick. Karena surat panggilan itu bakal kamu terima sewaktu-waktu,” sambungku tegas.
“Kita udah buang-buang waktu di sini. Kru yang lain udah nungguin. Ayo lanjutin syutingnya,” tuntutku tanpa menunggu respon dari Kendrick.
Kukembalikan pandanganku ke depan. Melangkah menuju pintu dan meraih gagangnya. Mendapati Naomi yang berjaga tepat di luar ruangan. Kepalaku mengangguk begitu pandangan mata kami bertemu.
“Balik yuk,” kepala Naomi mengangguk. Dia menggeser tubuhnya dan kemudian berjalan mendahuluiku. Kembali berjalan menuju tempat para talent dan kru berkumpul. Aku mengikuti langkah Naomi saat sosok Dave yang sedang bersandar di dekat pintu ruangan Kendrick tertangkap mataku.
Kedua tangannya tenggelam di saku celana. Meskipun bersandar, d******i yang menguar dari gelagat tubuhnya dan tatapan matanya yang memaku diriku, membuatku gentar. Entah kenapa. Aku gugup. Jauh melebihi kegugupanku sewaktu bersama Kendrick beberapa waktu lalu. Bila ingin kembali menuju set, tentu aku harus melewati dirinya.
Kupasang wajah datar, seperti biasa, dan kulangkahkan kakiku menghampirinya.
“Dave…” panggilku. Satu kata singkat yang meluncur mulus dari bibirku. Aku tidak dapat menemukan bahan pembicaraan yang menarik untuk saat ini. Tidak setelah apa yang terjadi beberapa menit sebelumnya. Ringisan kecut tersungging di bibirku.
Dave menegakkan tubuhnya. Kakinya mendekatiku hingga menyisakan sedikit saja jarak yang memisahkan tubuh kami berdua. Aku menatap matanya.
“Clare…” suaranya yang dalam membuatku merinding. “Gimana perasaanmu sekarang?” jemari Dave dengan lembut menyelipkan helaian rambut yang menjuntai ke balik telingaku. Jantungku berdegup dua kali lebih cepat. Menyadari keintiman tindakan Dave serta tatapan dalam dan intens yang diarahkannya padaku. Aku menelan ludah. Membasahi tenggorokanku yang mendadak kering.