Aland
“Yah, buburnya aku taruh sini ya. Deket ayah. Biar ayah nggak terlalu jauh ngambilnya. Bisa kan?” kepalaku menoleh saat sosok Sophia, anak perempuanku, memasuki kamar. Aku meringis kecut.
“Ayah udah nggak apa-apa, Soph. Kamu nggak usah kuatir,” sahutku sekenanya. Dengusan yang sangat tidak anggun keluar dari Sophia. Decakan dan gelengan kepalanya juga terlihat. Jelas dia tidak percaya dengan ucapanku.
“Kalo ayah udah sehat, nggak mungkin ayah bakal rebahan dan tiduran terus di kasur. Ayah bakal keluar dan nyalain cerutu sembunyi-sembunyi kayak biasanya,” tukas Sophia sambil mengibaskan tangannya.
“Kok nggak dibuka sih jendelanya? Udah siang juga… Ayah mesti rutin buka jendela, biar ada pergantian udara di sini,” gerutuan Sophia menenggelamkan keterkejutanku.
Aku terbatuk. Kaget. Alisku terangkat naik. Mataku masih mengikuti sosoknya yang sekarang sedang menarik gorden yang menutupi jendela. Membuka lebar dan mempersilakan sinar matahari beserta angin sepoi menyerbu kamar ini.
“Kenapa? Kaget aku tau? Semua orang di sini udah tau, Ayah sayang. Sebut aja semua. Dave, Evan, Gio..semuanya,” jawab Sophia ringan. Aku cemberut. Merasa terkhianati. Padahal aku sudah cukup yakin bisa mengelabui semua orang. Tapi sepertinya hal itu tidak berlaku bagi keluargaku. Mereka seperti sudah memahami tingkah laku dan kebiasaanku yang mendarah daging.
“Yah…” Sophia memanggilku sambil memperpendek jarak di antara kami berdua. Kugeser tubuhku, Sophia meletakkan panggulnya di atas ranjangku. Tepat di samping tubuhku.
“Hemm….kenapa?” gumamku. Tangan Sophia terangkat. Dia mengelus lengan dan menyentuh dahiku sebentar. Aku tersenyum menyaksikan kekhawatiran yang nampak jelas dalam pandangan matanya.
“Ayah mau ditemenin dulu? Aku sebenernya mau ambil cuti. Tapi hari ini ada klien penting yang mau datang. Dia udah bikin janji dari dua minggu lalu. Aku nggak enak kalo batalin mendadak,” ujar Sophia perlahan. Matanya menatapku dengan kepolosan bercampur dengan kecemasan.
Saat-saat seperti ini, saat di mana anak-anak sudah dewasa dan memiliki kehidupan mereka sendiri, saat mau tidak mau aku mesti menerima kesendirianku, saat-saat seperti inilah kerinduan akan istriku begitu memuncak. Tanganku terangkat. Jemariku membelai untaian rambut Sophia yang terlepas dan menyelipkannya ke balik telinga.
Kutarik nafasku dalam-dalam. Kuhembuskannya secara perlahan. Dengan begitu rasa perih dan getir yang kurasakan dalam hati sedikit mereda dan tersisih. Senyumku mengembang lebar. Menutupi kesedihan yang mengancam akan menyeruak dan nampak dalam ekspresi wajahku.
“Sophia...bayi kecilku. Ayahmu ini udah nggak apa-apa. Liat aja, begitu kamu pergi, ayah bakal abisin bubur itu, minum obat, ngerecoki Gio, bahkan mungkin ayah bakal gangguin Dave ato Evan,” Sophia terkekeh mendengar ucapanku. Kekehannya menular. Aku tertawa kecil.
“Kamu nggak mau digangguin juga kan?” Sophia bergidik mendengar ancamanku. Kepalanya menggeleng kuat. Aku menyeringai.
“Kalo gitu sana buruan berangkat. Ntar kalo ayah ngerasa nggak enak badan, ayah langsung telepon kamu,” tegasku. Sophia mencondongkan tubuh dan menatapku dengan menyipitkan mata.
“Beneran? Janji lho ya? Ayah langsung telepon aku kalo ngerasa nggak enak. Awas kalo nggak, ntar aku sembunyiin semua cerutu ayah,” tukas Sophia dengan matanya yang menatapku tajam. Seringaiku mengembang lebih lebar.
Merasa gemas dengan ancaman kosong Sophia. Mengetahui dengan pasti Sophia tidak akan mempu menyembunyikan barang apapun di dalam rumah ini. Aku begitu mengenal dan mengetahui seluruh seluk beluk rumah ini seperti telapak tanganku sendiri.
“Serius. Janji deh. Nggak bohong ayah,” janjiku cepat. Akhirnya Sophia menyunggingkan senyum. Segera saja kurasakan tubuhnya yang condong ke arahku dan pelukannya pada tubuhku. Tanganku terangkat dan kuelus punggungnya dengan perlahan. Merasakan kasih sayang yang begitu besar pada anak perempuanku yang satu ini.
“Sana berangkat. Ntar telat lagi,” gusahku pada Sophia. Cengiran kecil muncul di bibirnya saat dia mengangguk dan melambaikan tangan. Segera begitu dia keluar dari ruangan ini, kesunyian begitu memekakkan telinga. Tidak ada suara yang terdengar sekedar untuk memecahkan keheningan ini.
Aku menghela nafas. Meskipun terbiasa dengan kesenyapan ruangan ini, tapi tetap saja terkadang hal itu tidak membuatku nyaman. Segera saja aku bergerak dan mengambil mangkok bubur yang tadi disiapkan Sophia. Menyuapkannya dengan perlahan ke mulutku dan menandaskannya hanya dalam beberapa menit kemudian, tentu saja karena aku adalah ayah yang baik yang menuruti segala permintaan anaknya. Setelah cukup puas dengan keadaan tubuhku, segera kuambil handphone.
Setelah berpikir beberapa lama, jemariku mulai mengetik dengan lincah.
Dave? Kamu sibuk sekarang? Kutunggu jawaban Dave dengan sabar hingga beberapa menit telah berlalu. Namun balasan dari Dave tak kunjung datang. Tanpa mampu kutahan, aku menghela nafas dalam. Kusandarkan tubuhku di kepala ranjang. Pikiranku mengembara dengan bebas.
Aku begitu mengenal anak-anakku. Segala watak dan karakter mereka, dapat kupahami. Berkat bertahun-tahun membesarkan mereka, aku dapat mengerti kepribadian mereka satu per satu. Dengan Dave, aku harus mengerti kapan harus mendorong dirinya dan kapan harus menarik diri.
Dave adalah anak yang cukup terbuka. Dia akan mendengarkan perkataanku, mempertimbangkan semua keputusan dari berbagai sisi, menilai semuanya dengan berkepala dingin. Namun, keterbukaan dan kehangatannya, akan berbeda bila itu menyangkut hal-hal yang sangat penting dan berharga untuk dirinya. Dave akan menyimpan semuanya sendiri, menyimpan seluruh prosesnya dan hanya akan mengatakan kepadaku setelah dia memutuskan segalanya.
Bukan hal buruk sebenarnya. Hanya saja, aku tidak terbiasa menunggu. Kalau aku bisa mengetahui dan mendapatkan keinginanku lebih cepat, maka tentu aku akan mengusahakan itu terjadi. Cukup berbeda dengan Dave sebenarnya. Jadi, dengan berat hati aku harus mengikuti permainannya. Meskipun aku begitu ingin tahu apakah Dave dan Clare berhasil bertemu sesuai yang kurencanakan. Apakah pertemuan mereka meninggalkan benih-benih yang bisa berlanjut. Aku mendesis tidak sabar.
Tidak ada balasan dari Dave membuat benakku berputar dengar cepat. Kugulirkan jemariku hingga menemukan nomer seseorang yang kuinginkan.
“Halo, Paul? Apa kabar, Nak? Udah lama nggak ngobrol sama kamu,” kataku begitu suara teman dan asisten Dave terdengar. Seringaiku mengembang mendengar sahutannya. Paul sudah berteman lama dengan Dave. Dia sudah kuanggap seperti anakku juga.
“Oya? Seneng dengernya kalo kerjaanmu lancar. Oya, Paul, di mana Dave? Aku coba hubungi dia, tapi dia nggak bales sama sekali,” sambungku. Aku terdiam mendengarkan penjelasannya. Keningku mengernyit.
“Henry? Temennya waktu kuliah dulu? Aah...ya, aku inget dia,” jawabku sambil mengangguk-anggukkan kepala. Kepalaku meneleng. Beberapa prediksi berseliweran di benakku.
“Oh, nggak usah. Nggak penting banget kok. Aku tunggu balesan dari Dave aja. Makasih, Paul. Kamu lanjutin kerjamu aja,” tukasku cepat. Begitu telepon itu mati, segera kutekan satu-satunya nomer orang kepercayaanku.
“Gio… ada tugas buat kamu. Tolong kamu cari tau tentang Henry, teman Dave kuliah dulu, seingatku dia pemilik salah satu rumah produksi. Coba kamu cari tau, mereka lagi bikin proyek film apa sekarang. Secepatnya ya. Aku tunggu,” cukup itu saja yang kukatakan. Gio sudah bertahun-tahun bekerja bersamaku. Dia dapat memahami semua keinginanku yang terkadang absurd dan random. Dan tidak sekalipun Gio mempertanyakan permintaanku. Seringaiku terkembang.
Tidak sampai sepuluh menit kemudian, informasi mengenai Henry sudah muncul dalam handphoneku. Mataku mereguk semua informasi di hadapanku. Proyek film yang sedang digarap Henry berikut sutradara dan para pemerannya.
Mataku membelalak. Antisipasiku menyeruak saat nama Clare tercantum di antara para pemeran. Senyumku mengembang. Namun aku tidak bisa menyimpulkan terlalu cepat. Karena jadwal syuting setiap aktor berbeda tergantung scene apa yang akan diambil.
Tanpa berlama-lama, kembali aku memencet satu nomor. Bukan Clare, karena aku tidak ingin mengganggu dirinya bila dia sedang syuting. Tapi nomer seseorang yang mengenal Clare sedekat diriku dan Lara. Aku membetulkan sandaran tubuhku di kepala ranjang saat suara seorang wanita terdengar.
“Naomi? Halo, Nak. Apa kabar? Sori pamanmu ini tiba-tiba nelepon,” sahutan dari seberang membuat senyumku mengembang. Merasa senang Clare memiliki sahabat dekat sekaligus manager yang baik dan tulus seperti Naomi.
“Naomi, Clare lagi syuting apa hari ini?” jujur saja aku gugup begitu pertanyaan itu kulontarkan. Aku jarang merasakan hal itu. Tapi ini untuk anakku. Anak kesayanganku. Jadi, wajar bila aku merasakannya.
“Sutradaranya Kendrick? Dia lagi syuting sekarang?” kepalaku mengangguk kembali ketika sahutan Naomi tertangkap telingaku. “Oke. Moga lancar kalo gitu. Salam buat Clare kesayanganku ya, Naomi,” setelah Naomi mengucapkan salam terakhirnya, baru aku menutup panggilan teleponku.
Seringaiku mengembang. Saat ini pasti Dave dan Clare berada di satu tempat yang sama. Harapan dan doaku melambung. Harapan agar takdir mereka bertaut seperti yang kuangankan. Seperti biasanya, apa yang kuangankan selalu kudapatkan. Kedua tanganku kugosok-gosok tanpa sabar. Ketidaksabaran begitu kuat kurasakan. Bayangan keduanya menari dan berbahagia memenuhi benakku.
***
Kendrick
Mataku bergulir dan mereguk setiap jengkal dan titik yang ditampilkan oleh Clare Willow. Dia yang saat ini duduk dengan formal di atas kursi putar di ruangan khusus untukku. Satu kakinya menumpang di kakinya yang bebas, kedua tangannya terjalin dan tubuhnya menegak dengan indah. Sialan! Kenapa dengan liat dia duduk gini aja, hasratku udah menggila nggak karuan erangku dalam hati.
Aku menggemeretakkan gigi. Dari ujung rambutnya yang panjang dan berombak, terlihat begitu halus hingga aku yakin sekali mudah terlepas dari jari-jariku bila aku mengangkatnya, tatapan matanya yang dingin, hingga kulit mulus yang berada di bawah baju yang berhenti di separuh pahanya. Kulit yang saat ini tertutup dengan jubah hingga satu-satunya yang terlihat dari diri Clare adalah wajah, pergelangan tangan dan pergelangan kakinya.
Kutarik dan kuhembuskan nafasku perlahan. Menampung seluruh amarah yang menggelegak di hatiku. Apa yang kupikir begitu mudah, baju yang sudah kusiapkan, kuusap, kuelus dan kutandai dengan tanganku sendiri ternyata tidak dikenakannya. Alih-alih mengenakan baju yang kupilih, Clare malah mengenakan baju yang sangat tertutup.
Namun, bahkan dengan baju yang begitu tertutup seperti itu, aura yang ditampilkannya bahkan jauh lebih menggoda dari yang kupikirkan. Aku mendesis kesal. Tidak senang dengan situasi yang bergulir saat ini.
“Kupikir kamu profesional, Clare. Banyak sekali hal baik yag aku dengar tentangmu dari sutradara yang lain. Hah! Berlebihan. Semua yang mereka omongin tentangmu itu berlebihan,” tegasku. Decakan jengkel tak mampu kutahan. Mataku menyipit menatap dirinya. Clare masih bergeming. Tak ada satupun perkataan yang terlontar dari bibirnya.
“Kamu ngerti kan, kamu berhadapan sama siapa? Kamu nggak tau namaku? Nggak sadar kamu, kalo kamu nggak bisa macem-macem sama aku? Aku punya pengaruh besar di bidang ini. Ngerti nggak?” kutegaskan setiap kata per kata yang kuungkap. Aku tidak melepaskan pandanganku dari matanya sedetikpun.
“Dan kamu? Jangan kamu pikir beberapa penghargaan dan ulasan menyanjung dari kritikus udah bikin kamu di atas angin. Kamu cuma anak kemarin sore, Clare. Kamu belum ada apa-apanya dibanding aku,” sambungku. Kakiku melangkah dan aku berhenti di samping meja tepat di hadapan Clare.
Sambil menyandarkan panggulku di situ, aku bersedekap. Dengan postur seperti ini, mau tidak mau, Clare harus menengadah saat ingin menatapku. Dan itulah yang dia lakukan sekarang. Dia menatapku tajam tanpa kegoyahan sama sekali.
Jujur saja, menghirup parfum halus yang menguar dari tubuh Clare, melihat dengan mata kepalaku sendiri Clare yang duduk di kursi yang hanya berjarak beberapa jengkal dari diriku, mengamati lehernya yang halus dan jenjang ketika mendongak saat menatapku, sudah membuat tubuhku menggelegak. Bukan dengan amarah. Tidak. Itu sudah lewat beberapa menit yang lalu. Namun berganti dengan hasrat. Nafsu yang murni.
“Kalo aku bilang, kamu harus make kostum yang kami siapin…” ujarku perlahan. Menekankan setiap makna dari diksi yang kuucapkan. Kutegakkan tubuh dan dengan sangat perlahan kakiku melangkah menghampirinya.
“Maka itu yang kamu pake, Clare. Aku nggak peduli dengan sponsor ato kerjasama yang kamu punya dengan brand lain. Bukan urusanku. Yang aku peduliin, cuma filmku. Karakter milikku. Aku mau semuanya sesuai dengan apa yang ada dalam pikiranku,” tukasku. Aku melangkah hingga berhenti tepat di hadapan Clare. Kakiku bahkan hampir bersentuhan dengan kakinya.
Tubuhku membungkuk. Aku meletakkan kedua tanganku di sandaran tangan kursi yang diduduki Clare. Membuat tubuhnya terpenjara di bawah tubuhku. Wajahku dan wajahnya hanya berjarak beberapa senti. Mataku bergerak sendiri. Mereguk seluruh kecantikan di depanku. Mata yang jernih dan bibir penuh yang menggoda.
Godaan itu begitu kuat. Sangat kuat. Telapak tanganku mencengkeram sandaran kursi dengan sangat erat. Bila tidak begitu, aku khawatir akan menyerah dan mencondongkan tubuh. Menangkap dan menghisap bibirnya yang menggoda. Aku menelengkan kepala dan mengikuti hasrat hatiku. Kepalaku menunduk dan menyentuh lekukan pundaknya. Menghirup dan mengusap kulit lehernya yang sayang sekali tertutup jubah. Aku menarik nafas panjang. Mengumpulkan nektar-nektar manis dirinya hingga membuatku puas.
"Turuti aku dan kamu nggak akan dapet masalah sepanjang karirmu. Jangan buat aku jadi musuhmu, Clare," aku menegaskan perkataanku. Hatiku begitu penuh. Senang tak tertahankan dengan kedekatan tubuh kami.
“Kalo aku jadi kamu, aku nggak akan ngelakuin ini, Kendrick,” suara Clare yang dalam dan tegas berhasil menyeret perhatianku. Aku mengerjapkan mata. Kutegakkan tubuh. Menangkap matanya yang dingin dan menembus diriku. Kebekuan menjalar tanpa kusadari.