Clare
“Bener yakin?” tanpa mengalihkan pandangan dari satu-satunya gaun yang tergantung di ruang ganti, aku menganggukkan kepala. Decakan dan desisan kalut Naomi terdengar di sampingku. Kakinya berderap mengelilingi ruangan kecil tempatku berada sekarang. Saat dia berhenti, aku dapat merasakan tatapan matanya yang menusuk padaku.
“Ini bisa jadi masalah lho. Kamu sadar kan?” lagi-lagi aku mengangguk mendengar keraguannya yang tidak tertutupi sama sekali. Jujur saja, kecemasan Naomi sedikit mempengaruhiku. Tak dapat kupungkiri, kekhawatiran yang dari kemarin coba kusingkirkan, merayap dan merambati batinku kembali.
Tatapan mataku terpusat pada kain satin berwarna hitam yang tergantung dan menantangku untuk memakainya. Gaun tidur yang bila kukenakan, hanya akan menutupi sedikit sekali kulit di tubuhku. Aku bergidik ngeri tanpa mampu kutahan.
“Sadar,” tegasku. Tanganku terkepal. “Nggak mungkin aku bakal make gaun itu. Itu…” ucapanku terhenti di tengah. Kepalaku berpaling dan mendapati Naomi yang balas menatapku. “Aku nggak sudi gaun itu nempel di kulitku. Biar sedetikpun,” kepalaku menggeleng. Ucapanku valid. Naomi mengangguk. Memahami keputusanku.
Aku yakin Naomi merasa tidak nyaman dan ragu. Sialan. Aku bahkan merasakan hal yang sama. Tapi satu-satunya yang pasti adalah keputusanku. Tak akan kuubah lagi. Tidak setelah aku memeriksa seluruh rekaman yang sengaja ditaruh kru suruhan Naomi secara sembunyi-sembunyi.
Setelah kemarin pagi aku cepat-cepat memberi kamera pada Naomi, yang tanpa buang waktu langsung diserahkannya pada salah satu kru, segera saja aku dapat melihat hasil rekamannya di penghujung hari melalui laptopku yang tersambung dengan kamera.
Betapa kagetnya diriku saat aku sudah tiba di apartemenku sepulang dari rumah sakit dan bermaksud memeriksa hasil pengintaianku seharian, ternyata hasilnya benar-benar sesuai dengan dugaanku. Jujur saja aku berharap firasatku salah. Aku berharap itu semua hanya imajinasiku yang terlalu tinggi. Tapi tidak. Karena kenyataan yang terjadi benar-benar seperti yang kupikirkan.
Bukan hanya masalah kostum, yang aku pikir cukup fatal. Mengingat tangan Kendrick menyentuh dan meraba baju yang rencananya akan kupakai hari ini dan menempelkannya di bagian pribadi dari tubuhnya. Belum lagi saat dia menggesek dan mengusap baju itu dan terlihat seakan membayangkan tubuhku yang berada di sana. Kengerian dan rasa jijik begitu kental kurasakan.
Selain itu Kendrick, sutradara yang cukup terkenal itu ternyata memang melakukan pelecehan terhadap kru yang bekerja bersamanya. Tindakan yang aku yakin sekali telah dikalkulasinya, telah diperhitungkannya matang-matang. Setiap sentuhan, setiap usapan terlihat halus. Bahkan seolah tidak disengaja. Namun jelas bukan itu yang terjadi. Karena kesengajaan biasanya hanya berlaku sekali. Bukan tindakan repetitif.
Beberapa kru wanita sempat masuk ke ruangan ini kemarin. Aku memperhatikan pergerakan mereka dari balik layar. Namun ada satu wanita yang terlihat tidak nyaman. Apalagi ketika Kendrick juga memasuki ruangan yang sama dengannya. Kesiap, sentakan kaget dan tatapan yang menunduk seakan menunjukkan sikap submisif nampak begitu jelas terpampang.
Tidak butuh waktu lama hingga aku berhasil mengetahui alasannya. Kendrick terlihat berbicara santai dengannya. Namun, ketika Kendrick bergerak, tangannya menyenggol lengan wanita itu beberapa kali, menaruh telapak tangan di tubuh belakang wanita itu lebih lama dari batas wajar hanya sekedar untuk meminggirkan tubuhnya. Bahkan dengan alasan memeriksa kostum, Kendrick menempelkan tubuh depannya di bagian belakang wanita itu.
Aku menggemeretakkan gigi ketika bayangan keputusasaan wanita itu terlihat begitu kentara. Tanganku terkepal. Desisan kesal dan jengkel keluar dari bibirku.
“Ini kantongnya. Kamu mau ganti baju sekarang ato nanti?” saat aku akan mengucapkan pilihanku, sebuah ketukan terdengar dari luar. Seorang wanita melongok ke dalam kamar ganti dan memandang kami berdua.
“Maaf, Ms Willow kami udah boleh mulai make up sekarang?” keraguan tersirat dari nada suaranya. Matanya yang polos menatapku. Kesadaranku muncul. Dia. Ini cewek yang kemarin sempet dilecehin Kendrick batinku. Senyum tulus kuukirkan untuknya.
“Boleh. Masuk sini,” ucapku. Kakiku bergeser dan aku mulai meletakkan panggulku ke kursi. Wanita itu menoleh ke belakang dan memanggil seseorang. Tangannya membuka pintu dengan lebih lebar dan mereka berdua masuk ke dalam. Dengan cekatan, dia membuka kotak make up dan mulai bersiap-siap.
Aku duduk dan membiarkan mereka berdua meriasku. Mataku menangkap pandangan Naomi padaku dari pantulan cermin. Kepalaku mengangguk menjawab pertanyaan tanpa kata dari Naomi. Dia mundur dan menunggu kedua orang itu menjalankan tugasnya meriasku.
“Kalian berdua udah lama jadi make up artist? Seneng nggak, kerja di bidang ini?” pertanyaan santai Naomi membuatku bersyukur. Dengan begitu, aku tetap bisa memikirkan bagaimana cara mengonfirmasi dugaanku pada wanita itu tanpa terlihat terlalu frontal.
“Ya, aku udah hampir lima tahun kerja. Kalo Vivian baru setahun ini,” jawab wanita yang satunya. Pandanganku menyadari gelagat mereka berdua. Wanita yang menjawab pertanyaan Naomi terlihat lebih percaya diri dan yakin dengan dirinya. Semua bisa didapat dari pengalaman dan pembiasaan, tentu saja. Sikapnya cukup cekatan dan tanpa ragu.
Berbeda dengan wanita yang kemarin kulihat dari kamera pengintai. Vivian. Dengan pengalaman kerja yang masih satu tahun, masih cukup dini untuk mendapat pijakan dan pondasi kekuatan. Bukan tidak mungkin. Tapi itu semua tergantung dari masing-masing pribadi. Untuk Vivian, sepertinya dia butuh waktu untuk mendapatkannya. Untuk mempertahankan dan membela dirinya melawan dari ketidakadilan dan pelecehan yang sayang sekali, kerap terjadi di dalam bidang pekerjaan ini.
“Ngerias aktris kayak gini, seru nggak?” Naomi kembali bertanya. Aku masih terdiam. Mataku mereguk setiap ekspresi dan gesture yang keluar dari keduanya. Menyadari kilauan kesenangan yang sempat berpijar di iris mata Vivian. Namun, kilauan itu dengan cepat meredup. Berganti dengan kilas ketakutan sebelum kemudian hilang dan mendatar.
Jangan sampai. Jangan sampai mimpinya lenyap gara-gara cowok kayak gitu hatiku membatin. Kuatur wajahku. Agar mereka berdua tidak menyadari bagaimana perasaanku dengan kehadiran mereka. Sesekali mereka bertanya dan Naomi yang lebih banyak menjawab. Saat seorang kru datang, kru yang sebelumnya bekerja sama dengan Naomi, dengan cepat Naomi keluar bersama dirinya.
“Udah nih. Kayaknya semuanya udah siap. Gimana? Ada yang kurang cocok? Ada yang mesti kami perbaiki, Ms Willow?” pertanyaan wanita itu membuat fokusku kembali. Mataku menatap pantulan diriku di cermin. Menyadari riasan wajahku yang tajam menggoda dengan sekilas kelembutan. Bibir yang berwarna merah bata terlihat kontras dengan kulit putihku. Perpaduan antara kepolosan dan hasrat. Cocok dengan karakterku. Kepalaku mengangguk. Senyumku terkembang.
“Bagus. Cocok kok. Terima kasih,” ucapku. Dengan persetujuan dariku, mereka perlahan mengundurkan diri. “Vivian?” panggilanku membuat langkahnya terhenti. Dia berbalik dan menatapku dengan pandangan tanya.
“Ya, Ms Willow?” tanyanya ragu. Aku tersenyum kecil.
“Boleh tunggu di sini bentar? Ada yang mau kutanyain. Bentar aja?” kebingungan nampak di sorot matanya mendengar permintaanku. Vivian menoleh ke arah rekannya yang memberikan anggukan kepala. Membiarkan rekannya menutup pintu setelah keluar dari ruangan, Vivian mulai bergerak menghampiri.
“Vivian…” mataku beredar dan mendarat pada kedua matanya. Benakku berputar untuk menemukan perkataan yang tepat.
“Suka jadi make up artist? Kamu...nyaman kerja di sini?” ada jeda waktu yang terbentang saat pertanyaanku terlontar. Vivian terdiam sebelum menyunggingkan senyum kecilnya. Matanya memandangku.
“Aku suka jadi make up artist. Itu cita-citaku dari dulu. Aku bahkan mulai latihan dan coba-coba ngerias sejak sekolah menengah. Jadi..ya. Aku bener-bener suka jadi make up artist,” mata Vivian menerawang. Senyumnya menguar. Bayangan masa lalu seakan melayang di benaknya.
Namun, aku dapat menyadari detik ketika kilas kegembiraan itu berubah. Senyumnya luruh. Matanya meredup.
“Tapi...akhir-akhir ini.. aku…” ucapannya mengambang. Kepalaku mengangguk. Memahami maksud hatinya.
“Nggak nyaman?” matanya mendarat padaku. Ringisan kecut terukir di bibirnya. Kepalanya mengangguk lemah.
“Karena seseorang?” tidak perlu kejeniusan untuk menyadari kecemasan dan ketakutan yang melintas di mata Vivian saat ucapanku terlontar. Dia tidak menganggukkan kepala. Tidak juga menggeleng. Namun itu sudah cukup untukku. Senyumku terulas.
“Makasih banyak udah ngasih tau aku,” ucapku. Meskipun tidak begitu memahami maksudku, Vivian mengangguk dan bergegas keluar. Tubuhku bergeming. Mataku masih terpaku dan menatap pintu yang tertutup di depanku. Hingga Naomi memasukinya, membuatku tersentak dan dengan cepat perhatianku beralih.
“Waktunya tinggal dikit. Kamu mesti ganti baju sekarang,” kepalaku mengangguk mendengar saran Naomi. Kakiku melangkah dan tanganku menarik baju yang ada di dalam kantong yang sudah disiapkan Naomi.
“Aku nggak perlu kuatir soal dialog sama akting kamu kan?” bibirku menyeringai. Tanganku bergerak dan dengan cepat aku mengganti baju yang menempel di tubuhku. Mataku berpindah dan mengamati pantulanku di cermin.
Bahan silk hitam legam yang lembut, memeluk erat tubuhku. Dengan tali spaghetti dan lace yang memberi aksen di bagian dadaku membuatnya terlihat elegan. Meskipun panjang gaun itu berada beberapa senti di atas lututku, namun dengan jubah satin yang panjang menjuntai hingga mata kaki dan panjang lengan hingga ke pergelangan tangan, membuat tubuhku tertutup sempurna. w*************a yang berkelas.
Bagus! Kayak gini yang aku mau. Menggoda tapi nggak murahan. Elegan dan mahal. Begitu didambakan namun jauh dari jangkauan. Bagus hatiku membatin.
“Kalo soal itu, kamu nggak usah kuatir. Aku udah siapin semuanya. Mestinya nggak ada masalah,” ujarku santai. Aku memutar badanku dan menghadap Naomi. “Gimana? Udah oke?” tanyaku sambil menata rambutku sekilas. Senyum Naomi melebar.
“Hajar udah! Kasih tau dia, siapa Clare Willow yang sebenarnya,” tukasnya cepat. Aku terkekeh. Tepat saat itu, ketukan dari luar tertangkap telingaku. Naomi membuka dan menemukan asisten sutradara berada tepat di baliknya. Kepalaku mengangguk. Aku melangkah dan mendekati set. Menyadari setiap pasang mata mendarat dan memaku diriku. Tidak ada kegentaran. Aku melangkah dengan keyakinan penuh.
Aku memasuki frame dan bergerak sesuai dengan posisi blocking yang sebelumnya sudah kami latih. Kepalaku mengangguk saat rekan-rekan yang lain menyapa diriku. Aku menanggapi perkataan mereka, berusaha mengikuti candaan mereka meskipun aku lebih banyak diam dan mendengarkan saja saat tiba-tiba suara keras seseorang mampu memecah riuhnya suasana.
“Apa-apaan ini?” kepalaku menoleh perlahan saat nada tinggi terdengar dari arah sampingku. “Kenapa kostumnya berubah? Ada apa ini? Mana tim wardrobe?” sembur Kendrick sambil menegakkan tubuh. Matanya nyalang memindai ruangan ini. Mencari tim yang bertanggungjawab dalam masalah ini.
Waah...kupikir aku ngadepin laki-laki m***m. Ternyata cuma kayak anak kecil yang marah kalo keinginannya nggak dituruti batinku santai. Aku terdiam dan menatap lurus dirinya. Satu orang tergopoh-gopoh mendekati Kendrick, sepertinya dia adalah kepala tim wardrobe.
“Sori, Kendrick, pihak Ms Willow udah terikat kontrak dengan salah satu brand baju. Dan dia hanya bisa pake baju dari brand itu aja,” ujarnya cepat. Kengerian akan amarah Kendrick terlihat jelas. Kendrick menoleh ke arah orang itu, sebelum kemudian menatapku.
“Tapi dia nggak bisa ganti baju gitu aja. Kita udah susah payah nyesuaiin kostum sama karakter dan color palette scene ini. Nggak segampang itu bisa diganti. Emang ini proyek ecek-ecek? Bisa main ganti seenaknya?” kali ini Kendrick langsung mengarahkan amarahnya ke arahku.
Seringaiku hampir saja mengembang. Namun berhasil kutahan. Jelas aku tidak ingin memprovokasinya lebih jauh. Aku hanya mengarahkan tatapan mataku tertuju padanya.
“Kendrick, kalo kamu merhatiin jauh lebih detail, baju yang aku pakai sekarang, sama persis dengan yang kalian siapin. Bahan, warna, detail, semuanya sama. Kalo semuanya sama, nggak akan ada masalah dengan color palette film,” tukasku tegas. Tidak ingin terpancing emosi dan terlihat bodoh di hadapan rekanku yang lain.
Namun, hal itu tidak berlaku bagi Kendrick. Dia terlihat semakin emosi karena aku tidak tunduk dan mengikuti kemauannya.
“Tapi bajumu nggak cocok sama karaktermu. Mana ada w*************a yang bajunya tertutup kayak gitu? Kamu nggak bisa ngeyakinin penonton kalo kayak gitu, tau nggak?” semburnya kembali. Mata Kendrick semakin menajam ke arahku. Tensi di ruangan ini semakin menegang. Tidak ada seorangpun yang berani turut campur. Aku menyeringai.
“Aku bisa jadi karakter apa pun, nggak peduli kostum yang kupakai,” ucapku lugas. Mataku menatapnya lurus. “Kamu mau liat akting w*************a, Kendrick? Tenang aja. Kamu bakal dapat itu,” sambungku. Jeda panjang mengiringi ucapanku. Kendrick terlihat berupaya keras untuk menahan emosinya.
Dari ujung mataku, aku dapat menangkap ketidaknyamanan dan kecemasan yang dirasakan para kru. Kuhela nafasku perlahan.
“Nggak perlu emosi seperti ini, Kendrick. Aku yakin kita berdua cukup dewasa untuk bisa bicara dengan lebih beradab. Ayo kita diskusikan sekarang,” sudah cukup baik aku memberikan penawaran itu. Aku tidak ingin mempermalukannya di depan para kru dan talent.
Mataku memindai seluruh ruangan saat tiba-tiba nafasku tersentak. Cepat-cepat aku menyeret pandanganku dan mengembalikannya pada Kendrick. Tatapan dingin dan datar kembali kupasang. Berharap tidak ada seorangpun yang menangkap perubahan emosiku.
Dave. Dari semua orang yang kupikir ada di sini, dia adalah orang terakhir yang terlintas dalam benakku. Dari sekian tempat, waktu dan kesempatan saat kupikir kami akan bertemu lagi, nyatanya takdir memilih saat ini. Saat ketika aku berusaha untuk mempertahankan diriku sendiri. Saat dimana aku berusaha untuk mengembalikan mimpi seseorang.
“Ayo ke kantorku,” sergah Kendrick. Dia berlalu tanpa menungguku. Seringai kecilku muncul. Mengabaikan amarah dan sikap merajuk Kendrick, aku berjalan mengikutinya.
***
Dave
Henry memanggilku. Kuabaikan. Kakiku berderap mengikuti mereka berdua. Aku tidak peduli apa pendapat orang lain saat mereka melihat sikapku. Tak ada lagi yang penting saat ini. Benakku terfokus pada sosok wanita yang berjalan beberapa langkah di hadapanku.
“Hei, tunggu!” cengkeraman di lengan dan panggilan Henry menghentikan langkahku. Dari balik pundak, aku melihat dirinya yang terlihat tegang.
“Jangan bilang kamu biarin kejadian kayak gini ada di proyek filmmu. Kayaknya semuanya bisa diselesaiin dengan kepala dingin. Nggak perlu kayak gini,” ujarku sambil menyentak pelan lenganku. Isyarat yang kuberikan agar Henry melepaskan cengkeramannya pada tanganku. Kepalanya mengangguk. Menyetujui pernyataanku.
“Aku ikut,” tukasnya. Aku mengangguk dan melanjutkan langkah. Menuju ke satu ruangan tempat wanita yang memenuhi seluruh ruang di benak dan hatiku, memasukinya bersama seorang lelaki yang sudah membentaknya di hadapan belasan pasang mata.