Kendrick
“Semuanya udah siap? Udah standby?” tanyaku santai sambil menepuk punggung asistenku sekilas. Dia menoleh ke arahku dan mengangguk. HT yang berada dalam genggamannya terangkat. Pertanyaan yang dilontarkan asistenku kepada seluruh kepala departemen segera mendapat tanggapan.
Aku yang berdiri di sebelahnya mendengarkan seluruh percakapan yang saling mereka lontarkan. Seringaiku mengembang. Rasa senang begitu kuat. Hampir saja aku tidak mampu membendungnya. Ingin rasanya aku tertawa terbahak atau bahkan meringis konyol hanya sekedar untuk menunjukkan perasaan yang menyelimutiku.
Tentu saja semua itu tidak kulakukan. Aku tidak sebodoh itu untuk membiarkan resiko yang tidak perlu pada pekerjaanku.
“Aman kok semuanya. Udah siap juga. Mau dimulai sekarang aja?” tanyanya sambil bergeser. Aku mengangguk. Sangat yakin begitu kuberikan instruksiku, pasti tidak akan memakan waktu lama untuk dia dan para cast serta kru yang lainnya untuk segera bergabung dan memulai pekerjaan mereka.
“Oke. Kita take scene yang pertama buat hari ini. Kamu bisa tolong arahin cast yang dapet giliran syuting biar cepet ke sini dan kita bisa langsung mulai?” ujarku pada asistenku. Sambil mulai duduk di kursi untuk mengecek monitor, memeriksa set up yang sudah dibuat oleh kru set designer dalam satu frame dan menunggu agar seluruh pemeran yang berkepentingan memasuki set, aku mengedarkan pandangan.
“Hari ini Clare bakal dateng kan?” aku menoleh ke samping dan menemukan penata artistik duduk di sebelahku. Pertanyaannya mendapat anggukan kepalaku sebagai jawabannya.
“Dateng kok. Dia udah sesuai jadwal. Tadi pagi asistenku udah konfirmasi lagi sama manajernya. Paling sekitar….” gumamanku terdengar. Tatapan mataku beralih pada arloji yang melingkari pergelangan tanganku. “Tiga jam lagi dia sampai di sini dan langsung bisa siap-siap. Make up segala macem,” tukasku ringan. Menekan dahaga yang mendadak membuncah.
“Dia udah dapat naskahnya kan?” hampir saja dengusanku terlepas mendengar pertanyaan orang di sebelahku. Pertanyaan bodoh macem apa itu? Ya jelas lah...dia udah dapet naskahnya. Dikiranya aku anak kemarin sore apa, yang nggak tau mesti ngapain buat persiapan ckk keluhku kesal.
“Nggak usah kuatir. Dia udah nerima kok. Aman,” ucapku dengan nada yang kubuat ringan. Gambaran adegan demi adegan mulai berkutat dan berputar di benakku. Naskah yang akan dilakonkan para talent juga sudah kuhafal di luar kepala. Kebiasaan yang tanpa sadar selalu kulakukan.
Kepalaku menoleh ke kanan dan mengamati para talent yang harus memerankan lakon mereka masing-masing. Asisten kostum dan make up mengikuti mereka. Berjaga-jaga bila ada yang harus mereka tambah atau perbaiki sesuai arahan penata artistik selama syuting berlangsung.
Kamera yang akan mengambil adegan juga sudah disiapkan untuk mengambil dari berbagai angle dan sudut yang tepat. Semuanya akan kuatur sesuai dengan keinginanku. Aku yang berkuasa di sini saat ini. Mereka adalah wayangku dan aku adalah dalangnya.
“Clapper udah siap? Yuk, semua talent langsung ambil posisi. Blocking sesuai yang kita latih kemarin ya,” instruksiku mendapat respon dengan cepat. Mereka yang tadinya masih mengobrol, sekarang sudah bergegas dan berada di dalam frame. Seringaiku terkembang. Puas dengan respon yang kuterima.
Kalo semuanya lancar dan nggak ada banyak kesalahan, syuting dengan Clare akan jalan sesuai jadwal. Dengan gitu, aku bisa cepet-cepet liat dia. Ketemu dia dan….bisa nikmati kecantikan dan kemoolekannya tentu aja batinku tidak sabar.
Senyumku terkembang. Antisipasiku menguat. Bahkan membayangkan kehadiran Clare di dekatku saja sudah membuat hasratku menggelora.
“Silent!” cukup satu kata itu yang terlepas dari bibirku untuk mendiamkan seluruh kru yang berisik di belakangku dan bersegera memulai proses syuting. Mataku menyipit. Benakku langsung saja terfokus pada seluruh hal yang masuk ke dalam frame.
“Slate in! Sound?” astradaku bertanya. Aku diam menunggu sahutan dari orang yang bertugas merekam suara.
“Speed!” sound recordist segera menyahut. Kepalaku mengangguk. Aku menelengkan kepala. Dari atas monitor aku dapat melihat clapper yang berdiri dengan posisi sedikit membungkuk.
“Slate 184 scene 9 shot 2 take 1,” ujar clapper cepat. Kutumpangkan kedua sikuku di atas lutut.
“Mark it,” kali ini giliran operator kameraku yang menyahut. Suara clapperboard yang diketuk segera menyusul.
“Action!” instruksiku singkat.
***
Dave
“Hari ini abis makan siang, jadi dikosongin jadwalmu?” pertanyaan Paul menarik perhatianku dari laporan kuartal pertama dari salah satu perusahaan media cetak yang kumiliki. Menyadari dia telah memasuki ruangan dan mengambil tempat duduk di depan mejaku.
“Iya, kosongin aja. Aku ada janji sama Henry, sekarang jam berapa sih?” pertanyaan itu terlontar tanpa sadar. Kepalaku menunduk dan mataku membelalak begitu menyadari jarum jam yang terlihat di arlojiku.
“Cepet banget udah jam segini. Hemm…. Paul,” panggilku sambil menengadah. Menyadari alis Paul yang terangkat saat balas menatap diriku.
“Mau apa? Ake pesenin aja. Kamu males turun ke bawah kan?” tukasnya dengan wajah datar. Seringaiku melebar. Sepertinya Paul begitu mengenal diriku. Berteman dengan seseorang selama bertahun-tahun lumayan menguntungkan juga. Aku jadi tidak perlu bersusah payah mengutarakan keinginanku. Tidak buruk.
“Casserole. Lagi mau makan yang berat. Sama side dishnya juga. Apa aja oke,” pintaku sambil menyengir polos. Gelengan kepala dan decakan Paul terdengar saat dia membuka pintu dan keluar. Ringisan terukir di bibirku. Tentu saja aku tidak terlalu menggubrisnya. Dia hanya akan kembali dengan membawa makanan yang jauh lebih banyak untuk dirinya sendiri daripada untukku.
Jemariku menggeser mouse laptop dan mengklik sebuah web. Wajah cantik dan tenang Clare Willow langsung terpampang di layar. Mataku mereguk setiap bagian yang memancarkan kecantikannya. Bibirnya yang tersenyum anggun, mata yang menyorot langsung orang yang mewawancarai dirinya terlihat begitu fokus. Sesekali senyuman dan tawa kecil akan mewarnai percakapan mereka.
Kembali aku menggeser mouse dan menekan halaman yang lain. Kali ini tidak ada senyum sama sekali yang terukir di bibirnya. Matanya pun memandang lurus dan terpaku pada kamera. Ini adalah salah satu adegan yang diperankannya. Amarah dan kepahitan dapat kurasakan begitu memandang ekspresi dirinya. Kekagumanku pada dirinya begitu kuat dan mengental. Betapa dia dapat dengan natural menunjukkan beragam ekspresi yang mewakili ribuan emosi karakternya.
Atau mungkin aku hanya bias. Karena dia telah menyerobot perhatianku belakangan ini. Aku yang biasanya terfokus pada pekerjaan atau pergaulan sosial yang semata untuk menguntungkan pekerjaanku, sekarang tak lagi seperti dulu. Beberapa kali bayangan dirinya melintas saat aku dituntut untuk berkonsentrasi.
Saat aku duduk di mobil dan melihat skuter motor yang melintas di samping kendaraanku, Clare lah yang mendadak kubayangkan. Saat aku melihat seorang lelaki memakai jaket longgar di tempat umum, ingatan tentang Clare yang terlihat anggun bahkan dengan jaket longgar dan besar menyeruak seketika. Semua hal. Semua hal mengingatkanku akan dirinya.
Bila terus seperti ini, kemungkinan besar aku akan menyerah dan mengikuti kata hatiku. Mencari cara apapun hanya untuk mendengarkan suaranya. Mengabaikan keinginannya untuk memasrahkan semuanya dengan takdir. Persetan! Apa itu takdir? Aku yang membuat takdirku sendiri putusku dalam hati.
“Nih...semuanya masih panas. Ayo makan,” tanpa mengetuk pintuku, Paul memasuki ruangan. Dengan bantuan lengannya, dia menutup pintu sebelum mengulurkan kantong kertas kepadaku. Aku menyengir.
Tanganku terangkat dan meraih kantong yang diulurkannya.
“Thanks.” ujarku singkat. Jemariku menari lincah dan menutup halaman yang memuat foto Clare dan bermaksud mematikan laptopku.
“Clare?” tanya Paul sambil mengedikkan dagu ke arah laptopku. “Kamu masih belum nelepon dia? Tumben. Sabar juga kamu kali ini,” aku terkekeh mendengar sahutan Paul. Setelah yakin semua laporan penting sudah kusimpan dengan aman, kumatikan laptopku.
Dari ujung mataku, aku mengamati Paul memilih duduk di sofa dan segera menyantap makan siangnya. Seperti biasanya, dia tidak menungguku untuk menghabiskan makanannya. Bagaimanapun makan siang adalah prioritas utama Paul saat ini. Aku yakin sekali soal itu.
“Aku tergoda banget sebenernya, Paul. Kesabaranku udah mulai nipis nih,” selorohku. Paul hanya mengangguk. Kudorong kursiku dan kulangkahkan kakiku menuju sofa. Kantong makan siangku sudah berada di tangan.
“Jangan nunggu lama-lama. Itu bukan kamu,” tukasnya. Aku mengangguk. Begitu panggulku duduk dengan nyaman di sofa, segera kuikuti tindakan Paul. Menandaskan makananku sepenuh hati. Menyadari aku mungkin akan menemani Henry minum, bila mengingat keluhannya kemarin, dan aku tidak mau minum dengan perut kosong.
“Tenang aja. Aku udah punya rencana,” ujarku pada Paul. Dia mengangkat ibu jarinya sebagai isyarat persetujuan. Percakapan random dan gurauan konyol yang kami lemparkan satu sama lain terdengar hingga makan siang kami tandas.
Kurapikan dan kubuang bungkus bekas makananku. Botol air yang ada di atas meja kuraih dan kuteguk isinya hingga tak bersisa. Pergelangan tanganku kuangkat. Dengan begitu arloji yang melingkari pergelanganku dapat kulihat dengan jelas. Kusambar handphone yang ada di atas meja dan menoleh sekilas ke arah Paul ketika tanganku menyentuh gagang pintu.
“Aku berangkat sendiri. Kamu standby di sini aja. Kabari aku kalo ada yang penting dan kamu nggak bisa ngatasi. Inget, kalo nggak bisa ngatasi aja, kamu baru telepon aku. Paham kan?” Paul tidak menyahut instruksiku. Dia hanya mengangkat satu tangan dan mengibaskannya kearahku. Mulutnya sibuk meneguk air dari botol yang ada di genggaman tangannya yang lain.
Aku meringis kecil. Sambil melangkah keluar, kepalaku menggeleng melihat kelakuan Paul. Beberapa karyawan yang berpapasan denganku, menyapa dan menganggukkan kepala mereka. Aku menyunggingkan senyum dan bertegur sapa dengan mereka. Sekedar menanyakan kabar, keluarga dan pekerjaan mereka.
Tidak ada salahnya mengetahui kehidupan personal para karyawan meskipun hanya secuil. Dengan begitu, mereka akan merasa diakui dan merasa lebih terikat secara emosional dengan perusahaan. Keningku mengernyit begitu aku sudah tiba di tempat parkir. Waktu berjalan begitu cepat hingga saat ini tidak sampai satu jam aku sudah harus tiba di tempat pertemuanku dengan Henry.
Untung saja jalanan tidak begitu padat bahkan cenderung lengang. Alamat yang diberikan Henry pun cukup jelas hingga aku tidak perlu bersusah payah untuk menemukannya. Begitu mendapati beberapa kendaraan dan lalu lalang orang yang aku yakin sekali adalah kru film di sebuah bangunan, segera kuparkir mobilku. Beberapa mobil lain berjejer di samping mobilku.
Kumatikan mesin. Setelah kulepaskan sabuk pengaman yang terpasang di tubuh, kakiku melangkah keluar. Baru juga aku akan mengunci mobilku saat mendadak satu suara terdengar dari riuhnya suasana di sekelilingku.
“Dave! Hei. Di sini,” kepalaku menoleh saat mendengar seseorang memanggilku. Seringaiku terkembang ketika melihat Henry mengangkat tangannya. Kepalaku mengangguk membalas sapaannya.
“Hei..bentar,” ujarku sambil mengantongi kunci mobil di saku celanaku. Kepalaku menoleh ke samping. Pandanganku beredar, memindai keadaan di sekitarku saat satu hal menarik perhatianku. Keningku mengernyit. Mataku menyipit saat aku menghampiri satu hal yang mengunci fokusku. Tanpa sadar mengabaikan Henry yang berdiri menungguku.
Ini...mobil Clare kan? Warna sama jenisnya sama persis batinku lugas. Aku semakin mendekat. Kuperhatikan seluruh detailnya. Berusaha mencocokkan dengan ingatanku saat bertemu dengannya pertama kali. Karena saat itulah aku melihat Clare berlalu dengan menaiki mobilnya. Mobil yang saat ini aku yakin sekali tepat berada di hadapanku.
Seringaiku mengembang lebar. Antusiasmeku membumbung. Ketegangan sekaligus rasa girang mendominasi tubuh dan hatiku. Clare. Dia di sini. Wah...takdir. Bener-bener nggak disangka putusku takjub.
“Kenapa? Kamu mau ganti mobil? Mau beli yang kayak gini?” pertanyaan Hendry menyentak pikiranku yang mengembara. Aku menoleh padanya dan menyengir lebar.
“Nggak kok. Sori, sori. Lama nunggu ya?” tukasku sambil menepuk punggungnya. Henry menggeleng dan terkekeh kecil.
“Aku juga baru sampe. Nggak masalah,” kata Henry santai. Dia mengangkat jemarinya dan menunjuk ke dalam bangunan. “Langsung masuk yuk. Syuting udah dimulai dari pagi tadi. Aku belum sempet ngecek juga,” kepalaku mengangguk. Aku melangkah mengikuti Henry. Beberapa kru yang melihat kami, menyapa dan menganggukkan kepala mereka. Sepertinya mereka semua mengenal Henry dengan baik.
“Gimana kabar anak-anak? Kamu masih sering ketemu mereka nggak?” tanya Henry dari balik pundaknya. Matanya melirikku sekilas sebelum kembali dihadapkan ke depan.
“Beberapa aja. Jarang. Sibuk akhir-akhir ini,” jawabku ringan. Mataku kembali memindai keadaan di sekelilingku. Aku membiarkan Henry menyapa dan menanyakan perkembangan syuting pada beberapa orang di dekat pintu masuk. Karena tidak ingin mengganggu, aku memasuki bangunan terlebih dahulu tanpa menunggu Henry.
Saat itulah aku merasakan sesuatu yang aneh. Sesuatu yang tidak pas. Entah bagaimana perasaan tidak nyaman dan tidak tenang menyergapku. Berbeda dengan suasana di luar bangunan dan tempat parkir yang terasa biasa-biasa saja, di dalam bangunan suasananya begitu berbanding terbalik.
Ketegangan mewarnai ekspresi hampir seluruh kru film. Hampir tidak ada perkataan yang terdengar. Semua terdiam dan terfokus pada satu titik. Henry yang tadi sempat menyapa beberapa orang akhirnya menyadari suasana yang tidak biasa ini begitu dia memasuki bangunan.
“Gimana kamu bisa jadi w*************a kalo kostummu kayak gitu? Kamu pikir produksi ini main-main? Kamu ganti semua yang udah disiapin tim wardrobe seenaknya? Kostummu nggak sesuai sama karaktermu. Ngerti nggak?” suara bentakan seseorang terdengar memecah keheningan.
Keningku mengernyit. Tanganku mengepal tanpa sebab. Jelas aku tidak menyukai suasana ini. Meskipun tidak menyukai suatu kondisi, membentak dan berteriak pada seseorang bukan tindakan cerdas bagi seseorang yang memiliki otoritas tinggi. d******i tidak perlu dilakukan dengan kekerasan verbal maupun mental.
“Aku bisa jadi karakter apa pun, nggak peduli kostum yang kupakai,” kepalaku berpaling dan tatapanku melesat dengan cepat mencari asal suara. Suara itu adalah suara yang bisa kukenali di manapun dia berada. Mataku mendarat dan terpaku pada sosoknya yang anggun. Terlihat dingin dan jauh.
“Kamu mau liat akting w*************a, Kendrick? Tenang aja. Kamu bakal dapat itu,” sahutnya tegas. Mata Clare tertuju lurus pada Kendrick. Tak ada keraguan sedikit pun dalam nada suaranya.