Clare
“Clare…” suara lemah Paman Aland langsung menarik perhatianku. Mataku yang semula mendarat pada sosok yang duduk di kursi yang berada persis di sebelah paman mendadak terperanjat dan beralih. Kedua iris mataku berhenti dan memandangi lelaki yang berbaring di sana.
“Paman…” sahutku sambil menghampiri dirinya. Merasakan dari sudut mataku pandangan sosok yang tadi membuatku terpaku. Aku tidak mengucapkan sepatah kata pun pada dirinya. Tapi aku cukup sopan untuk menganggukkan kepala menyapanya.
“Kamu dari mana? Paman pikir kamu udah pulang,” melihatnya rebah seperti ini dan mendengar suaranya yang lirih, membuat hatiku teremas. Aku tersenyum kecil dan menyentuh tangannya beberapa saat sebelum kemudian menarik tanganku.
Ini adalah pertama kalinya aku melihatnya seperti ini. Selama lebih dari sepuluh tahun aku mengenal Paman Aland, tidak pernah ada sedikit pun aura kelemahan yang menguar darinya. Aku sudah terbiasa dengan d******i sikapnya dan tindakannya yang selalu terkontrol.
Satu kali. Hanya satu kali aku melihatnya luruh dan tumbang. Saat ketika istrinya menghembuskan nafasnya yang terakhir. Meninggalkan paman Aland dan ketiga anaknya sendiri. Meskipun aku ingin sekali menemuinya kala itu, mengutarakan kesedihanku, betapa aku ikut berduka atas kepergian istrinya, namun melihat begitu banyak orang yang mengelilingi Paman Aland ketika itu, membuatku mengurungkan niat. Aku dan Lara hanya sanggup melihat Paman Aland dari jauh.
“Belum, Paman. Aku cuma keluar beli kopi bentar,” ucapku sambil mengangkat cangkir kertas yang berisi kopi di genggamanku. Menunjukkan kepadanya. Melihatnya tersenyum memandangku, sedikit banyak mengurangi kecemasanku terhadap dirinya.
“Sophia...kamu tau siapa dia?” pertanyaan paman yang ditujukan pada sosok perempuan di sampingnya, membuatku tersenyum kecil.
Aku mengikuti tindakan paman dan ikut memandang wanita cantik yang kali ini juga sedang balas menatapku. Pasti dia satu-satunya anak perempuan paman. Dan aku yakin banget dia bisa ngenalin aku, Clare Willow, aktris batinku lirih. Senyum masih bertahan di bibirku. Menyadari bahwa karakter mereka ,paling tidak, akan mirip satu sama lain bila mereka berhubungan darah.
Mengetahui dengan jelas bahwa tidak akan memakan waktu lama sampai pekikan dan seruan antusias segera menyusul. Karena biasanya itulah reaksi yang kuperoleh bila ada orang yang mengenaliku sebagai seorang aktris. Aku...sedikit banyak mengira reaksi itu juga yang akan dikeluarkan Sophia.
“Tentu aja aku tau, Yah. Mama pernah cerita dulu,” ucapan Sophia membuatku tercekat. Apalagi saat dia beranjak dan menghampiriku. Tentu saja aku berhasil mengendalikan ekspresi keterkejutanku. Menyembunyikannya dengan baik dalam raut muka yang kuharap bisa dianggap sebagai keramahan.
Namun hal itu menguap seketika saat kedua tangan Sophia terangkat dan merangkulku. Memerangkapku dalam pelukannya. Mataku terbelalak.
“Halo, Clare. Seneng banget akhirnya bisa ketemu sama kamu. Aku sudah denger soal kamu dari mama sama ayah,” ucapnya sambil memelukku sedikit lebih erat sebelum kemudian melepaskanku. Tidak ada yang mampu kulakukan lagi selain mengembangkan senyum tulus.
Ucapannya tentang mamanya, mendiang istri paman Aland membuat kehangatan menguar secara tiba-tiba di relung hatiku. Kehadirannya di kehidupan kami seperti mengisi kekosongan setelah kepergian ibuku sendiri. Seorang wanita yang memeluk dan membalut lukaku.
“Yang mama nggak ngomong, ternyata Clare yang mama anggep sebagai anak sendiri adalah Clare Willow, aktris, yang bahkan aku sendiri nggak pernah mimpi bisa ketemu,” lanjutnya kemudian. Sophia menangkupkan kedua tangannya di pundakku dan mendorongku halus. Senyumnya terkembang sambil menatapku.
“Kamu tau siapa aku?” tanyanya padaku. Kepalaku mengangguk. Senyum kecilku mengembang.
“Sophia,” tukasku singkat. “Kamu...mirip banget sama mamamu. Aku beneran kaget tadi,” lanjutku tanpa mengalihkan pandanganku darinya. Senyumnya terkembang. Matanya berpijar cerah. Melihat sinar di kedua matanya membuatku teringat seseorang. Seorang laki-laki yang memiliki mata seperti dirinya. Aku menelan ludahku dan menolehkan pandangan ke arah paman.
“Apa dokter udah datang lagi, Paman? Paman udah diijinin pulang?” tanyaku. Kepalaku menoleh ke arah Sophia yang perlahan melepaskan rangkulannya dari tubuhku. “Ato aku mesti tanya perawat dulu?” sambungku kembali. Sophia menggelengkan kepalanya. Dia melangkah dan mendekati ayahnya.
“Tadi perawat udah ke sini. Dia bilang kalo infusnya udah habis, baru ayah boleh pulang. Kita mesti tunggu di sini dulu,” ujar Sophia sambil menarik selimut paman yang turun hingga ke pinggangnya.
“Oiya, ini. Handphone paman. Tadi perawat nitip ke aku,” ucapku sambil mengulurkannya handphone paman yang ada di saku celanaku. Sophia mengangguk dan meraihnya.
“Lagian tadi gimana ceritanya sih sampai ayah bisa jatuh di taman? Bukannya ada Gio, sekretaris ayah, yang mesti ngikuti ayah kemana-mana?” jelas ada rasa jengkel yang tersirat dalam ucapan Sophia. Kecemasannya dapat dimengerti. Apalagi terkadang paman memang sering kali melanggar aturan yang ditetapkan oleh dokter keluarganya.
Meskipun seringnya paman bersama diriku dan Lara ketika dia memutuskan melanggar aturan. Diam-diam masih menyalakan cerutu atau sekedar memakan makanan yang tinggi kadar lemak. Tindakan yang jelas dilarang oleh dokter keluarga mereka.
Aku bergeser. Karena tidak menemukan kursi kosong di bangsal ini, selain yang sudah diduduki oleh Sophia, maka aku hanya menegakkan diriku dan berdiri di ujung ranjang. Sesekali tanganku terangkat untuk menyesap kopi hangat di dalam cangkirku.
“Gio tadi ayah suruh balik dulu. Gerah, diikuti terus sama Gio. Ayah mau nikmati indahnya taman sendirian. Tanpa gangguan,” jawabnya. Itu sebenarnya adalah pertanyaan yang ingin kuajukan sejak paman mulai sadar. Meskipun jawabannya sudah dapat kuprediksi sebelumnya.
“Terus kenapa kok Clare sampe sini dulu?” kali ini pertanyaan Sophia ditujukan padaku. Kepalaku menoleh ke arahnya. Mataku menatap dirinya. Bahuku mengedik halus.
“Sori bukannya aku nggak berterima kasih, tapi aku mau tau aja kenapa kok rumah sakit nelponnya ke kamu,” ringisan kecil terbentuk di ujung bibirku saat mendengar ucapan Sophia.. Kepalaku mengangguk paham. Tentu saja aku mengerti jalan pikirannya. Karena itu pula yang sempat terbersit dalam benakku.
“Gampang aja. Karena nomer kamu, Sophia, ayah simpan dengan nama ‘anakku bayi’. Pasti sebelumnya kamu udah dihubungi tapi nggak kamu angkat kan?” tukas paman. Meskipun lemah, tapi cengiran masih terbentuk di bibirnya. Sophia meringis kecil dan mengangguk lemah.
“Ayah tadi denger dari perawat. Karena kamu nggak angkat telepon dari mereka, makanya perawat nelepon satu nomer di bawahnya. Kebetulan itu nomer Clare,” sambung Paman Aland lagi.
“Ayah nyimpen nomer Clare pake nama apa?” sepertinya rasa penasaran Sophia begitu tinggi. Senyum kecil terukir di bibirku.
“’anakku clare’,” pekikan girang Sophia terlepas begitu Paman Aland mengucapkannya. Kepala Sophia menoleh ke arahku dan senyum di bibirnya secerah cahaya di matanya.
“Waaah...akhirnya aku punya kakak cewek juga. Kenapa nggak dari dulu dateng ke rumah sih? Kayaknya beberapa kali aku denger mama ngajak kamu buat main ke rumah. Tapi kamu mesti aja nolak,” mendengar ucapannya, seringai kecut muncul tanpa sanggup kusembunyikan.
Karena memang paman Aland dan istrinya sering sekali mengundangku ke rumahnya, tapi entah kenapa aku selalu berhasil menghindar dari undangan mereka. Kadang perasaan rendah diri begitu melekat erat hingga sulit untuk kusingkirkan. Apalagi dengan keadaanku yang dulu. Udah bersyukur banget mereka bantuin aku tanpa ngecilin keadaanku, ngeremehin aku sama sekali. Aku nggak sanggup kalo mesti nerima tatapan kasihan dari orang lain lagi batinku dalam hati.
“Ehmm...nggak ada alasan yang aneh-aneh sih. Mungkin belum waktunya aja,” ujarku sambil tersenyum kecil. Untungnya Sophia tidak mendorongku lebih lanjut. Dia mengembalikan perhatiannya pada Paman Aland. Sedikit mengomel dan memperlakukannya seperti anak kecil yang sedang rewel.
Tidak kusangka aku akan melihat dengan mata kepalaku sendiri. Dari sini aku dapat menyaksikan dinamika ayah dan anak di hadapanku ini. Merasa senang bisa mengenal keluarga Paman Aland, orang yang berarti dan berjasa dalam hidupku dan Lara.
“Kakakmu nggak ke sini?” suara Paman Aland menyentak pikiranku yang menerawang. Kepalaku menunduk dan melihat jam di handphoneku. Alisku mengernyit. Udah malem. Mesti balik sekarang kalo mau nyiapin buat syuting besok putusku dalam hati.
“Udah aku telepon. Paling bentar lagi sampai,” sahut Sophia ringan. Setelah menandaskan kopi yang telah mendingin, aku bergerak mendekati paman. Merangkulnya sekilas sebelum menegakkan tubuhku.
“Paman, aku mesti balik sekarang. Ada persiapan buat syuting besok. Paman kasih kabar kalo udah sampai rumah ya,” ujarku. Menerima anggukan kepala dan senyuman lebar Paman Aland. Senyumku balas terkembang. Kakiku melangkah menghampiri Sophia. Tanganku terangkat dan memeluknya sekilas. “Sophia, seneng banget akhirnya bisa ketemu sama kamu,” ucapku tulus.
Seringai ceria Sophia terkembang. Kedua tangan Sophia membalas pelukanku dengan lebih erat.
“Aku juga. Rasanya jadi kayak punya kakak cewek,” tukasnya saat menjauhkan tubuhnya dariku. “Ntar kita ngobrol-ngobrol lagi ya. Makan bareng,” tentu saja aku mengangguk dan mengiyakan ajakannya. Tanganku terangkat dan melambai kepada keduanya.
“Bye..” aku berpamitan pada mereka berdua dan melangkah keluar dari ruang UGD.
***
Dave
“Ayah! Gimana? Kenapa, Yah? Udah enakan?” semburku begitu menemukan ranjang tempat ayahku berbaring. Pandanganku melesat dan mengamati kondisi ayahku dari atas kepala hingga ujung kaki. Tanganku bergerak sendiri dan memeriksa tangan, kaki dan kepalanya.
“Dokter ngomong apa? Udah diperiksa semua kan? Terus hasilnya gimana?” tanyaku kembali. Aku tahu seharusnya aku bisa mengendalikan diriku. Namun, sepertinya hal itu tidak mudah. Mengingat betapa kencangnya dentaman jantungku. Bahkan tanganku pun terasa bergetar. Satu hal yang berusaha kusembunyikan.
“Dave, duduk,” ucapan tegas Sophia membuat kepalaku berpaling secepat kilat. Mengamati adikku yang duduk bersedekap dan mengawasiku. “Tenang dulu. Ambil nafas sana,” instruksinya.
Oke. Tenang. Ambil nafas. Ini ayah. Bukan mama. Tapi ayah. Ayah pasti kuat tentu saja aku menyugesti diriku berkali-kali di bawah pengawasan Sophia dan tatapan penuh pengertian dari ayahku. Tanganku mengepal. Aku mengambil nafas dan menghembuskannya perlahan.
Ujung bibirku sedikit naik untuk menunjukkan pada mereka berdua bahwa aku telah berhasil menguasai diri. Tubuhku berbalik. Mataku mencari kursi yang bisa kududuki. Saat tidak menemukannya, aku melangkah menuju ujung ranjang. Kepalaku mengangguk sambil memandang ayah dan Sophia bergantian.
“Dokter udah dateng. Ayah nggak apa-apa. Mungkin stres ato kecapekan makanya jatuh. Tadi hasil pemeriksaannya juga udah dikasihin ke aku. Semuanya normal. Kita tinggal nunggu infus habis baru boleh pulang. Biar ayah istirahat juga,” kepalaku mengangguk. Penjelasan Sophia meskipun singkat namun padat dan berhasil melepaskan simpul ketegangan dalam diriku.
Hembusan nafas lega terlepas dari bibirku. Ringisanku muncul.
“Aku bener-bener kuatir tadi, Yah,” tukasku dengan pandangan yang memaku ayahku. Dia hanya menganggukkan kepala. Memahami emosiku yang membuncah. “Mana Sophia nelponnya nggak jelas lagi. Bikin panik banget tadi,” ujarku sambil melemparkan tatapan menuduh pada adikku.
Kedua tangannya terangkat, menunjukkan isyarat perdamaian. Cengiran kecil menghiasi wajahnya. Perasaan bersalah berbayang di matanya.
“Sori, sori. Tadi aku juga panik banget soalnya. Kata perawat udah ada keluarga yang nemenin di sini. Aku pikir kamu. Jadi begitu nyadar kalo kamu nggak tau apa-apa dan bukan kamu yang nemenin ayah, langsung aku buru-buru ke sini,” ujarnya lagi. Kepalaku menggeleng. Perasaan panik sekaligus cemas perlahan menguap.
“Maaf ya, Nak. Ayah bikin kalian cemas,” mendengar ayahku berkata begitu, membuatku hanya menggeleng dan mengukir senyum. Namun, tidak dengan Sophia. Dia menepuk lengan ayahku. Tidak cukup keras seperti biasanya. Sophia cukup bermurah hati kali ini.
“Iya..ayah emang mesti minta maaf. Makanya lain kali jangan bikin kuatir lagi. Nggak boleh ngerokok lagi. Makan yang bener. Ayah juga nggak boleh capek-capek. Suruh aja Gio buat ngurusin yang berat-berat,” tukas Sophia. Dengusan kesal dan gumaman jengkel dari ayahku terdengar. Aku terkekeh.
Dering handphone yang terdengar, membuatku tersentak. Tidak ingin mengganggu pasien lain di ruang UGD, dengan cepat aku berpindah ke luar. Paul melaporkan padaku hasil pertemuan dengan pemimpin Idea Group yang tadi kutinggalkan di pertengahan rapat saat Sophia meneleponku.
Saat aku berbalik mendekati ranjang ayah, percakapan mereka berdua menarik perhatianku.
“Dia emang biasanya gitu, Yah? Diem gitu, nggak banyak omong…” tanya Sophia. Mataku menatap Sophia yang sedang menanyakan sesuatu pada ayah. Rasa ingin tahunya terlihat jelas dalam postur tubuh dan nada suara Sophia.
“Dia emang nggak banyak omong. Cenderung tenang orangnya. Apalagi sama orang yang baru ketemu. Pasti dia lebih banyak diem dan ngamatin semuanya,” jawab ayahku. Aku masih belum mengerti mereka membicarakan siapa. Paul kembali mengirimkan pesan padaku. Jadi aku tidak terlalu memperhatikan percakapan adik dan ayahku.
“Tapi kalo sama ayah nggak gitu?” tanya Sophia lagi. Setelah pesanku terkirim, kepalaku menengadah. Mengamati ayahku menggelengkan kepalanya.
“Kalo sama ayah, dia lebih bebas. Meskipun nggak secerewet kamu juga. Tapi dia tipenya emang gitu. Nggak banyak omong, tapi...lebih ke sikap. Nolongin, ngasih perhatian gitu,” ujar ayahku. Sophia yang mendengar penjelasannya terlihat terpukau. Kepalanya mengangguk-angguk. Senyumnya terkembang.
“Jadi bukannya sombong ya? Aku pikir karena dia..yah, terkenal. Makanya kayak gitu,” lanjut Sophia. Dia bersandar dan melihat ayahku menggeleng dengan kuat.
“Anak itu nggak pernah sombong sama sekali. Dari belasan tahun ayah kenal sama dia, sifatnya nggak pernah berubah. Dia masih tetep sama kayak dulu,” tukas ayahku tegas. Sophia menyeringai.
“Tapi cantik banget emang. Pake baju santai kayak gitu aja udah keliatan anggun. Padahal aku yakin banget dia nggak pake make-up sama sekali,” decakan kagum Sophia terdengar jelas mengiringi pujiannya pada seseorang.
Percakapan mereka membuatku tertarik. Alisku terangkat. Aku menumpangkan kedua siku di pegangan ranjang ayahku, bermaksud menanyakan pada mereka siapa yang mereka maksud.
“Ngomongin siapa sih?” tanyaku memutus pembicaraan mereka. Sophia berpaling ke arahku.
“Itu..anak asuhnya ayah. Dia yang tadi ke sini duluan sebelum aku,” jawabnya. Aahh...mereka batinku Ayah pernah menceritakan pada kami semua tentang mereka. Bagaimana ayah bertemu mereka, kehidupan mereka.
Meskipun tidak terlalu detail, tapi aku sedikit banyak mengetahui keadaan awal mereka. Namun sampai sekarang kami semua tidak pernah bertemu dengan keduanya. Sepertinya Sophia mendapatkan kesempatan itu untuk pertama kalinya.
“Kamu pasti nggak bakal percaya, kalo aku kasih tau siapa dia,” ucap Sophia. Pijar antusias begitu menerangi matanya. Tubuh Sophia bergerak maju dan kedua tangannya menangkup lenganku. Meremas dan menggoyang-goyangkan lenganku. Bibirku menyengir. Merasa heran sekaligus tertarik pada orang yang bisa membuat Sophia segirang ini.
“Siapa sih?” tanyaku ringan. Sophia makin mencondongkan tubuhnya.
“Dia…” ucapan Sophia terpotong suara seorang perempuan yang mendekati ranjang ayahku.
“Permisi. Sepertinya infusnya sudah bisa dilepas. Saya lepas dulu ya. Untuk salah satu keluarga bisa menuju ke ruang administrasi untuk menyelesaikan administrasi sekaligus proses pemulangan pasien,” tukas perawat itu sambil dengan cekatan mengambil tempat di samping ayahku dan melepaskan infus di tangannya. Kepalaku mengangguk dan mataku berpindah pada Sophia.
“Aku aja. Kamu jaga ayah,” tukasku sambil melangkah keluar. Meskipun tadi merasa penasaran dengan ucapan Sophia tentang anak asuh ayah, saat ini itu adalah hal terakhir yang tercetus dalam benakku.