Dave
“Gimana tadi rapatnya? Nggak ada masalah sama komisarisnya kan?” kepalaku berpaling dan mendapati Paul, asistenku, berjalan menghampiriku. Bahuku mengedik santai.
“Kalo mau tau, mestinya tadi kamu juga ikut rapat di dalem,” tukasku tanpa melambatkan langkah sama sekali. Dengusan tiba-tiba terdengar dari sisi kananku.
“Kan rapatnya tertutup, Dave. Meski aku asistenmu, kayaknya nggak bisa asal ikut juga deh,” ujaran Paul membuat ujung bibirku terangkat naik. “Pemegang sahamnya nggak banyak ngomel kan?” tanyanya lagi. Alisku terangkat. Kepalaku menoleh sekilas sebelum mengembalikan tatapanku ke depan.
“Lupa?” kataku singkat sebelum dengan cepat mengalihkan pandanganku. Aku menganggukkan kepala beberapa kali saat beberapa karyawan berpapasan denganku dan menyapa diriku. Mengembangkan senyum ramah untuk mereka. Saat aku kembali menoleh ke samping, cengiran lebar Paul terlihat.
“Hah, sori. Kamu yang punya saham terbesar. Jadi nggak mungkin kamu bikin masalah yang nyusahin dirimu sendiri,” jawabnya sekilas. Tanganku terangkat dan menepuk pundaknya sekilas.
“Tuh, udah ngerti. Ngapain tanya lagi,” sambil mendorong pintu ruang kerja pribadiku, sahutan yang kuberikan pada Paul membuatnya terkekeh. Aroma lembut lavender menyambut diriku. Pandanganku beredar dan mengamati ruangan tempat aku mencurahkan pikiran dan tenagaku.
Sebuah ruangan dengan jendela di ujung yang terbuka lebar. Memberi nuansa cerah dan menghangatkan. Meja kerja dan sofaku memiliki warna yang senada, sedangkan dinding dicat dengan beberapa shade abu-abu. Kenyamanan sekaligus kepraktisan yang menjadi pilihanku ketika memutuskan dekorasi ruangan ini.
“Komisaris utama gimana? Aku nggak liat dia datang di rapat tadi,” sambil menutup pintu ruanganku, Paul menanyakan hal itu. Dia mengikutiku bergerak menuju kursi di depan meja kerjaku. Sedangkan aku sendiri sudah meletakkan panggulku dengan nyaman di kursiku sendiri.
“Tadi dia nggak dateng memang. Tapi ngikuti rapat juga kok. Video conference.” sahutku sambil membuka catatan pribadiku. Mataku bergerak membaca tulisan dan catatan yang kubuat sendiri. Meskipun memiliki asisten, ada saatnya di mana aku lebih suka membuat catatanku sendiri. Mengasah insting dan kemampuanku agar tetap tajam.
“Hari ini kita mau ke Idea Group kan?” kataku tanpa mengangkat pandanganku dari jurnalku sendiri. Idea Group adalah salah satu dari anak perusahaan yang kumiliki. Setelah stabil dengan perusahaan media elektronik, televisi dan radio serta media cetak, surat kabar dan majalah, aku bersama para direksi dengan persetujuan dari komisaris telah mengekspansi perusahaan ini dan membangun anak perusahaan di bidang media digital tiga tahun lalu. Saat ini, Idea Group telah memiliki pondasi yang bagus meskipun masih harus terus dipantau.
Suara Paul yang mengkonfirmasi pernyataanku terdengar. Kepalaku mengangguk.
“Mereka udah tau kalo kita mau dateng?” tanyaku sambil mengangkat wajahku sekilas. Mengamati seringai Paul dan gelengan kepalanya. Tanpa mampu kutahan, bibirku pun menyeringai.
“Satu jam sebelum kita sampe di Idea, kamu coba hubungi manajer umumnya. Dengan gitu, paling nggak, mereka bisa siap-siap dulu,” instruksiku pada Paul yang langsung ditanggapinya dengan sahutan mengiyakan.
“Mau berangkat sekarang? Ato nunggu makan siang dulu?” kembali aku menggelengkan kepala menjawab pertanyaan Paul.
“Sekarang aja. Kelamaan ntar kalo nunggu makan siang. Perjalanannya kan lumayan jauh juga. Kalo kena macet malah buang waktu jadinya,” sahutku. Begitu ucapanku terlontar, aku menegakkan tubuh dan memundurkan kursiku. Melangkah keluar dari sana. Dengan satu tangan yang meraup tas kerjaku, aku mulai melangkah menuju pintu saat mendadak suara handphoneku berdering dan menarik perhatianku.
Begitu mataku menangkap nama orang yang menelepon diriku, bibirku menyeringai lebar.
“Hei, Henry,” sapaku singkat. Suara kekehan tawa terdengar di sisi seberang.
“Dave! Lagi nganggur? Ada waktu nggak?” jelas pertanyaannya membuatku tertawa. Henry adalah teman dekatku sewaktu berkuliah. Di sana kami seperti saudara dan melakukan banyak kekonyolan. Namun, begitu ada ada masalah yang berhubungan dengan perkuliahan dan pekerjaan, kami selalu mencari satu sama lain dan berusaha saling membantu.
Awalnya aku mengajak dirinya untuk membangun mimpiku bersama-sama. Namun, dia ingin meraih cita-citanya sendiri. Tentu saja aku senang dengan keputusannya. Karena melihat keberhasilan temanku, membuatku merasakan kebahagiaan yang sama. Dia sekarang menjadi pemilik salah satu rumah produksi besar yang telah melahirkan berbagai film dan drama seri yang terkenal.
“Siapa bilang aku nganggur, Henry? Jangan konyol. Tapi...ada apa nih? Tumben nelepon? Nggak ada kerjaan? Ayo kerja sama aku sini” sahutku santai. Mengetahui dengan pasti Henry yang akan menyengir konyol mendengar ucapan.
Mataku terangkat dan memandang Paul. Memberikannya isyarat untuk mulai berjalan keluar. Tanganku terulur ke belakang untuk menutup pintu ruanganku.
“Hah! Justru aku yang mau ngajakin kamu,” tukasnya santai. Kekehanku terlepas. “Eh, tapi beneran. Kamu sibuk nggak? Besok,” tanyanya lagi. Alisku mengernyit kecil.
“Besok? Ada kerjaan sih. Tapi masih bisa diatur. Kenapa emangnya?” tanyaku. Setelah membiarkan Paul memencet tombol lift, aku berdiri dan menunggu pintu lift hingga terbuka.
“Besok aku mau liat proyek filmku yang baru. Ngecek sih sebenernya. Proses syutingnya udah mulai awal minggu ini. Udah beberapa hari belakangan. Ayo ikut aku. Ntar abis selese ngecek, kita bisa nyantai bentar. Kayak pas kuliah dulu. Stres banget aku belakangan ini,” keningku mengernyit. Mendengar setitik kelelahan yang tersirat dalam nada suara Henry dan tak mampu disembunyikannya.
Bukannya aku menganggur. Ada banyak pekerjaan yang menunggu keputusan dariku. Namun, bila berhubungan dengan keluarga dan sahabatku, tentu saja aku akan memprioritaskan mereka. Membuat waktu untuk mereka, bukan merupakan suatu masalah untukku.
“Oke. Jam berapa besok? Ketemuan di mana kita?” sahutku ringan. Dengan begitu, Henry tidak akan merasa terlalu membebaniku. Suara denting lift membuat kepalaku tengadah. Aku memasuki lift beriringan dengan Paul. Dia memencet tombol yang mengarah ke basement. Membiarkan lift mengantarkan kami berdua.
“Jam dua siang ya. Alamatnya ntar aku kirim lewat chat,” jawabnya lagi. Kepalaku otomatis mengangguk meskipun Henry tidak akan dapat melihat jawabanku. Aku meringis kecil.
“Siap. Aku tunggu,” sambil mengatakan hal itu, aku dan Paul keluar dari lift. Langkah kami bergema di tempat parkir basement. Tidak banyak yang berkeliaran di sini mengingat saat ini masih termasuk jam kerja. “Henry, aku mesti pergi dulu. Kita ketemu besok lagi,” ketika mendengar Henry mengiyakan ucapanku, segera kumatikan panggilan.
Bunyi alarm mobil yang dimatikan Paul terdengar. Kubuka pintu mobil dan kuletakkan panggulku di kursi penumpang. Membiarkan Paul mengambil alih kemudi.
“Gimana sama Clare? Udah ada perkembangan?” hanya dengan mendengarkan namanya disebut, bayangan dirinya memenuhi benakku. Senyumku mengembang tanpa mampu kutahan. “Kamu udah ketemu lagi sama dia? Udah dapet nomer teleponnya?” pertanyaan Paul lagi-lagi membuatku tersenyum lebar.
“Belum. Aku belum ketemu lagi sama dia. Tapi...aku udah punya nomernya,” sahutku masih menyisakan senyum.
“Oya? Gimana caranya?” keterkejutan Paul membuatku menyeringai.
“Ada. Aku punya caraku sendiri,” meskipun curang, tapi aku tidak ingin membuang kesempatanku untuk mendekati Clare. Saat ini, aku hanya memberikan Clare waktu. Memberikan kesempatan untuk takdir memainkan peranannya sendiri.
“Terus udah kamu telpon?” kali ini aku menggeleng menjawab pertanyaan dari Paul.
“Belum. Aku masih mau nunggu,” sahutku sambil menyandarkan tubuh. Meskipun beberapa malam aku tergoda untuk menekan nomor itu, namun aku berhasil mengendalikan diriku. Meyakinkan pada diriku sendiri bahwa Clare sepadan untuk semua waktu yang kumiliki.
“Oya? Nunggu apaan? Bukannya kamu udah ada nomornya? Kayaknya bukan kamu yang biasanya deh, kalo nunggu gini,” tukas Paul. Bahkan tanpa menoleh ke arahnya pun, aku dapat merasakan tatapan heran yang ditunjukkan Paul. Suatu pemikiran yang wajar sebenarnya karena dia telah mengenal diriku bertahun-tahun. Tapi, dengan Clare, semuanya berbeda.
“Nunggu semesta ngatur semuanya. Aku mau liat kayak gimana Tuhan ngatur pertemuanku sama Clare nanti. Sejauh mana hubungan kami bakal berjalan,” tukasku. Namun begitu ucapanku terlontar decakan Paul dan kekehan tawanya terdengar.
“Ckk..ckk..sok romantis. Sampe kapan, kamu mau nunggu baru mutusin buat bertindak?” tukasnya ringan. Seringaiku mengembang.
“Sampe akhir minggu ini,” sahutku tegas. Ketegasan dan keyakinan mewarnai ucapanku.
“Hah! Secepet itu? Nggak bisa disebut sabar juga kali, Dave,” ucapan Paul ganti membuatku terkekeh. Tentu saja aku mengetahui kelemahanku. Aku bukan orang yang penyabar.
***
Clare
Bahkan mataku pun menjadi panas dan pedih bila terus-menerus menatap layar laptop. Mengamati bagaimana akting aktris lain yang berperan sebagai w*************a, menjadi salah satu acuan untukku. Tentu saja aku memiliki gayaku sendiri. Sebisa mungkin aku memerankan lakon dengan cara yang kupunyai.
Namun, karena aku belum memiliki pengalaman untuk menggoda seorang lelaki di kehidupan nyata, jangankan menggoda, berpacaran saja belum pernah, maka satu-satunya cara untuk memiliki acuan adalah dengan penelitian dan pengamatan. Seperti yang selama ini sudah kupraktekkan.
Untung saja, tidak ada yang mengeluh dan mengkritik caraku dalam mencari inspirasi. Selama aktingku menjiwai dan bisa menghidupkan lakon yang kuperankan, maka kebanyakan dari mereka semua tidak akan mempermasalahkan caraku memperoleh inspirasi.
Deringan handphone yang memecah keheningan apartement ini membuatku tersentak kaget. Saat ini Lara belum kembali dari kampus. Jadi hanya aku yang berada di sini untuk mempelajari naskah, mempersiapkan diriku sendiri untuk syuting besok. Segera kuulurkan tangan dan kuraih handphone yang ada di atas ranjangku.
Keningku mengernyit saat aku tidak mengenali nomer telepon yang tertera di layar.
“Halo,” ucapku singkat. Kudekatkan handphoneku ke telingaku. Mencoba mengenali dengungan dan gumaman percakapan di belakang si penelepon.
“Apa benar ini Clare?” suara perempuan yang halus namun terdengar serius di telingaku perlahan terdengar.
“Ya,” sahutku singkat. Perasaan tidak enak perlahan merayap di hatiku.
“Apa anda kenal... Aland? Aland Hughman?” tidak dapat kujelaskan bagaimana jantungku berdentum dengan kencang begitu mendengar pertanyaan itu.
“Ya, saya kenal. Ada apa? Kenapa dengan Aland?” ucapku dengan tenang. Jujur saja, meskipun aku cukup takut mengutarakan pertanyaan itu, aku cukup berusaha untuk tenang. Karena aku tahu kepanikan tidak akan membantu sama sekali bila berada dalam keadaan darurat. Kilasan-kilasan memori masa kecilku bermunculan kembali tanpa aba-aba.
“Bapak Aland terjatuh sewaktu berjalan-jalan di taman. Sayangnya, kepalanya terluka ketika hal itu terjadi. Saat ini dia sedang tidak sadar di ruang UGD. Nama anda ada di nomer kontak keluarganya, jadi kami segera menghubungi anda,” ucapan perempuan itu seperti latar belakang atas tindakanku berikutnya.
Entah bagaimana nomerku berada dalam satu grup keluarga di nomer kontak Paman Aland. Aku juga tidak begitu yakin kenapa perawat itu meneleponku alih-alih anak kandung paman Aland. Tapi, aku tidak dapat memikirkan hal itu sekarang. Keselamatan dan keamanan paman menjadi prioritasku saat ini.
Tubuhku seakan bergerak secara otomatis. Kumatikan laptop dan kumundurkan kursi yang kududuki. Tanpa membuang waktu, aku mengambil jaket dan dompet di atas meja di dekat ranjang. Memastikan uang dan semua yang kuperlukan ada di dalamnya, segera aku melesat keluar apartemenku.
“Di rumah sakit mana?” tanyaku sambil berlari menuju lift. Kakiku mengetuk-ngetuk lantai. Menunggu terbukanya pintu lift dengan tidak sabar
“Hygge Central Hospital,” sahutan perempuan itu segera membuatku mengangguk.
“Saya segera ke sana. Tolong jaga dia,” ujarku cepat. Hanya dalam hitungan menit, aku sudah berada di dalam mobil dan melesat menuju rumah sakit itu. Untung saja lalu lintas tidak seramai biasanya. Mungkin karena saat ini belum saatnya jam pulang kantor. Dengan begitu hanya dalam waktu tiga puluh menit, aku sudah sampai di pelataran rumah sakit.
Setelah mengunci pintu mobil dan berlari menuju UGD, mataku segera beredar. Bertanya pada salah satu perawat yang sedang berjaga dan segera diarahkan kepada paman Aland. Hatiku langsung teremas saat mengamati matanya yang terpejam. Dia terbaring dengan nafas yang berhembus lirih. Rona kesehatan seakan lenyap dan berganti menjadi pucat. Tubuh yang minggu lalu terlihat gagah, saat ini terlihat lemah dan lelah.
“Dia hanya beristirahat. Tadi pasien sempat terbangun, namun saat kami bilang sudah meneleponmu, dia mengangguk lega dan tertidur kembali,” aku mengangguk mendengar penjelasan dokter di sampingku. Pandangan mataku yang semula terarah pada paman Aland, kutarik. Mataku menatap dokter yang berdiri di sampingku.
“Bagaimana hasil pemeriksaannya?” tanyaku cepat. Ingin segera mengetahui kondisi tubuh paman,
“Kami sudah memeriksa cideranya. Untuk bagian kepala, kami sudah melakukan CT Scan guna mengetahui apakah ada pendarahan di dalam kepala atau gegar otak. Untungnya, hasilnya baik. Tidak ada masalah yang berat. Hanya pendarahan luar dan sudah kami jahit,” aku menganggukkan kepala mendengar penjelasan dokter itu.
“Kami juga memeriksa bagian tubuh yang lain, mencari penyebab kenapa dia bisa sampai kehilangan kesadaran di tempat pertama. Tapi saat kami memeriksa jantung dan organ lainnya, tidak ada sesuatu yang mengkhawatirkan. Jadi kemungkinan, semuanya berasal dari stres atau kelelahan,” jelas dokter itu kembali.
“Baik, Dokter. Terima kasih banyak,” begitu aku mengucapkan rasa terima kasihku, dokter itu mengangguk dan beranjak. Membiarkanku sendiri. Aku menghela nafas lega. Sambil berbalik, aku berjalan menghampiri Paman Aland. Mengamati dirinya yang saat ini terbaring. Membiarkan waktu berlalu tanpa kuhiraukan.
“Maaf sebelumnya,” aku menoleh saat suara seorang perempuan terdengar. Perawat itu menghampiri dan mengulurkan sebuah handphone ke arahku.
“Ini milik pasien. Sebelumnya kami coba menghubungi nomer lain tapi tidak diangkat. Namun, sebelum ini, nomer tersebut menghubungi kami kembali. Kemungkinan dia akan segera tiba di sini beberapa menit lagi,” aku mengangguk mendengar penjelasannya. Berterima kasih saat meraih handphone paman Aland. Membiarkan perawat itu meninggalkan kami berdua. Pikiranku mengembara.
Mungkin salah satu dari anaknya batinku dalam hati. Membiarkan waktu berlalu beberapa lama sebelum kemudian aku berdiri dan mulai berjalan keluar ruangan. Menitipkan Paman Aland sebentar di perawat, mengatakan aku akan segera kembali setelah membeli kopi. Aku hanya ingin meminum sesuatu yang hangat untuk menenangkan syarafku yang sempat menegang tadi.
Hingga saat aku mendekat kembali ke ranjang Paman Aland dengan satu gelas kopi yang mengepul di tanganku, mataku terbelalak. Mendapati sosok yang kupikir tak akan mudah kutemui lagi, duduk di samping ranjangnya. Satu sosok yang selalu berada di dalam hatiku.