Clare
“Hei...sori baru nelpon sekarang,” senyumku terkembang secara otomatis ketika mengucapkan permintaan maafku. Sepertinya penyesalanku hanya membuat Ben merasa senang karena dengan mudah aku dapat mendengar kekehan tawanya dari handphoneku.
“Nope. Aku ini pendendam. Nggak gampang ngasih maaf. Kamu mesti nebus dulu, Clare,” nada serius yang dilontarkan Ben berbanding terbalik dengan tawa yang kudengar. Jelas sekali dia sedang menggodaku. Oke. Aku juga bisa bales kalo gitu batinku cepat. Senyum kecil tersungging di bibirku.
“Ohh...sori. Kayaknya aku salah pencet nomer deh. Bye,” sahutku santai dan berpura-pura hendak mematikan panggilanku saat teriakan Ben kembali terdengar.
“Nggak, nggak. Clare! Clare tunggu!” seringaiku timbul. Ketergesaan mewarnai intonasi Ben dengan jelas. “Becanda, Clare. Jangan marah dong. Cepet tua lho ntar,” sambungnya cepat. Senyumanku masih bertahan dan belum luruh dari bibirku.
“Ben….sibuk?” tanyaku sambil mengarahkan kaki menuju ranjang. Jemari tanganku yang bebas meraih bantal empuk ketika aku mendudukkan panggulku di atas ranjang. Bantal itu mendarat dengan nyaman di dalam pelukanku.
“Lumayan. Ada beberapa jadwal pemotretan akhir-akhir,” jawab Ben singkat. Keriuhan di latar belakang panggilan ini seakan menunjukkan keberadaannya.
“Runway fashion show?” tanyaku kembali.
“Masih bulan depan. Kenapa, Clare? Mau ketemu? Kamu kangen aku ya?” meskipun tidak menjawab langsung pertanyaan Ben, namun tawa kecilku sepertinya sudah membuatnya mengerti.
“Lumayan. Kita udah lama nggak ketemuan,” ucapku. Suara dengusan yang sama sekali tidak merdu merupakan balasan yang kuterima.
“Ya itu gara-gara siapa? Masa aku? Bukannya kamu yang sibuk terus? Yang syuting lah, interview, pemotretan, apa lagi coba…” gerutuan Ben membuatku menyengir. Jujur saja, aku merindukan omelan dan cerocosannya.
Ben adalah satu-satunya sahabat lelakiku. Memusatkan perhatian dan fokus pada pekerjaan tidak menyisakan diriku untuk membangun pertemanan. Namun, dengan Ben, semuanya terasa mudah. Sejak awal kehadirannya terasa menyenangkan. Aman. Apa yang terlihat dan terucap dari dirinya, itu merupakan cerminan dari hatinya. Tidak ada maksud tersembunyi di balik segala tindakannya.
Itulah yang membuatku menurunkan dinding pertahananku saat bersama dengannya. Tanpa sadar mengijinkan dia memasuki lingkaran personalku yang terbilang sempit dan kecil. Menambahkan dirinya di antara Lara, Paman Aland dan Naomi. Bertemu dengannya saat aku memulai pekerjaanku di bidang modelling. Bahkan sampai saat ini rasa syukur karena memiliki dirinya sebagai teman seperjuangan sejak mulai menapaki dunia modeling yang keras dan penuh persaingan masih dapat kurasakan.
Ketika aku mulai beralih dan menjajaki dunia akting, Ben masih berkecimpung di dunia yang membesarkan namanya. Menjadikan dirinya model pria yang bersinar dan diperebutkan oleh berbagai rumah mode dunia. Namun, itu tidak membuat hubungan kami menjadi renggang. Kami masih menjaga hubungan kami, hubungan platonik kami, agar tidak runtuh dan lenyap. Senyum kecilku mengembang.
“Ckk...kayaknya emang salahku nih. Sori…” tukasku cepat. Aku membasahi bibirku yang mendadak kering. “Ben…” panggilku mantap.
“Clare… Ada apa? Kasih tau aku,” sahutannya yang cepat membuat bibirku tersenyum singkat. Ben memahami diriku. Entah bagaimana dia seakan tahu apa yang kurasakan hanya dengan mendengar nada suaraku.
“Aku mau minta tolong,” bahkan aku bisa merasakan Ben menganggukkan kepala mengiyakan permintaanku meskipun aku tidak melihatnya langsung.
“Ngomong aja,” tukasnya cepat. Tidak ada pertanyaan yang dilontarkan Ben. Tanpa keraguan sedikitpun dia mengulurkan tangannya untuk membantuku.
“Kamu bisa cariin aku kamera pengintai yang bagus? Sesuatu yang nggak mencolok. Yang nggak kentara dan nggak narik perhatian sama sekali. Sesuatu yang bisa ngerekam paling nggak sampe dua harian nonstop? Kalo bisa, aku butuh yang bisa ngerekam suara juga. Kalo ada…” pintaku. Tanganku tanpa sadar meremas bantal yang berada dalam pelukanku.
“Oke. Kamu butuh kapan?” tidak ada canda dalam suara Ben. Hanya keseriusan yang mengiringi kata-katanya. Benakku berputar.
“Besok pagi banget aku udah harus ngasih itu ke Naomi. Jadi… kalo bisa malam ini? Ato besok, pas pagi buta juga nggak masalah,” sahutku lugas. Dengan cepat mengkalkulasi waktu yang kubutuhkan untuk menjalankan gagasan yang ada dalam benakku.
“Oke. Malam ini kalo gitu. Aku langsung ke tempatmu begitu udah dapet,” putusnya. Dengan lirih kuhelakan nafas lega. Mengetahui dengan pasti bahwa begitu Ben menjanjikan sesuatu, dia akan berusaha semampunya untuk memenuhi janjinya.
“Makasih banyak, Ben. Aku terbantu banget,” tukasku sambil tersenyum lirih. Dia tidak akan melihat senyumku, tentu saja. Tapi paling tidak, aku berharap rasa terima kasihku akan tersampaikan pada dirinya.
“Clare...kamu...ada apa? Kamu ada masalah?” kali ini setitik keraguan bahkan sekilas kecemasan terasa di setiap patah kata yang diucapkan Ben. Aku meringis kecil. Menyadari aku berhutang penjelasan bila tiba-tiba menodongkan permintaan seperti ini.
“Hemm...semacam itu. Ini cuma...yah, pencegahan aja. Aku nggak berharap masalahnya bakal kejadian, tapi...paling nggak kalo misal bener kejadian, aku udah siap. Aku punya senjata buat ngelawan,” penjelasanku tidak memperoleh reaksi apapun dari Ben. Hanya keheningan yang menyambut begitu ucapanku selesai kuutarakan.
“Aku nggak suka ini, Clare. Kamu sengaja nutupi masalahnya,” tukas Ben cepat. Ringisanku kembali terlepas.
“Ntar aku ceritain kalo semuanya udah selesai. Aku cuma butuh barang itu, Ben. Secepatnya kalo bisa,” berbeda dari ketegasan tadi, kali ini helaan nafas Ben tertangkap telingaku.
“Oke. Aku cariin langsung kalo gitu,” sahut Ben cepat. Kepalaku mengangguk.
“Oya, gimana Gea? Persiapan pernikahan kalian berdua udah selesai?” erangan Ben terdengar begitu aku menyebut nama Gea, tunangan Ben, yang sebentar lagi akan dinikahinya.
“Nggak usah ngomongin itu lagi. Aku bakal teriak kalo disuruh milih lagi antara bunga baby’s breath, anggrek dan mawar. Aku nggak ngerti sama sekali soal bunga. Udah. Aku biarin Gea yang ngatur semuanya,” kekehanku tak dapat kutahan mendengar keluhannya.
Menyadari meskipun Ben mengeluh akan persiapan pernikahannya, tapi sebenarnya yang terjadi adalah dia merupakan orang yang paling menantikan pernikahan ini berlangsung.
“Oke. Aku nggak ngomong kalo gitu. Aku tunggu kabar dari kamu ya. Semalem apapun, langsung telepon aja. Nggak usah kuatir. Aku butuh kamera itu secepatnya,” tukasku kembali.
“He eh. Tunggu ya,” itulah ucapan terakhir Ben sebelum kumatikan panggilan teleponku. Kepalaku tengadah dan mendarat pada jam dinding yang ada di kamarku. Menyadari aku berada di kamar hampir lima belas menit. Alisku mengernyit.
Kuhela tubuh dan kulangkahkan kakiku mendekati pintu. Mengulurkan tanganku untuk membuka daun pintu dan membiarkan diriku menghampiri sepasang kekasih yang masih duduk di meja makan. Tertawa dan menikmati kehadiran satu sama lain.
Senyumku terkembang mengamati mereka berdua. Mengesampingkan masalah di ruang paling ujung di dalam benakku.
***
Naomi
Suara ketukan pintu yang tak juga berhenti meskipun beberapa menit telah berlalu membuatku mengerang keras. Selimut hangat yang membungkus tubuhku, kusingkap dan kutendang hingga menjauh dariku. Kedua kakiku menapak di lantai. Dengan mata yang masih berat untuk terbuka, kupincingkan keduanya. Mengamati angka digital yang tertera pada jam di meja nakas.
Jam 5 pagi. Bagus! Siapa sih, pagi-pagi ke sini gerutuku dalam hati. Enggan meninggalkan kenyamanan ranjangku. Namun karena suara gedoran itu tak kunjung berhenti, akhirnya aku bergerak cepat dan tiba di depan pintu hanya dalam hitungan detik. Mataku menyipit saat mengintip pelaku yang mengganggu ketenanganku sepagi ini.
“Clare?” panggilku heran. Teringatakan percakapanku dengan Clare kemarin. kupikir akan bertemu dengannya di pagi hari. Tapi nggak sepagi ini juga batinku bingung. Lekas kubuka pintu dan kutarik Clare memasuki apartemenku. Mataku memperhatikan dirinya yang berdiri dengan memakai hoodie longgar, masker wajah dan celana jins hitam. Alisku terangkat naik.
“Ngapain pagi buta gini ke sini, Clare? Kamu nggak apa-apa? Ada yang sakit?” pertanyaan beruntunku membuat Clare meringis. Gelengan kepalanya terlihat. Kembali keningku mengernyit. Kubalikkan tubuhku dan kulangkahkan kakiku menuju dapur. Membiarkan Clare masuk dan mendengar dia menutup pintu apartemenku.
Nggak mungkin bisa tidur lagi kalo udah kebangun kayak gini batinku pasrah. Tanganku terulur dan mengambil teko. Mengisinya dengan air dan menaruhnya di atas kompor listrik. Sembari menunggu air itu mendidih, aku membalikkan tubuh. Memandangi Clare yang sekarang sedang duduk di meja makanku. Melepaskan hoodienya.
“Kamu naik apa tadi ke sini? Sendirian? Lara tau nggak?” tanyaku. Mataku mendarat pada Clare yang masih melipat hoodienya. Mengamati seringai kecil yang terukir di ujung bibirnya. Mataku beralih dan tatapanku terpaku pada sebuah bungkusan yang berada di hadapan Clare.
“Naik mobil. Aku nyetir sendiri. Lara...dia nggak tau aku keluar. Makanya aku nggak bisa lama-lama,” ujarnya singkat. Kepalaku mengangguk. Bunyi siulan terdengar dari balik punggungku. Dengan cepat aku berbalik dan meraih dua cangkir kosong di dalam rak piring. Mematikan kompor dan meraih botol yang berisi kopi dan gula.
“Kopi?” hanya gumaman Clare yang terdengar menjawab tawaranku. Tidak membutuhkan waktu lama untuk menyeduh kopi. Saat adukan tanganku berhenti, aroma kopi menguar dan memenuhi tempat kami berada.
“Pasti masalah Kendrick?” tebakku sambil mengulurkan cangkir kopi ke hadapan Clare. Melihat kedua tangannya menangkup cangkir kopi dan menyerap kehangatan yang ditawarkannya. Kududukkan panggulku di kursi yang berlawanan dengan Clare.
Tidak butuh menjadi seorang jenius untuk menebak hal itu. Biar bagaimanapun Kendrick adalah satu-satunya orang yang mengharuskan kami untuk membangun benteng kewaspadaan tingkat tinggi.
“Iya, Kendrick,” jawabnya cepat. “Soal baju gimana? Beres?” kuanggukkan kepalaku sebagai jawaban atas pertanyaannya. Sesapan kopi yang mengalir di tenggorokanku terasa begitu lezat dan nikmat. Memberikan kehangatan dan tendangan semangat yang kubutuhkan mengingat aku terbangun jauh lebih pagi dari jadwalku biasanya.
“Baju nggak ada masalah. Mereka malah seneng banget karena bakal dapat exposure ntar di film kamu,” tukasku cepat. Cukup senang karena berhasil menyelesaikan bagianku dengan baik. “Tuh barangnya di kamar. Kalo kamu mau liat,” sambungku. Clare hanya menggelengkan kepala.
“Nggak usah. Aku percaya kamu bisa milihin yang bagus buat aku. Oya, kamu udah nawarin uang buat bajunya kan? Aku nggak mau nanti dikira minta gratisan,” ucapan Clare membuatku menyeringai. Punggungku bersandar dan tanganku memutar-mutar cangkir kopi yang kugenggam.
“Soal itu juga kamu nggak usah kuatir. Aku udah nawarin, cuma mereka nolak. Mereka ngotot itu buat kamu,” jelasku sambil mengedikkan bahu. Tatapan mataku masih belum berpindah dari sahabatku.
“Oke. Pastiin aja mereka dapet undangan buat premier filmnya. Meskipun mungkin aku nggak ikut promonya, paling nggak, mereka bisa liat baju mereka yang aku pake,” penjelasan Clare masuk akal. Seperti biasa. Bagaimanapun rumor dan anggapan yang beredar di luar sana, aku mengerti dengan pasti. Sebagian besarnya sama sekali tidak sesuai dengan karakter Clare.
Tidak ada setitikpun rasa dingin dalam diri Clare. Oke, mungkin aku bias karena Clare memang tidak mudah untuk membiarkan orang lain memasuki lingkaran personalnya. Aku, di lain pihak, merasa bersyukur karena berada di lingkaran Clare dan bisa bersama dengannya sejak awal.
Namun, bahkan dengan orang lain atau rekan kerja, Clare selalu memberikan perhatiannya. Tidak terlalu terbuka, tentu saja. Tapi Clare berusaha. Dia memperhatikan sekelilingnya dengan caranya sendiri. Melakukan semua yang bisa dia lakukan.
“Oke. Ntar aku siapin undangan buat mereka. Anggep aja itu beres,” sahutku singkat sebelum kemudian keningku mengernyit. “Gimana soal Kendrick? Kamu ada rencana buat ngadepin dia?” begitu pertanyaanku terlontar, kulihat Clare menegak dan mencondongkan tubuhnya ke arahku. Tangannya menggeser bungkusan di depannya ke arahku. Aku menatapnya dengan penuh tanda tanya.
“Itu kamera pengintai. Kamu udah janjian sama kru itu kan, buat ketemuan pagi ini?” kepalaku mengangguk menjawab pertanyaan Clare. “Bagus. Minta tolong dia buat naruh itu di dalam ruang ganti yang rencananya buat aku. Pastiin dia buat naruh di tempat yang bisa ngerekam semua sela di ruangan itu,” ucapan Clare yang datar mengejutkanku. Aku tidak berpikir Clare akan memberiku barang ini. Kupikir dia hanya akan menghindari Kendrick, memerankan lakonnya dan menyelesaikan syuting secepat mungkin.
“Kok pake kamera? Kenapa?” kembali pertanyaanku hanya mendapat kedikan bahu Clare sebagai jawaban. Ringisan kecilnya terlihat. Begitu juga gelengan kepalanya.
“Perasaanku nggak enak soal dia. Katamu kru itu juga punya alasan sendiri buat bantuin kita. Makanya paling nggak, aku mau punya bukti kuat buat ngelawan dia kalo misal dia ngelakuin sesuatu ke kita. Ke aku,” aku mengangguk begitu mencerna penjelasan Clare. Masuk akal. Punya senjata pencegahan emang cara yang paling baik buat jaga diri batinku.
“Oke. Aku udah janjian sama dia….” pandanganku menoleh pada jam dinding yang terpasang di sisi kananku. “Satu setengah jam lagi. Dia setuju buat nemuin aku sebelum dia masuk kerja,” sahutku. Mengamati Clare meneguk sisa kopinya dan memundurkan kursi. Dia melangkah menuju wastafel dan mencuci cangkir yang telah tandas isinya.
“Sekarang kameranya masih mati. Tapi ntar sebelum kamu kasih ke kru itu, nyalain dulu ya. Itu batereinya udah aku siapin kok. Tinggal dinyalain aja,” ujarnya sambil membilas cangkir dan meletakkannya di tatakan gelas.
“Kamu dapet ini dari mana, Clare? Cepet banget dapetnya. Jangan bilang kamu keliaran di luar, cari ini di toko? Ato kamu beli dari internet?” pertanyaanku mendapat respon cepat dari Clare. Dia berbalik dan menyandarkan panggulnya di counter dapur. Seringai kecil terkembang di bibir Clare. Matanya berbinar saat membalas tatapanku.
“Ben. Dia yang dapetin buat aku,” jawabnya singkat. Mendengar namanya membuat senyumku mengembang lebar.
“Anak itu? Dasar… pasti dia seneng udah bisa kabur bentar dari persiapan nikahannya,” tukasku santai. Tebakanku sepertinya benar karena Clare menganggukkan kepala dengan cepat dan terkekeh.
“Kamu tau dia kan,” cetus Clare sambil mulai melangkah. Kali ini giliranku yang tertawa. Clare melangkah menuju kursi yang tadi didudukinya dan meraih hoodie yang terlipat di sana. “Aku langsung balik. Ntar Lara keburu bangun,” ucapnya. Aku mengangguk dan melangkah menuju pintu. Menunggunya memakai hoodie dan berjalan mendekatiku.
Tanganku terulur dan memeluk sahabatku erat. Merasakan tangannya membalas pelukanku.
“Makasih, Naomi. Kamu udah ada terus buat aku,” kadang, ucapan-ucapan Clare menangkap hatiku saat aku tidak siap. Rasa kasih sayang terhadap sahabatku begitu kuat. Clare bukan hanya sahabat. Dia sudah seperti keluargaku. Saudara perempuanku.
“Apa yang nggak buat kamu, Clare,” ujarku. Merasa yakin bahwa itulah yang akan dilakukan Clare juga terhadapku bila aku sedang menghadapi masalah. Senyumku mengembang. Kehangatan menyeruak di hatiku saat menyaksikan mata Clare yang bersinar cerah.