Lara
“Clare….” panggilku mencoba mengalahkan suara musik yang menggema di seluruh ruangan apartemen ini. Suara sumbang Clare yang mengiringi musik yang diputar cukup kontras dengan kemerduan penyanyi aslinya. Seringaiku mengembang lebar.
“Di dapur!” sahutan Clare terdengar. Setelah pintu terkunci rapat dan sepatu sudah kulepas, aku berjalan menuju kamarku.
“Udah pulang dari tadi?” tentu saja aku tidak menunggu jawabannya. Sudah jelas dia tidak akan mendengarkan pertanyaan yang kulontarkan. Tidak dengan tingginya desibel suara yang bergema di sini. Untung aja aku sama Clare tinggal di apartemen ini. Paling nggak, peredam di sini nggak bakal bikin tetangga sebelah ngeluh gara-gara berisik batinku geli.
“Lagi bikin apa?” tanyaku begitu sudah berganti baju dan meletakkan tas kuliahku di kamar. Kakiku melangkah mendekati kulkas dan mengeluarkan jus jeruk. Meraih gelas yang berjajar di lemari atas dan menuangkan jus ke dalamnya.
“Risotto sama kentang goreng,” alisku terangkat mendengar menu makan malam yang sedang dimasak Clare. Sudah jelas terkadang kakakku ini suka dengan menu yang acak dan tidak sesuai sama sekali.
“Mana yang udah mateng?” kataku setelah menelan tegukan besar jus jeruk. Gelas jus yang masih tersisa sedikit, kutaruh di atas meja makan.
“Kentangnya udah. Kamu siapin mejanya ya. Bawa kentangnya ke sana,” ujar Clare sambil berkonsentrasi mengaduk risotto. Wangi thyme dan jamur menyerbak di seluruh ruangan. Air liurku terbit dengan segera.
“Kok tumben udah sampe duluan. Nggak ada syuting lagi?” sambil menaruh kentang yang sudah digoreng renyah ke atas piring, aku bertanya pada Clare. Mengamati dirinya yang tampak nyaman dalam setelah piyama lembut.
“Nggak ada lagi. Tadi abis syuting buat talk show, mampir ke agensi bentar, terus langsung balik ke sini,” ujarnya santai. Aku mengangguk kecil. “Ambilin kejunya dong, Lara. Tolong…” sambil menunjuk tempat di mana keju parmesan itu disimpan, Clare memintaku ringan.
“Syutingnya lagi kapan?” tanyaku. Kututup pintu kulkas dan kuletakkan wadah keju parmesan bubuk di dekat Clare. Mengamati dirinya mengambil keju dengan cukup dermawan. Cengiranku terukir lebar.
“Kayaknya tiga hari lagi. Tapi yang film punyaku sendiri kayaknya sekitar akhir minggu ini,” jelasnya. “Piring tolong,” pinta Clare sambil mengulurkan tangan.
Kembali kuserahkan dua piring makan kepada Clare setelah menutup laci penyimpanan alat makan. Air liur mulai terbit di mulutku saat uap panas dan aroma masakan yang dibuat Clare membuat perutku bergemuruh semakin kencang. Kekehan Clare terdengar.
Kubawa dua piring dengan isi yang menggunung ke atas meja makan. Meskipun kami sering berniat untuk mengatur porsi makan kami, tapi tetap saja godaan masakan Clare tidak mungkin bisa dilewatkan.
“Gimana kelas hari ini? Jadi presentasi juga?” tanya Clare sambil menyuapkan risotto yang gurih ke dalam mulutnya. Tentu aku mengangguk. Di saat mulutku begitu sibuk mengunyah dan menikmati kelezatan makanan ini.
Walaupun Clare cukup sibuk dengan pekerjaannya, tapi dia selalu memperhatikan studiku. Menanyakan perkembangan dan mendengarkan setiap kekhawatiran yang kurasakan. Aku benar-benar menghargai perhatiannya yang tak terbatas padaku.
“Presentasinya jadi. Untung aja kelompokku udah siap. Kalo nggak gitu, bisa-bisa nggak aman nilaiku buat semester kali ini,” jawabku sambil mencomot kentang goreng. Mencocolkannya pada saos sambal dan memasukkannya ke dalam mulutku dengan semangat.
Clare mengangguk dan tersenyum kepadaku. Mataku mengamati Clare yang saat ini sedang menuangkan air ke dalam gelasnya. Benakku berputar. Zane sudah menanyakan lagi kepadaku. Aku bahkan belum bisa mencari waktu yang tepat untuk mengungkapkan hubungan kami pada Clare,
Kepala Clare mengangguk kecil mengikuti alunan lagu. Tubuhnya juga terlihat santai dan jauh dari ketegangan. Syutingnya juga masih beberapa hari lagi baru akan dimulai. Apa aku ngomong sekarang aja ya? batinku.
“Clare…” keraguan mewarnai ucapanku. Clare menengadah dan menatapku. Mulutnya masih sibuk mengunyah.
“Hemm?" gumamnya. Alisku mengernyit. Aku menunduk dan memainkan makananku tanpa sadar.
“Clare...aku…” ucapanku terhenti. Aku menarik nafas dalam. “Udah punya pacar. Namanya..” semburku cepat. Tidak tahu bagaimana seharusnya aku mengatakannya pada Clare. Jadi, satu-satunya solusi yang mampu kutemukan adalah mengucapkannya secara lantang.
“Zane?” sahut Clare singkat. Aku mengangguk kuat.
“Ya, Zane,” ujarku. Mataku terbelalak. “Kok tau? Tau dari mana?” tanyaku bingung. Keningku mengernyit. Keheranan membuncah di benakku saat melihat Clare terkekeh kecil sambil menyandarkan pungungnya di kursi. Dengan jemari yang meraup kentang dan memasukkannya ke dalam mulut dengan cepat, Clare tidak mengalihkan pandangannya dari diriku sedikit pun.
“Lara sayang...adik kecilku… kakakmu ini emang biasanya sibuk. Tapi bukannya buta. Aku tau kamu udah punya pacar sejak mergoki kamu sering telponan hampir tiap hari. Mana kamu sering senyum-senyum nggak jelas lagi. Ayolah...kamu nggak ngeremehin kakakmu ini kan?” sahutnya santai. Mulutku menganga. Menyadari bahwa selama ini aku telah khawatir tanpa sebab.
“Terus kamu nggak marah?” sambungku lagi. Sedikit merasa ngeri akan jawaban yang akan diberikan Clare. Clare hanya mengembangkan senyum kecil.
“Zane ini cowok baik-baik?” aku mengangguk menjawab pertanyaannya. “Nggak make obat, nggak mainin cewek, nggak punya catatan kriminal kan?” kali ini aku menggeleng kuat-kuat. Seringai Clare kembali terlihat.
“Kamu cinta sama dia? Sayang?” tanyanya. Kembali aku menganggukkan kepala.
“Banget. Dan dia juga sayang sama aku,” sahutku cepat. Clare terkekeh.
“Kalo gitu besok bawa dia ke sini. Aku mau mastiin dia pantes buat kamu. Nggak bakal nyakitin kamu, nggak….,” pekikan suaraku membuat ucapan Clare berhenti di tengah jalan. Kedua tangannya terangkat dan menutup telinganya. Matanya terpejam rapat mendengar teriakanku yang membahana.
Kudorong kursi yang kududuki ke belakang. Aku berlari memutari meja makan dan memeluk Clare erat-erat.
“Clareeee….makasih banyaaak..” ujarku girang. Tanganku bergerak menggoyang-goyangkan tubuhnya yang saat ini berada dalam pelukanku. “Zane pasti seneng banget bisa ketemu sama kamu. Nggak lagi sembunyi-sembunyi,” ucapku cepat. Ringisanku melebar.
***
Clare
Itulah yang kupikirkan akhir-akhir ini. Membuatku bertanya-tanya dalam hati. Bagaimana rasanya? Ketika aku bisa bersandar tanpa perlu mengkhawatirkan tanggung jawab yang kupikul. Ketika aku bisa menoleh dan melepaskan seluruh kekacauan di hatiku. Mendapatkan seseorang yang akan mendengarkanku, berada di pihakku dan memelukku. Mencintaiku diriku. Aku.
Aku menyunggingkan senyum. Mengamati Lara yang menceritakan pengalamannya bertemu dengan Zane pertama kali. Menyadari Zane yang tertawa terbahak dan menghadapku untuk menceritakan versinya. Senyum tulus mereka terkembang. Tangan, pundak, siku atau manapun bagian tubuh mereka berdua selalu bersentuhan. Zane akan menyelesaikan ucapan Lara dan Lara akan tertawa pada candaan yang dilontarkan Zane.
“Jadi Lara yang pertama kali minta nomer kamu, Zane?” pertanyaanku membuat Lara menggeleng kuat-kuat.
“Bukan, Clare. Zane yang pertama ngajakin kerja tugas barengan. Padahal udah jelas dia nggak sekelompok sama aku,” jelas Lara. Kali ini giliran Zane yang menggeleng kuat dan menjelaskan versi ceritanya. Kekehanku terlepas. Tanganku terulur untuk menyendokkan kembali pasta brokoli dan ayam panggang ke atas piring mereka berdua sebelum kemudian menyandarkan punggungku ke kursi. Mengikuti percakapan mereka berdua.
Aku tahu ini salah. Aku merasakan perasaan yang tidak seharusnya kurasakan saat melihat kebahagiaan adikku. Iri. Bukannya aku ingin merebut kebahagiaan adikku, bukan itu. Aku hanya ingin merasakan apa yang adikku rasakan. Kebahagian semacam itu merupakan satu hal yang mewah untukku.
Betapa tidak, saat anak remaja lain bergaul dan bersenang-senang dengan teman mereka, mendapati tugas, ujian sekolah dan pacar merupakan satu-satunya masalah yang mereka hadapi, aku harus bergelut dengan pekerjaan serabutan untuk memberikan makanan yang bisa mengganjal perutku dan adikku. Bahkan terkadang tubuhku harus merasakan kerasnya pukulan dan memar saat melarikan diri dari tindakan pencurian yang terpaksa kulakukan. Tidak ada tempat untuk cinta saat itu.
Saat aku sudah mendapat pekerjaan sebagai asisten desainer, pekerjaan yang dicarikan oleh Paman Aland, aku memusatkan seluruh tenaga dan fokusku untuk bekerja dan mencari kamar yang layak untuk kami berdua. Memusatkan seluruh prioritasku untuk membayar uang sekolah adikku, menyediakan makanan hangat untuk kami berdua, bahkan menyisihkan sedikit uang untuk membayar pelajaran yang kudapat sebagai ganti sekolah menengah. Kembali. Tidak ada waktu untuk kemewahan seperti cinta.
Hingga saat bosku yang seorang desainer melihat potensiku dan menyuruhku untuk mencoba pekerjaan di dunia modelling. Dengan persaingan yang cukup ketat dan keras, belum lagi saat aku mulai menapaki dunia akting, fokusku bahkan tidak dapat kubagi. Aku belajar otodidak dalam berjalan, berakting dan berbicara di depan umum. Meskipun untuk yang terakhir, kuakui aku telah gagal dan tidak berhasil. Namun, tidak untuk dua hal yang pertama.
Saat semua keberhasilan itu terjadi, semuanya berubah. Banyak lelaki yang mendekatiku, meminta perhatianku. Namun, yang mereka lihat adalah Clare Willow, model dan aktris muda yang berbakat, memiliki nama besar, kekayaan yang berlimpah dan status yang diakui di seluruh negeri bahkan di beberapa negara lain. Semua itu menjadi daya tarik, menjadi bunga yang menarik dan membuat lebah berkerumun mengelilinginya. Mengelilingiku.
Belum lagi dengan adanya tantangan yang tak tertulis. Aku yang belum pernah terlihat menjalin hubungan dengan aktor atau penyanyi, membuat banyak lelaki penasaran dan ingin menaklukanku. Kemungkinan besar ingin menunjukkan kualitas mereka sebagai lelaki pertama yang menjalin hubungan dengan Clare Willow.
Tidak ada ketulusan yang kurasakan dari mereka. Mereka semua tidak melihatku. Melihat seorang wanita yang berada di balik Clare Willow. Seorang wanita yang terseok-seok hanya sekedar untuk bertahan hidup. Tanpa orang tua, tanpa keluarga yang bisa diandalkan. Jadi bukan inginku untuk menjauhi mereka. Hanya saja, para lelaki itu tidak menunjukkan niat untuk melihat jauh ke balik topeng yang kupasang.
“Kamu masak semuanya sendiri, Clare? Lara bantuin nggak?” pertanyaan Zane menarik kembali benakku yang mengembara. Mataku mengerjap.
“Hei, aku bantuin ya. Jangan salah,” aku terkekeh saat menyaksikan Lara menjawab pertanyaan Zane dengan cepat.
“Iya...bantuin apa emang? Kayaknya aku nggak yakin kamu bisa masak deh,” goda Zane membuat Lara memekik kecil. Jemarinya bergerak dan menggelitiki pinggang Zane.
Seringaiku terkembang. Sambil kembali menyuapkan makanan ke mulut, pemandangan mereka berdua cukup menghiburku. Paling tidak, bisa menyisihkan pikiran mengasihani diri sendiri yang kurasakan.
“Kata siapa aku nggak bisa? Kata siapa hah? Siapa yang bawain kamu lasagna kapan hari?” sergah Lara. Meskipun nada bicaranya terkesan jengkel, namun tidak dengan matanya. Dengan jelas dapat kulihat matanya yang bersinar dan berpijar cerah saat menghadapi godaan Zane.
“Lara bantuin, Zane,” sahutku singkat.
“Tuh denger, Clare bilang apa,” tukas Lara cepat. Senyuman penuh kebanggaan terukir di bibirnya. Zane masih menyeringai lebar.
“Bantu ngerecoki maksudnya,” tuturku. Pekikan Lara ketika mendengar ucapanku, membuatku dan Zane tertawa hampir bersamaan. Pekikan Lara seakan menjadi isyarat candaan mereka berdua yang semakin intens. Tawa dan sorakan memeriahkan apartemen ini. Membuat keriuhan yang menyenangkan.
Sebuah getaran dan dering notifikasi menarik perhatianku. Aku menoleh dan meraih handphoneku yang berada di atas meja. Jemariku bergulir dan mataku berfokus membaca chat yang ternyata berasal dari Naomi.
‘Kamu nggak bakal percaya apa yang aku temuin. Kendrick ini. Sialan! Aku nggak tau apa yang ada di kepala dia.’ mataku menyipit. Menanti kelanjutan chat dari Naomi. Kuletakkan sendok di samping piringku. Nafsu makanku jelas sudah menguap dan lenyap.
‘Aku berhasil dapetin info dari salah satu kru. Kalo cast lain dapat kamar ganti bareng sama cast yang lain, kamu dapat satu kamar sendiri. Aku tau ini nggak aneh, tapi yang bikin aneh, nggak ada yang boleh masuk ke tempat itu.’ keningku mengernyit. Jemariku mengepal.
‘Dari salah satu tim penata kostum, aku baru tau kalo mereka nyiapin kostum buat kamu terbuka banget. Udah kayak lingerie yang nggak pantes kalo dipake di depan umum. Kendrick ngeyakinin kepala departemen penata kostum kalo ini sesuai sama peran kamu.’ aku menelan ludah. Jemariku mulai mengetik.
‘Kamu dapet foto kostumnya? Kontakmu ini, dia aman kan? Maksudku dia nggak bakal kena masalah kalo ngasih tau ini ke kamu?’ meskipun hanya beberapa menit, namun terasa begitu lama hingga balasan chat Naomi datang. Mataku terbelalak melihat foto kostum yang akan kupakai waktu syuting.
Memang lakon yang akan kuperankan di special appearance di film itu adalah seorang wanita penghibur. Namun, dengan kostum seperti itu, praktis tubuhku akan terpampang dan dilihat oleh seluruh pasang mata yang akan menonton film ini. Aku cukup egois. Aku ingin tubuhku hanya untukku sendiri. Dengan bahan yang terihat tipis dan menerawang serta minim dan pendek, jelas pakaian itu tidak akan kukenakan. Aku bergidik ngeri.
Benakku berputar dengan cepat. Ada hal-hal yang harus kulakukan dengan segera karena lusa aku sudah harus menjalankan syuting untuk film dengan Kendrick. Sutradara sialan itu.
‘Dia nggak masalah. Dia punya alasan sendiri mau bantuin kita. Aku udah nawarin duit, tapi dia nolak. Dia masih bisa kuhubungi juga. Kenapa?’ aku menggigit bibirku. Memastikan bahwa gagasan ini adalah gagasan yang paling bijak yang bisa kuambil dalam waktu yang terbatas seperti kali ini.
“Ada apa, Clare? Ada masalah?” pertanyaan Lara menarik perhatianku. Kepalaku menengadah. Mendapati Lara dan Zane yang memandangku dengan tatapan cemas. Senyumku tersungging. Senyum yang kuharap bisa menenangkan mereka.
“Ada sedikit. Tapi masih bisa diatasi kok,” ujarku mencoba terdengar santai. Badanku menegak. “Aku ke kamar dulu ya. Kalian lanjutin makan gih, bentar lagi aku balik,” ujarku cepat. Lara mengangguk meskipun tatapannya masih menyiratkan kecemasan.
Kakiku bergegas melangkah ke kamar. Jemariku mengetik dengan cepat.
‘Bikin janji sama dia besok. Aku mau kamu ngasih dia sesuatu. Biar nanti dia taruh di kamar gantiku. Terus sekarang kamu cari kostum dengan warna yang sama persis dengan kostum yang mereka pilih. Harus yang sama ya warnanya. Cari yang agak tertutup modelnya. Bahan yang nggak terlalu transparan. Kalo bisa, cari yang desainernya punya kerjasama sama kita.’ ketikku cepat.
‘Oke. Barang apa ini nanti? Abis ini aku langsung hubungi desainer. Kalo masalah kostum, anggep aja udah beres.’ separuh jalan. Aku masih belum bisa bernafas lega.
‘Bagus. Kita ketemuan besok pagi banget. Aku hubungi kamu lagi. Makasih banyak, Naomi.’ ketikku cepat.
‘Nggak usah gitu. Apa yang nggak buat kamu.’ balasan Naomi membuatku tersenyum. Tapi aku tidak memiliki banyak waktu bila ingin semuanya berjalan sesuai rencanaku. Tanpa membuang waktu aku menekan sebuah nomer. Menunggu hingga deringanku tersambung dan suara seorang lelaki menjawab panggilanku.
“Clare sayang...kenapa baru nelpon sekarang? Aku udah nunggu kamu lama banget,” ujarnya dengan suara yang serak dan dalam. Kehangatan menjalar cepat di hatiku.
“Ben….” panggilku dengan kelegaan yang membuncah.