Dave
“Aku nggak tau lho, kalo kamu kenal sama Clare. Kok nggak cerita sih?” mataku melirik ke samping saat ucapan Paul berhasil mengalahkan deru angin yang melewati jendela mobil ini.
“Nggak perlu semuanya kuceritain kali, Paul. Yang ini aku mau simpen sendiri aja,” ucapku enteng.
“Oya? Kenapa? Biasanya kamu cerita ke aku kalo kenalan sama cewek,” kembali Paul meneruskan rasa penasarannya. Aku hanya menyeringai. Kedikan bahuku keluar dengan santai.
“Karena Clare beda. Dia nggak kayak cewek lain.” sahutku singkat. Jelas jawabanku membuat Paul keheranan.
“Oya? Beda gimana? Ya, dia nggak serame cewek-cewek lainnya sih. Kalo dipikir-pikir emang dia nggak tipikal artis biasanya juga,” sambung Paul.
“Dia emang kayak gitu ya? Dingin. Nggak banyak omong,” Paul bertanya sambil menoleh sekilas ke arahku. “Apa karena baru pertama kali ketemu sama aku? Makanya jaga jarak,” sambungnya lagi.
“Dingin? Hemm...kayaknya kamu salah baca sifatnya,” ucapku santai.
“Oya? Masa?” dari sudut mataku, aku dapat menyaksikan pandangan sangsi Paul atas ucapanku. Kekehanku terlepas.
“Dia cuma nggak banyak omong. Bisa aja dia nggak jago basa-basi, nggak biasa mungkin. Makanya dia lebih banyak diem dan ngamatin semuanya,” jawabku. Clare begitu menggugah rasa keingintahuanku, ketertarikanku. Pesonanya yang tidak biasa membuatku takjub.
Mengamati bagaimana dia cukup tahu bahwa kemeja Paul terkena cipratan saus yang bahkan Paul pun tidak menyadarinya. Betapa cepat respon yang diambil Clare tanpa terkesan heboh dan menarik perhatian pada dirinya. Semuanya terasa begitu tenang dan mengalir halus. Saat Lara yang tanpa mengatakan apapun namun Clare mengetahui apa yang dibutuhkan Lara dan memberikannya tanpa perlu diminta.
Atau mungkin hal-hal yang tidak disadari Clare, namun dapat kutangkap dengan jelas. Saat penjual menatap Clare dengan pandangan tidak yakin dan penuh keraguan namun Clare tanpa segan menyunggingkan senyum pada mereka sebagai balasan. Bukan senyum lebar dan ceria, satu jenis senyum yang memeriahkan dan menaikkan suasana hati. Namun senyum tulus dan menenangkan. Senyum yang seakan mengungkapkan bahwa tidak akan ada masalah yang terjadi dan semuanya akan baik-baik saja.
“Kalo emang dia nggak terbiasa basa-basi, gimana dia bisa tetep eksis di dunia entertainment kayak gini ya? Susah banget nggak sih. Yang punya wajah cantik, badan bagus banyak, nggak cuma dia. Yang udah heboh buka-bukaan, jungkir balik, bikin gosip sana sini biar dikenal aja kadang masih nggak dapet nama juga,” keheranan begitu pekat dalam pernyataan paul.
Aku meringis. Pikiran itu sempat terlintas di benakku saat menit-menit awal pertemuanku dengan Clare dalam proses reading proyek yang kusponsori. Namun pikiran itu menguap begitu mendengarkan dia mengucapkan dialognya dan sikapnya pada rekan kerjanya yang lain.
Meskipun tidak memperpanjang percakapan atau bercanda dengan mereka, tapi Clare selalu mendengarkan dengan seksama dan menjawab apapun yang ditanyakan kepadanya. Dia memperhatikan secara penuh apapun yang dikatakan orang pada dirinya. Clare benar-benar mendengarkan mereka.
“Aktingnya gila. Kamu belum pernah liat langsung, kan? Belum syuting aja, dia udah keren banget. Apalagi kalo udah syuting. Wah..nggak bisa komentar lagi deh,” sahutku sambil menggelengkan kepala. Senyum bangga terukir di bibirku saat kenangan hari itu terlintas di benakku.
“Oya? Emang kamu udah pernah liat akting Clare langsung?” aku mengangguk mengiyakan pertanyaan Paul.
“Salah satunya karena itu. Alasan dia bisa bertahan di sini,” jelasku singkat. Aku menyipitkan mata dan mengedikkan kepala sedikit begitu bangunan perusahaanku sudah mulai terlihat. “Udah sampe. Aku nggak perlu masuk parkiran kan?” dengan kaki yang menginjak pedal rem, aku memperlambat laju kendaraanku.
“Terus? Gimana rencanamu?” pertanyaan Paul membuatku mengernyitkan dahi. Mataku menatapnya dengan tanya. “Kamu masih belum punya nomernya Clare kan? Kamu nggak mau pake sumbermu buat dapetin itu?” sambungnya lagi. Cengiran lebar terukir di wajahnya.
“Aah….itu,” kataku sambil mengangguk kecil. Senyum terukir di ujung bibirku. “Gampang banget sebenernya dapetin nomer dia. Tapi aku mau Clare sendiri yang ngasih ke aku. Dia juga udah tau soal itu kok,” lanjutku.
“Jadi...untuk kali ini, meskipun aku tergoda banget buat cepet-cepet ketemu dia lagi, tapi aku mau nunggu. Aku mau liat, gimana cara takdir ngetemuin aku sama Clare lagi,” putusku cepat. Kekehan keras Paul terdengar. Alisku terangkat naik. “Apa?” tukasku heran.
“Taruhan ya? Kamu nggak bakal sabar nungguin....apa tadi kamu bilang? Takdir? Ya ampun! Kalo kamu tipe orang yang cuma ngandelin takdir dan nunggu, perusahaan ini nggak bakal jadi,” ujarnya sambil menunjuk perusahaan raksasa yang sudah kubangun dari nol. Ringisanku muncul.
“Gagasan anehmu ini paling cuma bertahan sampe...Ckk, yah, paling lama dua minggu deh,” sambil menggeleng-gelengkan kepala, Paul membuka pintu. Memberikan tatapan ‘nggak usah omong kosong sama aku’ kepada diriku dengan sangat sempurna sebelum menutup pintu penumpang dan menjauh.
Aku terkekeh. Well...Paul sepertinya benar-benar memahamiku. Apa yang tidak diketahui Clare, tidak akan menyakitinya. Entah dengan satu dan lain cara, aku akan tetap mendapatkan nomernya. Untuk saat ini, aku akan mengikuti keinginan Clare.
Apapun yang kamu mau, Clare. Apapun putusku dalam hati. Senyumku masih belum luruh.
***
Clare
“Gimana?” kataku sambil melangkah keluar dari studio. Mendapat undangan untuk mengisi sebuah talk show cukup membuat ketegangan tersimpul erat di perutku.
“Lumayan. Udah ada perkembangan,” sahutan Naomi membuatku menoleh ke arahnya dengan cepat. Mataku bersinar.
“Oya?” tanyaku sekali lagi. Satu hal yang kusadari sejak bersahabat dengan Naomi adalah dia selalu berkata sesuai dengan kenyataan.
“Ya. Percakapan kalian berempat di studio tadi nggak ada yang mati ato kikuk gara-gara omonganmu, itu udah bagus banget. Beneran,” ucapnya dengan nada serius. Berbanding terbalik dengan matanya yang cerah dan berpijar saat menatapku. Tawa kecilku terlepas. Kepalaku mengangguk.
“Gimana tadi perasaanmu?” tanya Naomi lagi. Sambil menenteng tas baju ganti di tangan kiriku, aku berjalan mendekati lift. Menganggukkan kepala dan melemparkan senyum kecil saat berpapasan dengan orang lain.
“Masih bisa dihandle. Sempet sih tadi, pas hostnya nanyain soal orang tua…” ucapanku mengambang saat Naomi menyeletuk cepat.
“Aah...yang tadi. Itu aku beneran kaget juga. Masalahnya pas waktu briefing nggak ada pertanyaan kayak gitu. Aku juga kaget lho. Sori banget ya, Clare. Seriusan,” sambil menyentuh lenganku sekilas, Naomi mengucapkan permintaan maafnya. Matanya menatapku dengan pandangan memelas.
“Nggak masalah. Itu tadi aku juga langsung ngatur ekspresiku kok. Biar nggak keliatan banget emosiku. Palingan lebih banyak diem, dengerin mereka aja. Ngangguk-nganggukin kepala, ngasih senyum sopan, beres,” ucapku cepat. Kikikan Naomi terdengar saat kami berdua memasuki lift.
“Bagus. Untung responmu cepet. Kalo nggak gitu, bakal ada gosip lagi kayak tahun lalu. Yang kamu dibilang sombong lah, lupa diri lah, cuma karena nggak mau jawab masalah personal. Hah! Dasar omongan sampah semua,” sergah Naomi dengan cukup berapi-api. Aku meringis kecut.
“Kemarin jadi ketemu sama Paman Aland?” aku mengangguk menjawab pertanyaan Naomi. Kepalaku menengadah. Mengamati nomer lantai yang berubah seiring denting lift. “Paman masih sering becanda gitu nggak?” ujar Naomi kembali. Seringaiku muncul.
“Banget. Kemarin dia milih makanan banyak banget. Meskipun akhirnya aku sama Lara yang lebih banyak ngabisin. Dia malah lebih banyak ngerokok doang sambil cerita keluarganya,” ujarku sambil melangkah keluar dari lift.
“Keluarga? Oiya, ya.. dia punya anak berapa sih? Kok aku lupa ya. Kamu nggak pernah ketemu keluarganya sama sekali?” aku menggelengkan kepala atas pertanyaan Naomi.
“Aku cuma pernah ketemu sama istrinya aja beberapa kali sebelum dia meninggal. Udah berapa tahun yang lalu ya…” tanyaku pada diri sendiri. Bayangan cantik istri Paman Aland dan kebaikan hatinya begitu berharga dan berjasa dalam hidupku dan Lara. Satu kenangan yang kujaga dan begitu kuhargai.
“Kalo sama anaknya sih nggak pernah. Nggak tau mereka kayak gimana,” ujarku sambil membuka tutup botol. Meneguknya sekilas sebelum kembali menutupnya. “Yang pasti mereka bertiga kayaknya sayang banget sama ayahnya. Keluarganya….” mataku menerawang sebelum kemudian beralih pada Naomi yang berada di sampingku.
“Kenapa?” tanya Naomi. Aku tersenyum dan menggeleng kecil.
“Keluarganya hangat,” tukasku lirih. Ringisan kecut terukir di bibirku. Tanpa kuasa mengingat keluargaku sendiri yang hanya ada diriku dan adikku saja.
“Kamu juga bisa punya keluarga hangat kayak gitu, Clare. Aku yakin kok,” senyumku kembali terkembang mendengar pernyataan Naomi yang menenangkan.
“Oya, rehearsal film kamu dijadwalin akhir minggu ini. Kamu udah pelajarin naskahnya kan? Terus..buat syuting yang special appearance itu…” ucapan Naomi terhenti di tengah saat mendadak suara lelaki yang memanggil dirinya terdengar.
“Ms Lawrence? Naomi Lawrence?” aku dan Naomi membalikkan tubuh hampir secara bersamaan begitu suara lelaki itu mendekat. Seorang lelaki paruh baya, mungkin berumur sekitar empat puluhan berjalan dengan kepercayaan diri yang tinggi. Tubuhnya tegap. Matanya berfokus menatap Naomi dan diriku. Beberapa orang yang berpapasan dengannya tidak diliriknya sama sekali. Kutahan keinginanku untuk mengernyit.
“Oh.. Kendrick? Apa kabar? Kebetulan ketemu di sini,” ujar Naomi sambil mengulurkan tangan pada lelaki itu. Memberikan jabatan tangan singkat sebelum berpaling kepadaku. “Clare, kamu tau Kendrick kan? Dia yang nyutradarai film yang akan kamu peranin. Special appearance itu,” penjelasan Naomi membuatku mengangguk cepat. Senyum sosial muncul di bibirku.
“Oh, halo. Clare Willow,” sapaku sambil mengulurkan tangan. Kendrick mengalihkan tatapannya padaku dan memandangku dari ujung kepala hingga ujung kaki. Alisku terangkat melihat tindakan yang dilakukannya. Jemarinya terangkat dan membalas jabatan tanganku.
“Halo Ms. Willow. Ato boleh aku panggil Clare? Karena sebentar lagi, kita akan sering ketemu. Syuting bareng maksudku,” ujarnya ramah. Dia masih menggenggam tanganku seakan enggan melepasnya. Bahkan satu tangannya yang bebas sengaja menumpang dan menepuk jalinan tangan kami.
“Syutingnya udah dimulai kan? Kalo nggak salah info, mulai beberapa hari lalu ya?” pertanyaan Naomi membuatnya mengalihkan pandangan ke arah Naomi. Kendrick mengangguk dan melepaskan tangannya. Senyum yang tidak sampai di matanya. Kembali perasaan tidak nyaman dengan sikap lelaki ini membuncah.
“Iya benar. Karena ada urusan mendadak, aku mampir ke stasiun ini bentar. Ternyata malah beruntung karena bisa ketemu dengan Clare tanpa sengaja,” ujarnya ringan. Aku mengangguk dan memasang senyum sopan.
Seringai mewarnai bibir Kendrick. Ekspresi girang dan ramah terlihat dari dirinya saat dia mengalihkan pandangannya kembali ke arahku. Ada sekelebatan emosi yang terlintas di matanya. Satu emosi yang menghilang secepat timbulnya.
Ini nggak bener. Dia...nggak bener. Aku mesti hati-hati sama dia ujarku dalam hati.
Firasat. Jujur saja, hanya itu yang selalu kuandalkan di sepanjang karirku. Firasat pula lah yang seringkali menyelamatkan hidupku dan Lara dulu sewaktu kami masih kecil dan hanya bisa mengais serta mencuri untuk bisa bertahan hidup.
“Naskahnya udah diterima kan?” Kendrick bertanya padaku. Aku menganggukkan kepala.
“Ya, kami udah terima minggu lalu. Clare juga udah mulai melajarin naskahnya. Makasih sebelumnya karena udah bersedia nyesuain jadwal Clare buat syuting. Syutingnya cuma sehari aja kan ya? Tiga hari lagi kalo nggak salah?” pertanyaan Naomi terdengar. Kendrick mengangguk dan tersenyum pada Naomi sebelum kemudian mengalihkan tatapannya lagi padaku.
“Nggak masalah. Apa sih nggak buat Clare. Semua udah disiapin kok. Clare tinggal dateng aja pas jadwal syuting. Set, kostum, semua udah siap,” ujarnya dengan nada manis. Ralat, terlalu manis hingga terasa aneh dan memuakkan.
“Kalo gitu aku permisi dulu ya. Clare, Ms lawrence. Sampai ketemu tiga hari lagi,” ujarnya sambil memberikan salut kepada kami berdua dengan kedua jemarinya. Aku hanya menganggukkan kepala sebelum berbalik dan melangkah menuju pintu keluar. Gigiku bergemeretak. Firasatku terhadap lelaki ini begitu kuat.
“Naomi, aku mau kamu pake semua koneksimu. Sekarang. Cari tau apa yang udah disiapin Kendrick buat aku. Set, kostum, semuanya. Aku mau tau lebih dulu apa yang bakal aku hadepin begitu sampe di sana tiga hari lagi,” instruksiku tegas. Kali ini aku tidak bermain-main. Lelaki itu menimbulkan satu ganjalan di hatiku.
“Firasatku buruk soal dia,” putusku cepat. Tidak ada senyum yang terukir di bibirku.