Clare
“Aku nggak tau kalo kamu cewek yang suka street food kayak gini. Tau gitu, aku pasti bakal langsung ngajak kamu pas kita pertama kali ketemu,” suara lelaki yang dalam dan halus tertangkap telingaku. Kepalaku menoleh perlahan.
Mulutku yang sebelumnya menganga setelah gigitan besar souvlaki berhasil masuk, mulai menutup. Meskipun aku memiliki firasat siapa lelaki yang berada di sebelahku, namun melihatnya langsung, mengamati senyumnya yang cerah dan matanya yang bersinar ketika memandangku, tetapi saja membuatku tersentak.
Mataku sedikit terbelalak. Tidak ada ucapan apapun yang keluar dari bibirku. Mulutku masih sibuk mengunyah souvlaki. Menyadari dengan jelas lelaki itu menunggu respon dariku. Sesuatu yang saat ini tak kunjung kuberikan.
“Enak?” aku mengangguk. Menjawab tanpa kata pertanyaan yang dilontarkannya.
“Permen cokelatnya gimana? Udah dimakan juga?” begitu pertanyaan itu kudengar, dengan cepat benakku memutar ulang kejadian tadi pagi.
Saat melihat barisan kata yang tertulis di atas kertas itu, jujur saja, aku terkesima. Tidak mampu berkata-kata. Suatu kalimat sederhana. ‘Ngingetin aku sama kamu. Manis. D’.
Hanya itu. Cukup itu saja untuk membuat senyum kecilku mengembang.
“Udah. Udah aku makan,” jawabku setelah menelan kunyahanku. Dave tersenyum kecil mendengar sahutanku.
“Kayaknya aku mesti ngomong terimakasih deh sama Paul. Kalo dia nggak nyeret aku ke sini, mungkin aku nggak bakal ketemu kamu langsung di sini,” ujarnya dengan suara ramah. Setelah melihatku mengangguk, dia masih belum mengalihkan tatapan matanya dariku. Bahkan saat ini, tatapan matanya bergerak turun dari mataku dan memandang bibirku. Aku menelan ludah. Merasa tenggorokanku mengering secara tiba-tiba.
“Paul?” tanyaku singkat. Dave menganggukkan kepala. Alisku mengernyit ketika tangannya terangkat.
“Asistenku. Tadi kita abis meeting bisnis di deket pelabuhan. Karena udah malam dan belum makan sama sekali sejak dari kantor majalah, makanya dia jadi uring-uringan, minta makan terus,” sentuhan halus ibu jarinya di ujung bibirku mengiringi ucapan Dave. “Ada saus di sini,” ujarnya singkat. Mataku mengerjap. Terkejut.
"Oh..." gumamku cepat. Keningku mengernyit. Kuabaikan dentaman jantungku. Tanpa membuang waktu, tanganku terangkat dan mengusap bibir serta pipiku. Menghilangkan saus atau apa pun yang mungkin menempel di sana karena kehebohanku saat makan. Berharap Dave tidak menyadari rasa maluku yang menyeruak.
“Udah bersih,” ucapnya santai. Aku mengangguk dan membasahi bibirku tanpa sadar. Menyadari Dave mengamati setiap tindakanku.
“Kamu? Udah makan?” lontaran pertanyaanku dalam sekejap membuat senyuman lebar Dave terukir jelas. Matanya semakin berpijar.
“Maksudku... tadi kamu bilang Paul uring-uringan karena belum makan. Kamu? Udah?” tanyaku kembali dengan suara yang cukup tenang.
Meskipun aku sudah meralat omonganku, sepertinya hal itu tidak berpengaruh pada Dave. Matanya tetap saja bersinar cerah. Tidak berkurang sedikitpun.
“Aku juga belum. Ini tadi lagi milih mau makan apa pas liat kamu di sini,” aku mengangguk mendengar penjelasannya. Tiba-tiba merasa canggung dan gugup atas kurangnya keluwesanku dalam bergaul. Tidak yakin harus mengatakan apa lagi, aku hanya menarik tatapan mataku darinya dan mengedarkan pandangan ke sekeliling daerah ini.
“Oh...kalo gitu silakan. Kamu bisa…” oke aku secara resmi emang pengecut batinku setelah mempersilakannya untuk pergi. Namun, ucapanku terhenti di tengah saat suara seorang wanita membuatku menoleh ke samping.
“Clare… ada masalah?” rasa syukurku membuncah. Kelegaan menguasaiku. Senyumku melebar.
“Lara...hei. Dari mana aja? Lama banget teleponnya?” sergahku cepat. Lara hanya menyengir dan mengalihkan pandangan matanya pada Dave yang berada di sebelahku.
“Siapa dia, Clare? Kamu kenal dia?” tanya Lara lugas. Dia menggeser tubuhnya dan memandangi Dave dengan seksama.
“Eh..Lara..dia Dave. Kantornya ngasih sponsor di filmku yang baru,” ucapku. Mengalihkan pandanganku pada Lara dan Dave bergantian. “Dave..ini Lara. Adikku satu-satunya,” ucapku. Hanya cukup satu perkenalan singkat untuk membuat adikku yang supel mendominasi percakapan berikutnya. Belum lagi keramahan Dave membuatnya terlihat begitu nyaman dengan kehadiran adikku.
Kupikir aku berhasil menjadi pengecut karena bermaksud melarikan diri dari Dave. Namun, kehadiran Lara dan Paul, asisten Dave yang ikut bergabung, membuatku harus mengurungkan niat. Lara mengajak Dave dan Paul berkeliling. Menunjukkan makanan yang menurutnya lezat. Paul mencari meja dan kursi untuk kami berempat. Segera setelah kami membeli makanan kami masing-masing, kami langsung menuju meja dan menduduki kursinya.
Percakapan berlangsung santai. Tentu aku tidak banyak berkontribusi. Hanya mengangguk dan memberi sahutan di saat-saat yang tepat. Candaan Dave, tawa Lara dan obrolan Paul memeriahkan meja kami. Aku...yah...paling tidak, ada Lara di sampingku. Jadi, aku tidak menarik perhatian yang berlebihan. Sesuatu yang jelas sangat kusyukuri.
“Masa kamu nggak tau kalo mereka pacaran? Padahal beritanya udah banyak banget lho di internet,” ucap Paul pada Lara yang terkesiap mendengar hal itu. Rentetan sahutan Lara terdengar. Tangan Paul bergerak untuk memotong udangnya. Namun sausnya terciprat hingga ke lengan kemejanya. Sepertinya Paul tidak sadar karena dia masih sibuk meladeni ucapan Lara.
Aku menunduk dan mengeluarkan tisu dari tas. Mengulurkannya pada Paul. Awalnya dia tidak memahami maksudku. Matanya hanya menatapku bingung.
“Saus,” ucapku singkat sambil menunjuk lengan kemejanya. Tersentak sadar, Paul mengangguk dan menarik sehelai. Menggumamkan terima kasih kepadaku. Aku mengangguk dan tersenyum kecil sebelum kembali menekuri makananku. Dia kembali melanjutkan percakapannya dengan Lara.
Sambil mengunyah fish and chips, makananku yang kedua, aku kembali mengikuti aliran pembicaraan di meja kami. Lebih banyak mendengarkan mereka lebih tepatnya. Saat Lara mengernyit ketika mencicipi saos tartar di piringnya, aku menyeringai. Tanpa banyak berpikir aku mengambil irisan lemon dari piringku dan memerasnya di atas saus tartar milik Lara.
Pandangan mata Lara yang berterima kasih padaku terlihat begitu menggemaskan. Senyumku terkembang.
Karena waktu semakin malam, aku dan Lara hendak berpamitan. Tentu saja Dave bersikeras mengantarkan kami hingga sampai di tempat kendaraan kami terparkir. Alisnya terangkat heran.
“Kamu naik ini? Beneran?” aku mengangguk mengiyakan. Mau tak mau tersenyum kecil mendengar kecemasan yang tersirat dalam nada suaranya.
“Iya. Kalo aku ke sini, biasanya emang selalu naik skuter listrik ini. Nggak apa-apa kok,” sahutku sambil mengedikkan batu.
“Tunggu,” aku berbalik saat Dave memanggilku. Dia bergerak dan menarik resleting jaket longgar yang kukenakan di atas kemeja flanel yang beberapa ukuran lebih besar dari tubuhku. Membuat jaket itu tertutup hingga di bawah daguku. “Dingin, Clare. Ati-ati nyetirnya. Oke?” tanya Dave. Dia terlihat serius ketika mengucapkan hal itu.
“Oke,” sahutku sambil mengangguk. Kakiku mulai melangkah dan menaiki jok skuter.
“Tunggu,” tanganku yang hendak menyalakan mesin skuter terhenti saat suara Dave terdengar. Kepalaku berpaling ke arahnya. Alisku terangkat naik. “Kamu belum mau ngasih nomermu ke aku?” tanya Dave. Matanya menatapku. Kehangatan terlihat di sana. Aku terpaku.
“Nanti. Kalo kita ditakdirin ketemu lagi,” jawabku setelah beberapa waktu berlalu.
“Aku bisa aja nyari kamu, Clare. Aku punya banyak cara biar bisa dapetin nomermu ato bikin alasan buat ketemu kamu,” ucap Dave gamblang. Senyumku mengembang ketika mengamati dirinya. Jemariku bergerak untuk menyalakan mesin skuter. Menunggu derum halus mesin terdengar sebelum melanjutkan ucapanku.
“Kamu bisa. Tapi kamu nggak akan ngelakuin itu,” ujarku singkat. “Bye, Dave. Sampai ketemu lagi,” ucapku sambil tersenyum. Membiarkan motorku melaju dan meninggalkan dirinya berdiri di bawah temaram bulan.
***
Kendrick
“Kendrick, lagi apa? Serius banget,” suara yang kutangkap dari arah belakang sembari tepukan yang mampir di pundakku, membuatku mengepalkan tangan. Kekesalanku menyeruak.
Hampir saja tablet yang ada di genggamanku kupukulkan pada lelaki yang sudah berani menggangguku. Membuat konsentrasiku buyar akibat suaranya yang menyebalkan. Namun, tentu saja aku harus hati-hati. Pengendalian diri benar-benar harus kuutamakan agar topeng yang kukenakan selama ini masih terus terpasang dengan aman. Aku tidak mau usahaku selama ini menjadi sia-sia dan terbuang percuma.
“Hei, Josh. Lagi ngecek timeline kita. Udah sesuai jadwal ato belum,” sahutku singkat. Kepalaku menoleh dan mataku mendarat pada kepala departemen suara dalam proyekku kali ini.
“Abis recce yang sebelumnya kita lakuin, gimana menurutmu? Kira-kira bakal ada kemungkinan masalah timbul nggak, dari segi pengambilan suara?” tanyaku ringan sambil menggeser kursi. Memberikan sela yang cukup untuk Josh mendekatkan kursinya ke arahku.
Dengan melakukan recce, mengunjungi lokasi shooting sebelumnya, tentu saja aku berharap seluruh kepala departemen akan dapat memahami medan dan meminimalisir kemungkinan masalah yang akan timbul. Biarpun sering terjadi konflik batin antara hasrat pribadi dan pikiran logis dalam diriku sendiri, tentu aku harus tetap berkepala dingin dalam mengambil semua tindakan bila sudah berhubungan dengan pekerjaan. Sekecil apapun tindakan itu.
“Konsep pengambilan suara sama pengadaan alat udah beres. Pengecekan juga udah aku lakuin sama asistenku beberapa waktu lalu. Udah aman sih,” anggukan kepalaku muncul saat mendengarkan penjelasan Josh. Josh menyandarkan punggungnya ke kursi dan menumpangkan sebelah kakinya di lututnya sendiri.
“Kalo diliat dari tempatnya, kemungkinan noise waktu kita shooting, tetep aja ada. Tapi ntar kita bisa atur waktu editing,” tukas Josh.
“Ntar kita bisa ngobrol bareng sama tim musik. Jadi biar tektokannya enak. Nggak ada salah persepsi di masing-masing tim,” putusku sambil menegakkan badan.
“Eh, bentar ya, Josh. Aku mau nemuin asistenku. Ada yang mau aku obrolin,” ucapku sambil menggeser kursi dan mulai berdiri.
“Oh, aku juga mau keluar kok,” sahut Josh cepat. Dia berdiri dan mengikuti langkahku. Suara dering handphone membuat Josh mengalihkan perhatiannya dan segera menjawab panggilan itu.
Mataku gatal ingin melirik kembali potret yang ada di layar tablet di genggamanku. Ingin mereguk kemulusan dan kemolekan tubuh seorang wanita yang terpampang di sana meskipun tubuhnya ditutupi oleh gaun yang indah dan hanya sedikit saja kulitnya yang terekspos. Namun, aku tidak menjadi sutradara yang mumpuni bila tidak mampu memvisualisasikan imajinasiku. Bibirku menyeringai.
Wanita ini bukan wanita sembarangan. Karena bekerja di industri ini selama puluhan tahun, membuatku sudah melihat dan bahkan merasakan kecantikan serta keindahan para talent atau kru. Dengan hati-hati tentunya.
Dengan langkah pelan, aku berbalik dan keluar dari ruanganku. Diikuti Josh di belakangku dengan handphone yang masih melekat di telinganya. Aku berbelok ke sebelah kanan dan hampir menabrak seorang kru wanita. Dengan lihai aku memosisikan tanganku, menyentuh bagian tubuh belakangnya beberapa detik lebih lama dari yang seharusnya dilakukan pria yang bermartabat.
Berpura-pura tidak sengaja melakukannya sebagai reaksi dari tubuh kami yang hampir bertabrakan. Salah satu upayaku untuk tidak terjatuh sekaligus menyeimbangkan tubuh wanita itu. Omong kosong, tentu saja. Tidak mungkin aku bisa terjatuh hanya karena tabrakan sekecil ini.
Ringisan girang sulit sekali untuk kutahan. Tanganku gatal untuk meremas sesuatu yang halus di bawah telapak tanganku. Namun, dengan hati-hati dan penuh perhitungan, aku mengangkat tanganku. Tidak kuat menahan dorongan hati dan membelainya sekilas sebelum benar-benar melepaskannya.
“Oh, sori. Aku nggak liat ada kamu di sini,” kucurahkan segenap suara yang penuh dengan rasa bersalah ketika mengucapkan hal itu. Satu hal yang yang menjadi keahlianku. Sepertinya kru wanita itu tidak merasa aneh dengan tindakanku karena dia hanya beringsut dan meminggirkan tubuhnya.
“Nggak masalah, Kendrick,” ujarnya singkat. Aku pura-pura meringis menyesal.
“Sori. Aku bakal lebih ati-ati lagi,” tukasku kembali. Sepertinya aku mengatakan ucapan yang tepat karena wanita itu mengangguk dan berlalu. Begitu dia telah pergi dan aku sudah membalikkan tubuh dan kembali berjalan, baru seringaiku terlepas. Oh...andai aja aku bisa nyentuh dan ngerasain lebih lama. Pasti lebih enak lagi batinku sumringah. Kejadian barusan telah menaikkan suasana hatiku yang sempat menurun karena gangguan dari Josh.
Bentar lagi dia akan datang dan syuting di sini. Aku bakal bisa liat dan ngerasain langsung kecantikannya. Clare Willow. Sebentar lagi aku membatin girang. Tidak sabar menanti hari di mana dia akan menjalankan syuting untuk special appearance di proyekku.