Clare
“Apa anda mau minum sesuatu? Kopi mungkin? Atau teh?” aku menoleh mendengar pertanyaan seorang wanita. Pertanyaan yang langsung disambut semangat oleh Naomi yang baru saja kembali dari ujung ruangan.
“Boleh kami minta kopi? Kalo nggak terlalu merepotkan,” ujar Naomi sambil tersenyum ke arah wanita itu. Dia mengangguk cepat.
“Tentu aja. Tolong tunggu sebentar,” ujarnya sambil membalikkan tubuh.
“Kenapa? Ada masalah?” gelengan kepala Naomi menjawab rasa penasaranku.
“Nggak ada. Cuma baru dapet informasi aja kalo syuting buat special appearance itu tiga hari lagi. Trus rehearsal buat filmmu yang satunya sekitar akhir minggu depan,” jawabnya. Aku mengangguk.
“Jadwalku hari minggu kosongin ya. Aku sama Lara mau keluar sama Paman Aland,” ucapanku membuat Naomi beringsut.
“Waah… pasti dia lagi mau makan yang aneh-aneh,” ujar Naomi sambil terkekeh.
“Dia emang gitu. Acak banget nelponnya. Kalo udah gitu, paling ngajakin makan ato pergi. Bukannya aku nolak sih. Sekali-kali bisa santai nggak perlu mikir apa-apa, lumayan enak juga,” sahutku ringan.
“Clare…” panggilan Naomi membuatku menoleh. Mendapati Naomi yang menatapku dengan senyum tulus. “Kalo kamu mau libur, langsung kasih tau aku. Aku bisa kosongin semua jadwal selama yang kamu mau. Aku bisa atur semuanya. Kamu berhak banget dapetin itu,” aku tersenyum mendengar ucapan Naomi.
“Kenapa? Biar kamu juga bisa liburan sama cowokmu?” godaku iseng. Erangan Naomi terdengar keras.
“Mesti gitu deh. Momen emosional pasti kamu jadiin candaan. Hah kebiasaan….” gerutuan Naomi tak juga surut. Seringaiku semakin lebar.
“Aku liat-liat kantor sini dulu deh. Ntar kalo udah deket waktunya wawancara, aku balik lagi ke sini,” tukasku sambil melambaikan tangan.
Aku memulai penjelajahanku hingga melewati apa yang terlihat seperti kantin dan sampai di taman kecil saat mataku menangkap segerombolan karyawan mengelilingi taman itu. Sepertinya ada sesuatu yang terjadi di sana. Rasa ingin tahu menguasaiku. Kakiku melangkah menghampiri mereka.
“Ihh..cakep banget nggak sih. Sukses banget lho dia. Kalian tau kan?” dengung kasak kusuk para wanita di dekatku terdengar. Mataku mengikuti arah pandang mereka. Terkesiap saat sosok yang mereka bicarakan tertangkap penglihatanku. Dave...dia di sini batinku mengenalinya.
“Keliatan ramah banget kan ya. Nggak sombong. Padahal dia yang punya beberapa perusahaan media besar di negeri ini. Belum lagi studio tv, sama anak perusahaannya yang lain,” ucap salah satu wanita di dekatku.
“Mana dia juga punya media cetak juga kan. Kayaknya sekarang aku dengar, perusahaan media digital dia juga lagi berkembang pesat gitu nggak sih,” anggukan dan gumaman setuju kembali terdengar dari mereka.
“Tapi itu cuma bonus deh. Yang penting liat orangnya. Cakeeep banget,” kali ini kekaguman serentak terlontar dari bibir mereka. Ringisan keluar dariku.
“Eh..tapi liat deh, editor in chief kita. Keliatan banget nggak sih, ngasih sinyalnya? Pasti dia tertarik banget tuh sama Dave. Tuh liat, ngajak salamannya lama banget. Mana nepuk-nepuk lengan dia lagi,”sahut seorang perempuan. Mataku tidak beralih sedetik pun dari Dave.
“Itu kertas apa yang dikasih editor in chief kita? Jangan-jangan nomer telepon dia? Ato alamat rumah mungkin? Ya ampun… kita mundur aja deh. Nggak bakal menang saingan,” lontaran kata mereka membuatku mengernyit. Mataku menyipit. Mau tidak mau menyadari hal yang sama dengan mereka. Hal itu, anehnya, membuat hatiku merasa...entahlah. Tidak nyaman.
Meskipun jelas aku tidak memiliki alasan untuk merasakan hal itu, namun itulah yang kurasakan. Keningku mengernyit. Aku membalikkan badan.
“Eh dikasih ke sekretarisnya dong itu kertas. Wah...editor in chief kita ditolak. Tuh liat mukanya… keliatan kesel banget,” bisikan mereka membuat langkahku memelan. Ragu. Satu asaku tumbuh tanpa mampu kucegah.
***
Dave
“Itu kartu namaku. Kamu bisa hubungi aku...kapan aja,” ucapnya dengan nada manja. Ujung bibirku menyeringai.
“Oya? Buat nanyain soal kerjaan? Ato kelanjutan interview barusan?” sengaja kutanyakan pertanyaan yang paling ringan.
“Boleh… soal kerjaan, interview hari ini, makan malam ato...apa pun yang kamu mau,” walaupun di tengah-tengah tim fotografer dan pewawancara, keberanian Silvia untuk menunjukkan minat yang dimilikinya padaku, cukup membuatku terkesan. Alisku terangkat.
“Heemm...apapun?” tanyaku ringan. Kikikan kecil Silvia terdengar.
“Yah...apapun. Semua yang kamu mau. Di belakang kartu nama itu, ada nomer kamar apartemenku. Kita bisa diskusi dengan lebih nyaman dan personal,”saran Silvia kembali. Kepalaku mengangguk.
“Paul, sini bentar,” dengan mata masih belum beralih dari Silvia, aku memanggil Paul, asisten pribadiku.
“Kamu simpan kartu nama ini. Hubungi Silvia hanya bila ada masalah sama hasil interviewnya aja,” tukasku tegas. Paul mengangguk dan menarik kartu nama itu dari jemariku.
“Baik, Direktur. Nanti saya yang akan berhubungan dengan tim ini untuk follow up hasilnya. Direktur tidak perlu turun tangan langsung,” jawabannya membuatku mengangguk puas.
“Bagus,” menarik tatapanku dari Silvia yang jelas terlihat tersinggung, kutolehkan kepala ke samping, tempat Paul berdiri. “Mobil udah siap kan? Kita nggak bisa buang waktu lagi. Ada banyak kerjaan yang mesti diselesaiin,” kataku datar.
“Semua udah siap, Direktur. Mobil udah stand by di depan,” ujarnya. Aku mengangguk. Kepalaku kembali berpaling dan menghadap Silvia.
“Silvia..makasih udah mau turun ke sini. Mantau interview kali ini. Padahal aku tau kamu pasti sibuk banget,” ujarku sambil tersenyum kecil. “Balik dulu ya. Sukses terus buat kerjaanmu,” ucapku sambil mengulaskan senyum.
Tidak ingin berlama-lama lagi, aku melangkah keluar dari taman yang ada di dalam kantor ini. Geraman Silvia meskipun lirih tetap menyelinap ke dalam telingaku.
“Ckk...dia bakal ngerti kan maksudku? Sejelas itu masa masih nggak paham juga?” gerutuanku lolos. Kekehan kecil terlepas dari Paul. Dia yang telah bekerja untukku sejak awal, jelas mengerti maksud perkataanku.
“Pasti dia ngerti lah, Direktur. Jabatannya udah tinggi kok. Masa hal kayak gini nggak peka?” sahutan Paul membuatku meringis.
“Dave aja. Jangan salah, Paul. Kadang, mereka nggak paham juga biar udah dikasih petunjuk. Mau yang alus ato yang bener-bener jelas di depan mata,” tukasku lelah. Dengan menghela nafas, aku menggelengkan kepala. “Itu yang bakal kejadian kalo udah urusan sama perasaan. Sama emosi,” sambungku lagi. Mendengus karena kesal.
Kakiku berhenti di depan pintu lift. Menunggu hingga terbuka. Paul hanya menyengir di sebelahku. Selang beberapa menit kemudian, dia beringsut. Terlihat sedikit nyaman.
“Kan kita lagi di jam kerja. Makanya aku manggil sesuai posisimu,” tukasnya sambil segera masuk ke dalam lift begitu pintu lift sudah terbuka. Langsung aku mengikuti dirinya.
“Nih, Direktur. Bawa sendiri dulu ya tasmu. Mau ke toilet bentar,” begitu ucapan itu terlontar dari bibir Paul, kakinya langsung melesat keluar.
Gini ini kalo asisten pribadi udah dianggep kayak sodara. Kerjaan dia, malah aku yang ngerjain ringisku dalam hati. Dengan langkah yang jauh lebih pelan daripada siput, aku melangkah ke depan. Mengamati beberapa ruang kerja yang terbuka.
Satu per satu ruangan terlampaui. Mataku beredar dan memindai semua isi di dalamnya. Hingga satu suara berhasil membuat langkahku terhenti. Kukerjapkan mata. Rasa antisipasiku menyeruak. Seringai mulai terbentuk di ujung bibirku saat menyadari siapa yang mengeluarkan suara itu.
“Tapi kami benar-benar ingin tahu. Bagaimana sebenarnya seorang Clare Willow memilih peran yang dilakoninya? Bagaimana bisa hampir setiap karakter yang diperankannya menjadi fenomenal?” tentu aku tidak bermaksud menguping saat seorang wanita menanyakan hal itu pada Clare. Toh aku hanya kebetulan berdiri di sini dan memiliki telinga untuk menangkap pembicaraan mereka.
“Jangan salah, banyak sekali penulis yang berbakat di dunia hiburan ini. Hampir semua naskah yang aku baca semuanya memiliki nilai yang positif,” sahutnya tenang. Senyum kecil tersungging di bibirnya. Senyum yang membuat bibirku ikut mengembangkannya tanpa kusadari.
Di ruangan dengan seorang pewawancara dan dua orang asisten sekaligus seorang fotografer yang mengambil fotonya seiring sesi wawancara itu berlangsung, Clare terlihat begitu tenang dan anggun. Dia menjawab dengan konsentrasi yang cukup.
“Tapi seringnya sih keberuntungan ya. Kebetulan aja aku memiliki firasat yang kuat saat memilih sebuah proyek. Mungkin...bisa dibilang panggilan hati?” ujarnya merendah. Sambil mengangguk kecil, dia kembali menyunggingkan senyumnya.
Imutnya...gemesin banget sih pikiran itu melayang dan memenuhi benakku. Aku sedikit menyandarkan tubuhku di dinding kaca. Mencoba mendengarkan apapun percakapan yang terlontar dari keduanya saat sebuah tepukan terasa di pundakku. Kepalaku berpaling cepat.
“Sori lama. Mules perutku,” tukas Paul singkat. Alisku terangkat. Paul hanya menyeringai menyaksikan reaksiku.
“Eerrgh….perlu ya dijelasin?” ujarku sambil bergidik. Enggan mendengar apa yang dilakukan Paul di dalam toilet.
“Lagi liatin apa sih? Serius banget,” ucapannya membuatku menoleh ke dalam ruangan. Tindakanku yang mengabaikan pertanyaannya membuat Paul beringsut dan mengikuti tatapan mataku. “Clare Willow? Kenapa sama dia?” tanya Paul saat dia telah mengembalikan tatapannya padaku. Dengan berat hati, aku menegakkan tubuh dan kembali melangkah. Paul menjajariku.
Saat aku akan menjawab pertanyaannya, sebuah ide terbersit di benakku.
Lekas aku membuka tas kerjaku. Menarik tiga bungkus permen eclair cokelat yang tadi kuraup dari atas counter dapur. Kemudian kuambil sebuah buku catatan kecil dari dalam tas dan menyobek sehelai kertas. Menulis satu kalimat di atasnya dan menyerahkan kertas sobekan beserta tiga bungkus permen eclair cokelat ke pada Paul.
“Kamu masuk ke dalem lalu kasih ini ke Clare. Pastiin dia yang nerima ya, bukan orang lain. Aku mau tau reaksi dia gimana,” instruksiku cepat. “Aku tunggu di mobil. Cepet sana. Jangan lama-lama,” ucapku sambil menyengir lebar. Melihat Paul yang menunduk membaca catatan yang kutulis dan menengadah kembali. Memandangku dengan alis yang berkerut.
Seringaiku terkembang. Kakiku kembali melanjutkan langkah. Keluar dari kantor ini dengan hati yang jauh lebih ringan dari saat aku masuk beberapa jam sebelumnya.
***
Lara
“Sayang di mana sekarang?” suara lelaki terdengar dari panggilan telepon. Secara naluriah, senyumku mengembang.
“Hei, Sayang...aku? Ini lagi sama Clare. Kita lagi keluar cari makan,” ujarku.
“Oya? Sama Naomi juga? Lagi cari makan di mana?” pandangan mataku beredar saat pertanyaan Zane, pacarku, terdengar. Menyipitkan mata di sekeliling dan menemukan kakakku yang sedang berdiri memesan souvlaki di salah satu counter. Aku meringis.
“Naomi nggak ikut,” tukasku sambil melangkah menghampiri Clare yang belum menyadari kehadiranku. “Kita berdua lagi ada di dekat pelabuhan. Ada daerah yang penuh sama penjaja makanan di sini. Aku sama Clare biasa ke sini dari kecil,” sahutku santai. Bibirku meringis saat mengamati Clare menggigit souvlaki, irisan daging dan sayur yang dibakar dan disajikan dalam bungkusan roti pitta, dengan penuh semangat.
Tidak akan ada yang mengenali Clare di sini. Tidak dengan pakaian longgar tak berbentuk dan topi beannie yang menutupi rambutnya yang indah.
Kakakku ini benar-benar kontradiksi. Kontradiksi yang sangat kusayangi dan kucintai melebihi apapun. Bagaimanapun, sepanjang ingatanku, hanya dia yang selalu berada di sampingku dan mendampingiku. Tentu aku memiliki orang tua. Tapi dengan ingatan seorang gadis cilik yang berumur lima tahun, tidak banyak yang bisa kugali dari ingatan itu.
“Jangan bilang kamu naik skuter lagi ke sana?” pertanyaan Zane membuyarkan kilasan memoriku.
“Tentu aja kami pake skuter, Zane. Mau naik apalagi? Kalo kami mau bebas dari paparazi, nggak mungkin pake mobil mewah kakakku kan?” ujarku santai.
Dengan isyarat sedang menerima telepon, aku meminta Clare tetap di tempatnya. Tanpa mengurangi semangatnya untuk mengunyah, Clare mengangguk mengiyakan.
“Oke..oke.. tapi aku mau kamu hati-hati ya. Langsung hubungi aku kalo ada apa-apa. Aku langsung ke sana. Daerah itu agak rawan nggak sih?” ujar Zane khawatir. Ringisanku muncul. Entah kenapa hatiku menghangat saat merasakan kecemasannya atas keselamatanku dan Clare.
“Zane… aku sama Clare jauh lebih nyaman ada di daerah ini daripada di tempat-tempat berkelas yang itu. Udah nggak usah kuatir,” ujarku sambil mulai melangkah mendekati Clare. Tentu saja dengan harga murah baik untuk makanan maupun sewa kamar, membuat kami memilih untuk tinggal di daerah ini ketika Clare baru mulai bekerja sebagai tenaga serabutan di sebuah rumah fashion. Dengan begitu, Clare bisa pelan-pelan menabung dan pindah ke lingkungan yang lebih aman untuk kami berdua.
Tapi...tetap saja kebiasaan lama sulit mati. Kami sering kemari meskipun Clare sudah memiliki segalanya. Kami mengenal setiap penjuru, pelosok, sudut dan belokan yang ada di sini. Hampir seluruh penjaja makanan dari dua generasi mengenal kami. Lucunya, mereka tidak memperlakukan kami berbeda meskipun status kami telah berubah. Kami masih tetap Clare dan Lara yang dulu, yang membeli makanan dengan harga yang paling murah dari mereka.
“Aku tau, Sayang. Tapi...kalo kamu udah ngasih tau Clare tentang aku dan udah ngenalin aku ke kakakmu, aku bakal bisa nemenin kamu. Jagain kamu. Nggak sembunyi-sembunyi kayak gini,” tukas Zane. Menutupi tuntutan yang tersirat dalam ucapannya.
Ringisan kecil muncul di bibirku. Tentu saja aku mengerti semua keinginan Zane. Mengenalkan dia pada Clare, membuat hubungan asmara kami lebih terbuka adalah keinginanku sejak beberapa bulan belakangan. Namun, entah kenapa aku tidak bisa membuka mulutku untuk memberitahu Clare tentang Zane.
Bukan apa-apa, hanya saja Clare terlalu mencurahkan dirinya untuk keamanan dan kesejahteraan kami berdua. Dia berusaha begitu keras. Hingga tidak ada sela kosong dalam hatinya untuk cinta. Tentu saja aku bersyukur dengan seluruh usaha yang dikerahkan Clare untukku.
Tapi...tak dapat kupungkiri. Aku ingin Clare bahagia. Aku ingin dia merasakan dicintai, dilindungi dan diperhatikan karena selama ini dia selalu memberikan semuanya untukku. Mencintai, melindungi dan memperhatikanku. Hampir tak bersisa untuk dirinya sendiri. Jadi memberitahu Clare tentang kisah cintaku, sedangkan dia masih sendiri, entah bagaimana terasa kurang tepat. Membuatku ragu dan menunda-nunda hal itu.
“Oke...hari ini aku udah mutusin buat ngasih tau tentang kamu ke Clare. Doain…” ucapanku terhenti di tengah jalan. Mataku menyipit saat mengamati seorang laki-laki yang menawan, tinggi dan gagah mendekati kakakku. Kakiku berjalan cepat. Keinginan untuk melindungi kakakku menyeruak.
Semua begitu cepat. Begitu juga dengan kakiku yang mendadak kaku. Ketika lelaki itu menunduk dan mengucapkan sesuatu pada Clare dengan senyum lebar di bibirnya dan pancaran sinar di matanya. Mataku berpindah pada Clare. Mengamati pipinya yang sedikit tersipu dan jemarinya yang mengusap bibirnya dengan serampangan. Menghilangkan saus dan remah roti yang menempel di bibirnya.
Mataku mengerjap. Menyingkirkan kilau air mata yang tiba-tiba muncul.
“Kayaknya kamu bakal bisa ketemu Clare lebih cepet, Zane,” tukasku girang.