Clare
Oh, sialan. Ini cowok yang tadi pagi kan? Cowok yang bisa ngontrol emosinya dengan bener-bener luar biasa. Kalo aku ada di posisi dia tadi, udah kujambak kali cewek itu batinku dalam hati. Mataku mengerjap. Dia ngomong apa barusan? Aku pergi terlalu cepet dan dia nggak sempet ngomong apa-apa? Mau ngomong apa emangnya? Batinku bingung.
Meskipun keheranan menguasaiku, aku tidak memperlihatkannya dalam ekspresi wajahku. Aku menggeser kakiku dan menatapnya lurus. Menunggunya berbicara. Menyadari pandangan ingin tahu dari orang-orang di sekeliling kami.
“Ya?” tanyaku sambil menelengkan kepala sekilas. Pertanyaanku sepertinya menghiburnya. Sorot matanya semakin bersinar ke arahku.
“Makasih banyak. Udah nolong aku tadi. Aku mau berterima kasih ke kamu sebenarnya, tapi kamu udah nggak ada di manapun waktu aku cari-cari tadi,” ucapannya membuat beberapa pasang mata memandang kami dengan penasaran. Tadi sepertinya lelaki di hadapanku tidak menggubrisnya sama sekali. Dia hanya menatapku tanpa teralih sedetikpun.
“Aah...itu..” gumamku pelan sambil menganggukkan kepala. “Nggak masalah. Yang penting semuanya beres. Nggak ada yang luka,” tukasku santai sambil mengedikkan bahu.
“Jadi kamu udah ketemu sama Dave, Clare?” ucapan Mike menarik pandanganku ke arahnya. Menyadari senyum dan mata Mike yang memandangi kami berdua secara bergantian. “Perusahaan Dave ini yang danain produksi film kita. Karena kalian berdua udah pernah ketemu, moga kerja sama kita semua bisa lancar. Oke?” tukas Mike sambil memandang kami semua. Kepalaku mengangguk. Senyumku terulas kecil.
Sahutan dari beberapa talent yang mengelilingi Mike dan Dave serta penulis skenario tertangkap telingaku. Begitu juga dengan isyarat Naomi, manajer sekaligus sahabatku, yang sampai di sudut mataku. Dia memintaku bergegas pergi untuk jadwal yang berikutnya.
Saat aku hendak berbalik dan kembali berjalan, lagi-lagi Dave menghentikanku.
“Boleh pinjem itu sebentar?” kepalaku menunduk mengikuti jarinya yang menunjuk ke arah tanganku. Mendapati handphone yang tergenggam di telapak tanganku. Keningku mengernyit. Meskipun begitu, kuserahkan handphone kepadanya. “Bisa tolong dibuka?” saat dia kembali bertanya, alisku terangkat naik.
Masa iya handphonenya rusak? Makanya pinjem punyaku. Dia mau numpang telepon kali, Clare aku berbicara dengan diriku sendiri. Tanpa mengucapkan apapun, aku memenuhi permintaannya. Begitu kunci di handphoneku terbuka, dia mengetikkan sesuatu di sana sebelum kemudian menyerahkannya kembali kepadaku.
“Itu nomer pribadiku. Aku bener-bener berterima kasih soal tadi pagi. Kalo kamu perlu apapun, maksudku..apapun, kasih tau aku. Oke?” ujarnya sambil tersenyum polos. Mataku mengerjap. Kepalaku menunduk. Mengamati nama dan nomernya yang sudah tersimpan di handphoneku.
Dave H. Kepanjangan apa H itu? Hill? Harrison? Harlow? tanyaku dalam hati. Tiba-tiba merasa penasaran. Ketika kepalaku mendongak, tatapan mata Dave masih belum beralih dariku. Namun keterkejutan Mike dan yang lainnya, serta kasak kusuk mereka tertangkap telingaku. Keningku mengernyit.
“Kamu nggak perlu bales apa-apa. Terima kasih aja udah cukup. Nggak masalah,” tukasku dengan sedikit rasa tidak nyaman menerima tatapan penasaran orang lain. “Pamit dulu ya, Mike. Teman-teman.. Dave,” ucapku sambil menyunggingkan senyum sosialku sebelum benar-benar melangkah menjauhi mereka.
“Kita mau ke mana abis ini?” ujarku sambil memejamkan mata begitu sudah sampai di dalam mobil.
“Sebenernya sore ini kita nggak ada jadwal. Besok abis lanjutin reading, fitting, ada interview sama majalah. Sekalian foto cover,” sahutan Naomi membuatku menghela nafas lega. Kepalaku mengangguk.
“Naskah buat special appearance udah masuk?” tanyaku kembali. Naomi mengangguk.
“Yupp. Tadi pagi pas aku cek, udah masuk sih. Kamu mau pelajari itu sekarang?” keheranan mewarnai suara Naomi. Cengiranku muncul.
“Nope,” kepalaku menggeleng kecil. “Nggak sekarang juga. Ntar agak maleman mungkin. Aku mau rebahan dulu. Makan bareng sama Lara. Mungkin abis itu,” putusku sambil mengedikkan bahu.
“Adikmu nggak kuliah?” pertanyaan Naomi membuat mataku terbuka. Sedikit bertumpu pada kursi, aku menegakkan tubuh.
“Hari ini bilangnya cuma sampai siang. Kelas sorenya dibatalin. Palingan kalo nggak main sama temennya, ya dia di rumah aja,” tukasku. “Mau makan bareng di rumah?” dengusan keluar cepat dari Naomi begitu mendengar tawaranku. Aku meringis.
“Clare sayang...jadwal kamu yang longgar kayak gini tuh jarang banget. Ngapain aku mesti ngabisin waktu lagi sama kamu kalo tiap hari udah liatin kamu, bareng sama kamu terus? Bosen tau. Mending aku jalan sama cowokku lah,” tukas Naomi santai. Tawa kecilku terlepas.
“Oke...” mataku mengerling. Gagasan iseng terbit di otakku. “Tapi ntar kalo ada yang mau aku tanyain soal naskah yang special appearance itu…” ucapanku langsung dipotong oleh Naomi tanpa ragu.
“Kamu….diem aja, nggak usah tanya. Awas kalo kamu ngechat nanyain soal kerjaan waktu aku lagi jalan sama cowokku,” tukas Naomi tegas. Lirikan matanya setajam pisau. Seringai kecilku terbit.
Mengenal Naomi dan bekerja dengannya selama hampir delapan tahun, telah membuatku memahami dirinya luar dalam. Naomi juga salah satu dari sedikit orang yang benar-benar memahamiku. Dia mengetahui kisahku yang tidak diketahui orang lain.
“Apaan itu tadi?” kutahan seringai yang hendak terlepas dari bibirku saat ucapan Naomi mampir di telingaku.
“Apaan, apa?” sengaja aku berpura-pura tidak tahu apa yang dimaksud Naomi. Tapi decakan yang terlontar darinya membuatku tersenyum kecil.
“Ayolah, Clare. Nggak usah pura-pura gitu. Belum nyadar juga ya? Aktingmu tuh nggak mempan di aku,” tukas Naomi santai. Tanpa mengurangi konsentrasinya di jalanan, dia melirikku.
“Kalian ngomongin apa? Serius. Aku bener-bener penasaran. Cara dia ngeliatin kamu..” aku menoleh saat ucapan Naomi mengambang.
“Clare...ayo dong. Cerita. Ngapain tadi? Kok kamu kayak ngasih dia sesuatu,” cecar Naomi dengan cepat. Aku meringis.
“Dia nyimpen nomer telepon pribadinya ke handphoneku,” sahutku singkat. Mataku kembali terpejam.
“Aaargghhh!!!” pekikan keras Naomi membuatku terkesiap. Tanganku terangkat menyentuh dadaku. Mataku terbelalak.
“Ngapain teriak?” sergahku kaget sambil menoleh ke arahnya.
“Nomer pribadinya? Bukan nomer bisnisnya? Beneran? Astaga…..” pekik Naomi dengan dramatis. Tangannya terangkat dan mengibas-ngibas dengan heboh. Alisku terangkat menyaksikan keanehan sikap Naomi.
“Emang kenapa sih? Heboh banget,” aku hanya bergumam.
“Kamu nggak kenal siapa dia?” aku menggeleng menjawab pertanyaan Naomi.
“Nggak kenal baik juga. Tadi Mike jelasin kalo Dave yang ngasih dana ke produksi ini,” tukasku lirih. Dari sudut mataku, aku merasakan tatapan tajam Naomi ke arahku.
“Iya...tapi kamu tau nggak siapa dia? Nggak ada bayangan sama sekali?” pertanyaan Naomi membuatku mengernyit. Aku menggeleng.
“Nggak. Nggak tau,” ucapku lirih. Yang pasti dia keliatan ramah banget sama semuanya batinku.
Pura-pura tidak mengenalinya saat Dave menghentikan langkahku adalah sebagian dari aktingku. Bagaimana tidak, bila aku merasakan tatapannya kepadaku sejak dia memasuki ruangan dan terus berlanjut selama proses reading berlangsung. Apalagi dengan posisi dudukku yang berhadapan dengannya, sama sekali tidak membantu menutupi diriku dari pandangan tajam matanya. Kupikir semuanya selesai saat reading usai, namun perkiraanku meleset.
Saat dia berbincang dengan yang lain, aku dapat sedikit bernafas lega. Dengan begitu, aku mendapat giliran untuk mengamati dirinya dalam diam. Baik itu Mike, sutradara film ini, maupun gaffer hingga hampir seluruh kru terlihat nyaman saat berbicara dengannya. Belum lagi cekikikan para aktris muda dan beberapa kru wanita yang membicarakan pesona dan daya tarik Dave yang sempat tertangkap telingaku, membuat perhatianku mau tak mau mendarat padanya.
“Ehhmmm….dia siapa emangnya? Aku...nggak pernah liat dia sebelumnya,” ujarku lirih. Tidak terdengar sahutan dari Naomi. Beberapa detik berlalu saat aku menoleh dan mendapati Naomi sedang memandangiku dengan tatapan yang tidak mampu kuartikan. Aku mengernyit.
“Dave. Cowok itu keliatan...hangat,” lanjutku sambil berpaling ke depan. Ingatan akan senyum cerah dan sinar yang terpancar di mata Dave kembali terlintas.
***
Naomi
Ini adalah pertama kalinya. Pertama kalinya Clare, sahabatku, menunjukkan ketertarikannya pada seorang lelaki. Selama hampir delapan tahun aku bersama dengannya, sudah begitu banyak lelaki yang mendekatinya. Namun, asmara dan romansa tidak pernah menjadi prioritas dalam hidup Clare. Lara, adiknya, adalah satu-satunya prioritas yang dimilikinya.
Clare berupaya begitu keras, mencurahkan segenap tenaga dan kemampuannya untuk bekerja dan memperoleh penghasilan yang stabil. Semua dilakukannya semata untuk memberikan penghidupan yang layak bagi adik semata wayangnya.
Tidak ada orang tua yang melindungi Clare dan Lara. Hanya mereka berdua. Karena Lara masih kecil ketika hal itu terjadi, maka hanya Clare yang bisa diandalkan Lara. Bahkan ketika penghasilan telah stabil, cinta tidak pernah mengetuk hati Clare. Aku bahkan cukup heran bagaimana dia bisa memerankan karakter seorang wanita yang jatuh cinta setengah mati pada pasangannya ketika dia bahkan tidak pernah merasakan jatuh cinta di kehidupan nyata.
Aku mengenalnya. Dave. Tidak ada seorang pun di dunia entertainment yang tidak mengenal dirinya. Meskipun jelas ada satu orang ternyata. Clare Willow.
“Siapa tadi kamu bilang, namanya? Dave?” Clare mengangguk. Aku meringis dan menggeleng kecil. “Aku juga nggak gitu tahu, Clare,” tukasku sambil mengedikkan bahu. Bohong putih.
**
Aland
Tatapanku bergeser pada jam dinding yang terpasang di ruang keluarga saat bunyi gagang pintu yang terbuka membuyarkan keheningan rumah besar ini.
“Yah...kok belom tidur?” kuulaskan senyum kecil saat Dave bertanya sambil mengarah ke dapur.
“Ayah abis minum obat. Agak nanti aja tidurnya,” sahutku santai. Kepala Dave mengangguk.
“Gimana tadi, rumah produksi yang kamu cek? Kualifikasinya bagus nggak?” sengaja kubuat datar nada bicaraku.
“Bagus kok. Semua tim yang mereka punya, keliatan kompeten. Emang nggak sebesar rumah produksi yang lain. Tapi keliatan banget mereka paham tiap tugas yang mesti mereka lakuin,” ujarnya. Cengiran kecil terangkat dari ujung bibirku.
“Orang-orangnya gimana? Produsernya? Sutradaranya? Aktornya mungkin. Kayak gimana mereka?” mencoba terdengar santai,
“Aku udah ngobrol hampir sama semuanya, Yah. Mereka bagus kok. Nggak masalah,” ujar Dave sambil menarik remote televisi. ”Ini ayah liat apaan sih? Bosen ya liatin orang, makanya liat binatang mulu,” sambil mulai mengganti dan memilih satu per satu stasiun yang ada,
Kurebut kembali remote yang ada di tangannya dan mengembalikan pada program dokumenter tentang binatang yang tadi sedang kulihat.
“Suka-suka ayah dong. Lagian liat serigala seru juga kok. Kamu jadi tau gimana insting mereka jalan,” tukasku sambil mengedikan bahu. “Ngomong-ngomong aktor film yang mereka mau pake gimana? Mereka lagi produksi film kan sekarang? Castingnya oke semua nggak?” sambungku kembali.
“Bagus semua. Ada yang masih amatir, tapi nggak masalah. Perannya minor di situ. Kalo untuk peran utamanya….” kepalaku berpaling. Ucapan Dave yang mengambang menarik perhatianku. Mataku menyipit.
“Kenapa peran utamanya?” nada santai dan tak peduli sengaja kupasang.
“Oke. Bagus kok. Cuma…” berbanding dengan alis Dave yang mengernyit, senyum kecil terukir di bibirnya. “Ada satu orang yangnarik perhatianku," ujar Dave ringan.
“Oya? Siapa namanya? Kali aja ayah tau. Ayahmu ini kan lumayan sering nontonin film. Pensiun emang bikin ayah jadi pengangguran,” decakan keluar dari bibirku.
“Mungkin. Dia terkenal banget ternyata. Film yang dia bintangi beberapa kali dapet penghargaan. Dia juga dapet penghargaan aktris terbaik. Berapa...dua ato tiga tahun berturut-turut kayaknya,” kuangguk-anggukkan kepala.
“Kalo emang terkenal, kok kamu nggak tau dia siapa?” keheranan mewarnai pertanyaanku. Kepalaku menoleh.
“Nah...itu juga yang bikin heran,” kekehan kecil terdengar dari bibirnya. “Nggak tau kenapa. Apa karena dia tertutup ya? Nggak ada yang tau sama sekali kehidupan pribadinya. Nggak banyak berita yang nunjukin tentang keluarganya, temennya, pacarnya...” kernyitan alis dan ketegangan yang muncul dalam sekejap ketika Dave mengucapkan ‘pacarnya’ tidak luput dari perhatianku.
“Oya? Siapa sih? Ayah jadi penasaran,” tanyaku.
“Clare Willow,” tepukan tangan dan kekehan lebar berhasil kutahan kuat-kuat saat sahutan Dave terlontar. Hanya seringaiku yang terlepas.
“Willow… ayah nggak gitu tau,” bohong putih. Mungkin tidak dibenarkan. Aku tahu itu. Tapi…. untuk kebahagiaan anakku, tidak masalah berbohong kecil.
“Ayah tidur dulu, Dave. Tolong kamu taruhin gelas ayah di wastafel ya,” tukasku sambil berdiri. Dave mengiyakan permintaanku. Kakiku bergerak. Melangkah menuju kamar. Dengan ringan, kututup pintu di belakang punggungku. Begitu berada di dekat kasur, kuletakku panggulku. Handphone yang sejak tadi ada digenggamanku, kunyalakan.
Aku menggulirkan telunjuk dan mencari satu nomor kontak.
Clare Willow. Wanita yang sudah kukenal sejak empat belas tahun lalu. Bukan waktu yang singkat. Bertemu dan mengetahui tentang dirinya merupakan suatu kebetulan yang benar-benar kusyukuri.
Di umur yang masih sangat belia, empat belas tahun, Clare harus berjuang sendirian. Tidak hanya untuk dirinya sendiri, tapi juga untuk adiknya, Lara. Mengerjakan apapun hanya untuk bisa memberikan sepotong roti, sesuap nasi, untuk adiknya. Tidak peduli dengan cara legal ataupun ilegal.
Dia tidak memintaku untuk menyokong kebutuhannya. Tidak pula memintaku untuk melindungi dirinya dan Lara. Meskipun aku ingin sekali membantunya, namun aku menghormati keputusan Clare. Aku hanya ikut campur saat benar-benar dibutuhkan.
Istriku mengetahui tentang Clare dan Lara. Dia, sama sepertiku, mencintai dan menyayangi mereka berdua seperti anak kandung kami sendiri.
Clare...seiring berjalannya waktu, menjadi tidak mudah didekati. Naomi adalah satu-satunya wanita yang diijinkannya mendekat. Begitu juga dengan Ben, satu-satunya sahabat pria Clare sewaktu berada di dunia model. Bukan pacar. Hanya sahabat.
Itulah sebabnya aku tahu. Firasatku tidak pernah salah. Clare membutuhkan kehangatan dalam hidupnya yang keras. Dia memerlukan tawa dalam jiwanya. Dave...bukan hanya karena dia anakku, tapi aku tahu bahwa Dave, yang memancarkan sinar di setiap tatapannya, kehangatan di setiap sentuhannya, dan kegigihan di setiap langkahnya, adalah pasangan yang cocok untuk Clare.
Seperti biasa. Kali ini, aku pun akan mempertaruhkan keberuntunganku di sini. Mengikuti nuraniku. Firasatku, hampir selalu benar.
“Halo...Clare?” ucapku begitu panggilanku tersambung.
“Clare, akhir minggu, paman mau ketemu kamu sama Lara. Kamu sibuk nggak? Luangin waktu ya,” ujarku. Tawa kecilku terlepas. “Ngerti aja sih. Paman emang mau makan enak. Makanya ngajakin kamu sama adikmu,” sambungku. Kepalaku mengangguk.
“Oke kalo gitu. Sampai hari minggu ya, Clare. Bye…” ucapku sambil mematikan panggilan. Mataku masih terpaku menatap handphone. Senyumku terkembang. Moga kali ini, keberuntungan masih ada di pihakku batinku penuh harap.