Clare
“Seriusan?” pertanyaan Naomi membuat kepalaku menoleh.
“Hemm?” gumamku asal. Sebelum kemudian mengalihkan pandanganku ke bawah.
Dengan cermat aku memasukkan dompet dan handphone ke dalam tas. Meski tidak paham dengan apa yang ditanyakan Naomi, tapi aku yakin dia pasti tidak sabar untuk menunjukkan maksudnya sebentar lagi. Membombardirku dengan keingintahuannya.
“Baju itu yang kamu pilih?” sambungnya lagi. Tanganku yang sedang merogoh tas, berhenti. Kepalaku menunduk. Mataku memandang kaos putih polos yang pas membungkus tubuhku dan celana jins hitam. Kembali kepalaku mendongak saat tidak menemukan masalah apapun dalam penampilanku,
“Ya. Kenapa?” sambil menaikkan alis, aku bertanya pada Naomi. Pertanyaanku sepertinya berhasil membuat Naomi tak mampu berkata-kata.
Dia melongo. Ekspresi heran dan tidak habis pikir mewarnai raut mukanya. Tangannya bergerak naik turun menunjuk penampilanku.
“Seriusan kamu mau pake baju itu? Bukannya kamu ngomong mau kencan sama Dave? Kok kamu pake baju kayak gitu? Ini Dave, Clare… Dave yang punya semua perusahaan me….” helaan keras nafasku terlepas tanpa sengaja. Tindakan yang ternyata berhasil memotong dan membungkam ucapan Naomi.
“Naomi….” panggilku dengan nada lelah. Aku melangkah dan meletakkan panggulku di sofa. Mengamati Naomi yang duduk di atas salah satu ranjang. Tepat di tengah-tengah kamar hotel yang kutinggali bersamanya.
“Apa? Jangan bilang aku cerewet. Ini buat kamu sendiri, Clare. Kamu kan aktris terkenal. Jangan bilang kamu nggak peduli sama penampilan. Ada image yang mesti kamu jaga, Clare Willow,” tukas Naomi cepat. Aku berdecak. Sialan! Naomi dan pemikiran logisnya batinku kalah.
“Dan lagi, kamu ini bakal pergi keluar. Ketemu sama Dave. Siapa tau nanti nggak sengaja ketemu aktris lain, fansmu ato yang buruk banget, paparazi. Gimana coba? Masa kau nggak mau keliatan cantik di depan Dave?” tukas Naomi tanpa mengalihkan matanya dariku. Ringisan kecil muncul dari bibirku.
Saat kemarin Naomi kembali dari perjalanannya berburu makanan, dia menyaksikan Dave yang duduk semeja denganku. Entah apa yang berkelebat dalam pikiran Naomi, tapi begitu aku kembali ke kamar, Naomi memberondongku dengan beragam pertanyaan antusiasnya. Dia bahkan memekik dengan girang dan memelukku begitu erat saat mengetahui aku akan kembali bertemu dengan Dave keesokan harinya.
Serupa. Kegirangan dan antusiasme yang dirasakan Naomi, selaras dengan apa yang kurasakan. Bahkan sebenarnya jauh lebih tinggi. Seharian ini aku berusaha begitu keras menahan tatapan mataku yang berusaha terus memeriksa berapa lama lagi waktu yang tersisa hingga syuting berakhir. Makan siang bersama Dave bahkan terasa begitu cepat dan singkat.
Namun, kelelahan dan emosi yang terkuras selama syuting sejak pagi buta tadi, akhirnya berhasil menyurutkan antusiasmeku. Make up yang menghiasi wajahku seharian, membuatku ingin cepat-cepat menghapusnya dan membiarkan kulitku bernafas. Pakaian yang lengket terkena teriknya matahari ingin kutanggalkan sesegera mungkin.
Belum lagi hari ini Mike sepertinya tidak begitu puas dengan hasil pengambilan gambar. Hingga berkali-kali dia meminta mengambil ulang beberapa adegan yang sama. Meskipun bukan aktingku yang membuatnya tidak puas, namun karena talent itu berada dalam sebagian besar scene yang sama denganku, akhirnya mau tidak mau, aku juga harus mengikuti proses pengulangan syuting bersamanya.
Lelah memang. Tapi kalau harus menuruti kelelahanku dan tidak menemui Dave, justru hatiku yang mungkin merasa rapuh. Jadi, walaupun aku begitu ingin bergelung dan meringkuk di ranjang, aku masih berada di sini. Mempersiapkan diri untuk bertemu dengan Dave.
Ucapan Naomi perlahan kupertimbangkan. Helaan nafasku terlepas lirih.
“Aku capek, Naomi. Tapi buat kamu...oke aku mau kompromi,” ucapku sambil beranjak menuju lemari baju. “Jangan berharap lebih. Aku nggak mau keliatan cantik buat siapapun. Lagi nggak mood. Ini kehidupan pribadiku, Naomi. Aku nggak perlu pengakuan sama sekali,” sahutku singkat sambil meliriknya dari balik pundakku.
Tanganku bergerak memilih tumpukan baju di sana. Dengan segera aku menarik jaket jins dan scarf. Mengenakannya di atas kaosku dan manarik sepatu boots hitam. Tanpa susah payah, sepatu itu membungkus kakiku dan melengkapi penampilanku. Saat akan bergerak mendekati pintu, tatapan mataku menangkap pantulan diriku di kaca.
Hanya maskara dan eyeliner yang menghiasi rona wajahku. Warna coral peach sengaja kupilih untuk melapisi bibirku. Rambutku terurai lepas. Bebas setelah seharian terikat kencang. Senyum kecilku terkembang. Tubuhku berbalik dan menghadap Naomi.
“Gimana? Udah lumayan kan?” tanyaku sambil menyeringai kecil. Cengiran lebar terpasang di wajah Naomi. Dia bersiul dan memandangi tubuhku dari atas hingga bawah.
“Kalo lagi nggak mood aja, kamu udah kayak gini...gimana kalo lagi pas mood? Yakin deh, Dave nggak bakal bisa ngontrol tangannya,” tukasnya sambil cengengesan. Alisku terangkat. Sambil menggeleng-gelengkan kepala, aku membalikkan tubuh dan melangkah keluar.
“Have fun, Clare,” tak ada sahutan dariku atas ucapan penyemangat dari Naomi. Sebagai gantinya, tanganku terangkat dan melambai padanya. Sebelum kemudian suara pintu kamar yang tertutup mengiringi kepergianku.
Dave sudah menantiku di depan hotel. Saat sosoknya tertangkap mataku, dia sedang menyandarkan tubuhnya di pintu mobil. Tatapannya menerawang ke arah jalanan. Senyumku mengembang. Baru kali ini akhirnya aku bersyukur dengan ocehan Naomi. Kalau tidak begitu, mungkin aku sudah mempermalukan diriku sendiri bila bersanding dengan Dave.
Dave belum melihatku mendekat. Karena itu kupuaskan mataku untuk mereguk pesonanya. Menyaksikan tubuh gagah Dave yang terbungkus kemeja, yang bukannya menutupi keindahannya, malah semakin menonjolkan maskulinitasnya.
Kakinya yang terlihat kokoh terbungkus celana jins hitam, sama sepertiku. Wajahnya yang terlihat segar dan rambutnya yang sedikit acak-acakan karena tertiup angin, alih-alih terlihat konyol, namun malah membuat jemariku gemas ingin menyisiri dan menyentuhnya. Merasakan kehalusan di setiap helaiannya. Aku menelan ludah. Menarik nafas dalam sekedar untuk meredakan kegugupanku.
“Dave…” panggilanku berhasil menyentak pandangan Dave ke arahku. Tiga detik, lima detik, aku tidak tahu berapa lama Dave terpaku. Kubiarkan saja dia memandangiku tanpa sadar.
Aku terpukau. Mataku menatap Dave lekat. Hingga setiap reaksi yang terlihat darinya dapat kutangkap dengan jelas. Detik ketika kegirangan memancar di matanya, bibirnya yang bergerak hingga membentuk senyuman lebar, tubuhnya yang menegak dan kepalanya yang mulai menunduk. Mereguk tubuhku dengan matanya secara perlahan.
Hingga begitu kepalanya terangkat dan matanya mendarat padaku, sinar di matanya berubah menjadi semakin gelap dan tajam. Senyum di bibirnya luruh perlahan. Rahangnya mengencang.
“Pumpkin…” ucap Dave dengan serak. Suaranya terdengar lebih dalam dibanding biasanya. Tangannya terulur ke arahku dengan telapak terbuka. Menungguku.
Aku tahu yang diinginkan Dave. Dan saat ini aku bersedia untuk memenuhinya. Kakiku mendekat. Tanganku meraih uluran tangannya. Kesiapku sedikit terlepas saat Dave menarik tubuhku ke arahnya begitu kedua tangan kami terjalin.
“Cantik banget,” tukas Dave dengan suara rendah. Tubuh kami hampir saja bersentuhan. Kepalaku sedikit menengadah. Senyumku terkulum.
“Kamu juga,” tentu saja aku balas memujinya. Tidak mungkin tidak saat pesonanya begitu terpampang jelas. Alis Dave terangkat. Seringainya terlepas.
“Cantik? Aku juga? Ohh...aku tersinggung nih,” kekehanku terdengar begitu Dave menjawab dengan pura-pura kesal.
“Please..kamu tau maksudku,” saat ucapanku hanya mampu membuat Dave menaikkan alisnya dan terus menatapku, akhirnya kegelian menguasaiku. Aku berdecak dan menggeleng kecil. “Cakep. Cakep banget kok,” sahutku ringan. Dave mengangguk dan menyunggingkan senyum.
Mataku sedikit terbelalak. Ketika kupikir Dave akan melepaskan tanganku dan berbalik untuk membuka pintu mobil, Dave malah menutup jarak di antara tubuh kami. Membuat tubuh depannya menempel denganku dan kepalanya menunduk. Turun mendekati wajahku hingga berhenti di lekukan antara leher dan pundak.
Kepala Dave menyusup dan menghangatkan kulitku. Tubuhku meremang saat merasakan hidung dan bibir Dave hampir menyentuhku.
“Wangimu enak banget, Pumpkin. Aku nggak bakal bosen ngerasain wangimu,” ucap Dave lembut. Degupan jantungku sudah melecut begitu tinggi saat menyadari Dave menghirup dan mengecup sekilas kulit di sana.
Terdiam. Aku tidak yakin harus mengatakan apa. Tidak ketika aku sendiri sedang berusaha begitu keras untuk menenangkan genderang di dadaku. Dave berdeham. Kepala Dave terangkat dan dia sedikit menjauh dariku. Satu tangannya terulur untuk membukakan pintu untukku.
“Masuk yuk. Aku udah kelaparan,” ujar Dave sambil tersenyum polos. Kali ini giliranku yang berdeham dan tersenyum kecil. Kulepaskan jalinan tangan kami dan melangkah untuk duduk di kursi penumpang.
“Kita mau makan di mana?” tanyaku begitu Dave mulai menjalankan mobilnya.
“Di daerah sini ada restoran perancis, restoran italia sama restoran meksiko. Kamu mau makan yang mana, Clare? Aku pemakan segala. Apa aja nggak masalah,” sahutan Dave memunculkan senyum di bibirku,
“Hemm…. Aku belum pernah coba masakan meksiko,” tukasku sambil menoleh ke arah Dave. Mendapati Dave telah berpaling dan menunggu jawabanku.
“Restoran meksiko kalo gitu,” putusnya sambil tersenyum hangat. Kepalaku mengangguk.
Percakapan ringan dan candaan yang kami lontarkan membuat perjalanan menuju restoran terasa begitu singkat. Meskipun dari sudut mataku, aku dapat menyaksikan empat puluh lima menit telah berlalu sejak kami keluar dari hotel.
Musik latin menyambut kedatangan kami di restoran. Aku merasakan tangan Dave menyentuh punggung bawahku. Membimbingku hingga berada di salah satu meja yang terlihat nyaman. Begitu aku tiba di sana, Dave mendahuluiku menarik kursi. Menantiku duduk dengan nyaman sebelum dia bergerak dan duduk di hadapanku.
“Halo, saya Mary. Saya yang akan melayani anda berdua malam ini. Sudah siap untuk memesan?” aku menoleh ketika seorang pelayan menghampiri meja kami.
Mendapati seorang wanita berkulit eksotis dengan aksen latin yang kuat. Seragam ketat yang dikenakannya tidak dapat menutupi kemolekan tubuhnya. Apalagi saat dia sedikit mencondongkan tubuh dan menatap Dave dengan pandangan menggoda. Keningku mengernyit. Kepalaku menunduk dan memandang buku menu yang ada di tanganku.
Sikapku memang seringkali dingin. Tapi aku tidak pernah kasar. Sepertinya kehadiran pelayan ini entah bagaimana membuatku ingin bertindak kasar.
“Camarones en crema dan lemonade,” sahutku singkat sambil menutup buku menu. Memilih acak apapun yang tertangkap penglihatanku. Tidak peduli apa itu.
Aku menyandarkan punggung dan menyilangkan kakiku. Tubuhku tegak. Tanganku terjalin di atas pangkuan.
“Camarones en crema dan lemonade? Pilihan yang bagus, Cantik,” tukasnya sambil mencatat pesanan. Kepalaku terangguk. Kalem. Aku berusaha keras menahan dengusanku.
Omong kosong. Muji aku tapi matanya jelalatan ke tempat lain. Sialan! batinku kesal.
“Dan kamu, Ganteng? Mau pesan apa?” suara manjanya terdengar. Tangan pelayan itu dengan gemulai menyentuh pundak Dave. Alisku terangkat. Dave masih mengamatiku dengan tatapan yang tak dapat k****a.
“Mana yang enak? Ada rekomendasi?” tanya Dave lagi sebelum menunduk. Mengamati deretan menu yang tertera di buku.
“Tentu aja, Sayang. Menu favorit di sini fajitas dan borrego dish. Tapi menu lainnya pun nggak kalah lezat. Semua makanan yang ada di restoran ini dijamin nikmat,” ujarnya sambil menegakkan tubuh dan membusungkan dadanya.
Woow….kayaknya aktingku diuji di sini deh keluhku dalam hati. Mempertahankan wajah datar benar-benar sulit saat yang ingin kulakukan adalah menyingkirkannya dari pandanganku jauh-jauh.
“Gimana? Sudah siap mesan? Atau masih perlu bantuanku, Ganteng?” kali ini bukan hanya elusan singkat. Namun tangannya mendarat di lengan Dave dan meremas bisepnya.
Astaga! Bener-bener kelewatan deh putusku kesal. Mataku beralih dari kegenitan pelayan wanita itu dan menautkannya pada lelaki di hadapanku. Lelaki yang saat ini menatapku dengan tajam.