Dave
“Ya. Aku perlu bantuanmu,” ujarku ringan. Aku tidak peduli bagaimana reaksi pelayan yang berdiri di sampingku. Bahkan aku mengatakan hal itu tanpa memutus pandangan mataku dari Clare sekejap pun.
“Apapun buat kamu, Sayang. Apa yang kamu butuhin sekarang?” sambung wanita itu lagi. Kututup buku menu dan menggesernya. Tanganku terjalin. Kepalaku menoleh perlahan ke arah wanita itu. Mengamati dandanan menor dan kedipan matanya yang berlebihan.Tipikal.
“Panggilkan manajer restoran ke sini,” tanpa merasa perlu menambahkan polesan apapun untuk memperhalus perintahku.
“Apa?” tanyanya singkat. Kebingungan memancar dalam tatapan matanya padaku. Kebingungan yang kubalas dengan ketegasan.
“Kalau nggak ingin ada tuntutan yang melayang ke restoran ini, cepat panggilkan manajer restoran. Kataka