Clare
“Hei...nggak apa-apa. Seriusan. Masa aku bohong sih? Kan aku udah bilang berkali-kali kalo ini bukan salah kamu,” tukasku ringan. Handphone masih menempel di telinga kananku. Sedang mataku menatap lurus ke arah televisi layar datar yang cukup lebar. Mengamati acara bincang-bincang yang sedang ditayangkan di sana.
“Aku ngerti, Clare. Tapi tetep aja aku nggak enak sama kamu,” aku menghela nafas ketika kalimat pertama Naomi terlontar.
“Heem…. Nggak enak kenapa lagi?” balasku asal. Kakiku bergerak menggesek permukaan lembut sofa yang kurebahi sekarang. Merasa nyaman dengan kehalusannya.
“Kita sahabatan, Clare. Aku emang jadi manajermu sejak delapan tahun lalu. Hampir sembilan tahun malah. Tapi hubungan kita itu lebih dari hubungan kerja. Kamu ngerti kan maksudku?” kepalaku mengangguk