Robbie
“Ngapain? Masih ada yang belum beres?” suara seseorang dari balik punggung, membuatku menoleh.
Mataku menangkap sosok Frank yang bersedekap dan menyandarkan tubuhnya di pintu ruang sunting. Memasukkan cahaya dari luar hingga menembus kegelapan di tempatku berada sekarang. Kukembalikan pandanganku ke depan layar. Menajamkan mata dan memusatkan konsentrasiku ke sana.
“Ada yang nggak pas,” gumamku lirih. Tidak peduli gemerisik suara Frank yang mendekatiku. Fokusku telah kembali pada gambar dan gerakan yang nampak di layar monitor.
“Hah? Apanya yang nggak pas?” tanya Frank sambil sedikit mencondongkan tubuhnya dari balik pundakku. Daguku mengedik ke arah layar komputer.
“Tuh liat,” ujarku sambil memutar kembali rekaman yang sudah kulihat belasan kali.
Kami berdua terdiam. Memfokus