Suara pintu diketuk. Pruistin segera berdiri, merapikan selimut yang menutupi sahabatnya lalu bergerak mendekati pintu. Kelopak matanya melebar sambil terpekik pelan sambil menutup mulutnya begitu melihat sosok di balik pintu. Dia memeluk lelaki di hadapannya beberapa detik kemudian mengekspresikan kelegaan sekaligus senang . Lelaki itu balas memeluknya dengan satu tangan sembari merintih.
" Ups...maaf Bi. Aku terlalu lega melihat kamu. Nggak apa-apa kan?" Kekhawatiran jelas tersirat dari wajahnya. " Jangan kenceng-kenceng Pru, masih sakit." Pruistin nyengir sembari menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
" Dida di dalam?"
"Ya, tapi dia baru aja tidur. Jangan diganggu dulu. Kamu tahu sendiri sejak kemarin dia memang kurang istirahat." Pruistin membuka lebar pintu kamar. Abi masuk bersama