Seo Hye dan Hyung Won sampai di puncak Bukit Terlarang. Seo Hye duduk di bawah satu-satunya pohon yang tumbuh di puncak Bukit Terlarang yang tentunya membuat udara di tempat itu terasa sejuk meski matahari sudah cukup tinggi. Sementara itu Hyung Won juga duduk di bawah pohon namun di sisi yang berbeda.
Untuk sesaat hening melanda ketika tak ada pembicaraan yang terjadi di antara keduanya sejak mereka menginjakkan kaki mereka di puncak Bukit Terlarang. Namun setelah menemukan ruang baginya untuk berbicara, Hyung Won pada akhirnya memulai pembicaraan lebih dulu.
"Kau baik-baik saja?"
Seo Hye mengarahkan pandangannya ke tempat Hyung Won berada dan menyahut, "kenapa?"
"Tentang Kak Hwang," suara Hyung Won terdengar begitu ragu ketika pemuda itu berbicara, "kau yakin tidak masalah Kak Hwang pergi seperti ini?"
Seo Hye menjatuhkan pandangannya pada seikat bunga pemberian Hyung Won yang masih berada di tangannya. Wanita muda itu tersenyum tipis.
"Kau orang pertama yang menanyakan hal itu padaku," ucap wanita muda itu.
Kali ini giliran Hyung Won yang memandang Seo Hye. Hanya melihat wajah gadis itu dari samping, Hyung Won bisa melihat kesedihan dalam senyuman tipis itu.
"Kau tidak ingin menyerah?" Hyung Won kembali bertanya.
"Aku bahkan belum merasa bahwa aku telah memperjuangkan sesuatu. Aku pun tidak tahu harus menyerah untuk apa."
"Perasaanmu," celetuk Hyung Won.
Seo Hye kembali memandang Hyung Won. Dan begitulah pandangan keduanya kembali saling bertemu.
Hyung Won kembali berucap, "perasaanmu pada Kak Hwang. Bisakah kau menyerah untuk itu?"
Seo Hye sejenak terdiam, tampak mencoba untuk memahami Hyung Won. Selama ini Seo Hye selalu dibuat penasaran dengan sosok Hyung Won. Namun sekalinya berbicara panjang, pemuda itu justru membuat keraguan di sudut hati Seeo Hye.
Seo Hye kemudian menyahut, "kenapa kau mengatakan hal ini padaku?"
"Hanya ingin memberitahumu, kau ... sudah dicampakan."
Seo Hye kembali terdiam, namun kali ini tak lebih lama dari sebelumnya.
"Apa dia tidak benar-benar pergi ke Pulau Jeju?"
Batin Hyung Won sempat tersentak, namun hal itu tak memberikan pengaruh apapun pada raut wajahnya.
Seo Hye kembali bertanya, "Hwang Kihyeon ... sejauh apa dia pergi kali ini?"
"Sangat jauh, bahkan lebih jauh dari apa yang kau bayangkan."
"Ke mana?"
"Kau pikir aku mengetahuinya?"
"Dia pergi begitu saja?" Terdapat rasa kecewa dalam nada bicara Seo Hye kali ini, dan Hyung Won pun menyadari hal itu.
Hyung Won bergumam, membenarkan ucapan Seo Hye. Pemuda itu kemudian berucap, "seperti empat tahun yang lalu. Dia pergi tanpa diketahui oleh siapapun."
Pandangan Seo Hye kembali terjatuh. Perasaan asing tiba-tiba singgah di hatinya. Kekecewaan dan juga kehilangan, Seo Hye merasakan keduanya dalam waktu yang bersamaan. Wanita muda itu bertanya-tanya dalam hati alasan dari kepergian Kihyeon saat ini. Dan mungkinkah Kihyeon akan kembali seperti kepergiannya yang sebelumnya.
"Kau yakin akan baik-baik saja dengan semua itu?" suara Hyung Won kembali terdengar, menjadi pertimbangan bagi Seo Hye.
Seo Hye kemudian menyahut tanpa adanya keyakinan, "entahlah."
"Kau tahu kapan kau harus menyerah. Menunggu pun ada batasnya."
Seo Hye tak menyahut ketika hatinya mulai resah. Haruskah ia menyerah bahkan sebelum ia memperjuangkan sesuatu, atau justru dia akan mulai memperjuangkan perasaannya terhadap Hwang Kihyeon. Terlepas dari seberapa lamakah Kihyeon pergi saat ini atau mungkinkah Kihyeon tak lagi berniat untuk kembali ke Distrik 9. Seo Hye merasa sangat ragu. Bisakah ia menggenggam perasaannya sendiri hingga akhir.
DISTRICT 9 : FLOWER OF EVIL
Menjelang siang hari Chang Kyun masih berada di ruang kelas untuk mengikuti kelas Profesor Kim hari itu. Namun sayangnya sejak awal Chang Kyun tak menaruh perhatiannya pada kelas yang tengah berlangsung.
Sebuah surat misterius yang datang dari seminggu yang lalu. Chang Kyun memegang surat itu di atas meja dan memandang ke arah papan tulis secara bergantian ketika Profesor Kim menuliskan sesuatu di sana.
Namun sayangnya Chang Kyun tak tertarik dengan apapun yang dijelaskan oleh Profesor Kim saat ini. Karena perhatian Chang Kyun sepenuhnya tertuju pada tulisan tangan Profesor Kim di papan tulis yang terlihat cukup jelas dari tempatnya duduk saat ini.
Sejak jauh-jauh hari Chang Kyun merasa tidak asing dengan tulisan tangan dalam surat misterius di tangannya saat ini. Dan karena hal itulah Chang Kyun meminta surat itu dari Min Hyeok untuk benar-benar memastikan tentang kecurigaannya.
Dan hari itu Chang Kyun mendapatkan jawaban yang ia inginkan. Tulisan dalam surat misterius itu sama dengan gaya penulisan Profesor Kim. Bukan secara kebetulan, namun Chang Kyun telah memperhatikan hal itu sejak jauh-jauh hari.
Chang Kyun menaruh kecurigaan terhadap Profesor Kim tentang insiden menghilangnya Kihyeon. Hal itu semakin dikuatkan dengan fakta bahwa Profesor Kim cukup dekat dengan Kihyeon. Chang Kyun menduga bahwa kepergian Kihyeon ke Gwangju saat itu adalah untuk bertemu dengan Profesor Kim. Chang Kyun sangat yakin dengan pemikirannya kali karena ia telah mencari berkas yang disembunyikan Kihyeon di ruang bawah tanah gubuk dan ternyata berkas itu sudah tidak berada di sana.
Setelah kelas selesai, Chang Kyun meninggalkan kelas lebih dulu dengan langkah yang tampak buru-buru. Dan tentunya hal itu sedikit menarik perhatian dari Profesor Kim.
Profesor Kim lantas meninggalkan kelas dan kembali ke ruang kerjanya dengan sebuah buku yang berada di tangan kirinya.
Memasuki ruang kerjanya, Profesor Kim dikejutkan oleh keberadaan Chang Kyun di ruangannya. Mencoba untuk tidak gugup, Profesor Kim pun menegur Chang Kyun seperti biasa.
"Shin Chang Kyun, kenapa kau ada di sini?"
"Mari kita bicara sebentar, Profesor Kim," sahut Chang Kyun dengan cara yang dingin.
Profesor Kim memiliki firasat buruk, mengingat bahwa murid didiknya yang satu itu tidak pernah berbicara secara pribadi dengannya. Tak bisa menolak ketika tak menemukan alasan yang tepat, Profesor Kim menutup pintu dan berjalan menuju meja kerjanya. Pria itu kemudian duduk di balik meja kerjanya setelah menaruh buku yang ia bawa di atas meja.
"Kalau begitu duduklah, apa yang ingin kau bicarakan denganku?"
Chang Kyun menghampiri Profesor Kim dan duduk berseberangan dengan pria itu. Tatapan dingin penuh selidik milik pemuda itu berhasil mengintimidasi Profesor Kim.
Profesor Kim kembali menegur, "kalau begitu bicaralah."
"Satu minggu yang lalu, siapa yang bertamu ke rumah Profesor Kim?"
Batin Profesor Kim tersentak, dan hal itu sempat terlihat dalam raut wajahnya. Pria itu pun menjadi sedikit gugup. Namun ia berusaha untuk tetap terlihat tenang.
"Kenapa kau menanyakan hal itu?"
"Karena aku ingin tahu siapa yang bertamu ke rumah Profesor Kim malam itu?"
Profesor Kim tersenyum tipis. "Meskipun kau ingin mengetahuinya, bukankah sangat tidak sopan kau menanyakan ini padaku, Shin Chang Kyun?"
"Hwang Kihyeon," celetuk Chang Kyun yang seketika membungkam Profesor Kim, "dia datang menemui Profesor Kim malam itu."
Profesor Kim terlihat sedikit gusar, membuat kecurigaan Chang Kyun semakin besar.
Chang Kyun kembali berbicara, "Kak Hwang menghilang sejak saat itu, tapi kenapa Profesor Kim tidak pernah menanyakannya setiap kali dia tidak menghadiri kelas Profesor Kim?"
"Kau ... mengenal Hwang Kihyeon?" tanya Profesor Kim dengan hati-hati.
"Aku ... adalah adik angkat Hwang Kihyeon."
Profesor Kim tampak sangat terkejut. Sebuah fakta yang terlambat untuk ia ketahui ketika selama ini ia hanya fokus terhadap Kihyeon tanpa memperhatikan orang-orang di sekitar Kihyeon. Profesor Kim membuat kesalahan, kesalahan yang cukup fatal dan sangat sederhana.
"Kau ... adik Hwang Kihyeon?"
Tak lagi ingin menjawab, Chang Kyun mengeluarkan surat yang ia bawa dan menyodorkannya ke hadapan Profesor Kim. Dan seketika pria itu tampak terkejut, seakan ia yang sudah tidak asing dengan surat itu.
"Di mana dia sekarang?" terdengar lebih dingin. Shin Chang Kyun benar-benar menuntut sebuah jawaban sekarang.
"Apa maksudmu? Apa ini? Kenapa kau menunjukkannya padaku?" Profesor Kim tetap menyangkal tuduhan Chang Kyun.
"Profesor Kim sendiri yang menulis surat itu. Jadi tolong katakan dengan jujur, di mana Kak Hwang sekarang?"
"Sepertinya kau salah paham, Shin Chang Kyun?"
Chang Kyun tersenyum tipis, namun senyuman itu justru terlihat sangat mengintimidasi. Seulas senyum yang tidak pernah Chang Kyun perlihatkan di hadapan rekan-rekannya selama ini.
Chang Kyun kemudian berucap, "Laboratorium Penelitian, Distrik 7 ... itukah sebabnya?"
Profesor Kim terlihat waswas dan gugup dalam waktu bersamaan. "Apa yang sebenarnya sedang kau bicarakan?"
Chang Kyun beranjak berdiri, namun bukan untuk pergi. Pemuda itu menggerakkan tangan kirinya ke balik punggung, mengambil sebuah senjata api yang langsung ia arahnya pada Profesor Kim.
Profesor Kim yang melihat hal itu tentu saja sangat terkejut. "K-kau ... apa yang sedang kau lakukan? Dari mana kau mendapatkan benda itu?"
Tanpa perasaan Chang Kyun kembali berbicara, "kali ini jawablah dengan benar—"
"Shin Chang Kyun," Profesor Kim menggertak, namun justru dialah yang semakin terpojok.
Chang Kyun kembali berbicara, "satu minggu yang lalu Kak Hwang datang menemui Profesor dan menyerahkan berkas dari Laboratorium Penelitian Distrik 7. Di mana berkas itu sekarang?"
"Apa yang kau—"
"Jawab saja," Chang Kyun menyela, "aku belum pernah membunuh orang sebelumnya, tapi aku sudah melihat banyak kematian sebelum hari ini. Apakah kau mengkhianati Kak Hwang dan bersekutu dengan mereka?"
"Shin Chang Kyun, tenangkan dirimu. Kenapa kau—"
"Jangan bertanya, Profesor hanya perlu menjawab pertanyaan yang aku ajukan ... apa yang terjadi malam itu?"
Profesor Kim menghela napas, menyerah dengan sikap keras kepala Chang Kyun.
"Baiklah, aku akan mengatakannya padamu. Tapi kita bisa bicara baik-baik. Kau tidak seharusnya memiliki benda itu."
"Jawab saja pertanyaanku," Chang Kyun menyela.
Profesor Kim sempat terdiam sebelum akhirnya mulai berbicara. "Memang benar, malam itu Kihyeon datang ke rumahku. Tapi dia langsung pergi setelah memberikan berkas itu padaku."
"Lalu kenapa Profesor mengirimkan surat itu ke Distrik 9?"
"Kau masih berpikir bahwa aku yang mengirimkan surat ini?"
"Siapapun itu, aku tidak butuh orang lain untuk menjawab pertanyaanku. Mohon agar Profesor mau bekerja sama, hanya dengan itu Profesor bisa menyelamatkan masa depanku."
Profesor Kim menjatuhkan pandangannya ke samping. Secara tidak langsung Chang Kyun tengah mengancamnya. Namun sayangnya Profesor Kim tak bisa menemukan keraguan dalam sorot mata pemuda itu yang menegaskan bahwa pemuda itu benar-benar akan menembaknya jika tidak mendapatkan apa yang diinginkan.
"Baiklah, aku mengakuinya. Aku lah yang sudah menulis surat itu."
Mengakui perbuatannya, Profesor Kim kembali memandang Chang Kyun yang tak menunjukkan reaksi apapun.
"Katakan alasannya."
"Aku mendapatkan sebuah surat yang menyuruhku untuk menuliskan surat itu dan mengirimnya ke Distrik 9."
"Siapa yang mengirimkan surat itu?"
Profesor Kim menggeleng. "Tidak ada nama pengirim. Dalam surat itu juga tertulis bahwa aku harus membakar berkas yang diberikan oleh Kihyeon padaku."
"Profesor melakukannya?"
Profesor Kim mengangguk. "Lalu di mana Kak Hwang sekarang?"
"Sejak awal aku sudah mengatakan padamu bahwa aku tidak tahu, dan jawabanku tidak akan berubah."
Chang Kyun tak merespon untuk beberapa waktu ketika pemuda itu tengah mempertimbangkan ucapan Profesor Kim.
Profesor Kim kemudian bertanya, "sebenarnya apa yang sudah kalian lakukan? Kenapa Kihyeon tiba-tiba menghilang? Apa yang sebenarnya sedang dia lakukan?"
"Jangan mendekati kami. Bahkan jika kami meminta bantuan, Profesor harus melarikan diri ... kami sangat membenci seorang pengkhianat, oleh sebab itu jangan berusaha untuk mendapatkan kepercayaan dari kami. Jadilah buta dan dungu, dengan begitu Profesor bisa memiliki kehidupan yang panjang."
Chang Kyun menurunkan tangannya yang memegang senjata. Sejenak memandang Profesor Kim, pemuda itu lantas pergi begitu saja tanpa mengucapkan kalimat perpisahan sembari menyimpan kembali senjata api di tangannya.
Tepat setelah pintu ruangan tertutup dari luar, Profesor Kim menyandarkan punggungnya dan menghela napas. Perasaan tertekan yang sempat menghimpitnya perlahan memudar, namun hal itu tak benar-benar bisa menghilangkan kekhawatirannya karena ia telah mengucapkan beberapa kebohongan terhadap Chang Kyun.
Memandang ke arah pintu, Profesor Kim bergumam, "kehidupan seperti apa yang sebenarnya mereka jalani?"
Profesor Kim menjatuhkan pandangannya dan tampak tak tenang. Siapa yang menyangka bahwa ia hampir kehilangan nyawanya di tangan murid didiknya yang paling pendiam dan terlihat seperti pemuda baik-baik dengan latar belakang keluarga yang baik pula.
Profesor Kim kembali berucap, "Hwang Kihyeon, dia terlalu menarik perhatian banyak orang."
Dan hari itu sudah cukup membuktikan bahwa Shin Chang Kyun tidak selemah dan sebaik yang Kihyeon pikirkan selama ini. Pada dasarnya keduanya memiliki garis takdir yang sama. Tumbuh dalam keluarga yang berbeda namun memiliki cara yang sama dalam memandang kehidupan. Atau mungkin kehidupan yang dilihat oleh Shin Chang Kyun jauh lebih gelap dan rumit dibandingkan dengan kehidupan yang dilihat oleh Hwang Kihyeon.
Siapa yang tahu?"
DISTRICT 9 : FLOWER OF EVIL