Pagi ini wajah Amara tampak gusar saat ia tiba di sekolahnya. Tidak ada raut wajah ceria seperti biasanya. Di kelas pun gadis itu tampak murung. Sang sahabat yang bernama Rara pun mendekatinya dan bertanya dengan gadis itu.
"Ada apa? Kenapa wajah kamu kusut begitu? Seperti kain yang belum disetrika!" ujar Rara yang menanyai Amara dan duduk di bangku yang berada di sebelah kanan gadis itu.
Amara menghela napasnya dan menopang dagunya dengan telapak tangan sebelah kanan yang bagian siku menumpu di meja.
"Aku lagi sedih, Ra." Sahutnya dengan tatapan mata menuju keluar jendela.
"Sedih kenapa? Apa lagi ada masalah? Masalah apa?" tanya Rara beruntun.
Amara menoleh ke arah Rara dengan kedua tangan yang sudah bersedekap di d**a dan berucap, "bisa nggak Ra, kalau mau bertanya itu, satu-satu dulu. Aku 'kan bingung mau jawabnya gimana?" sungut Amara.
Rara menyengir dihadapan Amara dengan jari tangan kanan bagian telunjuk dan tengah membentuk huruf "v".
"Sorry, sayang. Aku 'kan penasaran," kata Rara dengan wajah memberengut.
Sekali lagi Amara menghela napasnya dan menelungkup kan wajahnya di atas meja dengan kedua tangannya.
"Kalau kamu ada masalah. Ayo cerita sama aku. Jangan dipendam sendirian." Ujar sang sahabat lagi.
"Masalah yang aku hadapi kali ini sangat rumit, Ra. Dan nggak ada solusinya. Mau tidak mau, aku harus menerimanya."
"Masalah apa? Ayo cerita ke aku. Aku akan mendengarkan semuanya. Mumpung bel masuk belum berbunyi." Ujar sang sahabat lagi, yang begitu penasaran dengan masalah yang sudah dihadapi sahabat yang berada di sampingnya ini.
"Nanti aja aku ceritakan ke kamu. Saat istirahat. Aku akan cerita semuanya ke kamu. Tapi kita ngobrolnya di taman saja. Aku takut di sini bakal kedengaran sama teman yang lainnya." Ucap Amara yang berharap tidak ada orang mengetahui rencana pernikahannya.
"Oke. Aku dengan sabar menunggumu bercerita. Tapi sekarang tersenyumlah. Wajah kamu itu jelek kalau merenggut seperti ini." Seloroh Rara yang mencolek pipi kanan Amara. Yang posisinya sudah menghadap wajah Rara kembali.
"Apaan, sih, Ra." ucap Amara yang memukul pelan pundak sang sahabat.
Sesaat Amara melupakan kesedihannya, karena ada Rara yang selalu menghiburnya.
Bel istirahat pun berbunyi. Murid-murid SMA itu berhamburan menuju ke arah kantin. Namun tidak dengan Amara dan Rara, dua sahabat itu lebih memilih membawa bekal dari rumah. Karena mereka tidak ingin membebankan orang tua dengan selalu meminta uang jajan setiap hari.
Ke sekolah pun mereka hanya menggunakan angkot saja. Karena kesenjangan sosial di sekolah itu maka Amara dan Rara tidak memiliki banyak teman. Karena murid yang bersekolah di SMA favorit itu merupakan anak-anak orang berada (kaya). Meskipun begitu Amara tidak pernah diperlakukan kasar oleh murid-murid yang lainnya. Sekolah itu menerapkan kedisiplinan siswa, dan tidak pernah ada kasus buli membuli. Karena kepala sekolah akan bertindak tegas dengan murid yang pembangkang dan pembuat onar.
Amara dan Rara pun bisa bersekolah di situ hanya suatu keberuntungan saja. Mereka masuk ke sekolah itu dikarenakan mereka pintar dan mendapatkan beasiswa untuk siswa berprestasi.
Amara dan Rara pun menuju ke taman, yang berada di belakang sekolah, duduk di bangku panjang di bawah pohon yang begitu rindang. Sungguh terasa sejuk dan damai. Karena tempat itu sepi. Hanya mereka berdua saja yang duduk setiap hari di bangku taman itu, minus hari libur.
Dua gadis itu memulai memakan bekal yang mereka bawa. Mereka bersyukur bersekolah di SMA favorit ini. Karena tidak adanya pembulyan yang dilakukan murid dari kalangan berada. Mereka memilih membentuk kelompok yang bersaing dalam pelajaran.
Termasuk Amara dan Rara. Tidak jarang ada yang mengajak mereka bergabung, karena paras dan kecantikan yang dimiliki Amara. Tapi berakhir dengan penolakan Amara secara halus.
Amara malu berteman dengan mereka, karena kemiskinan gadis itu. Ia takut dihina. "Lebih baik menghindar, daripada mereka hina karena tahu aku miskin," ujar Amara kala itu, saat salah satu teman sekelasnya mengajak bergabung.
Sambil mengunyah makanannya Rara membuka obrolannya karena saking penasaran dan tidak sabaran lagi. "Ayo, ceritakan, apa masalah yang sedang kamu hadapi sekarang?" tanya sang sabat.
"Jangan ditunda lagi. Nanti keburu bel, masuk kelas berbunyi." Ujar Rara dengan rasa penasarannya.
Amara menyudahi makannya dan meminum air putih di dalam botol, setelah itu berucap, "Aku dilamar!" Dengan tatapan ke depan mengarah bunga-bunga yang ada di tengah-tengah taman.
Rara yang ingin menyuap nasi ke dalam mulutnya terhenti. "Maksud kamu?" tanyanya yang memindah posisi duduknya menyamping ke arah Amara.
"Kamu serius! Siapa yang sudah melamar kamu?" Rara kembali bertanya sambil memberesi kotak bekalnya. Mood makannya sudah hilang karena mendengar kabar yang disampaikan sang sahabat yang ada dihadapannya ini.
Amara menundukkan wajahnya dan meremas rok seragamnya. "Tadi malam ... Farid dan Mamanya datang ke rumahku."
"Farid? Farid yang kamu ceritain ke aku itu, ya. Cowok yang sudah beratus-ratus kali menyatakan cinta dan selalu kamu tolak," ucap Rara bingung. Setelahnya gadis itu tertawa dan berdecak kagum dengan pria yang bernama Farid itu.
"Rupanya, cowok itu cinta mati sama kamu, sayang. Sampai-sampai, ia nekad datang ke rumah kamu. Aku salut sama cowok itu. Rupanya pantang baginya untuk menyerah." Ungkap Rara yang bermaksud mengejek kemalangan sang sahabat.
Plak ...!
Amara memukul paha Ratih. Merasa kesal karena Ratih mentertawakan dirinya.
"Lalu apa jawaban kamu?" tanya Rara.
"Jangan bilang ... Kalau Mama kamu sudah menerima lamaran itu!" tebak Rara dan tebakannya itu ternyata benar dengan melihat reaksi Amara yang masih menunduk dan air matanya menetes.
"Kamu benar, Ra." Amara mengangguk-anggukan kepalanya.
"Kok bisa, dan kamu diam aja."
"Ya, bukannya apa, sih. Kamu kan pernah cerita, kalau pria itu kerjaannya cuma bersenang-senang saja dan suka berjudi. Tapi kenapa lamarannya harus diterima?" tanya Rara dan sedikit bingung.
Sekali lagi Amara menghembuskan napas beratnya.
"Ibuku menyetujuinya, karena suatu alasan."
"Alasan apa?" tanya Rara penasaran.
"Mama Farid mengancam, akan mengambil rumah kami beserta isi-isinya. Dengan alasan utang."
"Utang?" tanya Rara bingung. "Utang siapa?" kembali gadis itu bertanya.
"Ibu aku ada utang dengan Mama Farid, satu tahun lalu, saat Ayah aku sakit dan butuh pengobatan. Karena nggak punya uang dengan terpaksa ibu meminjam uang sama Mama Farid. Sebagai jaminan surat tanah dan rumah kami." Cerita Amara yang mengingat ucapan Mama Farid tadi malam saat mereka datang ke rumah.
Flashback on.
"Assalamualaikum," suara orang di luar rumah.
"Waalaikum salam," sahut ibu Amara yang kebetulan beliau masih menonton televisi di ruang tamu. Sedangkan Amara sudah berada di kamar tidurnya.
Jihan yang merupakan ibu Amara membukakan pintu.
"Bu Rosa. Ada apa malam-malam datang kemari. Ada keperluan apa? Masuk!" tanya ibu Amara dengan mempersilakan tamunya masuk dan mempersilakan duduk. "Silakan duduk, Bu, Nak Farid."
"Terima kasih, Bu." Sahut Farid sopan dan duduk di sofa yang sudah berwarna usang itu. Begitu juga dengan sang Mama, ikut duduk bersisian dengan putranya.
"Ada perlu apa, Bu Rosa dan Nak Farid ke sini?" tanya Bu Jihan lagi.
"Bukan untuk menagih utang 'kan? Kalau kalian menagih utang, mohon maaf kami belum ada uang untuk membayarnya." Ucap ibu Jihan.
"Kami datang ke sini bukan menagih utang. Tapi aku datang ke sini ingin melamar Amara." Ujar Bu Rosa. Yang mengagetkan Ibu Amara. Sedangkan Farid tersipu malu akan ucapan sang Mama.
"Amara nya ada Tante?" tanya Farid kemudian.
"Ada. Sebentar Tante panggilkan." Bu Jihan pun memasuki kamar anaknya. "Siapa, Bu?" tanya Amara saat ibunya membuka pintu kamar sang anak.
Sang Ibu bukannya menjawab, malah memerintahkan Amara membuatkan minuman untuk tamu nya. "Tolong buatkan minuman, Nak. Untuk tamunya." Perintah sang Ibu dan beliau kembali duduk di sofa.
"Hm," Amara pun bangkit dari bangkunya dan menuju pintu kamar. Alangkah kagetnya Amara saat ia menoleh ke arah sofa, dan ingin menyapa tamu, ternyata yang ada di situ sosok Farid dan Mamanya. Farid yang melihat pergerakan dari pintu kamar pun menoleh ke suara dan tatapan mereka bertemu. Farid tersenyum ke arah Amara dan gadis itu membalas seadanya. Amara pun menuju ke dapur.
Jangan di tanya bagaimana dengan perasaan Farid. Yang pasti hatinya begitu bahagia dan jantungnya pun begitu berdebar. "Calon istri aku cantik sekali. Hanya menggunakan piyama tidur saja sudah begitu cantik," gumam Farid di dalam hati dan tidak berhenti untuk tersenyum.
"Bagaimana? Bu Jihan. Apa Anda mau menerima lamaran anak saya. Jika Anda menerimanya utang yang ada saya anggap lunas. Anggap saja itu sebagian dari mahar. Dan sisanya Bu Jihan sebut saja!" ucap Bu Rosa dengan angkuhnya, seolah-olah hanya mereka saja yang memiliki uang.
"Kita tanya ke Amara dulu. Bu Rosa. Biar dia yang memutuskan. Kalau saya sebagai Ibu menerimanya, tapi yang menjalankan 'kan putri saya." Kata ibu Jihan.
Amara pun datang dengan membawa nampan yang berisi tiga gelas yang di dalamnya ada teh hangat.
Melihat sang pujaan hati di hadapan membuat Farid tidak mengedipkan matanya. Fokusnya hanya ke wajah sang calon istri. "Sebentar lagi kamu bakalan jadi istri aku, sayang." Gumamnya dalam hati.
"Silakan, Nyonya, Mas Farid minumnya. Hanya teh ini saja yang bisa kami suguhkan." Ucap Amara yang mempersilakan dua tamu itu untuk minum.
"Terima kasih," jawab Bu Rosa singkat.
"Terima kasih, cantik!" jawab Farid yang tidak lepas memandang Amara.
"Amara permisi dulu, ke kamar ingin belajar kembali." Pamitnya.
"Tunggu, Nak. Lanjutkan belajarnya nanti lagi. Tolong duduk di sini," pinta sang ibu yang menepuk sofa panjang di sebelah ibunya, dan saling berhadapan dengan Farid.
Sebenarnya Farid tampan hanya saja Amara tidak suka dengan perilakunya yang begitu urakan.
"Ada apa, Bu?" tanya Amara penasaran.
"Aku melamar kamu, De!" Farid menyela jawaban yang ingin diucapkan ibu Amara.
Amara terkejut dengan mata melotot dan mulut menganga di hadapan Farid. Yang membuat Farid terkekeh karena lucu.
"Maksud, Mas Farid?" tanya Amara bingung, yang memandang sang ibu.
Ibu Amara tidak berucap hanya menganggukkan kepala membenarkan.
"Iya, Amara. Kamu datang ke sini bermaksud melamar kamu. Kamu harus menerima. Kalau nggak rumah yang kalian tempati ini kami ambil," ucap Mama Farid dengan nada mengancam.
"Bu! Bagaimana ini? Amara 'kan masih sekolah." Rengek gadis itu.
"Kurang tiga bulan lagi 'kan?" tanya Farid ke Amara, yang membuat Amara bingung.
"Ha!" Amara melongo. "Maksud, Mas Farid apa?" tanya Amara ke pria itu.
"Dua bulan lagi 'kan kalian ujian. Dan setelah itu kelulusan. Jadi terhitung tiga bulan lamanya. Aku akan menunggu kamu tiga bulan lagi untuk menikah." Ujar pria itu dengan bicara yang begitu tenangnya. Berbeda dengan Amara yang terlihat begitu gelisah. Jika menolaknya rumah ini akan diambil karena alasan utang, dan mereka harus tinggal di mana? Kalau diterima Amara tidak menyukai pemuda yang ada dihadapannya ini, walaupun pemuda ini tampan dan kaya raya.
"Beri waktu Amara untuk berpikir. Apa bisa?" tawar Amara.
"Maaf, aku ingin jawabannya sekarang. Kamu tahu 'kan aku sudah begitu lama mencintai kamu, dan aku tidak ingin menundanya lagi. Dan tidak ada kata penolakan." Ucap Farid yang sudah tidak sabaran lagi untuk menjadikan Amara istri.
'Percuma saja kamu berpikir. Toh jawabannya aku yakin pasti "iya" karena tidak ada pilihan lain lagi. Maaf, sayang. Aku harus melakukan hal licik ini. Karena aku begitu sangat mencintai kamu,' gumam Farid dalam hati.
"Kalau begitu Amara nggak ada pilihan. Amara menerimanya, Bu." Ucap gadis itu kepada sang ibu.
'Demi rumah ini, Bu. Biarlah Amara yang berkorban. Semoga saja, Mas Farid berubah setelah menikah dengan aku,' batin Amara.
Farid yang mendengar perkataan Amara bersorak gembira. Tidak ada kata yang bisa ia ucapkan hanya rasa bahagia yang ia ungkapkan. Tak henti-hentinya senyuman terukir dari bibirnya.
"Baiklah. Tiga bulan lagi kami akan datang secara resmi ke sini untuk membawa seserahan." Ujar Mama Farid dan beliau mencolek pinggang sang putra, karena sedari tadi putranya itu tidak bisa mengalihkan pandangan dari wajah calon istrinya.
"Kenapa, Ma?" tanya sang Anak yang menoleh ke arah Bu Rosa.
"Cincinnya mana?" tanya beliau.
"Astaga," menepuk keningnya.
"Lupa, Ma." Ucapnya dan menyeringai ke arah sang Mama.
Farid pun mengeluarkan kotak kecil dari saku celananya. Kotak beludru yang berbentuk love dan berwarna merah.
Pemuda itu pun membuka kotaknya dan terpampang cincin emas kuning, polos yang beratnya kisaran 5 gram.
"Sini, De. Tangan kamu."
Amara menurut dan mengulurkan tangan kirinya, dengan perasaan gugup.
Farid meraih tangan yang mulus itu dan menyematkan cincin ke jari manis calon istrinya.
"Jangan dilepas. Ini sebagai bukti kalau kamu sudah ada yang memiliki yaitu aku," ucap Farid dengan begitu tegasnya dan mengecup punggung tangan itu dengan tidak tahu malunya.
"Mm, Amara boleh tanya sesuatu, Mas, Nyonya?" tanya Amara ragu.
"Mau bertanya apa, sayang. Silakan, Mas akan mendengarnya."
"Setelah menikah ... Apakah Amara boleh kuliah? Karena permintaan Ayah, untuk Amara melanjutkan kuliah setelah lulus. Dan Amara ingin memenuhi keinginan Ayah tersebut."