Sementara di kota yang lain, tepatnya di Palangkaraya Ada seorang gadis yang masih berusia 18 tahun.
Gadis itu memiliki paras yang begitu cantik. Karena kecantikan gadis itu, banyak para pria yang datang ke rumahnya untuk melamar menjadi istri.
Salah satunya Farid. Pria dewasa yang sudah berusia 25 tahun. Ia sudah lama menyukai gadis itu dan akan mempersunting gadis itu menjadi istri setelah sang gadis lulus dari SMA-nya. Yang terhitung kurang tiga bulan lagi, gadis itu lulus.
Malam itu Farid mengutarakan keinginannya pada sang Mama, untuk mempersunting Amara~nama gadis itu.
"Ma, Farid ingin melamar Amara menjadi istri. Tolong Mama kabulkan keinginan Farid." Pinta pemuda itu ke Mamanya.
"Amara? Amara anaknya tante Jihan?" tanya Mamanya balik.
"Iya, Farid sudah menyukai Amara sejak lama, Ma. Tapi sayangnya Amara sudah menolak perasaan Farid." Kata pemuda itu.
Bukannya apa, Amara tidak menerima perasaan Farid, karena pemuda itu terkenal dengan tabiatnya yang begitu urakan. Di usia yang sudah 25 tahun, kesehariannya ia habiskan hanya untuk bersenang-senang saja. Tidak ada niat untuk mencari pekerjaan. Mungkin karena Farid berasal dari keluarga yang berada. Sehingga ia enggan untuk bekerja.
"Tapi ..., Amara tidak sederajat dengan kita, Nak. Mereka dari kalangan orang bawah." Ucap Mama Farid yang sudah menghina keluarga Amara.
Amara memang dari keluarga sederhana. Ayahnya sudah meninggal dan ia hanya tinggal bersama sang ibunya dan adik lelakinya yang berusia 16 tahun.
"Tapi Farid mencintai Amara, Ma."Rengek pemuda itu.
"Kalau Mama nggak mau menikahkan aku sama Amara. Aku akan tinggalin Mama dan pergi jauh dari sini. Apa Mama mau?" ancam Farid.
Anak dan ibu itu sekarang sedang duduk santai di ruang keluarga sambil menonton televisi. Farid pun hanya tinggal bersama sang Mamanya saja. Sedangkan sang Papa sudah lama meninggal semenjak Farid masih di dalam kandungan sang Mama. Untungnya sepeninggalan sang Papa, Farid beserta sang Mama mendapatkan warisan yang begitu berlimpah. Hingga tidak perlu lagi untuk sang Mama bekerja. Papanya merupakan juragan tanah di kota itu dan tanahnya pun tersebar di beberapa daerah.
Salah satu tanah mereka dibeli oleh Erkan untuk pembangunan perumahan, karena Erkan tertarik dengan peluang bisnis perumahan di kota tersebut. Karena itulah Erkan pun berencana membangun rumah untuk tempat tinggalnya saat ia datang ke kota itu.
"Tapi gadis itu miskin, Nak. Mama takut ia hanya menginginkan harta kamu saja." Ujar Mamanya Farid.
"Nggak, Ma. Farid tahu, kalau Amara bukan gadis seperti itu. Buktinya ia selalu menolak cintaku." Kata Farid jujur dan tampak raut wajahnya begitu sedih.
"Ma, Farid mohon." Pintanya yang sudah bersimpuh dihadapan sang Mama.
"Amara sudah menolak kamu. Terus kenapa kamu ingin melamarnya, Hem?"
"Pokoknya, Farid nggak mau menikah dengan gadis manapun, kecuali sama Amara. Pokoknya, Mama harus berhasil melamar Amara untuk Farid. Jika, Mama gagal melamar gadis itu. Jangan harap, Mama bisa bertemu dengan Farid lagi. Aku akan pergi jauh dari Mama dan nggak akan pulang." Ancam pemuda itu.
Mendengar ancaman dari sang putranya, Mama Farid pun terpaksa akan melamar Amara. Meski dalam hati tidak rela memiliki menantu dari keluarga miskin.
"Baiklah, Mama akan mencobanya besok. Mama akan bicara langsung ke ibunya Amara." Janji sang Mama, yang membuat Farid bahagia. Tidak henti-hentinya pemuda itu membayangkan wajah Amara yang tersenyum kepadanya. Dan akan menjadi istrinya secepat yang Farid ingin, kan.
"Terima kasih, Ma." Ucap Farid dengan bibir selalu mengukir senyuman. Seperti pemuda yang baru jatuh cinta.
***
Pagi itu Erkan pun terburu-buru melakukan sarapan paginya. Pria itu hanya memakan kebab yang ia pesan dari kedai Aslan. Pagi-pagi sekali Erkan sudah memesan makanan kesukaannya itu. Dan salah satu anak buah Aslan mengantarkan pesanan itu ke Apartemen pria itu.
Erkan pun menghabiskan sarapannya, setelahnya pria itu gegas keluar dari Apartemen. Sebentar lagi jam keberangkatan pesawat dari Jakarta Palangkaraya mendarat. Erkan tidak ingin ketinggalan pesawat itu.
"Angga, sekarang kamu berada di mana?" tanya pria itu.
"Saya sudah sampai, Bos. Sekarang menunggu di lobby Apartemen."
"Baiklah, aku akan segera turun." Ucap Erkan yang sudah siap dengan pakaian santainya, celana jeans dan kemeja putih lengan pendek, tidak lupa menggunakan kacamata hitamnya, yang membuat pria matang itu mempesona.
Erkan pun menarik kopernya menuju di mana sang sekretaris menunggunya.
"Sudah lama, sampainya?" tanya Erkan yang menyerahkan kopernya ke Angga, untuk diletakkan di bagasi mobil.
"Baru saja, Bos!" kata Angga, setelah sekretaris itu menutup bagasi kembali. Angga pun membukakan pintu mobil untuk Bosnya itu di bagia kursi tengah.
"Silakan, Bos!" ucapnya.
"Terima kasih," balas Erkan.
Angga pun melangkah dan memutari mobilnya menuju kebagian kursi mengemudi.
"Percepat jalannya, Ga!" perintah Erkan.
"Saya tidak mau ketinggalan pesawat. Lagian kenapa, sih, kamu memesan tiket yang jadwal keberangkatannya pagi sekali." Omelnya.
"Karena pesawat keberangkatan ke Palangkaraya adanya hari ini saja, Bos. Dan di jam sekarang. Selanjutnya sekitar dua hari lagi baru ada penerbangan ke sana." Ujar Angga yang melirik sang Bos dari kaca spion di atas dasboard.
"Oh, ya sudah percepat saja jalannya, biar segera tiba di bandara." Perintah Erkan lagi.
"Siap, Bos!"
"Doni, sudah kamu hubungi. Untuk menjemput saya di Jakarta?" tanya sang Bos, yang fokus dengan tablet yang ada di tangannya untuk mengecek beberapa email yang dikirim oleh Asistennya.
"Sudah, Bos." Sahut Angga yang melirik atasannya itu dari kaca spion lagi.
Mobil Angga pun sudah tiba menuju Bandara. Erkan pun sudah keluar dari mobil itu dan menuju lobby bandara, melakukan check-in dan pengecekan barang bawaan. Setelah boarding pass, Erkan menunggu instruksi keberangkatan. Untungnya pesawat yang Erkan naiki belum melakukan pemberangkatan.
Sekitar hampir dua jam. Akhirnya pesawat yang ditumpangi Erkan tiba di bandara Tjilik Riwut. Dan Doni pun sudah menunggu sang Bos datang.
Doni menghampiri sang Bos dan membawakan koper milik Bosnya itu.
"Bos, mau ke lapangan dulu atau ke hotel terlebih dahulu?" tanya Doni yang menawarkan Bos-nya itu untuk mengecek lahan untuk pembangunan perumahan di kota ini.
"Kita ke lapangan dulu. Saya mau melihat bagaimana pekerjaan kamu di sini!?" perintah atasan Doni itu.
"Dengan senang hati, Bos. Dan saya yakin Anda puas dengan hasilnya," ucap Doni yang berbangga diri dengan hasil pekerjaannya.
"Kuharap begitu." Kata Erkan dengan tampang datarnya.
Mobil pun melaju membelah jalanan kota Palangkaraya. Erkan nampak senang dengan suasana di kota cantik ini. Karena udaranya masih bersih dan sehat. Apalagi di kiri kanan jalan masih di tumbuhi pepohonan yang tampak asri.
Itulah salah satu daya tarik kota cantik ini. Selain keramahtamahan warganya dan di kota ini penduduknya pun hidup selaras dan saling membantu.