"Adopsi?" tanya Raka Heran.
"Maksud kamu mengadopsi Anak?" sekali lagi Raka memastikan jika pendengarannya tidak salah, akan niat yang di maksud sahabatnya Erkan. Siang ini Raka menyambangi kantor sang sahabat untuk memastikan kondisi kesehatan si duda itu.
Tidak ada angin, tidak ada hujan Raka yang baru duduk di sofa di kaget kan dengan pernyataan Erkan yang ingin mengadopsi seorang anak.
"Iya, aku ingin mengadopsi seorang anak laki-laki. Siapa tahu ada salah satu pasien kamu di klinik yang mau memberikan anaknya untukku. Dan aku akan membayarnya, semuanya." Ujar Erkan yang sudah bangkit dari kursi kerjanya dan melangkah menuju ke sofa yang mana sudah ada Raka duduk di situ.
Erkan mendudukkan pantatnya di sofa kecil yang ada di sebelah kiri Raka. Kebetulan Raka duduk di sofa panjang.
"Bagaimana menurut kamu?" tanya Erkan yang meminta pendapat ke sahabatnya ini. Hanya Raka lah orang yang tepat untuk dimintai pendapat. Sementara Aslan tidak tahu menahu dengan masalah yang Erkan hadapi.
"Kenapa harus mengadopsi anak, sih? Lebih baik kamu bersama Tantri untuk membesarkan anak yang masih ia kandung." Saran Erkan, sambil dokter muda itu mengeluarkan alat untuk mengecek tekanan darah untuk Erkan.
"Ck," Erkan berdecak dan menolak dengan usulan yang Raka ucapkan. "Aku tidak ingin mengasuh seorang anak dari hasil perselingkuhan. Apalagi dari hasil berzina. Aku tidak sudi. Lagian anak itu kan masih memiliki Ayah."
"Siapa?" tanya Raka penasaran. Ia menanyai Erkan siapa pria yang sudah berselingkuh dengan Tanti, hingga membuat istri sahabatnya itu hamil.
"Sudahlah. Nanti kamu juga tahu sendiri, siapa orangnya. Yang penting sekarang kamu cepat selesai kan tugasmu. Sebelum kamu balik ke rumah sakit.
Tugas yang di maksud Erkan adalah, Raka harus segera menyuntikan vitamin untuk Erkan. Untuk kesehatan pria itu.
"Kenapa kamu tidak mencoba berobat kembali, Er? Siapa tahu masih ada kesempatan untuk sembuh. Asal kamu mau berusaha. Aku yakin penyakit kamu itu bisa disembuhkan secepatnya." Saran Raka.
"Untuk apa? Setelah perceraian ku dengan Tantri beres. Aku tidak ingin menikah lagi!” ucapnya sambil merapikan lengan bajunya yang ia gulung setengah, saat Raka menyuntikkan vitamin barusan.
"Sampai kapan? Sampai kapan kamu harus hidup sendiri? Paling tidak, ada yang menemani kamu di masa tua nanti." Ujar sang sahabat.
"Aku takut gagal lagi. Dan perselingkuhan itu terulang kembali. Cukup dua kali aku memasuki ruang pengadilan agama. Dan sungguh, itu membuat aku malu," kata Erkan yang menyandarkan tubuhnya di sandaran sofa dengan kedua kaki yang sudah diangkat ke atas meja dan menyilang, dan kedua tangan bertumpu di kiri kanan tangan sofa. Dengan wajah menghadap ke atas langit-langit ruangan yang berwarna putih.
Sesaat pria itu memejamkan matanya. Karena agak mengantuk. Ternyata obat yang diberikan oleh Raka adalah vitamin untuk Erkan tidur. Agar pria itu mengistirahatkan tubuh lelahnya.
"Aku tahu! Kamu belum bisa melupakan Bella kan? Kamu masih mencintai wanita itu kan?" tanya Raka serius.
"Jujur, aku belum bisa. Kamu tahu sendiri. Wanita itu merupakan cinta pertamaku. Yang membuat dadaku bergetar dan merasa nyaman." Ungkap Erkan jujur dengan apa yang ia katakan.
"Tapi wanita itu yang sudah membuat kamu menderita dengan pengkhiatannya, Er. Ingat itu." Ucap Raka yang menekan kan kata pengkhianat dihadapan sang sahabat.
"Aku tahu, Ka. Tapi bodohnya aku. Aku memaafkan semua pengkhianatan yang diperbuat Bella. Padahal wanita itu ternyata berselingkuh dengan rivalku sendiri. Hah betapa bodohnya aku, Ka." Ucap Erkan yang tertawa bermaksud mengejek dirinya sendiri atas kebodohannya itu.
"Sudahlah. Lupakan semua, dan bangkitlah kembali. Jangan biarkan orang yang sudah membuatmu menderita merasakan kebahagiaan di atas penderitaan kamu. Buktikan kepada Bella. Jika kamu juga layak untuk bahagia." Saran Raka.
"Membuktikan seperti apa, Ka. Kamu lihat saja sendiri. Aku ingin mencoba bahagia bersama Tantri. Tapi nyatanya wanita itu pun sama. Seorang pengkhianat juga dan tukang selingkuh." Ucap Erkan yang terlihat geram mengingat kelakuan istri yang keduanya itu.
"Kamu harus move-on. Carilah wanita lain di luaran sana. Siapa tahu ada yang lebih setia dengan kamu. Dan mau menerima kekurangan kamu itu. Dan katakan dengan jujur akan penyakitmu itu. Aku yakin wanita itu tidak akan berani menyelingkuhi kamu. Ceritakan apa penyebab kamu bercerai dengan Bella dan Tantri. Katakan saja yang sejujur-jujurnya." Saran Raka lagi. Ia tidak ingin melihat sahabatnya ini merasakan kesepian dan sendirian.
Tidak terasa sudah hampir satu jam lamanya dua sahabat itu mengobrol.
Erkan pun yang sudah diberi suntikkan oleh Raka mulai mengantuk karena reaksi obat. Samar-samar ia masih mendengarkan suara Raka yang ingin berpamitan untuk kembali ke rumah sakit.
"Er, aku balik ke rumah sakit dulu. Istirahatlah!" perintah Raka dan berpamitan setelah dokter muda itu membersihkan alat kerjanya dan memasukkan ke dalam tas dokter.
"Hm, hati-hati. Tolong minta Angga mengunci pintu ruangan aku dari luar. Dan perintahkan juga ke dia, untuk tidak menerima tamu. Aku ingin istirahat sebentar." Pinta Erkan ke Raka untuk menyampaikan perintahnya kepada Angga sang sekretaris itu."
"Baiklah." Ucap Raka.
"Istirahatlah." Perintahnya kembali.
Kemudian dokter muda itu bangkit dari duduknya. Menepuk pundak sebelah kanan sang sahabat dan memberi semangat untuk pria itu, sebelum ia melangkah keluar. "Semangat dan bangkitlah," kata Raka.
Lalu pria itu melangkah ke arah pintu, membukanya dan keluar. Dan menutup kembali pintu ruangan CEO itu.
Setelahnya melangkah mendekati meja sekretaris Erkan, menyampaikan pesan yang sudah di perintahkan pria tersebut.
"Angga," panggil Raka yang sudah berdiri di meja sekretaris Erkan.
"Yes, dokter." Angga menjawab dan bangkit dari duduknya.
"Tolong kunci ruangan Erkan dari luar. Kebetulan Bos kamu itu sedang beristirahat tidur. Dan pesan dari Erkan. Jika ada orang yang datang bertamu, suruh pergi. Bos kamu tidak ingin istirahatnya di ganggu." Ucap Raka.
"Baik, dokter! Akan saya kerjakan sesuai perintah Bos." Kata Angga yang sudah mengangguk menyetujui perintah Bos-nya itu.
"Terima kasih. Aku pergi dulu." Pamit Raka. Tidak lupa dokter itu menepuk-nepuk pundak Angga. Memberikan semangat kepada sekretaris Erkan itu.
Angga pun tidak tinggal diam, ia melangkah di depan Raka. Bermaksud membukakan pintu lift untuk dokter muda itu.
"Silakan Tuan. Saya akan mengantar Anda menuju ke lobby." Ucap Angga yang mempersilakan Raka masuk ke dalam lift.
"Tidak usah. Cukup sampai di sini saja. Kamu kembalilah bekerja. Kamu tidak ingin kan kena marah sama Bos kamu itu?"
"Tidak, Dok!"
"Nah, kalau begitu. Kembalilah bekerja." Perintah Raka.
"Siap, Dokter." Angga memberi hormat ke Raka.
"Hati-hati, Dokter." Ucapnya lagi saat pintu lift tertutup. Raka hanya mengangguk dan tersenyum.
Setelah pintu lift tertutup, Angga pun kembali ke mejanya dan mengunci pintu ruangan Bosnya, sesuai perintah.
"Sampai kapan, kamu seperti itu, Er. Aku tahu, pasti kamu susah tidur karena masih saja memikirkan mantan istrimu Bella." Gumam Raka sendiri yang masih berada di dalam lift.
Raka merasa prihatin dengan nasib sang sahabat. Masa depannya hancur oleh wanita yang sama, dan bodohnya pria ini masih saja mengharapkan mantan istrinya itu kembali. Yang kenyataannya sudah berkali-kali menyelingkuhi Erkan.
Sementara di tempat lain Tantri sedang berpacu dengan kegiatannya di sebuah Apartemen. Wanita itu sedang menyalurkan hasratnya bersama sang kekasih yang merupakan Ayah dari anak yang ia kandung.
"Jadi, bagaimana hasil persidangan perceraian kamu kemarin?" tanya sang pria yang berada di bawah Tantri.
Karena kehamilan Tantri yang sudah memasuki bulan kelima. Jadi wanita itu memilih bermain di atas. Agar kandungannya aman.
"Hakim tidak menyetujui perceraian itu. Karena Erkan tidak ada cukup bukti."
"Bagus. Kamu harus mencari cara agar Erkan tidak menceraikan kamu. Dan membiarkan anak kita ini," Surya membelai perut Bella. "Menjadi ahli waris atas kekayaan yang Erkan miliki.
Ternyata pria yang berselingkuh dengan Tantri adalah Surya, yang merupakan suami dari kakak Tantri. Mereka sudah melakukan perselingkuhan itu setahun yang lalu. Mereka melakukannya dengan sengaja. Agar Tantri hamil dan anak yang dikandung Tantri menjadi anak Erkan. Namun mereka salah, ternyata kehamilan Tantri tidak diakui oleh Erkan dari hasil perbuatannya.
"Tapi ... Erkan meminta dia dan anak ini menjalankan tes DNA, setelah anak ini lahir." Kata Tantri yang sudah menyelesaikan hasratnya bersama Surya.
Surya bukannya takut, malah ia mentertawakan kebodohan Erkan.
"Kamu tenang saja, sayang. Kita akan memanipulasi surat hasil tes itu nantinya. Biar aku yang melakukannya. Kamu cukup diam. Seperti kita menjebaknya waktu itu. Oke!"
Namun sayangnya perselingkuhan Surya dan Tantri sudah diketahui Erkan. Pria itu tidak akan bisa dibodohi lagi.
"Kamu tambah seksi, saat lagi hamil begini." Ujar Surya kembali mencumbu Tantri.
"Apa Erkan tidak tertarik dengan tubuhmu?" tanya Surya yang keheranan, saat ia mendengar cerita Tantri.
Kalau Erkan ternyata tidak pernah menyentuh Tantri terlebih dahulu dalam keadaan normal. Kecuali Tantri memberikan obat perangsang untuk Erkan. Barulah pria itu mau menyentuh tubuh Tantri dan mencumbunya karena hasrat yang sudah menggebu karena obat perangsang.
Selama satu tahun menikah, bisa di hitung Erkan menyentuh Tantri. Saat ia dijebak. Dan setelah menikah hanya sebanyak dua kali pria itu menyentuh dan mencumbu istrinya tersebut.
Itupun karena Tantri memasukkan obat perangsang ke dalam minuman Erkan yang di buatkan oleh pembantunya di rumah, tanpa ada yang mengetahuinya. Yang kedua kali, saat Erkan pulang dalam keadaan mabuk sehabis menghadiri sebuah pesta rekan bisnisnya.
Tantri pun kembali mengambil kesempatan dengan keadaan Erkan yang tidak sadarkan diri. Dengan kejadian itulah Tantri langsung menyatakan jika ia hamil.
Erkan tidak mempercayainya dan menuduh Tantri berselingkuh.
"Bagaimana, jika Erkan mengetahui, kalau kita sudah membohongi dirinya dengan tes DNA palsu itu, Mas?" tanya Tantri yang masih betah memeluk tubuh Surya.
"Erkan tidak akan tahu. Aku akan bekerjasama dengan salah satu dokter di rumah sakit untuk memalsukan surat itu. Pokoknya kamu tenang saja, sayang."
"Lalu, setelah berhasil. Bagaimana dengan hubungan kita. Karena aku tidak ingin menjauhi kamu, Mas. Jujur aku menikmati kebersamaan kita. Aku tidak pernah dipuaskan Erkan. Seperti yang aku ceritakan ke kamu Erkan itu tidak bernafsu dengan aku. Sepertinya ia masih mengingat, Mba Bella. Mantan istrinya itu."
"Tapi, dia normal kan? Maksud aku saat kalian bercinta. Erkan terlihat normal kan?"
"Normal, malah ia terlihat begitu buasnya saat bercinta. Tapi dalam keadaan mabuk dan karena pengaruh obat perangsang. Maka gairah Erkan begitu tinggi." Ungkap Tantri.
"Hm. Mungkin bayang-bayang wajah mantan istrinya masih melekat di ingatannya. Karena itulah ia tidak ingin menyentuh wanita manapun. Kasihan pria itu, mencintai wanita begitu dalamnya dan ternyata dikhianati." Ucap Surya mengejek kebodohan Erkan.
"Iya, sebenarnya aku merasa kasihan dengan Erkan dan cemburu. Ia begitu mencintai mantan istrinya itu. Sampai-sampai tidak ingin menyentuh wanita lain," ungkap Tantri yang sebenarnya di dalam hati merasa sakit karena tidak pernah dianggap Erkan sebagai istri yang patut dicintai.
Saat di luar rumah Erkan seakan bahagia hidup bersama Tantri. Namun yang sebenarnya mereka layaknya orang asing saat berada satu atap. Dan hubungan mereka itu tidak ada yang mengetahuinya.
"Tenang saja. Aku akan tetap melayani dirimu. Kita akan terus melakukannya dengan syarat ... jangan sampai ada yang tahu dengan hubungan kita ini. Baik itu Erkan maupun istriku," kata Surya meyakinkan Tantri.
"Hm. Aku akan merahasiakan hubungan kita ini. Mas juga harus merahasiakannya. Aku takut kena amukan istri kamu. Meski kami saudara kandung. Pasti ia akan merasa sakit hati, jika tahu suaminya sudah berselingkuh. Apalagi selingkuhan suaminya itu, adalah adik kandungnya sendiri."
"Hm, tenang saja. Untuk sekarang kita tidak usah memikirkan masalah itu dulu. Yang penting hari ini kita bersenang-senang saja. Dan pastikan Apartemen ini jangan pernah ada yang mengetahuinya. Kalau aku sudah membelinya." Pinta Surya.
"Baiklah," ucap Tantri.
Surya pun kembali memeluk tubuh Tantri. Untuk hari-hari berikutnya kemungkinan wanita itu akan tidur di Apartemen ini bersama Surya. Karena di rumah Erkan ia hanya tidur sendiri saat asisten rumah tangganya pulang. Apalagi ia tahu Erkan pasti tidak akan pernah pulang ke rumah itu lagi.
Mengingat pria itu sudah mengucapkan kata talak di hadapan Tantri.
Di dalam hati Tantri, sebenarnya terasa sesak, mengingat kelakuan Erkan yang begitu dingin dengan dirinya.
Sebenarnya wanita itu begitu mencintai Erkan. Namun sayangnya karena nafsunya Tantri memilih berselingkuh di belakang Erkan.
Padahal Tantri tahu. Jika Erkan membenci yang namanya perselingkuhan. Tapi bukan kesalahan Tantri, jika ia harus mencari kehangatan di luaran, tapi karena bersama Erkan ia tidak mendapatkan kehangatan itu. Apalagi di atas ranjang.
Tidak ada yang salah dengan cinta.
Hanya saja tempatnya yang berbeda.
Cinta membawakan bahagia, jika di tempat yang benar.