Erkan pun meletakkan kembali ponsel ke atas meja kerjanya. Kemudian berdiri menghadap dinding kaca, menatap ke arah luar gedung Apartemen. Yang mana di luar sana jalan raya sudah mulai padat, dan sedikit macet karena kendaraan bermotor dari berbagai jenis sudah berlalu lalang.
Erkan masih terpaku berdiri di ruang kerjanya itu. Rasanya ia enggan untuk berangkat ke kantor. Namun, hari ini ada jadwal meeting yang harus ia hadiri.
Sebelum ia berangkat ke Kalimantan. Erkan ingin menyelesaikan tugas yang sedang ia kerjakan di Jakarta. Agar saat ia di Kalimantan tidak ada pekerjaan yang mengganggunya.
Erkan ingin fokus menyelesaikan proyek yang ada di Kalimantan dan merancang rumahnya yang ingin ia bangun di sana.
"Seandainya aku masih bersama kamu, Bel. Rumah itu akan aku hadiahkan untuk kamu. Tapi, sayangnya kamu memilih pria lain." Ucap Erkan lirih yang mengingat kembali mantan istrinya Bella.
"Mengapa begitu susah untuk aku melupakan kamu, Bel. Meskipun kamu sudah menyakiti hatiku. Rasanya, aku tidak rela melihat kamu bahagia dengan orang lain, apalagi hidup kamu sekarang terlihat sempurna dengan hadirnya seorang anak. Sedangkan aku akan terus hidup sendiri. Tanpa istri dan anak untuk menjadi pewaris perusahaan milik keluargaku ini." Keluh Erkan yang mengingat kembali akan nasibnya yang tidak bisa memiliki seorang anak.
"Ayah ... Maafkan Erkan." Lirihnya sambil mengingat wajah lelah sang Ayah saat itu yang menginginkan seorang cucu, dari Erkan.
Namun sayangnya beliau sudah pergi dari dunia sebelum Erkan mewujudkan keinginan Ayahnya.
"Erkan tidak bisa mewujudkan keinginan Ayah yang ingin memiliki cucu. Pewaris perusahaan kita selanjutnya. Sekali lagi Erkan minta maaf, Ayah." Lirihnya dengan wajah menatap langit melalui dinding kaca yang begitu lebar itu.
"Mungkin perusahaan ini akan Erkan hibahkan, saja. Setelah anakmu ini menua!" gumamnya.
Erkan pun menghembuskan napasnya. Hanya bisa berpasrah diri akan nasibnya kelak. Menua dengan hidup sebatang kara. Tanpa istri tanpa anak.
"Mungkin ini balasan dari Tuhan, karena tiga tahun lalu aku sudah mengabaikan Ayah. Meninggalkan Ayah sendiri di rumah dan kesepian. Kini Erkan pun merasakan kesendirian itu, Yah." ucapnya pilu. Tanpa terasa air mata mengalir di sudut pipinya.
"Karena Erkan kurang memperhatikan Ayah dan sibuk dengan kesenangan di luar sana. Hingga Ayah sakit. Erkan tidak tahu." Ungkapnya yang berbicara sendiri.
Kini Erkan pun merasakan sendiri, dan masih bingung. Bingung memikirkan bagaimana ia menjalankan hidupnya nanti setelah usianya menua, tanpa ada anak dan istri.
Terlintas di benaknya yang ingin mengadopsi seorang anak dari panti asuhan. "Apa baiknya aku mengadopsi anak saja, ya?" gumamnya dalam hati.
Larut dalam lamunannya, Erkan pun tersadar karena dering ponsel miliknya. Erkan meraih kembali ponsel miliknya yang berada di atas meja kerja.
"Tantri?" lirihnya, ketika nama istrinya itu muncul di layar ponsel.
Namun, Erkan tetap saja mengangkat panggilan telepon itu. Karena rasa penasaran dengan apa yang ingin disampaikan oleh wanita itu lagi.
"Halo. Ada apa?"
"Halo, sayang. Kamu tidur di mana tadi malam, hah?" tanya Tantri dengan nada ketus.
"Bukan urusan kamu. Jangan pernah mengatur hidup aku. Kita sudah tidak ada hubungan apa-apa lagi sekarang." Kata Erkan dengan suara tegas di balik ponsel.
"Tunggu, Er. Kamu nggak bisa seperti ini. Kita masih berstatus suami istri lho!!" kata Tantri di seberang sana dengan suara melengking. Yang membuat Erkan mengelus dadanya.
Dulu dengan Bella, Erkan merasakan nyaman karena kedewasaan wanita itu. Namun dengan Tantri berbanding terbalik. Tantri selalu menguji kesabaran Erkan terus menerus karena sifat kekanakan dirinya.
"Mantan!!! Dan kamu sudah aku jatuhkan Talak kan? Hanya saja pengadilan Agama yang belum menyetujui gugatan cerai itu. Dan dalam hukum Islam kita tidak boleh tinggal bersama lagi. Karena aku sudah men-talak kamu. Paham." Terang Erkan di telepon.
"Tapi aku nggak mau bercerai sama kamu, Er. Dan bagaimana nasib anakku nantinya tanpa seorang Ayah." Kata Tantri yang berpura-pura sedih untuk menarik simpatik Erkan.
"Terserah!!! Kamu cari saja Ayah biologisnya. Karena aku sudah katakan, kalau bayi itu bukan anakku." Erkan pun mematikan panggilan teleponnya sepihak.
"Bisa-bisanya. Pagi-pagi begini membuat darah tinggi naik." Gumam Erkan.
Setelah mengakhiri perbincangan dirinya dengan Tantri. Erkan pun melangkah keluar dari ruang kerjanya menuju ke kamar miliknya yang berada di seberang ruang kerja.
Membuka pakaiannya dan celana pendeknya, menyisakan boxernya saja menuju ke kamar mandi. "Lebih baik aku berendam sebentar. Agar penatku hilang," gumamnya.
Erkan pun mencelupkan tubuhnya ke dalam bathub itu, yang sebelumnya sudah ia isi dengan air hangat dan beberapa tetes sabun cair, yang beraroma terapi di dalam bathub itu agar saat berendam Erkan merasakan sensasinya.
Hampir 20 menit Erkan berendam di bak mandi. Andai saja dering telepon tidak menyadarkan dirinya yang hampir terlelap di bak mandi tersebut. Ia melirik ponselnya dan itu ternyata masih dari orang yang sama yaitu Tanti. Tapi Erkan mengabaikan panggilan tersebut. "Sialan , gara-gara wanita itu, membuat mood mandi ku langsung hilang," gumamnya.
Erkan pun keluar dari bathub dan membilas tubuhnya kembali di bawah guyuran air dari shower.
***
Erkan sudah turun dari mobilnya dengan langkah panjangnya pria itu terburu-buru menuju ke kantor setelah sekretarisnya menghubungi dirinya yang masih asyik menikmati sarapan paginya yang tertunda beberapa jam. Ya saat ia selesai dari mandinya waktu sudah menunjukkan jam 10 pagi.
Sesampai di ruangannya, sang sekretaris yang berada di meja luar langsung menghampiri sang bos yang baru duduk di kursi singgasananya.
"Ada apa?" tanya Erkan langsung kepada sekretarisnya itu.
"Tanah kosong yang ada di Kalimantan akhirnya sudah di lepas si pemilik. Beliau sudah menjual tanah itu ke perusahaan Anda, Bos." Terang sang asisten yang baru muncul di ambang pintu.
"Aku bertanya sama Angga. Malah kamu yang menjawab. Bikin kaget saja." gerutu Erkan ke Dino sang asisten.
"Maaf, Bos." Ucap Dino dengan menampilkan senyuman.
Erkan pun hanya mendengus. Mendengar ucapan sang asisten.
"Selanjutnya apa yang kita lakukan, Bos?" tanya Angga sang sekretaris. Dan diangguki sang asisten.
"Kamu urus semua surat-suratnya dan kirim ke mereka yang ada di Kalimantan untuk mengurus semuanya. Selebihnya biar Dino yang mengurus." Perintah Erkan ke sekretarisnya tanpa menatap kedua wajah orang yang ada dihadapannya itu, karena Erkan asyik menatap laptop miliknya.
"Terus kapan kita mulai melakukan pekerjaannya, bos?" Itu bukan sang sekretaris yang bertanya melainkan si Asisten.
Erkan menutup layar laptopnya, lalu menatap serius pada asistennya. "Terus apa gunanya kamu Dino, sebagai asisten aku selama ini?"
"Kamu bisa hubungi para pekerja di sana. Alat beratkan masih tersedia di sana. Perintahkan mereka untuk menggarap tanah itu. Sampai bersih. Agar tanah itu bisa secepatnya di bangun perumahan.
Dino mengangguk patuh pada bosnya itu. Sedangkan sang sekretaris yang tadi keluar, kini sudah masuk kembali dengan membawa beberapa file yang dimintai persetujuan untuk di tanda tangani sang Bos.
Dino pun sudah siap-siap ingin undur diri dari hadapan bosnya.
"Oke, Bos. Saya undur diri dulu. Dan langsung akan menuju ke bandara. Saya akan berangkat sekarang juga ke Kalimantan untuk mengawasi pekerja di sana." Kata Dino.
Rindu itu manusiawi.
Namun, jangan siksa dirimu hanya karena rindu.