Tak butuh waktu lama mobil Erkan pun memasuki basemen Apartemennya, pemuda itu turun terlebih dahulu. Setelah itu ia menuju ke arah pintu mobil di sisi kanan. Membukakan pintu mobil untuk Bella.
Bella pun turun dari mobil, tidak lupa wanita itu menampilkan senyuman termanisnya untuk Erkan. "Terima kasih, Er," ucapnya saat ia sudah berdiri dihadapan Erkan. Erkan membalasnya dengan tersenyum dan menutup kembali pintu mobil.
Erkan mengeluarkan kantong plastik yang berisi berbagai macam makanan dari bagasi mobil dan menentengnya dengan kedua tangan. "Perlu bantuan?" tanya Bella yang melihat Erkan tampak kesusahan memegang dua kantong plastik di tangannya.
"Nggak usah, aku bisa, kok, Bel," katanya.
"Sepertinya kamu keberatan membawa
itu semua," tunjuk Bella ke kantong plastik yang berada di tangan Erkan.
"Aku laki-laki. Masa bawa barang begini saja harus mengeluh keberatan. Ini ringan, lho," kata Erkan yang terus berjalan menuju lift Apartemen. Sedangkan Bella berada di sampingnya.
"Iya, iya. Aku percaya, kok. Kalau kamu itu lelaki yang kuat," ujar Bella sewot.
Beberapa menit kemudian akhirnya mereka pun sampai ke unit Apartemen milik Erkan.
Erkan meminta Bella menekan kode pin yang ada di samping pintu Apartemen, dan pintu itu pun terbuka.
"Ayo, silakan masuk," ajak Erkan yang sudah masuk terlebih dahulu ke Apartemennya.
Bella pun masuk dan mengiringi langkah Erkan menuju ke dalam Apartemen. Alangkah terkejutnya Bella, jika Apartemen milik pemuda itu nampak begitu besar dan mewah.
"Silakan duduk, aku pamit sebentar ingin membersihkan diri dan mengganti pakaian. Kalau mau minum ambil aja yang di dalam kantong plastik. Karena di lemari pendingin belum ada apa-apa."
"Santai aja. Ntar kalau haus aku bisa kok nyari sendiri. Kamu mandi aja dulu sana!" ucap Bella sambil memerintah Erkan segera membersihkan diri.
Erkan pun mengangguk. Dan ia gegas masuk ke kamarnya. Sudah merasa gerah ingin mandi.
Sedangkan Bella mengeluarkan sesuatu yang ada di dalam tasnya, serbuk yang berwarna putih dan ia memasukkan serbuk itu ke dalam kaleng minuman bersoda, yang akan ia berikan ke Erkan nantinya.
"Kamu akan aku jadikan b***k, dengan meminum obat ini aku yakin, kamu pasti akan ketagihan memintanya, Er." Bella bergumam sendiri sambil mengaduk minuman yang bersoda itu, yang kebetulan sudah ia tuang ke dalam gelas.
Erkan keluar dari kamarnya, dengan wajah yang sudah nampak fresh. Ia hanya menggunakan baju kaos putih dan celana pendek berwarna coklat dan terlihat begitu tampan. Meski masih remaja badan Erkan sudah terlihat otot-otot yang menonjol di bagian lengannya. Mungkin keseharian pemuda ini tidak pernah lepas dari olah raga.
"Minum, Er." Bella mencoba menawarkan minuman ke Erkan.
Minuman yang berada di meja makan. Yang sengaja Bella letakkan di situ.
Bella pikir Erkan akan menolaknya, ternyata pemuda itu mengangkat gelas tersebut dan meminum isinya sedikit demi sedikit.
"Ayo kita ngobrol di ruang tamu aja," ajak pemuda itu.
"Masa tamu diajak ngobrol di meja makan!" seru Erkan kembali, sambil ia melangkah ke arah ruang tamu dan diikuti Bella di belakangnya.
"Ya, nggak apa-apa juga, sih. Aku orangnya santai, kok. Dimana saja aku mau asal nyaman," kata wanita itu dengan mengeringkan mata sebelah, bermaksud menggoda Erkan, saat mereka sudah duduk di sofa ruang tamu. Yang mana Erkan duduk di sofa panjang dan Bella di sofa ukuran kecil.
Erkan terus meminum minuman bersoda itu, tanpa ia mencurigai apa-apa. Bella yang memperhatikannya hanya tersenyum menyeringai.
"Minumannya enak. Aku nggak pernah meminum minuman dengan rasa seperti ini," ujarnya.
"Itu minuman biasa aja. Minuman yang kita beli di supermarket tadi, kok."
"Tapi rasanya enak. Nggak seperti minuman yang biasanya. Dan tubuhku rasanya tenang." Ujar Erkan yang sudah merasakan sensasi dari minuman tersebut.
"Rasanya tubuhku melayang," ungkapnya.
"Benarkah?"
"Hm,"
"Aku yakin, kamu akan kecanduan dengan minuman itu," ucap Bella yang tetiba saja sudah berada di samping Erkan.
"Bel," panggilnya dengan suara yang agak serak dan mata mulai berkabut.
"Ada apa?" jawab Bella dengan begitu santainya sambil mengunyah kacang di mulutnya.
Mulut yang mengunyah itu membuat perhatian Erkan buyar. Apalagi bibir milik wanita itu yang berwarna merah merekah, membuat Erkan ingin menyentuhnya.
"Bel,"
"Hm,"
"Kok panas, ya."
"Panas? Nggak, kok. Malah dingin. Itu, AC-nya aja masih menyala," tunjuk Bella ke arah AC. Padahal ia tahu jika obat yang ia masukkan kedalam minuman Erkan sudah mulai bereaksi.
"Bel,"
"Hm,"
"Benarkan panas banget. Coba kamu sentuh badan aku. Apa badan aku memang panas? Apa aku mau demam, ya?
"Sebentar." Bella pun duduk menghadap Erkan dan menempelkan tangannya ke kening pemuda itu. Bermaksud memeriksa kondisi Erkan.
"Nggak panas, kok." Bella ingin menurunkan tangannya dari kening Erkan. Dan tangan itu di cekal Erkan. Sedangkan tangan yang satunya menarik tengkuk Bella. Erkan langsung meraup bibir seksi itu. Meski masih amatiran Bella menikmati permainan dari ciuman Erkan.
Bibir itu saling bertautan, saling membalas, saling melumat. Hingga nafsu Erkan sudah tidak bisa ia tahan lagi. Pemuda itupun menggiring Bella untuk melakukan yang lebih.
Meski Erkan masih polos, tapi pemuda itu sedikit banyaknya sudah mengetahui urusan orang dewasa yang berlainan jenis saat sudah berduaan.
Malam itulah awal dari kehancuran Erkan. Ia menjadi b***k seks, kecanduan akan obat-obatan terlarang. Kerap kali ia melakukan bersama Bella, berpesta bersama wanita itu dan kawan-kawannya.
Setiap mengadakan pesta, maka Erkan lah yang membayar semuanya. Bella benar-benar menguras uang pemuda itu.
Kini Erkan sudah lulus dari SMA nya, di usianya 18 tahun itu. Erkan ingin menikahi Bella. Atas saran dari sang Ayah. Sebenarnya sang Ayah tidak menyetujui hubungan Erkan dengan wanita itu. Namun Erkan tidak peduli. Jika Ayahnya melarang Erkan tidak ingin melanjutkan memimpin perusahaan keluarganya.
Seperti malam ini setelah Erkan menghabiskan malamnya di Apartemen bersama Bella, sang Ayah menghubungi dirinya, memerintahkan pemuda itu untuk pulang ke rumah. Dan sesampainya di rumah untuk kesekian kalinya Erkan berdebat dengan sang Ayah masalah perusahaan dan wanita yang bernama Bella.
"Jika Ayah tidak menyetujui hubungan aku dengan Bella. Lebih baik Erkan pergi saja dari rumah ini. Dan Ayah carilah penerus untuk menjalankan perusahaan keluarga kita. Hibahkan saja perusahaan ini ke orang lain. Erkan tidak ingin melanjutkannya kalau Ayah melarang Erkan hidup bersama Bella.
Sang Ayah terkejut dengan keputusan sang Anak. Beliau tidak mungkin menyerahkan perusahaan itu untuk orang lain. Karena perusahaan yang beliau pimpin sekarang merupakan perusahaan turun temurun dari keluarga sang Ayah.
"Ayah nggak mungkin menyerahkan perusahaan ini ke orang lain, Nak. Perusahaan ini milik keluarga besar kita. Eyang kamu merintis perusahaan ini dari nol. Dan sudah seharusnya kamulah yang akan menjadi penerus selanjutnya.
"Erkan akan meneruskannya, asalkan Ayah menyetujui hubungan aku dengan Bella."
"Ayah sudah katakan ke kamu. Bella itu wanita yang tidak benar. Ia akan menghabiskan harta kamu aja. Dan umur kalian berbeda jauh, Nak." Ayah Erkan memperingatkan sang anak akan kelakuan Bella. Namun Erkan tidak peduli karena selama satu tahun ini pemuda itu merasa nyaman dengan Bella. Apalagi Bella sudah membuatnya menjadi lelaki perkasa saat di tempat tidur. Bella lah yang memberi pengalaman pertamanya untuk menjadi pria sejati.
Hanya wanita itu yang bisa memberikan kenyamanan untuk Erkan, selain sang ibu.
"Asal Ayah tahu. Bella lah yang meminta aku pulang ke rumah. Untuk bicara baik-baik ke Ayah. Kurang apa baiknya Bella. Kalau wanita lain, aku yakin pasti ia akan melarang Erkan menemui Ayah. Tapi Bella masih menghormati Ayah. Namun sayangnya Ayah menganggap Bella wanita yang tidak baik. Erkan kecewa sama Ayah," dengan wajah sendunya Erkan mengutarakan rasa kekecewaan terhadap sang Ayah.
"Bella akan merusak masa depan kamu, Nak. Percayalah dengan Ayah." Bujuk sang Ayah lembut.
"Aku mohon, Ayahlah yang harus percaya dengan Erkan. Bersama Bella aku akan bahagia dan dengan adanya Bella di samping Erkan perusahaan kita akan bertambah maju. Ayah tahu sendiri Bella wanita yang pintar dan pendidikannya pun tinggi."
'Ayah tahu, Nak. Tapi sayangnya kepintaran wanita itu tidak sebanding dengan kelakuannya. Apa kamu tidak tahu dengan perilaku wanita itu di luaran sana?' gumam sang Ayah dalam hati.
'Beberapa kali Ayah melihat wanita itu keluar masuk hotel,' batin Sang Ayah.
Karena rasa cintanya Erkan ke Bella, sehingga membuat lelaki itu menutup mata telinganya untuk melihat perilaku Bella di luaran sana.
Tidak ada yang salah dengan apa yang orang tua katakan. Orang tua hanya memperingatkan sehingga sang anak tidak salah dalam melangkah dan tersesat. Setelah terjadi pasti sang anak akan menyesal. Lalu bagaimana perasaan orang tua saat sang anak melakukan kesalahan itu. Sedangkan sang Ayah sudah memperingatkan ke anak. Pasrah itulah yang akan dilakukan sang Ayah.
"Terserah kamu, Nak. Ayah sudah memperingatkan ke kamu. Dikemudian hari jangan pernah menyesali dengan keputusan kamu ini. Ayah menyerah dan menyetujui hubungan kamu dengan wanita itu."
Erkan yang sudah hendak pergi dari hadapan Ayahnya pun menghentikan langkah dan membalikkan tubuhnya menghadap sang Ayah. " Ayah serius?" tanyanya dan tersenyum bahagia. Dan pemuda itu lalu mendekati sang Ayah dan memeluk tubuh yang nampak sudah terlihat kurus itu.
Semenjak sang istri tercinta meninggal Ayah Erkan sering sakit-sakitan, tanpa Erkan tahu. Karena pemuda itu hari-harinya ia pergunakan hanya untuk bersenang-senang saja dan pergi ke kampus pun sekenanya saja.
Selepas lulus SMA, Erkan melanjutkan kuliahnya di Universitas di Jakarta. Padahal dulu Erkan bermimpi dan berencana ingin melanjutkan berkuliah di Harvard bersama kedua sahabatnya yaitu Raka dan Aslan.
Namun Erkan membatalkannya dan memilih kuliah di Jakarta saja. Karena alasannya tidak ingin berjauhan dari sang kekasih yaitu Bella.
Padahal Erkan merupakan pemuda yang pintar dan cerdas. Namun dibodohi oleh cinta yang semu.
Hanya Erkan yang mencintai Bella. Sedangkan wanita itu hanya ingin menguras hartanya saja.
Hingga akhirnya Bella sekarang sudah menyelesaikan kuliahnya dan adiknya pun sudah menyelesaikan kuliahnya juga dengan hasil uang yang mereka dapat dari Erkan.