Erkan pun akhirnya menikahi Bella di saat usianya 20 tahun. Dan usia Bella 25 tahun saat itu.
Di tahun pertama, pernikahan itu terlihat begitu bahagia. Erkan yang di usianya 20 tahun sudah dimintai sang Ayah untuk melanjutkan tugas beliau dalam mengelola perusahaan.
Saat itu sang Ayah sedang berada di rumah sakit, dirawat karena penyakit sang Ayah yang sudah sangat parah. Erkan pun diminta sang Ayah mengunjungi beliau di rumah sakit, karena pria tua itu sudah punya firasat akan segera meninggal.
"Er," panggil sang Ayah yang melihat anak lelakinya membuka pintu kamar rumah sakit.
Dengan langkah lebarnya Erkan mendekati Ayahnya yang masih terkulai lemah di atas ranjang pasien.
Tanpa ia menyapa pak Yusuf yang ada di samping kiri ranjang sang Ayah. Pak Yusuf merupakan asisten sang Ayah di perusahaan.
"Ayah!!!" Erkan mencium tangan pria tua itu. Pria yang nampak terlihat begitu kurus. Dulu beliau begitu tampan dan gagah, semenjak istri beliau meninggal, secara perlahan tubuh yang gagah itu terlihat tampak layu dan kurus.
Dua bulan Erkan tidak mendengar kabar sang Ayah, karena pria itu menikmati bulan madu bersama istri tercinta di negara Paris. Tanpa ingin diganggu oleh siapapun.
"Sejak kapan, Ayah masuk rumah sakit?" tanya Erkan yang sudah duduk di pinggir ranjang di samping sang Ayah dengan menggenggam tangan pria tua itu.
"Dua Minggu yang lalu, Tuan." Pak Yusuf menjawab pertanyaan Erkan.
Sedangkan sang Ayah nampak berbinar karena melihat anak semata wayangnya begitu mengkhawatirkan beliau.
"Kenapa baru hari ini, Bapak menghubungi saya?!" tanya Erkan ke asisten sang Ayah dengan suara membentak.
"Maaf, Tuan. Sebelumnya saya sudah menghubungi Anda. Tapi saat itu istri Anda yang mengangkat panggilan. Saya sudah meminta Nyonya Bella menyampaikan tentang sakit Tuan Besar. Dan Nyonya mengatakan akan menyampaikan langsung ke Anda." Jelas pak Yusuf.
"Bella? Bella tidak pernah mengatakan apa-apa ke saya, Pak. Bapak jangan memfitnah istri saya. Di ponsel saya juga tidak ada panggilan dari nomor Bapak." Ujar Erkan yang tidak terima jika istrinya dipojokkan.
Dan pria itu berdiri menatap nyalang ke arah pak Yusuf. Sedangkan yang ditatap hanya menunduk saja, tidak berani membalas tatapan dari tuan mudanya.
"Sudah-sudah, tidak usah diperdebatkan lagi." Ujar Ayah Erkan yang merasa tidak nyaman dengan pak Yusuf karena ulah Erkan yang sudah membentak orang tua itu.
"Pak Yusuf, mohon maafkan atas kekasaran dari ucapan anak saya." Kata Ayah Erkan yang sadar akan kesalahan sang anak yang membela istrinya.
Beliau pun sebenarnya tahu, jika pak Yusuf sudah menghubungi Erkan melalui Bella. Ternyata Bella lah yang tidak menyampaikan perihal sakit sang Ayah.
Mengetahui fakta itu membuat hati sang Ayah sakit. Apakah sudah benar wanita pilihan sang anak selama ini. Tapi Ayah Erkan tidak bisa melakukan apa-apa dan tidak dapat membuktikan kelakuan Bella di luaran sana seperti apa.
Sekarang beliau hanya bisa memasrahkan diri saja akan nasib anaknya nanti. Biarlah anaknya sadar dengan kesalahannya sendiri.
"Sudah Erkan, jangan marah lagi. Hormatilah pak Yusuf karena usia beliau di atas kamu. Di kemudian hari beliau lah yang akan menemani dan akan selalu ada di samping kamu." Ujar sang ayah menasehati.
"Yang penting sekarang Ayah senang kamu sudah mau datang mengunjungi Ayah di sini. Dan terima kasih sudah mengkhawatirkan Ayah." 'Meski terlambat.'
"Ada yang ingin Ayah bicarakan sama kamu sekarang. Ayah takut hari esok dan lusa tidak dapat bertemu dengan kamu lagi."
"Apa maksud, Ayah?" Erkan nampak bingung dengan ucapan sang Ayah.
"Tidak ada. Ayah hanya kelelahan saja." Bohong beliau. Karena pria tua itu mempunyai firasat jika umur beliau tidak akan lamanya. Ayah Erkan takut besok atau lusa tidak sempat bertemu dengan anaknya. Maka hari ini adalah waktu yang tepat untuk mengatakan semuanya, keinginan beliau untuk Erkan.
"Pak Yusuf, tolong tinggalkan saya berdua saja dengan Erkan. Ada yang ingin aku sampaikan ke Erkan dan ini sangat begitu penting."
Pak Yusuf yang paham akan permintaan tuan besarnya pun hanya mengangguk dan meminta izin untuk keluar. Meninggalkan Anak dan Ayah untuk saling bicara.
"Saya permisi dulu, Tuan!" ucapnya dengan membungkukkan badan, setelah itu melangkah ke arah pintu kamar, membukanya dan keluar. Lalu menutup pintu kamar itu rapat-rapat.
"Apa yang ingin Ayah bicarakan. Erkan akan mendengarkannya."
Erkan yang semula berdiri karena marah dengan pak Yusuf, kini duduk kembali di samping sang Ayah atas permintaan orang tua itu.
"Duduklah kembali di sini, dekat Ayah." Pinta Ayah Erkan sambil menepuk kasur di bagian sisi kanan tubuh beliau. Beliau pun sudah duduk bersandar di bagian belakang ranjang pasien.
Erkan menurut dan tangan besar itu kembali menggenggam tangan sang Ayah yang terlihat begitu kurus. Tanpa terasa air matanya menetes.
"Maafkan Erkan Ayah. Selama ini Erkan sudah mengabaikan Ayah. Tanpa Erkan tahu tubuh Ayah sudah kurus begini." Ucap Erkan menyesal.
Karena sibuk dengan kesenangannya bersama Bella. Sampai-sampai Erkan melupakan sang Ayah. Erkan jarang pulang, ia banyak menghabiskan waktunya di luaran sana. Walau ada saatnya ia pulang, tapi pulang hanya sebentar, setelahnya berbulan-bulan tidak muncul lagi untuk menemui sang Ayah.
Saat ia menikah pun, sang Ayah tidak bisa hadir. Erkan pikir karena sang Ayah tidak sepenuhnya menyetujui pernikahan itu. Padahal yang sebenarnya sang Ayah sudah mulai sakit-sakitan. Namun Erkan tidak mempedulikan orang tua itu.
"Kenapa kamu yang harus minta maaf, Nak. Harusnya Ayahlah yang meminta maaf ke kamu. Karena Ayah tidak memperhatikan dirimu semenjak kepergian ibumu. Ayah sudah larut dengan kesedihan sehingga mengabaikan kamu. Dan membuat kamu memilih mencari kesenangan yang lain di luaran sana."
Hening.....
Erkan tidak menyela ucapan sang Ayah. Karena memang itulah kebenarannya. Saat itu Ayahnya benar-benar mengabaikan sang anak. Selain sibuk bekerja sang Ayah lebih banyak mengurung diri di kamar. Tidak mempedulikan Erkan pulang ke rumah atau tidak. Dan kini beliau pun merasa menyesal, secara tidak langsung beliaulah yang ikut menjerumuskan sang anak dengan dunia luar.
"Erkan pun juga salah Ayah. Karena sudah mengabaikan Ayah selama ini."
"Tidak apa, Nak. Ayah paham akan kesibukkan kalian." Kata sang Ayah. Walau beliau tidak tahu kesibukkan apa yang dilakukan sang anak di luaran sana.
"Apa kamu bahagia, Nak. Menikah dengan Bella?"
Erkan menatap lekat sang Ayah.
"Ayah berharap kamu bahagia dengan wanita itu!"
"Erkan bahagia, Ayah. Bella wanita kedua yang membuat aku nyaman saat dekat dengannya setelah Almarhumah ibu."
"Syukurlah kalau begitu. Semoga kalian terus bahagia sampai tua nantinya. Dan Ayah berdoa semoga kalian cepat mendapatkan momongan." Doa sang Ayah tulus.
"Terima kasih, Ayah."
"Nak. Sekarang usia kamu 20 tahun dan sudah menikah. Mulai sekarang berhentilah untuk bersenang-senang. Berpikirlah untuk masa depan. Kamu sudah beristri dan memiliki tanggung jawab, apalagi nanti saat kalian memiliki anak tanggung jawabmu akan bertambah. Ayah meminta mulai lah bekerja di perusahaan kita untuk mengganti posisi Ayah."
"Tapi Ayah!"
"Kenapa? Apa kamu takut, kalau kamu tidak mampu menjalankan perusahaan itu?"
"Iya, Yah. Erkan belum ada pengalaman dan aku belum siap."
"Kamu tidak perlu merasa khawatir. Ayah sudah meminta pak Yusuf yang akan mengajarkan kamu dan membantu kamu mengelola perusahaan. Jujur, Ayah sudah lelah, Nak." Dengan raut wajah sedihnya Ayah Erkan berucap.
"Baiklah, Ayah. Erkan akan mulai belajar dan akan berusaha membuat perusahaan kita bertambah maju. Melebihi yang sekarang ini." Ucap Erkan yang sudah berjanji dihadapan sang Ayah.
"Terima kasih, Nak. Ayah bahagia mendengarnya. Ayah akan merasa tenang, jika Ayah dipanggil Sang Pencipta saat ini juga."
"Ayah bicara apa? Ayah tidak boleh pergi sebelum melihat cucu Ayah lahir." Pintanya.
Namun kenyataannya sang Ayah sudah pergi untuk selama-lamanya.
Erkan tiba-tiba saja terkejut dengan suara ponsel miliknya yang berada di meja kerjanya. Erkan tersadar dari lamunan masa lalunya. Yang mengingat akan kenangan indah bersama sang istri pertamanya Bella. Dan bersama Bella lah ia merasakan sakit hati atas perselingkuhan dan pengkhianatan.
Wanita itu lah yang membuat harga diri Erkan hancur. Sehingga membuat Erkan trauma akan pernikahan. Dengan kekurangan yang ada di dirinya Erkan takut ia akan mengulangi kejadian dulu menikah dan diselingkuhi karena alasan tidak adanya anak yang hadir di keluarga kecil mereka.
Apalagi Erkan sudah mengetahui, selama ini dialah yang tidak bisa memberikan keturunan karena penyakit yang di deritanya. Penyakit yang ia dapat karena pergaulan bebas semasa remajanya dulu.
Erkan mengabaikan panggilan telepon yang ternyata dari Tantri istri keduanya yang sama memiliki kelakuan seperti Bella. Tukang selingkuh.
Awalnya Erkan memaafkan Bella karena perselingkuhan wanita itu. 'Mungkin Bella khilaf,' pikirnya saat itu. Dan pria itu membiarkan Bella menguras sebagian harta miliknya.
Erkan tidak peduli. Jika uangnya dikuras oleh sang istri. Pria itu tidak akan marah sama sekali karena rasa cintanya. Dan akan memaafkan Bella.
Namun, sayangnya Bella sudah kelewat batas. Wanita itu kembali berselingkuh setelah 3 tahun pernikahan mereka hingga ia hamil.
Bella tidak mengakuinya. Dan mengatakan jika anak yang ia kandung adalah anaknya bersama Erkan. Namun sayangnya Erkan tidak percaya. Setelah adanya bukti-bukti yang di dapat oleh Erkan.
"Jadi, kamu nggak percaya, Er. Kalau di perut aku ini anak kamu!" Teriak Bella saat itu. Saat mereka ada di ruang kerja Erkan. Setelah Ayahnya meninggal Erkan tinggal di rumah peninggalan orang tuanya.
'Bagaimana aku bisa percaya, Bel. Kalau nyatanya aku ini suami yang mandul.' Batin Erkan.
"Aku takut, anak itu hasil dari perselingkuhan kamu dengan lelaki lain di luaran sana." Ujar Erkan dengan wajah datarnya. Karena itulah yang ia ketahui. Sang istri ternyata kembali berselingkuh lagi.
"Aku tidak pernah berselingkuh, sayang. Percayalah." Rayunya.
'Tapi nyatanya kamu hamil, Bel.' Batinnya.
"Baiklah. Kalau begitu. Bagaimana setelah anak itu lahir kita lakukan tes DNA saja. Biar aku tahu kebenarannya.
Bella yang mendengar perkataan Erkan tampak membeku. Ia bingung jika benar Erkan melakukan itu. Erkan tidak akan memaafkan dirinya dan akan membuangnya begitu saja.
"Bagaimana? Apa kamu bersedia? Tapi kalau kamu jujur. Aku tidak akan berbuat macam-macam ke kamu. Dan aku akan melepaskan kamu. Maksudku menceraikan kamu seperti yang kamu inginkan, seperti satu tahun yang lalu.
Erkan tidak bisa berbuat apa-apa lagi. Jika wanita ini ingin terbebas darinya. Pria itu akan mengabulkan permintaan Bella.
Ia akan menceraikan Bella sesuai keinginan wanita itu. Meski Erkan masih sangat begitu mencintai istrinya tersebut.
Mendengar ucapan dari mulut Erkan membuat Bella senang dan wanita itu benar-benar meminta Erkan menceraikan dirinya.
Setelah Bella pergi dari ruang kerja Erkan.
Pria itu begitu murka. Menggerutu dengan amarahnya. Dan berteriak meluapkan rasa kekesalannya.
"Argh!!! Kenapa kamu seperti itu Bella. Kamu tahu kan. Aku sangat ... sangat mencintai kamu. Kamu tega Bella. Dan aku begini juga karena ulah kamu." Erkan mengeram frustrasi di ruang kerjanya. Sekilas ia mengingat masa lalunya itu. Masa lalu yang membuat dirinya menjadi pria pesakitan.
Karena pengaruh obat-obatan yang ia konsumsi waktu dulu saat bersama Bella dan minuman beralkohol, membuat pria itu mengalami kemandulan. Tapi Bella tidak pernah mengetahui itu.
Saat dua tahun pernikahannya. Erkan sempat memeriksakan diri ke dokter kandungan. Dan saat itu Erkan memeriksakan kualitas akan cairan reproduksinya. Karena pria itu merasa dialah yang selama ini bermasalah.
Hasil yang Erkan dapatkan benar-benar membuatnya syok. "Ternyata diriku lah yang bermasalah selama ini," gumamnya dihadapan dokter kandungan kala itu.
Dokter itu merasa iba akan nasib dari pasiennya. "Jadi karena kualitas cairan milikku, itulah penyebab istriku tidak bisa hamil, Dok?" tanya Erkan dengan wajah seriusnya dan bercampur sedih.
"Padahal aku menantikan seorang anak di tengah keluarga kecil kami," keluhnya.
"Tuan Erkan bersabarlah. Semuanya bisa disembuhkan, asal tuan rutin berobat." Kata sang dokter saat itu.
Namun, sayangnya sampai saat ini Erkan mengabaikan pengobatan dari penyakitnya itu.