Tristan berjalan menelusuri lorong kampus menuju Perpustakaan dengan langkah kaki cepat. Kebiasaan, jika berjalan selalu terlihat gugup dan tidak pernah luput dari gaya coolnya yang membuat semua mata tertuju padanya.
Mentang-mentang kakinya panjang, jadilah langkahnya mencakup jarak panjang juga. Dan jalannya pun secepat kilat. Maklum, tingginya seratus delapan puluh centi meter.
“Felin!” wanita itu menoleh.
“Iya, Pak?” Felin bangkit dari duduknya.
“Ikut saya.”
“Ke mana?”
“Ikut saja.” setelah mengucapkan kalimat itu, Tristan pun langsung beranjak keluar dari Perpustakaan. Felin meletakkan buku yang tengah ia baca di rak semula kemudian menyusul Tristan yang sudah lumayan jauh. Dia yang ngajak, dia yang ninggalin.
Sangat mudah untuk mencari Felin, karena tempat tongkrongannya, ya di Perpustakaan. Tristan seringkali melihat Felin membaca buku di sana.
Tristan membukakan pintu mobil belakang untuk Felin. Jika wanita itu duduk di depan tepatnya disampingnya, dia takut terjadi fitnah karena bukan mahram. Felin menyernyit heran seolah bertanya-tanya maksud dari semua ini.
“Masuk,” ucap Tristan.
“Mau—.”
“Masuk!” Felin hanya menurut lalu masuk ke dalam mobil dosen itu.
“Pak, kita mau ke mana?” tanya Felin. Tristan hanya diam dan tetap fokus mengemudi. Kecepatan yang di atas rata-rata membuat jantung Felin terpacu begitu cepat karena takut.
Tidak lama Tristan menghentikkan mobilnya di depan rumah bertingkat tiga dengan cat berwarna hijau. Wanita itu semakin bingung, tapi jika banyak bertanya, pastilah pertanyaannya akan sia-sia. Kutub es itu tidak akan menjawab pertanyaannya.
Tristan keluar dari mobil dan diikuti oleh Felin. Wanita itu terus mengekori langkah kaki dosennya hingga sampai masuk ke dalam rumah megah itu.
“Ini rumah Pak Tristan?” tanya Felin tetap pada langkahnya mengekori pria itu. Benar-benar tidak ada jawaban, seolah ucapan Felin dianggap angin lalu.
Tristan hendak membuka pintu kamar sontak Felin menarik jas pria itu. “Pak Tristan mau ngapain saya?”
Tristan menghembuskan napasnya pelan. “Lepas!”
“Nggak! Saya mau pulang, ayo anterin saya pulang! Bapak jangan macam-macam ya sama saya!” gadis itu semakin ketakutan. Sudah di rumah sepi kayak kuburan, membuat pikiran Felin menjadi traveling ke mana-mana.
“Di dalam kamar ada Ibu saya, saya mau ngajak kamu ketemu dengan beliau.” Felin menaikkan kedua alisnya.
“Saya gak akan ngapa-ngapain kamu. Lepasin jas saya!” gadis itu akhirnya menjauhkan tangannya dari jas dosennya. Tristan beranjak masuk ke dalam kamar Ibunya dan diikuti oleh Felin.
“Assalamualaikum, Bu,” sapa Tristan lalu duduk disisi ranjang.
“Wa'alaikumussalam,” balas Bu Lilis. Dia hendak bangkit dari rebahnya, Tristan pun membantu Ibunya untuk memposisikan dirinya duduk.
“Ini siapa? Calon istri kamu, Tris?” tanya Bu Lilis sambil menatap Felin tersenyum. Tristan juga ikut menoleh, menatap gadis yang berdiri di belakangnya.
“Iya Bu, dia yang pernah Tristan ceritain ke Ibu,” ucap Tristan. Felin menyernyit heran, padahal dia belum menjawab pertanyaan terakhir yang kemarin dosennya lontarkan. Tapi, ada kebahagiaan tersendiri yang Felin rasakan saat ini.
“Namanya siapa, Nak?” tanya Bu Lilis kepada wanita di belakang Tristan.
“Felin, Bu,” jawab Felin ramah.
“Lho, katanya calon istri kamu inisialnya 'Q' kok sekarang namanya Felin?” Bu Lilis menatap Tristan bingung. Skakmat. Rencana yang tidak sesuai ekspektasi.
“Em … itu nama panjangnya Bu, yaitu Qilla. Soalnya nama panjangnya itu Felin Fanarlisa Qilla Azkhani,” alibi Tristan. Padahal aslinya inisial itu merupakan nama 'Qonita Az-Zikra Aqeela'.
Bu Lilis mengangguk paham. Sedangkan Felin, dia sudah tahu maksud inisial huruf 'Q' itu. Sepertinya setelah ini Felin akan membahas semuanya dengan dosen muda itu.
Tiba-tiba napas Bu Lilis terengah-engah. Sudah pasti asmanya kambuh. Dengan sigap Tristan langsung mengambil obat asma Ventolin inhaler dan mengarahkan benda kecil itu kepada mulut Bu Lilis, membantu sang Ibu untuk menghirup obat itu.
Ventolin ihhaler ini merupakan obat dengan kandungan Salbutamol yang digunakan untuk mengobati penyakit pada saluran pernafasan seperti asma dan penyakit paru obstruktif kronik.
“Pak, Ibu kenapa, Pak?” tanya Felin cemas.
“Gak usah banyak tanya!” Tristan langsung mengambil gawainya lalu menelepon Dokter Hilda yang merupakan dokter pribadi Bu Lilis.
***
Tristan dan Felin menunggu pemeriksaan Bu Lilis di ruang tamu. Kedua mata Tristan memerah seolah menahan genangan air mata yang sedari tadi ia tahan. Dia belum siap jika harus kehilangan sang Ibu secepat ini. Dia juga belum siap hidup sebatangkara tanpa orangtua.
“Pak Tristan,” panggil Felin yang duduk lumayan jauh dengan laki-laki itu. Tristan hanya mengangkat wajahnya, menatap gadis itu sekilas lalu kembali menunduk.
“Saya, kan, belum jawab mau atau tidak jadi istri Pak Tristan, kenapa Bapak langsung mengklaim seolah saya menerima Pak Tristan?” tanya Felin membuat laki-laki itu kembali mengangkat wajahnya.
“Memangnya kamu berani nolak saya?” balik tanya Tristan.
“Ya setidaknya Pak Tristan harus menunggu keputusan dari saya dulu dong,” jawab Felin.
“Jadi gimana, kamu mau nggak? Kalau nggak mau nggak apa-apa. Saya bisa cari wanita lain di luaran sana.” Felin membulatkan matanya sempurna.
“Saya mau kok, Pak!”
“Baguslah.”
Tidak ada alasan untuk Felin menolak laki-laki setampan dan se-shalih Tristan Ghivari Akbar. Felin sudah mengidamkan pria itu sejak pertama masuk Kampus. Dan, demi apapun sekarang dirinya sangat bersyukur impiannya akan terwujudkan.
“Tapi maksud inisial 'Q' itu sebenarnya Qonita Az-Zikra Aqeela kan, Pak?” Felin kembali bertanya. Tristan mengerjap.
“Sok tau!” jawab Tristan.
“Saya tau. Jangan bohong Pak,” desaknya. Baiklah, lebih baik Tristan jujur saja.
“Ya, tapi itu dulu. Sekarang calon saya itu cuma kamu.” Felin tersenyum mendengar ucapan dosennya itu.
“Pak Tristan, saya pamit dulu ya. Kondisi Bu Lilis sudah mendingan, beliau juga sudah menunggu Bapak dan ...” Dokter Hilda menatap Felin. “Mbaknya,” lanjutnya.
“Baik Dok, terima kasih,” ucap Tristan dan diangguki oleh Dokter Hilda kemudian beranjak pergi. Tristan dan Felin langsung menuju kamar Bu Lilis.
“Ibu, gimana keadaan Ibu sekarang? Sudah mendingan, kan? Atau masih ada yang sakit?” beberapa pertanyaan langsung Tristan lontarkan. Pria itu sangat menyayangi Bu Lilis, karena hanya beliau-lah yang dia miliki sekarang. Dan, sekali lagi, Tristan belum siap untuk kehilangan Ibunya secepat ini.
“Ibu sudah gak apa-apa,” jawab Bu Lilis.
“Tristan?”
“Iya, Bu?”
“Ibu mau kamu secepatnya menikahi Felin.”
Deg! Ntah kenapa tiba-tiba hati Tristan menjadi semakin sakit. Benarkah, dia harus menikahi wanita itu demi sang Ibu tercinta? Sedangkan Felin, dia tersenyum bahagia mendengar permintaan Bu Lilis.
Bagaimana tidak bahagia? Laki-laki yang selalu dia sebut dalam do'a dan sujud panjangnya kini akan benar-benar menjadi miliknya. Tapi ada yang sedikit mengganjal, tentang Zikra. Felin merasa jika Zikra akan sulit untuk Tristan lupakan.
Namun, hal itu ia tepis jauh-jauh, karena mau secinta apapun Tristan kepada Zikra, dia tidak akan pernah mendapatkan wanita itu karena Zikra sudah terikat dalam pernikahan bersama Rayyen. Jika sudah begitu, lantas apa lagi yang perlu Felin takutkan?
Toh Tristan juga yang mengajak dia menikah, bukan dirinya. Bisa Felin simpulkan, bahwa dosennya itu benar-benar mencintainya.
“Apa tidak terlalu cepat, Bu?” tanya Tristan. Bu Lilis menggeleng pelan.
“Jika sudah ada calonnya, kenapa harus ditunda lagi? Apa yang kamu tunggu, Tristan? Kamu mau menunggu sampai Ibu meninggal?” Mendengar kalimat itu, Tristan langsung memeluk erat tubuh Bu Lilis.
Dia sangat membenci kalimat itu, apalagi jika Ibunya yang mengucapkan. Tristan benar-benar takut kehilangan orangtua satu-satunya yang sekarang ia miliki.
Dari sini Felin menjadi tahu, bahwa dosen yang terkenal dingin itu ternyata sangat berbeda jauh sikapnya ketika dengan orangtuanya. Dia begitu hangat, Felin tersenyum sekaligus terharu melihat Tristan yang sudah meneteskan air matanya dipelukan Bu Lilis.
Ternyata dia bisa nangis juga, ya? Batin Felin.