“Qabiltu nikahaha wa tazwijaha alal mahril madzkur wa radhiitu bihi, wallahu waliyu taufiq.”
Pria itu mengucapkan kalimatnya dengan lantang. Sang mempelai wanita meneteskan air mata bahagia. Dirinya sekarang sudah sah menjadi seorang istri.
Sudah lama ia menantikan moment ini, moment di mana laki-laki yang ia cintai mengucapkan kalimat itu dihadapan penghulu. Wanita itu dituntun Ibu mertua berjalan menuju laki-laki yang sekarang sudah sah menjadi suaminya, di depan meja akad.
Dengan degup jantung yang tidak santai itu, ia berusaha untuk tetap tenang dan meraih tangan yang sudah halal baginya untuk disentuh. Kemudian dia mengecup tangan itu dengan lembut.
“Silakan Pak Tristan bisa doakan dulu istrinya,” titah Pak Penghulu. Tristan meletakkan tangan kirinya di atas ubun-ubun sang istri, sedangkan tangan kanannya menengadah meminta kepada yang maha kuasa.
“Allahumma inni as’aluka min khoirihaa wa khoirimaa jabaltahaa ‘alaih. Wa a’udzubika min syarrihaa wa syarrimaa jabaltaha ‘alaih.”
Setelah membacakan doa itu, Tristan menatap Bu Lilis yang tersenyum kepadanya. Ibu, inikah yang kau inginkan?
Tristan menolak untuk mencium kening Felin dan itu membuat semua orang heran. Laki-laki itu memilih untuk masuk kamar lalu menguncinya dari dalam.
Tristan menghela napas kasar. Ntah kenapa hatinya tidak sepenuhnya ikhlas menerima pernikahan ini. Padahal saat dirinya berbicara dengan kedua orangtua Felin lewat telepon, perasaannya baik-baik saja.
Orangtua Felin tidak menghadiri acara pernikahan ini karena masih mengurus pekerjaannya di luar negeri, tepatnya di Prancis. Namun mereka sudah merestui dan ikhlas jika anaknya menikah dengan Tristan. Ntah apa yang membuat mereka yakin, padahal belum pernah sekalipun bertemu dengan Tristan.
“Nak Felin.” Bu Lilis berjalan mendekat ke arah Felin yang tengah duduk di atas kursi. Acaranya juga sudah selesai, tidak meriah sama sekali. Hanya ijab qabul setelah itu semua pengunjung pulang. Se-singkat itu.
“Iya, Ibu?” Felin menatap wanita itu seraya bangkit dari duduknya.
“Ayo, Ibu antar kamu ke kamar Tristan.” Bu Lilis menggandeng tangan wanita itu. Felin merasakan digandeng oleh Bu Lilis seperti digandeng orangtuanya sendiri. Dia rindu, tapi kedua orangtuanya jarang pulang. Sesekali pulang pun mereka masih sibuk dengan urusan pekerjaannya. Bahkan hampir tidak ada waktu untuk Felin.
“Bu, aku mau ambil bakso bakar dulu ya buat Pak Tristan, pasti dia lapar.” Bu Lilis mengangguk. Felin langsung beranjak menuju meja makan yang sudah disediakan beberapa makanan kemudian mengambil dua bakso bakar. Setelah itu, Felin dan Bu Lilis pun menuju kamar Tristan.
Sesampainya di depan kamar dosen muda itu, Bu Lilis hendak membukanya, namun pintunya terkunci. Wanita paruh baya itu lantas mengetuknya berkali-kali.
“Felin brisik!” ucap Tristan begitu membuka pintu. “Eh, Ibu ...” Pria itu tersenyum canggung menatap Ibunya.
“Kenapa pintunya dikunci?” tanya Bu Lilis.
“Maaf, habis mandi dan lupa buka kuncinya,” alibi Tristan.
“Mandi atau—.”
“Mandi, Ibu,” sela Tristan diakhiri dengan senyum manisnya. Duh, meleleh hati Felin. Bu Lilis mengangguk.
“Tuh istri kamu ajak masuk.” Tristan mengangguk lalu membuka pintunya lebar.
“Ayo masuk.” Felin mengangguk tersenyum lalu masuk ke dalam kamar pria itu. Setelah itu, Tristan langsung menutup pintunya kembali.
“Pak aku bawain bakso bakar buat Pak Tristan, lho.” Felin mengambil bakso itu lalu menyodorkan baksonya di depan mulut pria itu.
“Jangan macem-macem ya kamu!” Tristan berusaha menghindar dari Felin yang terus berusaha menyuapkan bakso bakar ke dalam mulutnya.
“Ini enak, Pak. Pak Tristan pasti lapar, kan?” Felin tetap memaksa menyuapkan bakso itu kepada Tristan membuat bibir laki-laki itu kotor karena bumbu bakso bakarnya.
“Ayo dong, Pak. Nggak rugi kalo Bapak makan bakso bakar ini.” demi ikan cupang yang terkapar ditepi pantai, Tristan sangat kesal saat ini. Dia langsung membuka pintu kamarnya lalu menyuruh Felin untuk keluar.
“Keluar!” Tristan mendorong pelan tubuh Felin, membuat wanita itu terpaksa melangkah keluar.
“Eh, eh, eh, kok keluar lagi?” tanya Bu Lilis. Dia kembali lagi.
“Ibu ....” Pria itu menarik pelan lengan Felin untuk masuk lagi ke dalam kamar. Bu Lilis tersenyum saat melihat bibir Tristan yang belepotan karena bumbu bakso bakar. Wanita separuh baya itu menatap Tristan dan Felin bergantian. “Pasti lagi ... Ah, iya, iya, Ibu tau.”
Tristan membulatkan matanya. “Tau apa, Bu?”
“Ah, wajar, sih, pengantin baru. Sudah sana masuk.” Setelah mengucapkan itu, Bu Lilis langsung pergi dengan senyuman merekah dibibirnya. Tristan langsung menutup kembali pintu kamarnya.
“Kamu mau tidur di sini?” tanya Tristan seraya melangkah mendahului Felin. Wanita itu mengangguk tersenyum. “Boleh. Tapi tidur di lantai,” lanjutnya dan membuat Felin memudarkan senyumnya.
“Maksud Pak Tristan apa ya?” tanya Felin.
“Masih kurang jelas?” Tristan mengambil handuk yang tergantung di depan pintu lemari lalu beranjak menuju kamar mandi di kamarnya.
Felin menghembuskan napasnya kasar lalu duduk disisi ranjang. “Aneh banget tuh dosen, masa aku suruh tidur di lantai, sih?” gumamnya seorang diri.
“Gak usah menggerutu! Saya dengar kamu ngomong apa!” sahut Tristan di dalam kamar mandi. Felin mengerjap sambil menutup mulutnya.
Ingat Felin, dosen itu sudah sah menjadi suami kamu. Nggak baik kalau ngebantah ucapannya, batin Felin.
***
Felin membentangkan selimutnya di atas lantai lalu meletakkan satu bantal di sana. Sebelum merebahkan dirinya, Felin menatap Tristan yang sudah tertidur. Wanita itu menghela napas pelan lalu merebahkan dirinya. Perlahan ia memejamkan kedua matanya menuju alam mimpi.
Jam menunjukkan pukul sebelas malam, Tristan membuka kedua matanya kala mendengar ringkuhan seseorang. Dia mengedarkan pandangannya lalu menatap ke bawah. Felin, wanita itu meringkuh kedinginan.
“Nekat banget sih tidur di lantai, saya, kan, cuma menggertak doang biar dia nggak besar kepala,” gumam Tristan seorang diri. Dia benar-benar tidak menyangka Felin akan menanggapi ucapannya dengan serius.
Lagipula Tristan tidak setega itu dengan seorang wanita. Apalagi menyuruhnya tidur di lantai. Jika tahu begini, lebih baik dirinya saja yang tadi tidur di lantai.
Tristan mengangkat tubuh Felin dan menidurkannya di atas kasur. Kemudian dia menyelimuti tubuh sang istri menggunakan selimut. Pria itu menghela napas kasar. Lebih baik dia tidur di lantai daripada tidur satu ranjang dengan wanita itu.
Tristan hendak merebahkan dirinya, namun suara ringkuhan Felin kembali terdengar. Pria itu beranjak naik ke atas ranjang dan menatap wajah sang istri. Dia mengulurlan tangannya, menyentuh pipi Felin dengan ragu. Hangat?
Tiba-tiba tangan Felin menyentuh tangan Tristan, membuat sang empunya mengerjap beberapa kali. Fisik Felin memang lemah, dia gampang sakit.
“Fel?” Tristan berusaha menjauhkan tangannya, namun Felin justru menggenggamnya erat. Terlihat wajahnya sedikit pucat.
“Buka mata kamu,” pinta Tristan. Wanita itu masih menutup kedua matanya dan masih mengeluarkan suara ringkuhan seperti orang sakit.
“Felin!” Tristan menggoyangkan bahu wanita itu menggunakan tangan kiri. Felin spontan membuka kedua matanya. Napasnya terengah-engah, sudut matanya juga berair.
“Pak Tristan.” dua kata pertama yang terlontar dari bibir Felin setelah beranjak duduk seraya memagangi dadanya yang berdegup kencang.
“Kenapa?” tanya laki-laki itu.
“Saya mimpi buruk Pak, maaf—.”
“Kamu sakit?” Felin menggeleng cepat.
“Enggak.”
“Badan kamu hangat.” wanita itu menyentuh pelipisnya sendiri. Dan benar saja, suhu tubuhnya hangat.
“Saya memang begini kalau tidur di tempat dingin, Pak.”
“Di lantai?” tanya Tristan memastikan. Felin mengangguk.
“Kenapa tidur di lantai, sih?”
“Kan Pak Tristan yang nyuruh.”
Tristan menghela napas kasar lalu mengambil obat demam di dalam kotak P3K kemudian memberikannya kepada Felin. “Setelah minum obat, tidur, jangan meringkuh lagi. Suara kamu mengganggu tidur saya tau gak!”
Felin tidak meraih obat itu, dia justru meraih tangan Tristan yang memegang obat demam untuknya. “Pak Tristan kenapa, sih?” tanyanya.
“Kenapa apanya?” Tristan menyernyit heran.
“Pak Tristan kok—.”
“Lepasin tangan saya,” sela Tristan. Felin melepaskan genggamannya.
“Kenapa sih Pak Tristan bersikap seperti ini sama saya? Padahal saya sudah jadi is—.” Felin menghentikan ucapannya kala tiba-tiba Tristan mendekatkan wajahnya tepat di depan wajah Felin.
“Pak?” Felin memejamkan matanya takut. Tristan bisa mendengar suara jantung wanita itu yang berdegup kencang.
“Buka mata kamu,” ucap Tristan tepat di depan bibir Felin. Wanita itu membuka kedua matanya, menatap setiap inci wajah Tristan yang hanya berjarak beberapa centi saja.
“Saya izinkan kamu untuk tatap saya sampai bosan, kalau udah bosan bilang.” tubuh Felin menjadi kaku susah bergerak karena terhimpit oleh kepala ranjang dan tubuh Tristan.
“Pak—.”
“Katakan kalau kamu bosan lihat wajah saya!”
“Tidak.”
“Baiklah, saya tidak akan menjauhkan wajah saya dari wajah kamu.” Felin mengerjap.
“Saya gak nyaman Pak, tolong menjauh sedikit.” Tristan justru semakin mendekatkan wajahnya membuat Felin memalingkan wajahnya ke samping kanan.
“Lihat saya sampai kamu bosan biar kamu gak ngeliatin saya terus. Saya muak. Ayo katakan kalau kamu bosan!” kekeh Tristan. Felin mendorong tubuh pria itu, namun tidak ada pergerakan sama sekali.
“Cepat katakan, Felin!”
Cup! Satu kecupan mendarat dipipi kanan Tristan. Felin, dia mencium pipi pria itu yang tak lain merupakan suaminya sendiri.
Tristan langsung menjauhkan wajahnya dengan wajah Felin lantas mengusap pipi kanannya. Benar-benar nekat, wanita itu berani memulainya.
“Ma—maaf Pak ...,” lirih Felin. Tristan masih terdiam mematung. Sebagai laki-laki normal, dia juga memiliki napsu saat menatap wajah Felin begitu dekat. Dia juga baru sadar, wanita itu ternyata sangat cantik jika dilihat dari jarak dekat.
“Pak Tristan gak perlu tidur di lantai, biar saya yang tidur di sofa depan tv.” Felin hendak beranjak dari duduknya, namun Tristan langsung mencekal tangannya. Pria itu lalu menarik tenguk Felin dan mencium bibir ranum wanita itu.
Tubuh Felin menegang, tidak ada pergerakan sama sekali darinya. Tristan masih diam dengan posisinya. Keduanya larut dalam cinta kasih yang ntah didasari dengan cinta atau napsu semata.