Semua berlalu dengan cepat meski Hana masih tak bisa melupakannya. Dia terus memikirkan kejadian itu. Mengapa dia yang awalnya berada dalam mobil masih dalam perjalanan pulang, tiba-tiba terbangun dalam kondisi seutuhnya menjadi istri sebenarnya dosen pembimbingnya itu.
"Huft!!" Hana mendesah kasar beberapa kali.
Dia gelisah sepanjang bulan madu. Mereka tetap pergi meski sebelumnya jadwal berangkat sempat ditunda, tapi sekarang keduanya sudah di hotel tempat mereka menginap dan berbulan madu.
"Kenapa tiba-tiba aku menjadi seperti itu, ... memalukan sekali. Bagaimana mungkin aku yang memulai dulu?"
Hana memijat dahinya, dia gelisah lalu mendesah dan menghela nafasnya kasar. Dia tak habis pikir dengan dirinya sendiri sampai akhirnya Hana tersadar sesuatu.
"Apa pak Argan menjebak aku?" Kepalanya langsung menggeleng. "Tidak mungkin, dia bukan laki-laki seperti itu dan kalau mau seharusnya sejak malam itu kami pasti sudah melakukan ... aaarrggh! Sstttt, kenapa ini masih ngilu sekali!" gerutu Hana diakhir kalimatnya.
Namun, saat itu ketika mengucapkan kalimat terakhir, ternyata Argan sudah di sana. Hana yang menyadari kehadiran Argan langsung menutup wajahnya malu, tapi Argan tidak mengatakan apapun, dan malah mendekat membuat Hana menjadi gugup.
"Pa--Ma--Mas ...."
Degh.
"Apa kau akan selalu ketakutan seperti itu padaku Hana?"
Argan seketika sudah berada dihadapannya, dan Hana yang langsung jadi gelisah dengan kehadiran Argan, langsung menggelengkan kepala.
"Ak--aku hanya be--belum terbiasa," jelas Hana sembari menghela nafasnya kasar.
Argan kembali terdiam, berbalik dan menuju sofa yang ada di sana. Lalu tanpa mengucapkan apa-apa lagi, pria itu duduk dan memainkan ponselnya. Membuat Hana bingung dan tidak tahu harus melakukan apa. Beberapa saat wanita itu terdiam dan mengamati suaminya, tapi dalam waktu dekat dia menjadi bosan.
"Ma--mas ...."
Hana langsung merutuki dirinya sendiri, kenapa dia malah memanggil Argan, dan sekarang hal itu jelas membuat Argan menatapnya.
Dia sangat serius, dan begitu intens menatap pas ke arah kedua bola mata Hana, sehingga membuat mereka langsung saling bertatapan. Hana kembali tegang dan berdegup kencang. Dia menggaruk kepalanya yang tak gatal, kemudian karena hal itu dia kembali mengutarakan kalimat yang disesalinya.
"Aku mau mandi."
Argan reflek mendekat, bahkan secara tidak terduga meraih tubuh mungil Hana dan menggendongnya.
"Aku-akuuuu ...." Glekk, Hana kebingungan dengan tindakan Argan dan tidak tahu harus bereaksi seperti apa.
"Bukankah masih sakit? Tenanglah, aku bisa menahan diri sampai kamu membaik," ucap Argan menyebabkan tatapan Hana terpaku.
Sesaat kemudian, Argan menurunkan tubuhnya perlahan, saat mereka sudah berada di dalam bilik kamar mandi.
"Tidak usah berpikir macam-macam, bersihkan dirimu dan jangan lupa kenakan salep yang aku berikan kemarin," ungkap Argan perhatian.
Hana merasa seperti sedang menyaksikan sisi lain dari dosen pembimbingnya itu yang belum pernah dia lihat. Lalu saat dia masih melamun, Argan menepati ucapannya, dan berlalu dari sana.
Selama beberapa hari di sana, meski canggung Hana bisa menikmatinya. Selama itu Argan masih belum pernah menyentuhnya, sehingga mereka seperti liburan ketimbang bulan madu, dan yang paling Hana syukuri adalah Argan juga tidak pernah mengungkit pasal bimbingan dan skripsi.
"Apa perempuan memang selalu seperti itu?" tanya Argan.
Saat itu mereka baru saja mengunjungi tempat wisata, dan sekarang tengah makan siang berdua. Hana mengerutkan dahi dan menatap suaminya dengan kebingungan.
Argan menghela nafas. "Mengambil foto makanan sebelum menikmatinya," ucap Argan menjelaskan maksud kalimatnya yang sebelumnya.
"Tidak ada salahnya, dan lagipula makanan ini menarik," jelas Hana melanjutkan kegiatannya.
Dia mengabaikan Argan dan kembali memotret makanannya. Melihat hal tersebut Argan pun mengabaikan Hana dan membiarkan Hana melakukan apapun yang dia mau. Pria itu lanjut menikmati makanannya.
Akan tetapi beberapa saat setelahnya, Hana malah terpikirkan sesuatu dan tersenyum.
'Sepertinya aku harus mengunggah momen ini supaya kak Andreas sedikit sadar dari kegilaannya. Dia harus melihatnya!' batin Hana.
Melirik Argan yang masih serius makan dia malah tersenyum, dan diam-diam mengambil foto suaminya itu. Kemudian langsung mengunggahnya ke salah satu akun media sosialnya.
Namun, wanita itu juga tidak lupa mengklik privasi untuk postingannya tersebut. Dia tidak mau jadi bulan-bulanan Indah yang akan mengejeknya jika sampai melihatnya. Sayang sekali, setelah itu Hana malah melupakan privasi pada Argan suaminya sendiri.
Sampai akhirnya kejadian di mana sore hari mereka kembali ke hotel. Argan yang langsung istirahat sebelum membersihkan diri, sempat memainkan ponselnya dan melihatnya.
"Suami tercinta!"
"Apa?!"
Hana belum sadar dan bingung dengan ucapan Argan, tapi pria itu malah sedikit menyeringai dan memperlihatkannya pada Hana.
Reflek Hana pun membulatkan matanya kaget, dia mundur dengan jantung yang langsung bergemuruh hebat. Pipinya bersemu merah disertai dengan tubuhnya yang seolah memanas merasakan perasaan aneh.
"Ak--aku ak--akan man--mandi lebih da--dahulu," jelas Hana gugup.
Wanita memilih melarikan diri dari pada menjelaskan. Kemudian berendam di dalam bathtub untuk menghilangkan perasaan anehnya itu yang bercampur malu.
"Bodoh-bodoh!!"
Hana merutuki dirinya sendiri sambil memukul-mukul air dalam bathtub melampiaskan kegelisahannya. Namun, hal itu justru semakin menjadi dan membuatnya semakin merasa gila.
"Kenapa kamu ceroboh sekali Hana? Huft ... apa yang akan aku lakukan setelah ini? Hmm, pak Argan pasti akan meledekku," ucapnya menebak-nebak.
*****
Di sisi lain Andreas yang juga sudah melihat unggahan adik tirinya itu, seketika menjadi marah. Dia tidak terima dan beberapa kali mencoba menghubungi Hana, tapi yang menjawab telepon malah bukan Hana.
"Hana katakan padaku apa maksudmu mengunggah sampah seperti itu, apa kau sengaja ingin membuatku marah?!" teriak Andreas di telepon.
"Kenapa kau harus marah, aku memang suaminya dan dia mencintaiku!" ungkap Argan percaya diri.
Saat itu memang, Hana masih dalam kamar mandi dan sebenarnya Argan tidak ingin lancang, tapi telepon Hana terus berdering dan saat melihat nama penelepon, Argan menjadi tidak ragu.
"Brengs*k, aku sudah curiga. Ternyata memang kau yang melakukannya!!" umpat Andreas mengatai Argan.
Argan yang mendengarnya, sama sekali tak tersinggung dan malah sedikit memperdengarkan tawanya.
"Berpikir saja seperti itu, lalu apa bedanya? Berhenti bersikap bodoh Andreas, Hana itu adikmu, dia itu saudaramu. Jadi, jangan konyol!" jelas Argan serius sekaligus menasehati pria itu.
Namun, Andreas mana mungkin mau mengerti, dia menatap Hana bukan cuma sebagai adik, tapi sebagaimana pria menatap seorang wanita.
"Kami tidak punya hubungan darah, dan yang terpenting kami saling mencintai. Jadi, aku peringatkan padamu untuk melepaskan Hana secepatnya!" tegas Andreas begitu arogan.
"Kau sudah gila!" geram Argan kesal.
"Aku memang sudah gila, dan semua ini karena kau dan pria tua itu. Aku tidak menyangka kau akan mengkhianati aku seperti ini Argan, sebagai teman kau sudah menikung dan mengambil gadis yang ku sukai!" balas Andreas terdengar penuh emosi dan kecewa.
*****